Share

Bab 26

Author: Anna Sahara
last update publish date: 2026-04-23 13:00:12

Tangan Aarick naik, mengusap lembut rambut Aluna.

Sementara itu, tangan Aluna meremas kaus Aarick. Nafasnya berantakan. Rasa dinginnya berkurang, terganti kehangatan. Ranjang kecil itu bunyi 'kriet' pelan tiap mereka bergerak.

Pakaian mereka berdua mulai ketarik, selimut juga kusut. Semua sudah di ujung. Tinggal selangkah lagi untuk melakukan penyatuan.

Tiba-tiba Aarick berhenti karena Aluna menahan dadanya. Nafasnya satu-satu. “Ada apa?"

"Rick, apa k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 56

    "AAAAAARAAAAA!!!" Raungan Aarick pecah, kencang, seperti bukan suara manusia lagi. Tanpa berpikir panjang, dia lari. Membanting pintu kamar. Velove yang shock baru tersadar, ikut lari terbirit-birit di belakang Aarick dengan wajahnya yang pucat.Dua pasang kaki menghantam anak tangga. Napas mereka beradu dengan isak tangis panik. Sampai di lantai satu, Aarick jatuh berlutut di samping tubuh Ara. Dia tak berani menyentuh. Tangannya gemetar hebat di udara. Banyak darah dan terlalu banyak. "Ara... bangun... Bangun, Ra..." Suara Aarick hancur. Pria setegar batu itu menangis. Nangis seperti anak kecil yang dunianya runtuh. "Jangan tinggalin aku... Ini salah aku... Semua salah aku ..." Velove yang baru sampai di belakang Aarick, langsung jatuh terduduk lemas. Matanya kosong melihat darah adiknya sendiri. "Ara... adikku..." Aarick mengangkat wajahnya ke langit malam. Air mata, amarah, penyesalan... semua tumpah jadi satu. Lalu... Gelap. "HHOOEEKH!!" Aarick tersentak bangun

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 55

    Darah Aarick berdesir dingin, lalu memanas. "Ara ...!" Aarick berkata lirihNamun dari seluruh kepanikan yang melanda, Aarick paling tidak paham apa yang ada dalam pikiran Ara saat ini.Aarick bingung melihat Ara di depan pintu menggunakan lingerie satin tipis yang nyaris tidak menyisakan apa-apa. Kulitnya yang putih mulus berkilau diterpa cahaya bulan dari jendela. Mata gadis itu bukan marah. Bukan kaget. Tatapannya sayu seperti mengundang Aarick. "Ara?!" Nama itu lolos lagi dari mulut Aarick seperti orang linglung. "Ngapain kamu di sini? Dan pakaianmu itu ...?" Ara tidak menjawab. Dia melangkah masuk. Pelan hingga pinggulnya yang bergoyang terlihat menggoda. Bukannya kabur atau teriak, wanita itu malah naik ke ranjang. Mendekati Aarick dari sisi yang berlawanan dengan Velove. Satu sisi Velove, satu sisi Ara. Dua wanita, kakak beradik, memperebutkan Aarick. Tangan Ara menyentuh dada Aarick, bibirnya berbisik di telinga pria itu. "Aku juga mau, Rick, kak Velo bilang kamu sangat

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 54

    Ketika makan malam, suasana di meja makan itu seperti kuburan saja. Heningnya cukup horor, karena tidak ada suara sama sekali, bahkan bunyi sendok ketemu piring pun tak terdengar. Aarick menatap steak di piringnya yang belum terjamah. Tidak selera. Hanya matanya saja yang bolak-balik mencuri pandang pada Ara di seberang meja. Piring Ara juga utuh. Makanan hanya dipelototin tanpa disentuh. "Menunya nggak enak, ya?" Aarick buka suara, memberi perhatian. "Di belakang masih ada yang lain. Mau aku ambilin menu yang lain?" Ara masih diam, dan bahkan tidak mengangkat muka. Hanya saja sorot matanya mengandung arti. Dia masih kecewa pada Aarick, juga Velove. Alasan Aarick sebelumnya dia telan saja. Di ujung meja, Velove meremas serbet di pangkuannya. Buku jarinya putih. Dia lihat cara Aarick memperhatikan Ara, dan itu membuatnya murka. "Cukup!!"BRAK. Velove menggebrak meja. Piring bergeser dan air di gelas tumpah sedikit. Mukanya masam, tapi dia tahan amarah demi menjaga images di depa

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 53

    Aarick cukup puas memuntahkan kekesalan yang sudah mengendap bertahun-tahun. Dia muak jadi pion. Karena sekarang hidupnya punya poros, kali ini dia mau bebas. Ara. Gadis itu harus dia perjuangkan. Aarick tidak peduli Ara membalas suka atau tidak. Kehadiran Ara saja sudah cukup jadi tamparan dari Tuhan. Sebuah jalan keluar dari kubangan dosa yang selama ini dia sebut "hidup". Ara adalah alasannya untuk jadi manusia yang lebih baik. "Aku memang ngizinin kamu main sama wanita lain," Velove mendesis, suaranya bergetar menahan amarah. "Tapi adik aku? Jangan pernah. Jangan pernah berani sentuh Ara, atau keluarga kamu yang akan menanggung semuanya!" Ancaman itu lagi. Langkah Aarick terhenti. Tangannya yang sudah di gagang pintu, dia lepas kembali. Perlahan, dia berbalik. Menatap wanita itu bukan sebagai atasan lagi, tapi sebagai lawan yang sepadan. Sorot matanya dingin, setajam belati. "Aku bosan mendengarnya," kata Aarick. Suaranya pelan, tapi tiap katanya menghantam. "Bosan m

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 52

    Aarick tidak menjawab. Dia hanya menatap Velove. Lama. Dalam. Sorot matanya datar, tapi di baliknya ada badai yang membuat mulutnya terkunci rapat. Bilang ke Velove kalau dia jatuh hati pada adiknya? Sekarang? Itu gila. Bunuh diri namanya. Belum waktunya. Belum saat kepalanya sendiri masih kusut kayak gini. Velove makin gelisah. Ini bukan Aarick yang dia kenal. Aarick-nya biasanya buas. Begitu dicium, dia langsung membalas lebih rakus, lebih menuntut, sampai Velove kehabisan napas dan ketagihan. Aarick yang ini dingin dan terasa asing. Satu-satunya penjelasan yang masuk akal dan paling dia takutkan merayap di kepala Velove. Seminggu. Seminggu penuh Aarick dan Ara tinggal berdua. Tanpa pengawasan. "Jangan bilang..." Suara Velove meninggi, tuduhan meluncur tajam. "Ada apa-apa antara kamu sama Ara, katakan dengan jujur?!"Tubuh Aarick menegang seketika. Dituduh tepat sasaran rasanya seperti ditampar. Tapi wajahnya tetap dia jaga, tetap dingin. Untuk sekarang, kejujuran adalah k

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 51

    Aarick mengerang tertahan saat jemari Velove menyelinap ke pangkuannya, menyentuh bagian terlarangnya. Serta-merta ia menepis tangan nakal itu. "Jaga sikapmu. Ini bukan ruangan pribadi," desisnya tajam, menahan gejolak.Velove justru tersenyum miring, tak sedikit pun terusik. Tangannya kembali bergerak, kali ini lebih berani, menelusuri lekuk di balik kain celana Aarick dengan tatapan menggoda. "Aku kangen kamu... Hampir seminggu gak kena suntik batang kamu, aku kangen banget."Napas Velove memburu ketika merasakan reaksi Aarick yang tak bisa berbohong. Senyumnya melebar, puas. "Kamu juga kangen aku, kan? Lihat ini, langsung berdiri aja si Otong ini," bisiknya serak. "Ayo sekarang aja.""Ara ada di sini, apa kamu tidak takut dia melihat kita seperti ini?" Aarick berbisik geram, napasnya tersengal. Hasrat dan akal sehatnya berperang di dada. "Jangan sekarang, Velove!""Kalau begitu kita bisa ke kamar!" Brengsek. Itu satu kata yang melintas di kepala Aarick. Ara baru saja kelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status