Share

Bab 76

Author: Anna Sahara
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-19 20:30:07

Awalnya Aarick diam, tapi sedetik kemudian, tangannya naik. Tangan kanan ke pinggang Velove, sedang tangan kiri menahan tengkuk wanita itu. Bukan pelukan, tapi lebih kepada cengkraman. Dominan dan mengontrol permainan gila ini.

Aarick membalikkan badan Velove, lalu mendorong wanita itu perlahan ke dinding balkon set. Tekanannya kuat, tetapi terukur. Kamera tetap menangkap seluruh adegan. Di lensa, tampak seperti luapan hasrat. Kenyataannya, itu adalah teknik untuk melumpuhkan seseorang.

Bibir A
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 76

    Awalnya Aarick diam, tapi sedetik kemudian, tangannya naik. Tangan kanan ke pinggang Velove, sedang tangan kiri menahan tengkuk wanita itu. Bukan pelukan, tapi lebih kepada cengkraman. Dominan dan mengontrol permainan gila ini.Aarick membalikkan badan Velove, lalu mendorong wanita itu perlahan ke dinding balkon set. Tekanannya kuat, tetapi terukur. Kamera tetap menangkap seluruh adegan. Di lensa, tampak seperti luapan hasrat. Kenyataannya, itu adalah teknik untuk melumpuhkan seseorang.Bibir Aarick menempel pada leher Velove. Bukan ciuman. Melainkan sebuah gigitan. Perlahan dan tertahan, dia pun berbisik. Hanya Velove yang mendengar. "Kamu mau vulgar?" suara Aarick rendah dan kasar. "Ini vulgar versiku." Tangannya naik, mengunci kedua tangan Velove di atas kepalanya ke dinding. Posisinya sepenuhnya dominan. Velove tidak dapat bergerak. Napasnya bahkan tertahan, tidak bisa menikmati. Ini bukan yang dia inginkan. Dia ingin Aarick menyerah, memperlakukannya seperti pertama kali mereka

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 75

    Sutradara langsung berdiri. "Madam Velove, kita lagi jalan proses syut ..." "Ganti skenario!" suruh Velove dengan enteng. Dia mengambil naskah di meja, disobek halaman 27c. Suara kertas sobek kerasnya seperti tembakan di ballroom. "Adegan balkon aku yang main." What? Anne mengernyit. "Maksudnya?" Senyum sinis Velove tertuju pada Anne. Manis, tapi auranya mematikan. "Karakter kamu mati sampai di sini karena ledakan, Sayang. Kita rewrite. Hero-nya menyelamatkan aku. Lebih masuk akal. Ingat, aku yang punya film ini." Produser Gilbert yang berdiri di sebelah Erick hanya bisa diam, berkeringat. Tidak ada yang bisa bantah. Nama Velove ada di kolom paling atas kredit. Dananya nyaris dari dia semua. Sutradara menelan ludah. Menatap Aarick, seolah meminta pendapat tanpa suara. Sebagai pemeran utama, Aarick segera berdiri di tengah set. Tuxedo masih terpasang di tubuhnya yang atletis. "Aku menolak," kata Aarick. Suara datarnya tertuju pada semua orang, tapi sorot matanya hanya ke Velo

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 74

    Asisten sutradara bernama Gladi berseru, "Kapten Bara masuk dari pintu timur, Anne berlari dari tangga. Action!" Aarick berjalan. Langkahnya berbeda. Cepat, presisi, tetapi tidak kaku. Alina berlari ke arahnya, sesuai koreografi. Dalam naskah, Bara menarik Anne, melindunginya dengan badan, lalu... "Cut!" Aarick mengangkat tangan sebelum Anne sampai. Dia menoleh ke arah sutradara. "Peluk bisa. Tapi cium sampai kokop-kokopan tolong diganti." Ini flim pertamanya dan akan dipersembahkan untuk seorang gadis yang dicintainya, Aarick ingin menjaganya dari adegan vulgar yang ekstrim. Mendengar itu, Erick langsung turun dari kursinya. "Aarick, kontrak kit ..." "Saya tahu kontrak," potong Aarick pelan. "Tapi saya merasa berat untuk melakukan ini. Kalian bisa ganti sudut pengambilan, ganti dari bahu, ganti apa saja, asal adegan ciuman gak diambil." Hening. Seratus dua puluh figuran diam dan fokus mendengar. Seluruh kru juga menunggu keputusan. Anne Voss berhenti tiga langkah dari Aarick.

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 73

    Rokok yang baru dinyalakan baru saja menyentuh bibir ketika Aarick mendengar suara langkah kaki mendekatinya dengan pelan dan terukur. Karena mengira itu adalah Velove, Aarick sama sekali tidak menoleh. Dia tetap saja menatap Vltava sambil mengepulkan asap rokoknya, sampai seorang wanita memanggil namanya."Aarick ...!" panggil wanita itu.Aarick pun menoleh. "Anita," desahnya.Langkah Anita berhenti satu meter di depan Aarick. "Aku senang kamu langsung mengingat aku," suara Anita tenang untuk memastikan. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Malam-malam berdiri sendirian di sini? Kamu kayak banyak masalah, padahal aku tahu kamu baru saja melewati hari yang baik."Aarick menghisap rokok sekali sebelum bertanya, "Kamu sendiri ngapain di sini, mengikutiku sampai Praha?" kata Aarick. "Tentu saja pekerjaan yang membawaku ke sini. " Anita tersenyum tipis. "Selain menjabat di anggota dewan, aku juga punya banyak bisnis sampai mancanegara, dan asal kamu tahu, Erick, sutradara yang m

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 72

    Layar ponsel itu masih menyala dengan nama Ara di atasnya.Velove langsung tegang. Dia setengah duduk di ranjang, selimut ditarik untuk menutupi dada. Matanya ke ponsel Aarick, lalu berpindah ke muka sang pemilik ."Jangan diangkat," gertaknya cepat dan sedikit panik. "Kau angkat, berarti aku kirim videonya. Sekarang."Aarick tidak langsung menjawab. Dia masih berdiri dengan kemeja terbuka. Bertahun-tahun dia dikunci dengan ancaman yang sama dan selama itu juga hanya bisa menurut karena takut. Malam ini, Aarick akhirnya mengambil keputusan. Dia menunduk unt memungut ponselnya dari lantai. Jempolnya menggantung di atas layar antara ingin mematikan atau menjawab panggilan itu.Velove melihat reaksi itu dengan perasaan bercampur aduk. Dia pikir Aarick akan menurut seperti biasa, menolak panggilan, lalu balik lagi ke dia. Tapi Aarick diam lama. Lalu tanpa diduga-duga pria itu mengangkat muka, menatap Velove dengan tajam."Kirim saja ...!" kata Aarick singkat. Velove terkejut. "Apa?""K

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 71

    Angin dari sungai Vltava menusuk sampai tulang, tapi bukan itu yang membuat dada Aarick sesak. Ketika dia mendapatkan pujian dari banyak orang, di kepalanya, hanya ada satu nama. Ara. Gadis itu adalah satu-satunya wanita yang membuat Aarick merasa seperti manusia normal, bukan alat yang kerap dimanfaatkan banyak orang. Jemarinya bergerak sendiri, merogoh ponsel dalam saku mantel. Aarick hanya ingin mendengar suara Ara. Namun belum sempat layar ponsel menyala. "Aarick." Suara itu datang dari kabut. Manis, tapi pasti ada duri di ujungnya. Velove berdiri lima langkah di depannya, di tempat yang sedetik lalu kosong. Mantel bulunya terbuka. Gaun merah di baliknya terlalu tipis untuk Praha bulan Desember. Bibirnya merah dengan senyum yang menuntut. Dengan rahang yang mengeras, Aarick memasukkan ponselnya kembali. "Ngapain di sini, Vel." Velove melangkah perlahan. "Tentu saja karena aku kangen," katanya. Jari lentiknya menyentuh dada mantel Aarick. "Kamu dingin, begitu juga

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status