Partager

Tarif Cinta Sang Pria Perkasa
Tarif Cinta Sang Pria Perkasa
Auteur: Anna Sahara

Peran Pengganti

Auteur: Anna Sahara
last update Date de publication: 2026-04-02 22:56:36

"Kamu yang harus menggantikan pemeran utama pria!" suara Velove terdengar tegas ketika memberi perintah pada Aarick, salah satu bodyguard-nya.

Mendengar perintah itu sontak Aarick menelan ludah dengan kasar disertai bola mata yang nyaris keluar, bagaimana bisa dia akan menjadi pemeran utama pria dalam pembuatan film dewasa, sedangkan dirinya belum pernah berhubungan badan dengan siapa pun.

Pria berperawakan tinggi tegap itu baru menginjak usia 20 tahun, belum memiliki pasangan sepanjang hidupnya, juga masih tabu dengan hal-hal yang bersifat intim, namun kali ini Aarick harus dihadapkan dengan situasi sulit.

Menjadi bintang flim blue di usia yang masih terlalu muda, bagaimana dengan masa depannya nanti? Bagaimana dia akan berhadapan dengan keluarga terdekatnya?

"Bo ... bolehkah saya menolak, Madam?" Aarick bertanya dengan sangat hati-hati. "Saya merasa belum begitu siap untuk memerankannya, saya takut mengecewakan Madam dan kru yang lain."

" Sejak kapan kamu boleh memilih sendiri?" Dengan bengisnya Madame Velove melempar sebuah naskah berisi skenario yang akan diperankan oleh pemeran utama pria. "Pahami semuanya!! Bukankah kamu juga sudah sering menonton film-film yang sudah kita produksi? Saya rasa tidak akan susah untuk mempraktekkannya."

Madam Velove mendekati Aarick yang masih mematung di tempat, lantas berbisik pada pria dengan tinggi badan 185 cm itu, "Dengar, Aarick, ini adalah perintah yang harus kamu patuhi, tidak ada penolakan, tidak ada negosiasi, karena kamu tahu sendiri konsekuensinya, saya beri waktu 15 menit. Jika sudah selesai mempelajarinya segera masuk ke ruang utama!"

Aarick terdiam, menutup mata sejenak, membayangkan canda tawa kedua adik perempuannya yang berada dalam pantauan Madam Velove.

Benar, dia tidak punya pilihan.

" Aku harus bisa," Aarick bergumam, menguatkan diri sendiri.

Jika bukan karena sang ayah yang telah tega menggadaikan anak-anaknya, Aarick tidak sudi mengabdi pada madam yang sombong itu.

Ya, 5 tahun yang lalu, tepat ketika dia berusia 15 tahun, pria bernama lengkap Aarick gardapati itu terpaksa menukar kehidupannya demi melindungi kedua adik perempuannya yang masih di bawah umur.

Melihat tangis ibu dan kedua adiknya, Aarick lebih rela menjadi tumbal keegoisan sang ayah yang kerjanya hanya berjudi dan menghabiskan penghasilan ibunya yang tak seberapa.

Dengan tangan gemetar Aarick memungut berkas yang dilemparkan oleh Madam Velove. Dia mulai membaca satu persatu tulisan yang tertera di atas kertas tersebut.

3 ronde dalam satu malam, dengan berbagai gaya bersama satu orang wanita, inti dari semua yang tertera dalam skenario.

Aarick menarik nafas berat, benar-benar pilihan yang sulit. Meski sudah terbiasa menonton adegan panas dalam beberapa video yang diproduksi di bawah naungan VV production, namun Aarick belum memiliki mental yang kuat untuk melakukannya secara langsung, terlebih kali ini akan dijadikan konsumsi publik untuk pecinta film dewasa.

Aarick menoleh pada dua pria yang sedang menyiapkan peralatan syuting untuk malam itu.

Selain Rudolf, tampak juga satu pria lainnya bernama Tommy yang turut membantu. Karena dua pria itu adalah sahabat Aarick yang juga telah terjun lebih dulu dalam pembuatan film panas.

"Jangan khawatir, ceweknya tak kalah cantik dari Miss universe, selain cakep, body-nya sudah tentu aduhai," ucap Rudolf, lalu bersiul sembari menirukan sebuah bentuk tubuh wanita yang akan menjadi lawan main Aarick.

Tommy turut berbisik pada Aarick, "Sebenarnya, aku sudah menawarkan diri untuk menggantikan pemeran utamanya, tapi madam Velove justru menginginkanmu dan mengatakan kamu yang lebih pantas untuk melakukan adegan ini."

Aarick masih bergeming dan tidak tergoda, lalu kembali menatap kertas di tangannya. Ternyata memiliki tubuh sempurna dan wajah yang tampan rupawan tidak selamanya menguntungkan. Adakalanya justru membawa dampak buruk, terbukti Madam Velove lebih memilihnya daripada Rudolf yang berkulit hitam pekat dan Tommy yang bertubuh lebih pendek untuk menggantikan aktor yang tiba-tiba mengalami kecelakaan.

"Rudolf dan Tommy bisa terlihat enjoy dengan pekerjaan ini, jadi aku juga pasti bisa melakukannya," Aarick menguatkan dirinya karena harus menyerah dengan keadaan.

Jika dibandingkan dengan kedua sahabatnya, Aarick lebih beruntung karena selama ini hanya dijadikan sebagai bodyguard, sedangkan Rudolf dan Tommy telah menjadi pemain sekaligus kru dalam pembuatan film panas tersebut sejak keduanya masih berusia 17 tahun.

Tidak berselang lama, asisten Madam Velove yang bernama Bayu keluar dari sebuah ruangan untuk memanggil Aarick dan para kru lainnya. Pria yang sedikit gemulai itu menepuk kedua tangan dengan suara setengah berteriak agar semua mendengar aba-aba darinya.

"Perhatian, semuanya, syuting akan segera dimulai!"

Semua yang ada di dalam ruang tamu pun segera bergegas menuju ruang utama, termasuk Aarick yang mau tak mau harus kuat mental untuk menghadapi dunia barunya.

Di sebuah ruangan mewah dan luas, Aarick diperkenalkan dengan seorang wanita bernama Gisel.

Wanita itu adalah seorang artis pendatang baru yang sengaja menawarkan diri untuk beradegan panas dalam rumah produksi Madame Velove.

Aarick mengulurkan tangan pada wanita berparas cantik itu, melempar senyum seadanya pada wanita yang usianya 5 tahun lebih tua darinya. 'Sungguh wanita murahan, sudah memiliki pekerjaan yang bagus, tapi masih mencari jalan pintas,' pikir Aarick

"Gisel," ucap wanita blasteran itu dengan senyum mengembang di bibirnya. Dia menatap Aarick dari atas hingga bawah, lalu memuji dalam hati, 'Sungguh pria yang tampan, gagah, dan perfecto, jika pasanganku begini terus, tiap malam pun aku mau beradegan panas dengannya.'

Paras tampan Aarick tidak jauh beda dengan pemeran utama yang telah mengalami kecelakaan bahkan bagi semua orang yang berada dalam ruangan itu, Aarick jauh terlihat lebih sempurna dan mempesona.

"Kita mulai sekarang!" Madam Velove kembali memberi perintah, lalu dia mengikuti dua orang rekannya yang duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari ranjang.

Sedangkan para kru sudah mulai melakukan tugas masing-masing.

Kamera telah on. Semua siap sedia dengan tugas masing-masing.

Begitu juga dengan Aarick. Pria itu berjalan menuju ranjang yang telah dipenuhi bunga-bunga dari berbagai jenis dan warna.

Sesuai skenario, malam itu Aarick dan Gisel akan melakukan adegan malam pertama.

Tampak Gisel duduk anggun di atas ranjang dengan hanya menggunakan lingeri berwarna merah marun. Wanita itu menunggu kedatangan Aarick dengan gaya yang sangat menggoda.

Wanita itu juga sudah tidak sabar ingin melihat isi di balik pakaian formal yang sedari tadi membalut tubuh sempurna Aarick. Dia berkali-kali menelan ludah dan seketika imaginasi bercintanya semakin liar.

Di depan para kru, Aarick benar-benar membuang rasa malu dan gugup yang menderanya. Meski ini adalah yang pertama kalinya, dia berusaha keras menampilkan ekspresi penuh bergairah.

Aarick mulai melepas jas hitam dan kemeja putih yang membalut tubuh atletisnya, lantas melempar kedua benda itu di sembarang tempat. Berikutnya, Aarick juga melepas celana panjangnya hingga tersisa celana dalam saja.

"Oh my God ...." Tatkala melihat tubuh sixpack Aarick, juga tonjolan dalam celana dalam pria macho itu, Gisel dapat membayangkan sejauh mana kemampuan pasangannya itu. Sepanjang adegan, dia pasti akan mendesah karena kenikmatan surga dunia.

Kedua bola mata Gisel pun membelalak tak berkedip dengan mulut menganga.

Aarick dapat menyadari betapa Gisel takjub, terkesima melihat penampilannya yang begitu sempurna. Otot-otot yang membentuk tubuh Aarick membuatnya jauh lebih tampan seperti mengundang setiap wanita untuk mendekatinya.

Untuk yang ke sekian kalinya, Gisel menelan ludah. Ini pertama kali dia mengagumi sosok seorang pria secara berlebihan hingga tidak sanggup untuk berbasa-basi lagi.

"Terjang aku, Baby!"

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 88

    Pesan itu terkirim dalam keadaan marah. Satu baris, pendek, tapi tajam seperti sayatan.[Jadi selama ini aku mencintai orang yang menjual dirinya pada banyak wanita? Hebat, Rick. Kau memang pintar menipu dan mempermainkan perasaan wanita.]Ponsel Aarick bergetar di saku jaketnya saat dia baru saja tiba di apartment. Rudolf melihat wajah Aarick yang tiba-tiba berubah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.Aarick tidak menjawab. Dia masih menatap layar, membaca ulang pesan itu. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard ponsel, tapi tidak menekan apa-apa.Di Islamabad, Ara melempar ponselnya ke atas kasur. Dadanya naik turun. Dia tidak tahu harus marah, menangis, atau tertawa pahit.“Bodoh,” bisiknya lagi. “Kenapa aku masih peduli?”Di lain sisi, Ara juga tidak bisa berhenti memutar ulang kalimat Aarick di konferensi pers:_“Seorang gadis yang membuka mata hati saya, mendorong saya untuk segera meninggalkan dunia kotor itu… dia adalah dewiku.”_Ara tahu. Dia tahu dan yakin gadis itu adalah

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 87

    87.Aarick menatapnya lama, lalu menekan tolak.“Kenapa?” tanya Rudolf.“Belum saatnya,” jawab Aarick. “Kalau aku angkat sekarang, aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak mau dia dengar ini dari berita.”Rudolf mengangguk. “Kau akan cerita padanya?"Aarick tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponsel yang kembali gelap.***Islamabad.Ara duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar ke tempat tidur. Ponselnya masih terbuka di halaman berita.Judulnya berulang-ulang.“Mantan escort, kini menjadi bintang film.”“Rick Nocturne calon bintang akui masa lalu.”Tangannya gemetar. Bukan marah. Bukan jijik. Hanya tidak percaya pria yang dicintainya ternyata seorang gigolo elit yang memiliki banyak klien VIP.Dia menelpon untuk meminta penjelasan. Nada sambung berdering. Satu kali. Dua kali. Ditolak.Pesan masuk satu menit kemudian:[Ara. Aku lihat kamu menelepon. Aku akan cerita semuanya. Tapi tidak lewat telepon. Tunggu aku. Jangan dengar tentang aku dari orang lain.”Ara membaca pesan i

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 86

    Meja marmer panjang memantulkan cahaya lampu gantung yang terlalu terang. Di ujungnya, Marco Stevens dengan wajah tegang mengetuk-ngetukkan pena pada berkas kontrak.“Saya tidak mau nama bioskop saya dikaitkan dengan mantan escort,” katanya pelan, tapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan membeku.“Kita bicara soal reputasi. Soal keluarga yang datang bawa anak kecil. Saya tidak akan mempertaruhkan itu untuk satu aktor baru yang ternyata cukup kontroversial.”Beberapa eksekutif mengangguk hati-hati. Tidak ada yang berani membantah, namun satu orang di pojok ruangan merekam semuanya. Rekaman itu berdurasi 17 detik. Cukup untuk mengacaukan semuanya.12 jam kemudian.Rekaman itu bocor.Judulnya sederhana “Pemilik bioskop terbesar di kota Jabadia tolak kemunculan perdana Rick Nocturne; 'Saya tidak mau dikaitkan dengan mantan escort'."Dalam hitungan jam, berita itu meledak. Akan tetapi, di twitter dan instagram dukungan untuk Aarick juga meledak, penuh tagar #TalentOverPast.Di sebu

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 85

    Lampu kristal Grand Palais memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal. Trailer "Crimson Protokol" diputar di layar utama. Ketika adegan Aarick berdiri di Jembatan Charles sambil merokok muncul, seluruh ruangan terdiam, terpana dengan pesona ketampanan pria perkasa itu.Sutradara lain berbisik pada Erick, “Kau yakin dia tidak pernah sekolah akting? Dia bahkan mampu membawa suasana ruangan ini, menurutmu, dari mana bakat itu?”Erick hanya tersenyum. “Dia tidak perlu sekolah. Dia hanya perlu menghidupkan perannya.”Di luar ruangan, di koridor VIP, tiga wanita berdiri mengelilingi poster film. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.“Dia masih sama,” kata Clara. “Dingin. Tapi sekarang semua orang bisa melihatnya.”Sofia mengangguk. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk sebuah kepuasan. Sekarang dunia membayar untuk mendengarkannya.”Isabella mengeluarkan ponsel. “Kalau industri ini menolaknya, aku siap membuatnya jadi raja.”Mereka bertiga memposting foto bersama poster film dengan caption.

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 84

    84.Kota Jabadia, 10 hari setelah malam di Praha.Ruang konferensi pers hotel Aston dipenuhi wartawan. Poster "Crimson Protokol" terpampang di belakang panggung. Wajah Rick Nocturne dengan tatapan tegas dan wanita-wanita pemeran pendukung memenuhi layar besar.Erick Mayer menepuk mikrofon pelan. “Baik, sesi tanya jawab dimulai. Satu pertanyaan per orang.”Tangan pertama yang terangkat milik Dessy, reporter senior dari salah satu media ternama. Wanita itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah memegang kartu truf.“Tuan Nocturne, kami telah memutar thriller flim perdana Anda berulang kali dan itu membuat kami takjub, kami juga tidak sabar untuk menonton filmnya, tapi sekarang yang ingin saya tanyakan adalah gosip yang beredar sebelum penayangan film ini yang mana publik di kota Jabadia juga mulai bertanya-tanya. Benarkah Anda dulunya bekerja sebagai pendamping pribadi untuk klien VIP? Dan apakah debut film ini adalah cara Anda mencuci nama?”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kamera l

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 83

    83Harry menyeringai. “Industri ini belum selesai denganmu, Aarick. Dan aku belum selesai denganmu juga. Dulu kau mempermalukanku hingga aku dideportasi. Sekarang giliranku.”Air di wastafel berhenti menetes. Sunyi hanya dipecah oleh suara napas mereka berdua.Aarick yang marah mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan sisi keperkasaannya sebagai pria yang dominan.Tapi menyaksikan itu, senyum Harry tiba-tiba berubah. Matanya menyipit, menatap Aarick dari atas sampai bawah seperti menilai barang yang tiba-tiba jadi berharga lagi.“Little bastard,” gumam Harry pelan, hampir seperti mengagumi. “Setelah lama tak bertemu, kau malah semakin menjadi, kau membuatku lebih gila.”Aarick mengerutkan alis. “Maksudmu?”Harry menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau selalu begitu. Dingin, keras, tapi ada sesuatu dari caramu berdiri, caramu marah dan menatap… yang membuat orang gila.”Harry melangkah maju setengah langkah lagi. Suaranya berubah, lebih rendah, lebi

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Boleh Saja

    Seketika mulut Aarick menggembung. Untuk menekan hasratnya, dia menggigit bibir bagian bawahnya agar bisa menahan diri sebelum terjadi kesepakatan. Dengan jelas, Aarick merasakan dua gundukan kenyal milik Madam Velove telah menyatu dengan punggungnya, sungguh satu tarikan yang membuat urat-uratny

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 21

    Maurin belum berhenti sampai di situ saja. Dia mengoceh saja tanpa memperhatikan raut wajah Aarick yang sempat shock dengan permintaannya.Iris mata Maurin kemudian tertuju pada Aarick, penuh keinginan. “Ajak Maurin, Kak. Maurin bosan di kampung. Lulus sekolah nanti Maurin mau kerja

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Berani Bayar Berapa?

    Ya, wanita berusia 35 tahun itu sesungguhnya tengah berhasrat dan tentunya menginginkan Aarick sebagai pelampiasannya. Velove butuh Aarick untuk menuntaskan hasratnya. Dia tidak tahan ketika melihat Aarick yang gagah dan tampan bercumbu dengan Gisel. Tiba-tiba dia menginginkannya. Dia bahkan i

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Mengagumi

    Meski baru sekedar tatapan saja yang disuguhkan Aarick, namun desahan demi desahan sudah terdengar dari mulut Gisel. Perlahan-lahan, Aarick pun menaiki ranjang berukuran King size itu. Tangannya meraih wajah Gisel dengan lembut. "Rupanya kamu sudah sangat siap, Baby?" godanya dengan suara yang b

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status