Share

Mengagumi

Author: Anna Sahara
last update publish date: 2026-04-02 22:58:02

Meski baru sekedar tatapan saja yang disuguhkan Aarick, namun desahan demi desahan sudah terdengar dari mulut Gisel.

Perlahan-lahan, Aarick pun menaiki ranjang berukuran King size itu. Tangannya meraih wajah Gisel dengan lembut. "Rupanya kamu sudah sangat siap, Baby?" godanya dengan suara yang begitu menggairahkan.

Gisel sudah tertarik di awal pertemuan maka dia langsung menganggukkan kepala dengan wajah yang sudah merona merah seperti menahan sesuatu.

Tanpa permisi, tangan Gisel pun mulai meraba otot-otot perut Aarick, kemudian berlanjut pada bagian bawah Aarick yang hanya terlapisi celana boxer mini dan membuatnya penasaran sejak tadi.

"Oh ... Yes ...." Terlihat bahwa Gisel sudah tidak sabar ingin mengetahui ukuran di dalamnya dan sejauh mana kehebatan Aarick dalam memuaskan wanita.

"Oh ... Shiit ...." Sementara itu, Aarick sangat mengutuk kelakuan Gisel saat ini. Namun demi tuntutan profesi baru yang harus dijalankan, dia pun membuang semua perasaan yang tidak mendukungnya untuk menjadi bintang panas.

Meski merasa jijik di awal, namun perlahan-lahan Aarick mulai terlihat menikmati. Tatkala tangan nakal Gisel mulai meremas batang keperkasaannya, Aarick refleks mengedipkan mata, membuat tubuhnya menegang seketika.

Wanita di depan Aarick adalah artis berdarah Asia Eropa, kecantikan dan kemolekan tubuhnya sudah tidak diragukan lagi, maka Aarick pun memantapkan diri jika saat ini dirinya tengah berkencan dengan pasangannya sendiri.

Agar semakin leluasa, Aarick juga berusaha cuek dengan para kru yang tengah mengelilingi mereka malam itu.

'Anggap saja mereka patung manekin, toh kelakuan mereka semua lebih parah dari aku,' pikir Aarick sambil membuang rasa malu dalam dirinya.

Seperti yang tertulis di dalam naskah, Aarick melakukan foreplay dengan penuh kelembutan, membuat Gisel melayang hingga nirwana. Dia mulai berani, menempelkan bibirnya di bibir artis cantik itu, melumat, mengecap rasa di bibir sensual si artis yang belum memiliki nama yang cukup tinggi di industri perfilman.

Ciuman Aarick sungguh memabukkan, membuat Gisel merasa seperti berada di surga. Di bawah sentuhan Aarick, tubuhnya meleleh bak lilin yang mencair. Dia tidak bisa menahan diri lagi hingga desahannya semakin keras memenuhi ruangan, tangannya pun refleks merayap di punggung Aarick, menariknya lebih dekat.

Tak mau kalah, Aarick membalas setiap sentuhan Gisel, menggerayangi tubuh artis cantik itu, hingga membangkitkan gelombang-gelombang kenikmatan.

"Owhhh ..." Gisel seperti berada di ujung dunia, tubuhnya bergetar hebat di bawah sentuhan Aarick.

Di tengah-tengah keintiman mereka, tangan liar Aarick menyentuh dan meremas bagian-bagian sensitif dari tubuh Gisel yang hanya tertutupi selembar kain tipis.

Semakin panas, tangan Aarick kini telah menyusup ke dalam celana dalam Gisel. Tak sabar, dia pun mengoyak paksa semua kain yang menghambat pemandangannya.

Alhasil, Gisel telah polos tanpa sehelai benangpun di hadapan Aarick dan para kru yang lain, tidak ada pembatas lagi untuk menyaksikan keindahan dan kemolekan tubuh wanita itu.

Dengan rakus, bibir Aarick berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Semakin lama, ternyata semakin menggairahkan, Aarick pun sangat menikmati sensasi bercinta dengan Gisel hingga tidak sadar mulutnya telah menyusup di di antara kedua paha sang artis.

Sebagian permukaan kulit putih mulus wanita itu telah berubah merah akibat kecupan kecupan panas yang diberikan Aarick, terutama di bagian dada dan leher, penuh dengan kissmark.

"Kita akan melakukannya sekarang, Baby, are you ready?" Tatapan Aarick begitu memabukkan senada dengan adik kecilnya yang sudah on fire meminta bagian.

Ternyata Aarick yang sempat merasa malu itu, sangat lihai dalam menjalankan perannya.

Gisel sampai terengah-engah dan tak sanggup berkata-kata. Hanya anggukan kepala dan bahasa tubuhnya yang lain yang bisa membalas pertanyaan Aarick bahwa dirinya juga butuh pelampiasan detik itu juga.

Tatkala Aarick meloloskan celana dalam yang tersisa dalam tubuhnya, menunjukkan batang keperkasaannya di depan Gisel dan para kru yang sedang merekam, tiba-tiba suara Madam Velove mengagetkan semua orang.

"Cut ...!"

Suara Madam Velove melengking dengan lantang hingga semua mata tertuju padanya.

"Kita stop sejenak," tambahnya dan fokus wanita itu hanya tertuju pada dua insan yang berada di atas ranjang.

Entah apa yang dipikirkan sang madam saat ini, yang jelas wajah wanita itu terlihat memerah dengan bola mata yang bersinar.

"What the fuck?" keluh Aarick yang baru saja bersiap untuk menerjang lobang kenikmatan Gisel.

"Ada apa?" Albert, rekan kerja madam Velove turut berdiri dan bertanya. Dia keheranan melihat sikap wanita itu karena tidak biasanya Madam Velove bertindak aneh tanpa sebab alasan yang valid.

"Iya, ada apa, apa yang salah?" Marcel, sang sutradara ikut menimpali, sejauh ini syuting masih berjalan sesuai dengan skenario, kenapa tiba-tiba dipotong padahal baru berjalan 20 menit.

"Ada yang tidak sesuai," Sambil mengatur napasnya yang kian memburu, madam Velove menjawab dengan singkat, lantas mendekati para kru dan berdiri di tengah-tengah semua orang.

"Kalian semua keluar dari ruangan ini, matikan semua peralatan syuting!" Velove memberi perintah dengan suara yang tegas.

Semua beranjak dari tempat masing-masing, termasuk Aarick dan juga Gisel yang sedang terbakar gairah.

Namun tiba-tiba ...

"Kamu tetap di sini, Aarick!" seru madam Velove ketika melihat pengawal pribadinya itu hendak turun dari ranjang, lantas menatap tajam pada Gisel yang sedang melingkarkan selimut ke tubuh polosnya.

"Gisel, cepat kamu keluar dari sini!" lanjut Velove pada Gisel. "Aku ingin bicara dengan Aarick, hanya berdua," tegasnya membuat Aarick keheranan.

'Aneh dan sangat menyebalkan,' Aarick menggerutu sembari menatap tajam atasannya yang suka mengatur itu.

Tidak pahamkah Velove bagaimana Aarick merubah dirinya dalam sekejap agar tidak memiliki rasa malu bertelanjang di depan orang banyak?

Dengan seenak jidatnya Velove menghentikan proses adegan syuting di saat dua insan manusia tengah berada dalam gairah birahi yang memuncak.

Sungguh atasan yang tidak berperasaan.

Gisel yang hanya seorang artis bayaran dan sedang berusaha mencari popularitas terpaksa menurut walau hatinya dongkol dan harus mengabaikan bagian sensitifnya yang masih berkedut.

Tidak hanya Aarick yang menggerutu, semua para kru yang terlibat juga rekan Madam Velove terlihat kesal dan mengecam kelakuan wanita itu.

Proses syuting yang terbilang sempurna harus dihentikan tanpa alasan yang tepat.

Di luar ruangan.

"Ada apa dengan madam Velove?" terdengar suara Rudolf yang sedang bertanya pada Tommy.

Tommy baru saja ingin menjawab, namun langsung dipotong oleh Gisel, "Aku yakin si Madam sialan itu juga menginginkan Aarick, aku bisa lihat dari cara dia menatap Aarick, itu sebabnya dia meminta kita semua untuk berhenti."

"Apa ...?" Tommy kaget, lantas manik matanya mencari keberadaan Aarick yang ternyata tidak ikut keluar dari ruangan utama." Wah ... beruntung sekali teman kita yang satu itu," ucapnya.

"Dasar otakmu ini ...!" ledek Rudolf sembari memukul kepala Tommy.

Tommy hanya terkekeh mendengar ejekan temannya. Itu adalah fakta karena banyak yang ingin tidur dengan Madam Velove yang cantik jelita, dan dalam masalah selangkangan dia pun tidak ingin munafik.

Semua orang telah keluar dari ruangan tersebut. Kamera juga sudah off. Tinggallah Madam Velove bersama Aarick di dalam ruangan mewah tersebut.

Aarick menatap atasannya itu dengan ekspresi yang bercampur aduk. Marah, kesal, benci menjadi satu.

"Dasar bos aneh," gumamnya pelan, lantas meraih pakaiannya yang berserak di lantai. Dia belum mengetahui maksud dan tujuan wanita itu. Dia juga tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut.

Namun yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka oleh Aarick, tanpa ragu dan tanpa memberi penjelasan, Madam Velove tiba-tiba melepas pakaian yang melekat di tubuhnya satu persatu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 76

    Awalnya Aarick diam, tapi sedetik kemudian, tangannya naik. Tangan kanan ke pinggang Velove, sedang tangan kiri menahan tengkuk wanita itu. Bukan pelukan, tapi lebih kepada cengkraman. Dominan dan mengontrol permainan gila ini.Aarick membalikkan badan Velove, lalu mendorong wanita itu perlahan ke dinding balkon set. Tekanannya kuat, tetapi terukur. Kamera tetap menangkap seluruh adegan. Di lensa, tampak seperti luapan hasrat. Kenyataannya, itu adalah teknik untuk melumpuhkan seseorang.Bibir Aarick menempel pada leher Velove. Bukan ciuman. Melainkan sebuah gigitan. Perlahan dan tertahan, dia pun berbisik. Hanya Velove yang mendengar. "Kamu mau vulgar?" suara Aarick rendah dan kasar. "Ini vulgar versiku." Tangannya naik, mengunci kedua tangan Velove di atas kepalanya ke dinding. Posisinya sepenuhnya dominan. Velove tidak dapat bergerak. Napasnya bahkan tertahan, tidak bisa menikmati. Ini bukan yang dia inginkan. Dia ingin Aarick menyerah, memperlakukannya seperti pertama kali mereka

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 75

    Sutradara langsung berdiri. "Madam Velove, kita lagi jalan proses syut ..." "Ganti skenario!" suruh Velove dengan enteng. Dia mengambil naskah di meja, disobek halaman 27c. Suara kertas sobek kerasnya seperti tembakan di ballroom. "Adegan balkon aku yang main." What? Anne mengernyit. "Maksudnya?" Senyum sinis Velove tertuju pada Anne. Manis, tapi auranya mematikan. "Karakter kamu mati sampai di sini karena ledakan, Sayang. Kita rewrite. Hero-nya menyelamatkan aku. Lebih masuk akal. Ingat, aku yang punya film ini." Produser Gilbert yang berdiri di sebelah Erick hanya bisa diam, berkeringat. Tidak ada yang bisa bantah. Nama Velove ada di kolom paling atas kredit. Dananya nyaris dari dia semua. Sutradara menelan ludah. Menatap Aarick, seolah meminta pendapat tanpa suara. Sebagai pemeran utama, Aarick segera berdiri di tengah set. Tuxedo masih terpasang di tubuhnya yang atletis. "Aku menolak," kata Aarick. Suara datarnya tertuju pada semua orang, tapi sorot matanya hanya ke Velo

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 74

    Asisten sutradara bernama Gladi berseru, "Kapten Bara masuk dari pintu timur, Anne berlari dari tangga. Action!" Aarick berjalan. Langkahnya berbeda. Cepat, presisi, tetapi tidak kaku. Alina berlari ke arahnya, sesuai koreografi. Dalam naskah, Bara menarik Anne, melindunginya dengan badan, lalu... "Cut!" Aarick mengangkat tangan sebelum Anne sampai. Dia menoleh ke arah sutradara. "Peluk bisa. Tapi cium sampai kokop-kokopan tolong diganti." Ini flim pertamanya dan akan dipersembahkan untuk seorang gadis yang dicintainya, Aarick ingin menjaganya dari adegan vulgar yang ekstrim. Mendengar itu, Erick langsung turun dari kursinya. "Aarick, kontrak kit ..." "Saya tahu kontrak," potong Aarick pelan. "Tapi saya merasa berat untuk melakukan ini. Kalian bisa ganti sudut pengambilan, ganti dari bahu, ganti apa saja, asal adegan ciuman gak diambil." Hening. Seratus dua puluh figuran diam dan fokus mendengar. Seluruh kru juga menunggu keputusan. Anne Voss berhenti tiga langkah dari Aarick.

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 73

    Rokok yang baru dinyalakan baru saja menyentuh bibir ketika Aarick mendengar suara langkah kaki mendekatinya dengan pelan dan terukur. Karena mengira itu adalah Velove, Aarick sama sekali tidak menoleh. Dia tetap saja menatap Vltava sambil mengepulkan asap rokoknya, sampai seorang wanita memanggil namanya."Aarick ...!" panggil wanita itu.Aarick pun menoleh. "Anita," desahnya.Langkah Anita berhenti satu meter di depan Aarick. "Aku senang kamu langsung mengingat aku," suara Anita tenang untuk memastikan. "Sebenarnya apa yang kamu lakukan di sini? Malam-malam berdiri sendirian di sini? Kamu kayak banyak masalah, padahal aku tahu kamu baru saja melewati hari yang baik."Aarick menghisap rokok sekali sebelum bertanya, "Kamu sendiri ngapain di sini, mengikutiku sampai Praha?" kata Aarick. "Tentu saja pekerjaan yang membawaku ke sini. " Anita tersenyum tipis. "Selain menjabat di anggota dewan, aku juga punya banyak bisnis sampai mancanegara, dan asal kamu tahu, Erick, sutradara yang m

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 72

    Layar ponsel itu masih menyala dengan nama Ara di atasnya.Velove langsung tegang. Dia setengah duduk di ranjang, selimut ditarik untuk menutupi dada. Matanya ke ponsel Aarick, lalu berpindah ke muka sang pemilik ."Jangan diangkat," gertaknya cepat dan sedikit panik. "Kau angkat, berarti aku kirim videonya. Sekarang."Aarick tidak langsung menjawab. Dia masih berdiri dengan kemeja terbuka. Bertahun-tahun dia dikunci dengan ancaman yang sama dan selama itu juga hanya bisa menurut karena takut. Malam ini, Aarick akhirnya mengambil keputusan. Dia menunduk unt memungut ponselnya dari lantai. Jempolnya menggantung di atas layar antara ingin mematikan atau menjawab panggilan itu.Velove melihat reaksi itu dengan perasaan bercampur aduk. Dia pikir Aarick akan menurut seperti biasa, menolak panggilan, lalu balik lagi ke dia. Tapi Aarick diam lama. Lalu tanpa diduga-duga pria itu mengangkat muka, menatap Velove dengan tajam."Kirim saja ...!" kata Aarick singkat. Velove terkejut. "Apa?""K

  • Tarif Cinta Sang Pria Perkasa   Bab 71

    Angin dari sungai Vltava menusuk sampai tulang, tapi bukan itu yang membuat dada Aarick sesak. Ketika dia mendapatkan pujian dari banyak orang, di kepalanya, hanya ada satu nama. Ara. Gadis itu adalah satu-satunya wanita yang membuat Aarick merasa seperti manusia normal, bukan alat yang kerap dimanfaatkan banyak orang. Jemarinya bergerak sendiri, merogoh ponsel dalam saku mantel. Aarick hanya ingin mendengar suara Ara. Namun belum sempat layar ponsel menyala. "Aarick." Suara itu datang dari kabut. Manis, tapi pasti ada duri di ujungnya. Velove berdiri lima langkah di depannya, di tempat yang sedetik lalu kosong. Mantel bulunya terbuka. Gaun merah di baliknya terlalu tipis untuk Praha bulan Desember. Bibirnya merah dengan senyum yang menuntut. Dengan rahang yang mengeras, Aarick memasukkan ponselnya kembali. "Ngapain di sini, Vel." Velove melangkah perlahan. "Tentu saja karena aku kangen," katanya. Jari lentiknya menyentuh dada mantel Aarick. "Kamu dingin, begitu juga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status