ログインMeski baru sekedar tatapan saja yang disuguhkan Aarick, namun desahan demi desahan sudah terdengar dari mulut Gisel.
Perlahan-lahan, Aarick pun menaiki ranjang berukuran King size itu. Tangannya meraih wajah Gisel dengan lembut. "Rupanya kamu sudah sangat siap, Baby?" godanya dengan suara yang begitu menggairahkan. Gisel sudah tertarik di awal pertemuan maka dia langsung menganggukkan kepala dengan wajah yang sudah merona merah seperti menahan sesuatu. Tanpa permisi, tangan Gisel pun mulai meraba otot-otot perut Aarick, kemudian berlanjut pada bagian bawah Aarick yang hanya terlapisi celana boxer mini dan membuatnya penasaran sejak tadi. "Oh ... Yes ...." Terlihat bahwa Gisel sudah tidak sabar ingin mengetahui ukuran di dalamnya dan sejauh mana kehebatan Aarick dalam memuaskan wanita. "Oh ... Shiit ...." Sementara itu, Aarick sangat mengutuk kelakuan Gisel saat ini. Namun demi tuntutan profesi baru yang harus dijalankan, dia pun membuang semua perasaan yang tidak mendukungnya untuk menjadi bintang panas. Meski merasa jijik di awal, namun perlahan-lahan Aarick mulai terlihat menikmati. Tatkala tangan nakal Gisel mulai meremas batang keperkasaannya, Aarick refleks mengedipkan mata, membuat tubuhnya menegang seketika. Wanita di depan Aarick adalah artis berdarah Asia Eropa, kecantikan dan kemolekan tubuhnya sudah tidak diragukan lagi, maka Aarick pun memantapkan diri jika saat ini dirinya tengah berkencan dengan pasangannya sendiri. Agar semakin leluasa, Aarick juga berusaha cuek dengan para kru yang tengah mengelilingi mereka malam itu. 'Anggap saja mereka patung manekin, toh kelakuan mereka semua lebih parah dari aku,' pikir Aarick sambil membuang rasa malu dalam dirinya. Seperti yang tertulis di dalam naskah, Aarick melakukan foreplay dengan penuh kelembutan, membuat Gisel melayang hingga nirwana. Dia mulai berani, menempelkan bibirnya di bibir artis cantik itu, melumat, mengecap rasa di bibir sensual si artis yang belum memiliki nama yang cukup tinggi di industri perfilman. Ciuman Aarick sungguh memabukkan, membuat Gisel merasa seperti berada di surga. Di bawah sentuhan Aarick, tubuhnya meleleh bak lilin yang mencair. Dia tidak bisa menahan diri lagi hingga desahannya semakin keras memenuhi ruangan, tangannya pun refleks merayap di punggung Aarick, menariknya lebih dekat. Tak mau kalah, Aarick membalas setiap sentuhan Gisel, menggerayangi tubuh artis cantik itu, hingga membangkitkan gelombang-gelombang kenikmatan. "Owhhh ..." Gisel seperti berada di ujung dunia, tubuhnya bergetar hebat di bawah sentuhan Aarick. Di tengah-tengah keintiman mereka, tangan liar Aarick menyentuh dan meremas bagian-bagian sensitif dari tubuh Gisel yang hanya tertutupi selembar kain tipis. Semakin panas, tangan Aarick kini telah menyusup ke dalam celana dalam Gisel. Tak sabar, dia pun mengoyak paksa semua kain yang menghambat pemandangannya. Alhasil, Gisel telah polos tanpa sehelai benangpun di hadapan Aarick dan para kru yang lain, tidak ada pembatas lagi untuk menyaksikan keindahan dan kemolekan tubuh wanita itu. Dengan rakus, bibir Aarick berpindah dari satu bagian tubuh ke bagian lainnya. Semakin lama, ternyata semakin menggairahkan, Aarick pun sangat menikmati sensasi bercinta dengan Gisel hingga tidak sadar mulutnya telah menyusup di di antara kedua paha sang artis. Sebagian permukaan kulit putih mulus wanita itu telah berubah merah akibat kecupan kecupan panas yang diberikan Aarick, terutama di bagian dada dan leher, penuh dengan kissmark. "Kita akan melakukannya sekarang, Baby, are you ready?" Tatapan Aarick begitu memabukkan senada dengan adik kecilnya yang sudah on fire meminta bagian. Ternyata Aarick yang sempat merasa malu itu, sangat lihai dalam menjalankan perannya. Gisel sampai terengah-engah dan tak sanggup berkata-kata. Hanya anggukan kepala dan bahasa tubuhnya yang lain yang bisa membalas pertanyaan Aarick bahwa dirinya juga butuh pelampiasan detik itu juga. Tatkala Aarick meloloskan celana dalam yang tersisa dalam tubuhnya, menunjukkan batang keperkasaannya di depan Gisel dan para kru yang sedang merekam, tiba-tiba suara Madam Velove mengagetkan semua orang. "Cut ...!" Suara Madam Velove melengking dengan lantang hingga semua mata tertuju padanya. "Kita stop sejenak," tambahnya dan fokus wanita itu hanya tertuju pada dua insan yang berada di atas ranjang. Entah apa yang dipikirkan sang madam saat ini, yang jelas wajah wanita itu terlihat memerah dengan bola mata yang bersinar. "What the fuck?" keluh Aarick yang baru saja bersiap untuk menerjang lobang kenikmatan Gisel. "Ada apa?" Albert, rekan kerja madam Velove turut berdiri dan bertanya. Dia keheranan melihat sikap wanita itu karena tidak biasanya Madam Velove bertindak aneh tanpa sebab alasan yang valid. "Iya, ada apa, apa yang salah?" Marcel, sang sutradara ikut menimpali, sejauh ini syuting masih berjalan sesuai dengan skenario, kenapa tiba-tiba dipotong padahal baru berjalan 20 menit. "Ada yang tidak sesuai," Sambil mengatur napasnya yang kian memburu, madam Velove menjawab dengan singkat, lantas mendekati para kru dan berdiri di tengah-tengah semua orang. "Kalian semua keluar dari ruangan ini, matikan semua peralatan syuting!" Velove memberi perintah dengan suara yang tegas. Semua beranjak dari tempat masing-masing, termasuk Aarick dan juga Gisel yang sedang terbakar gairah. Namun tiba-tiba ... "Kamu tetap di sini, Aarick!" seru madam Velove ketika melihat pengawal pribadinya itu hendak turun dari ranjang, lantas menatap tajam pada Gisel yang sedang melingkarkan selimut ke tubuh polosnya. "Gisel, cepat kamu keluar dari sini!" lanjut Velove pada Gisel. "Aku ingin bicara dengan Aarick, hanya berdua," tegasnya membuat Aarick keheranan. 'Aneh dan sangat menyebalkan,' Aarick menggerutu sembari menatap tajam atasannya yang suka mengatur itu. Tidak pahamkah Velove bagaimana Aarick merubah dirinya dalam sekejap agar tidak memiliki rasa malu bertelanjang di depan orang banyak? Dengan seenak jidatnya Velove menghentikan proses adegan syuting di saat dua insan manusia tengah berada dalam gairah birahi yang memuncak. Sungguh atasan yang tidak berperasaan. Gisel yang hanya seorang artis bayaran dan sedang berusaha mencari popularitas terpaksa menurut walau hatinya dongkol dan harus mengabaikan bagian sensitifnya yang masih berkedut. Tidak hanya Aarick yang menggerutu, semua para kru yang terlibat juga rekan Madam Velove terlihat kesal dan mengecam kelakuan wanita itu. Proses syuting yang terbilang sempurna harus dihentikan tanpa alasan yang tepat. Di luar ruangan. "Ada apa dengan madam Velove?" terdengar suara Rudolf yang sedang bertanya pada Tommy. Tommy baru saja ingin menjawab, namun langsung dipotong oleh Gisel, "Aku yakin si Madam sialan itu juga menginginkan Aarick, aku bisa lihat dari cara dia menatap Aarick, itu sebabnya dia meminta kita semua untuk berhenti." "Apa ...?" Tommy kaget, lantas manik matanya mencari keberadaan Aarick yang ternyata tidak ikut keluar dari ruangan utama." Wah ... beruntung sekali teman kita yang satu itu," ucapnya. "Dasar otakmu ini ...!" ledek Rudolf sembari memukul kepala Tommy. Tommy hanya terkekeh mendengar ejekan temannya. Itu adalah fakta karena banyak yang ingin tidur dengan Madam Velove yang cantik jelita, dan dalam masalah selangkangan dia pun tidak ingin munafik. Semua orang telah keluar dari ruangan tersebut. Kamera juga sudah off. Tinggallah Madam Velove bersama Aarick di dalam ruangan mewah tersebut. Aarick menatap atasannya itu dengan ekspresi yang bercampur aduk. Marah, kesal, benci menjadi satu. "Dasar bos aneh," gumamnya pelan, lantas meraih pakaiannya yang berserak di lantai. Dia belum mengetahui maksud dan tujuan wanita itu. Dia juga tidak tertarik untuk bertanya lebih lanjut. Namun yang mengejutkan dan tidak disangka-sangka oleh Aarick, tanpa ragu dan tanpa memberi penjelasan, Madam Velove tiba-tiba melepas pakaian yang melekat di tubuhnya satu persatu.Pesan itu terkirim dalam keadaan marah. Satu baris, pendek, tapi tajam seperti sayatan.[Jadi selama ini aku mencintai orang yang menjual dirinya pada banyak wanita? Hebat, Rick. Kau memang pintar menipu dan mempermainkan perasaan wanita.]Ponsel Aarick bergetar di saku jaketnya saat dia baru saja tiba di apartment. Rudolf melihat wajah Aarick yang tiba-tiba berubah. “Kau baik-baik saja?” tanyanya pelan.Aarick tidak menjawab. Dia masih menatap layar, membaca ulang pesan itu. Jari-jarinya berhenti di atas keyboard ponsel, tapi tidak menekan apa-apa.Di Islamabad, Ara melempar ponselnya ke atas kasur. Dadanya naik turun. Dia tidak tahu harus marah, menangis, atau tertawa pahit.“Bodoh,” bisiknya lagi. “Kenapa aku masih peduli?”Di lain sisi, Ara juga tidak bisa berhenti memutar ulang kalimat Aarick di konferensi pers:_“Seorang gadis yang membuka mata hati saya, mendorong saya untuk segera meninggalkan dunia kotor itu… dia adalah dewiku.”_Ara tahu. Dia tahu dan yakin gadis itu adalah
87.Aarick menatapnya lama, lalu menekan tolak.“Kenapa?” tanya Rudolf.“Belum saatnya,” jawab Aarick. “Kalau aku angkat sekarang, aku tidak tahu harus bilang apa. Aku tidak mau dia dengar ini dari berita.”Rudolf mengangguk. “Kau akan cerita padanya?"Aarick tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponsel yang kembali gelap.***Islamabad.Ara duduk di lantai kamarnya, punggung bersandar ke tempat tidur. Ponselnya masih terbuka di halaman berita.Judulnya berulang-ulang.“Mantan escort, kini menjadi bintang film.”“Rick Nocturne calon bintang akui masa lalu.”Tangannya gemetar. Bukan marah. Bukan jijik. Hanya tidak percaya pria yang dicintainya ternyata seorang gigolo elit yang memiliki banyak klien VIP.Dia menelpon untuk meminta penjelasan. Nada sambung berdering. Satu kali. Dua kali. Ditolak.Pesan masuk satu menit kemudian:[Ara. Aku lihat kamu menelepon. Aku akan cerita semuanya. Tapi tidak lewat telepon. Tunggu aku. Jangan dengar tentang aku dari orang lain.”Ara membaca pesan i
Meja marmer panjang memantulkan cahaya lampu gantung yang terlalu terang. Di ujungnya, Marco Stevens dengan wajah tegang mengetuk-ngetukkan pena pada berkas kontrak.“Saya tidak mau nama bioskop saya dikaitkan dengan mantan escort,” katanya pelan, tapi cukup keras untuk membuat seluruh ruangan membeku.“Kita bicara soal reputasi. Soal keluarga yang datang bawa anak kecil. Saya tidak akan mempertaruhkan itu untuk satu aktor baru yang ternyata cukup kontroversial.”Beberapa eksekutif mengangguk hati-hati. Tidak ada yang berani membantah, namun satu orang di pojok ruangan merekam semuanya. Rekaman itu berdurasi 17 detik. Cukup untuk mengacaukan semuanya.12 jam kemudian.Rekaman itu bocor.Judulnya sederhana “Pemilik bioskop terbesar di kota Jabadia tolak kemunculan perdana Rick Nocturne; 'Saya tidak mau dikaitkan dengan mantan escort'."Dalam hitungan jam, berita itu meledak. Akan tetapi, di twitter dan instagram dukungan untuk Aarick juga meledak, penuh tagar #TalentOverPast.Di sebu
Lampu kristal Grand Palais memantulkan cahaya ke gaun-gaun mahal. Trailer "Crimson Protokol" diputar di layar utama. Ketika adegan Aarick berdiri di Jembatan Charles sambil merokok muncul, seluruh ruangan terdiam, terpana dengan pesona ketampanan pria perkasa itu.Sutradara lain berbisik pada Erick, “Kau yakin dia tidak pernah sekolah akting? Dia bahkan mampu membawa suasana ruangan ini, menurutmu, dari mana bakat itu?”Erick hanya tersenyum. “Dia tidak perlu sekolah. Dia hanya perlu menghidupkan perannya.”Di luar ruangan, di koridor VIP, tiga wanita berdiri mengelilingi poster film. Mereka saling pandang, lalu tertawa kecil.“Dia masih sama,” kata Clara. “Dingin. Tapi sekarang semua orang bisa melihatnya.”Sofia mengangguk. “Dulu aku membayar mahal hanya untuk sebuah kepuasan. Sekarang dunia membayar untuk mendengarkannya.”Isabella mengeluarkan ponsel. “Kalau industri ini menolaknya, aku siap membuatnya jadi raja.”Mereka bertiga memposting foto bersama poster film dengan caption.
84.Kota Jabadia, 10 hari setelah malam di Praha.Ruang konferensi pers hotel Aston dipenuhi wartawan. Poster "Crimson Protokol" terpampang di belakang panggung. Wajah Rick Nocturne dengan tatapan tegas dan wanita-wanita pemeran pendukung memenuhi layar besar.Erick Mayer menepuk mikrofon pelan. “Baik, sesi tanya jawab dimulai. Satu pertanyaan per orang.”Tangan pertama yang terangkat milik Dessy, reporter senior dari salah satu media ternama. Wanita itu tersenyum tipis, seperti orang yang sudah memegang kartu truf.“Tuan Nocturne, kami telah memutar thriller flim perdana Anda berulang kali dan itu membuat kami takjub, kami juga tidak sabar untuk menonton filmnya, tapi sekarang yang ingin saya tanyakan adalah gosip yang beredar sebelum penayangan film ini yang mana publik di kota Jabadia juga mulai bertanya-tanya. Benarkah Anda dulunya bekerja sebagai pendamping pribadi untuk klien VIP? Dan apakah debut film ini adalah cara Anda mencuci nama?”Ruangan mendadak sunyi. Beberapa kamera l
83Harry menyeringai. “Industri ini belum selesai denganmu, Aarick. Dan aku belum selesai denganmu juga. Dulu kau mempermalukanku hingga aku dideportasi. Sekarang giliranku.”Air di wastafel berhenti menetes. Sunyi hanya dipecah oleh suara napas mereka berdua.Aarick yang marah mengepalkan kedua tinjunya, menunjukkan sisi keperkasaannya sebagai pria yang dominan.Tapi menyaksikan itu, senyum Harry tiba-tiba berubah. Matanya menyipit, menatap Aarick dari atas sampai bawah seperti menilai barang yang tiba-tiba jadi berharga lagi.“Little bastard,” gumam Harry pelan, hampir seperti mengagumi. “Setelah lama tak bertemu, kau malah semakin menjadi, kau membuatku lebih gila.”Aarick mengerutkan alis. “Maksudmu?”Harry menghela napas panjang, dadanya naik turun. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau selalu begitu. Dingin, keras, tapi ada sesuatu dari caramu berdiri, caramu marah dan menatap… yang membuat orang gila.”Harry melangkah maju setengah langkah lagi. Suaranya berubah, lebih rendah, lebi
Aarick mengerang tertahan saat jemari Velove menyelinap ke pangkuannya, menyentuh bagian terlarangnya. Serta-merta ia menepis tangan nakal itu. "Jaga sikapmu. Ini bukan ruangan pribadi," desisnya tajam, menahan gejolak.Velove justru tersenyum miring, tak sedikit pun terusik. Tangannya kembali be
“Aku mau coba ini, Aarick.” Ara naik dan duduk di mesin water rower, matanya berbinar. “Tolong ajarin aku caranya, Rick!” pintanya antusias.Aarick menghela napas pelan. Jujur, dia takut khilaf. Dekat dengan Ara selalu menguji kendalinya. Tapi janji adalah janji. Dia sudah bilang ak
"Kamu mau nanya apa?"Ara menggeleng pelan. "Nggak jadi, kamu duluan deh. Kayaknya pertanyaan kamu lebih penting."Aarick menelan ludah. Jantungnya sudah seperti mau copot saja. Jika dugaannya salah, dia akan merasa malu seumur hidup. Tapi jika dia benar... Aarick mengambil napas. Sekali, hingga d
Aarick melipat kedua tangannya sambil bersandar di sisi pintu dapur. Dia tersenyum kecil sambil mengamati setiap gerakan Ara yang begitu lucu dan menggemaskan. Jelas, gadis itu tidak begitu paham dengan bahan-bahan masakan di atas meja. Namun, tetap memaksakan diri untuk memasak menu makan siang







