공유

Bab 182 Season 3

작가: Yuri
last update 게시일: 2026-08-05 10:08:54

​Mobil sedan hitam mewah milik Kizen Group berhenti mulus di depan sebuah restoran seafood bergaya fine dining yang terletak di tepi dermaga New York. Suasana restoran itu sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota, dengan pemandangan muara laut yang membentang luas.

​Verlyn dan Steven melangkah masuk. Seorang pelayan menyambut mereka dan mengantar menuju meja privat di sudut area outdoor yang menghadap langsung ke arah perairan.

​"Pilihan ya
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 182 Season 3

    ​Mobil sedan hitam mewah milik Kizen Group berhenti mulus di depan sebuah restoran seafood bergaya fine dining yang terletak di tepi dermaga New York. Suasana restoran itu sangat tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota, dengan pemandangan muara laut yang membentang luas. ​Verlyn dan Steven melangkah masuk. Seorang pelayan menyambut mereka dan mengantar menuju meja privat di sudut area outdoor yang menghadap langsung ke arah perairan. ​"Pilihan yang sangat bagus, Verlyn," puji Steven seraya menarikkan kursi untuk Verlyn sebelum ia sendiri duduk di hadapannya. "Atmosfernya tenang sekali." ​"Aku sering ke sini kalau lagi butuh tempat untuk menjernihkan pikiran," jawab Verlyn lembut seraya tersenyum. "Semoga menunya sesuai dengan seleramu, ya." ​Seorang pelayan datang membawakan menu, dan tak butuh waktu lama bagi Steven untuk memesan hidangan laut segar terbaik, mulai dari grilled lobster

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 181 Season 3

    ​Verlyn memandang layar ponselnya yang terus bergetar. Nama Kayn tertera di sana, membawa kembali ingatan pahit yang baru kemarin mengikis hatinya.​Steven yang menyadari perubahan raut wajah Verlyn langsung memelankan langkahnya. "Verlyn? Apa ada masalah?"​Verlyn mengembuskan napas perlahan, lalu memoles kembali ketenangannya. "Sebentar ya, Steven. Aku mau angkat panggilan ini dulu."​Steven mengangguk paham dan memberi sedikit ruang pribadi. Verlyn menggeser tombol hijau di layarnya, menempelkan ponsel itu ke telinga tanpa mengucapkan sepatah kata pun.​"Verlyn! Apa-apaan semua ini?!" Suara Kayn terdengar begitu panik, campur aduk antara marah dan frustrasi di ujung telepon. "Kenapa kamu membatalkan pertunangan kita secara sepihak?! Ayahku marah besar kepadaku karena keputusan gila dari pihak keluargamu ini!"​Verlyn mendengarkan cecaran itu dengan wajah tanpa ekspresi. Tidak ada lagi rasa sakit atau linangan air mata seperti kemarin.

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 180 Season 3

    ​Verlyn tertawa kecil, sebuah tawa tipis yang ia gunakan untuk mengalihkan pembicaraan karena tertangkap basah. Ia memutar pulpen di jemarinya, mencoba menguasai keadaan.​"Kepekaanmu sebagai pengusaha memang tajam sekali ya, Steven," kekeh Verlyn dengan nada bercanda. "Tapi tenang saja, tidak ada hal yang aneh kok."​Steven tidak tertawa. Pria itu tetap menatap Verlyn dengan pandangan yang tenang namun penuh selidik. Walau baru saling kenal seminggu yang lalu sejak urusan proyek ekspansi ini dimulai, kepekaan Steven benar-benar di luar dugaan. Meskipun keduanya sama-sama pemegang kendali tertinggi di perusahaan besar yang biasanya punya tembok pertahanan kuat, entah bagaimana hubungan mereka justru cepat sekali akrab dan cair.​Dan kepekaan Steven itulah yang membuat Verlyn selalu gagal untuk berbohong atau sekadar bersikap defensif di depannya.​"Aku tidak bermaksud ikut campur dalam urusan pribadimu, Verlyn," kata Steven pelan, suaranya terdeng

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 179 Season 3

    ​Suara ketukan high heels Verlyn bergemung pelan di atas lantai marmer ruang kerjanya. Setelah sekian lama dibayangi rasa lelah dan kecewa, ada sedikit kehangatan yang terselip di dadanya saat mendengar nama Steven diucapkan oleh Fayyara.​"Fayyara," panggil Verlyn seraya merapikan letak dokumen di mejanya. "Siapkan ruang rapat utama. Pastikan semua berkas kerja sama proyek ekspansi dengan Florest Group sudah lengkap."​"Baik, Nona Verlyn. Semuanya sudah siap," jawab Fayyara sigap dengan senyuman profesional, lalu membungkuk sopan dan keluar dari ruangan.​Verlyn berjalan menuju jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pencakar langit New York. Ia menyentuh lembut untaian mutiara di lehernya. Penampilan barunya hari ini bukan sekadar pergantian gaya, melainkan sebuah pernyataan tegas: Verlyn Carlveria Alreo yang baru tidak akan lagi membiarkan perasaannya dimanfaatkan atau diabaikan.​Tepat satu jam kemudian, pintu kaca ganda di area lobi e

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 178 Season 3

    ​Dengan langkah tegap dan dagu terangkat, Verlyn membalikkan badannya. Ia keluar dari ruangan pribadi Kayn tanpa menoleh lagi sedikit pun. Setiap langkah kakinya terasa begitu dingin, meninggalkan pria yang kini telah menjadi asing dalam kehidupannya. ​Begitu keluar dari gedung Vyntie Group dan melangkah masuk ke dalam kabin mobil, Sofia dan Pak Rian seketika terperanjat melihat deretan bekas air mata di pipi Verlyn serta matanya yang sedikit memerah. ​"Nona Verlyn? Anda tidak apa-apa?" tanya Sofia panik, siap menyiapkan tisu. ​Verlyn menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu memasang senyuman tipis, sebuah topeng ketenangan yang amat sempurna. Ia menyapu halus sisa kebasahan di pipinya. ​"Aku baik-baik saja, Sofia," jawab Verlyn tenang, suaranya sangat stabil tanpa getaran. "Pak Rian, kita jangan pulang ke rumah dulu. Antar aku ke pusat perbelanjaan paling eksklusif di kota ini, ya." ​Pak Rian dan Sofia saling pandang bingung, namun Pak Rian segera mengangguk

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 177 Season 2 [End]

    ​Penerbangan malam dari Chicago mendarat di New York tepat saat fajar menyingsing. Tanpa buang waktu untuk pulang atau sekadar ganti baju, Verlyn langsung meminta supirnya meluncur ke kantor pusat Vyntie Group. ​Setibanya di sana, mobil berhenti mulus di pelataran gedung. ​"Pak Rian, Sofia, kalian berdua tunggu di mobil saja. Aku tidak akan lama," tegas Verlyn. ​Verlyn melangkah keluar dengan penampilan yang jauh dari kata rapi. Ia hanya mengenakan piyama sutra krem berdetail ruffle, dilapisi jaket winter parka cokelat berkerah bulu, serta sandal rumahan biasa. ​Mengabaikan pandangan heran para staf, Verlyn melewati resepsionis tanpa membuat janji dan langsung naik lift VIP menuju lantai 15, ruangan pribadi Kayn. ​Brak! ​Pintu ganda itu terdorong lebar. Di dalam, Kayn yang sedang mendiskusikan dokumen bersama Sekretaris Rainon seketika terkejut. ​"Kayn..." panggil Verlyn terengah-engah, memegang lututnya untuk mengatur napas. ​Kayn membelalak, kaget melihat Verlyn berd

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 2 Season 1

    “Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 1 Season 1

    “Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 7 Season 1

    "A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja

  • Taruhan Dengan Ceo Muda   Bab 6 Season 1

    Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status