LOGINMusik waltz di tengah ballroom akhirnya selesai, disusul tepuk tangan meriah dari para tamu.
Belum sempat musik berikutnya diputar, Steven sudah melangkah cepat mendekat. Pria itu berdiri di samping Kayn dan Verlyn dengan senyum tipis, walau matanya menyorotkan ketegasan yang tidak mau dibantah."Waktunya dansa sama pasangan resmi, Tuan Kayn," ucap Steven dengan suara tenang, tapi kentara sekali sedang menandai wilayahnya. Ia mengulurkan tangan ke arah Verlyn.KMusik waltz di tengah ballroom akhirnya selesai, disusul tepuk tangan meriah dari para tamu.Belum sempat musik berikutnya diputar, Steven sudah melangkah cepat mendekat. Pria itu berdiri di samping Kayn dan Verlyn dengan senyum tipis, walau matanya menyorotkan ketegasan yang tidak mau dibantah."Waktunya dansa sama pasangan resmi, Tuan Kayn," ucap Steven dengan suara tenang, tapi kentara sekali sedang menandai wilayahnya. Ia mengulurkan tangan ke arah Verlyn.Kayn menatap Steven lekat-lekat selama beberapa detik. Bibirnya mengulas senyum yang dingin sebelum melepas pinggang Verlyn perlahan."Silakan, Tuan Steven," balas Kayn datar. "Pastikan Anda menjaganya baik-baik di sisa malam ini."Verlyn menghela napas pelan. Ia bisa merasakan tensi di antara kedua pria itu mendadak jadi sangat kaku. Tanpa membuang waktu, Verlyn menyambut tangan Steven dan membiarkan pria itu membawanya menjauh.Di area meja VIP, Steven menuangkan a
Malam itu, aula ballroom salah satu hotel bintang lima New York tampak dipenuhi kilauan lampu kristal dan alunan musik klasik. Acara Charity Gala tahunan itu dihadiri oleh jajaran pengusaha papan atas, dengan Kizen Group dan Vyntie Group sebagai dua sponsor utama paling berpengaruh.Verlyn melangkah masuk ke aula, seketika mencuri perhatian sebagian besar tamu.Ia tampil memukau dalam balutan gaun silver-grey yang mengembang anggun dengan detail kristal berkilauan. Potongan halter-neck bertabur manik-manik perak mempertegas bahunya yang mulus, sementara bagian pinggangnya terbingkai sempurna. Rambut krem panjangnya ditata half-updo yang elegan, meninggalkan sapuan curtain bangs di sekitar wajah dan sisanya terurai bergelombang di punggung.Steven yang berdiri di sampingnya mengenakan tuksedo hitam klasik, tampak gagah sekaligus protektif. Pria itu menyodorkan siku lengannya pada Verlyn."Kamu terlihat luar biasa malam ini, Verlyn," bisik Stev
Pengakuan jujur yang meluncur dari bibir Kayn membuat suasana ruang rapat itu mendadak hening mendadak. Verlyn terpaku di tempatnya. Ia menatap lekat manik mata hitam pria di hadapannya—mata yang kini memancarkan ketegasan tanpa ragu sedikit pun.Jarak mereka yang begitu dekat membuat Verlyn bisa menghirup aroma parfum kayu tebal khas Kayn. Aroma yang dulu selalu memberi rasa aman, kini malah memicu desir aneh yang menusuk hingga ke dada."Tuan Kayn..." suara Verlyn tertahan, tenggorokannya terasa kering seketika. "Anda... tidak berhak menentukan hal itu.""Aku tahu," potong Kayn cepat. Suaranya melembut, tapi tetap menyimpam intensitas yang mengunci perhatian Verlyn. Pria itu sengaja tidak memangkas jarak lebih jauh, memberi Verlyn ruang untuk bernapas meski tatapannya sama sekali tidak teralih."Aku tahu aku belum berhak, Verlyn. Karena itu aku tidak menuntut jawabanmu sekarang. Aku cuma ingin kamu tahu... aku tidak pernah main-main dengan
Pesan dari Kayn sukses membuat Verlyn tidak bisa tidur nyenyak sepanjang malam. Bayangan kalimat terputus itu terus berputar di kepalanya, menghadirkan rasa gelisah yang tak kunjung surut hingga fajar menyingsing di atas langit New York. Sekitar pukul delapan pagi, deru mesin mobil terdengar berhenti di pelataran halaman mansion. Steven sudah menunggu di depan pintu utama, tampil rapi dengan setelan jas abu-abu gelap. Pria itu memilih menjemput Verlyn secara pribadi untuk berangkat bersama menuju ruang rapat gabungan di kantor pusat Vyntie Group. "Selamat pagi, Verlyn," sapa Steven dengan senyum hangat saat Verlyn melangkah keluar. Pria itu segera membukakan pintu mobil untuknya. "Aku sudah memastikan tim pengawalan memantau rute perjalanan kita agar tetap aman pagi ini." "Terima kasih, Steven," balas Verlyn seraya mengulas senyum tipis lalu masuk ke dalam mobil. Sepanjang pe
Kembali ke gedung Kizen Group di pusat kota New York, Steven sudah menunggu di lobi. Pria itu terus melangkah bolak-balik di dekat pintu masuk utama, mengabaikan beberapa staf yang berlalu-lalang dan menatapnya penuh tanya.Begitu sosok Verlyn muncul di balik pintu kaca besar, Steven langsung menghampirinya dengan langkah lebar."Verlyn! Kamu tidak apa-apa?" tanya Steven cepat. Matanya menyapu penampilan Verlyn dari ujung kepala hingga kaki, memastikan tak ada luka. "Aku baru dapat laporan dari tim keamanan kalau situasi di sana sempat tidak terkendali."Verlyn mengulas senyum tipis, mencoba menenangkan. "Semuanya aman, Steven. Polisi dan tim hukum sudah menangani lokasinya.""Lalu... bagaimana kamu bisa lepas dari kerumunan massa yang memojokkanmu itu?" tanya Steven lagi. Nada suaranya bergetar tipis, menahan rasa bersalah dan emosi yang berkecamuk.Verlyn mendesah pelan seraya merapikan tali tas di bahunya. "Tuan Kayn datang tepat
Sikap profesional Kayn selama beberapa hari berikutnya perlahan mengubah atmosfer kerja. Tak ada lagi teror bunga, pesan singkat yang mendesak, atau tindakan menyegat Verlyn di pelataran kantor. Kayn benar-benar menepati janjinya untuk menjaga jarak, meski tatapannya tiap kali mereka berpapasan di lorong masih menyimpan kerinduan yang ditahan rapat-rapat. Ketenangan itu mendadak diuji saat krisis pecah di lokasi konstruksi proyek gabungan mereka—sekitar 30 menit perjalanan dari pusat kota New York. Laporan masuk menyebutkan adanya sengketa perizinan dari kontraktor lama yang sengaja memprovokasi massa di area pembangunan. Lokasi New York ini memegang peranan penting untuk peluncuran awal. Sebagai penanggung jawab utama Kizen Group di New York, Verlyn memutuskan turun langsung ke lapangan bersama tim hukumnya. "Verlyn, aku ikut," tawar Steven saat berpapasan di koridor. "Kondisi di sana mungkin belum aman."
“Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja







