LOGINMalam harinya, suasana pesta berubah jadi jauh lebih glamor, intim, dan bernuansa gothic-royal elegance di ballroom utama hotel megah New York. Cahaya lampu kristal gantung bernuansa hangat memantul indah di atas lantai marmer hitam yang mengkilap, menciptakan atmosfer eksklusif bagi para tamu VIP yang memenuhi ruangan.
Apresiasi dan riuh kagum seketika membahana saat pasangan pengantin baru itu melangkah masuk untuk acara after-party.Verlyn tampil begitu menakjubkan denSuasana pagi di mansion Viondra-Alreo terasa sedikit berbeda dari biasanya. Verlyn tampak bersandar lemas di kepala tempat tidur utama, wajah cantiknya sedikit pucat dengan kening berkerut menahan rasa tidak nyaman di perutnya.Ugh...Verlyn menutup mulutnya cepat, buru-buru membungkuk ke samping tempat tidur saat rasa mual yang hebat mendadak menyerang ulu hatinya.Kayn yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersangkut di leher seketika panik. Pria itu melempar asal handuknya dan berlari menghampiri sang istri. Tangan tegapnya dengan sigap memijat lembut tengkuk Verlyn dan mengelus punggungnya penuh kekhawatiran."Verlyn... kamu kenapa, sweetheart?" tanya Kayn dengan suara beratnya yang terdengar begitu cemas. Wajah tegas yang biasanya dingin dan tenang itu kini dipenuhi raut panik.Verlyn menarik napasnya pelan, menyandarkan kepalanya yang terasa agak berat pada dada Kayn. "Enggak apa-apa, Kayn... Cuma mual biasa. Ka
Sore yang tenang diselimuti hembusan angin sejuk. Di sudut sebuah kafe bernuansa rustic-cozy tak jauh dari pusat kota, Steven duduk sendirian di dekat jendela kaca besar. Di hadapannya, secangkir Americano panas yang mulai mendingin terbiarkan begitu saja.Mata Steven menatap santai ke arah lalu lintas jalanan. Di usianya yang makin matang dan sukses secara karier, kehidupan pribadinya terasa begitu datar. Teman-temannya sudah berkeluarga—bahkan Kayn kini sedang menikmati indahnya kehidupan bersama Verlyn dan anak-anak mereka.Steven menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya di kursi. Bukan ia tak mau membuka hati, tapi selama ini belum ada wanita yang benar-benar menarik perhatiannya. Sosok wanita ideal dalam benaknya terlalu spesifik—seorang wanita yang punya keteguhan, sikap ramah, dan keanggunan alami.Prak!"A-ah! Maafkan saya! Maafkan saya, Tuan!"Suara denting piring kecil dan nada panik halus memecah lamunan Steven. Ia spontan menoleh ke sampin
Suasana gedung Kizen Group siang itu tampak sibuk seperti biasa. Di lantai teratas, Verlyn terlihat anggun berbalut blazer bernuansa pastel modern. Ia sedang fokus memeriksa beberapa berkas di meja kerjanya saat pintu ruangan terdorong pelan.Seorang anak perempuan berusia lima tahun dengan rambut kuning cerah bergelombang dan mata cokelat muda melangkah masuk sambil memeluk buku gambarnya."Tante Verlyn..." panggil anak kecil itu pelan.Verlyn seketika mendongak. Senyum hangat langsung terulas di wajah cantiknya."Raina! Sudah pulang sekolah, Sayang?" sapa Verlyn lembut. Ia segera beranjak dari mejanya dan menghampiri putri kecil dari Rainon dan Fayyara tersebut.Raina mengangguk pelan. "Sudah, Tante. Mama bilang Raina tunggu di ruangan Tante Verlyn sebentar.""Tentu saja boleh, dong," sahut Verlyn manis seraya mengusap lembut rambut kuning Raina. Ia membimbing Raina duduk di sofa empuk ruang kerjanya. "Tante minta bagian dapur buatkan susu hangat sama kue cokelat buat Raina,
Malam kian larut di kediaman Viondra-Alreo. Setelah sesi makan malam yang ceria, Kak Ace, Kak Selvania, dan Delcina telah berpamitan pulang. Venzo dan Kayneryn yang kelelahan setelah seharian bermain pun sudah tertidur lelap di kamar masing-masing di bawah pengawasan pengasuh.Mansion megah itu kini diselimuti ketenangan yang nyaman.Verlyn melangkah pelan memasuki kamar utama mereka setelah memastikan kedua buah hatinya menyelimuti diri dengan baik. Ia mengembuskan napas lega, menyanggul asal rambut krem cantiknya seraya meregangkan otot-otot tubuhnya yang sedikit pegal.Namun, begitu melangkah lebih dalam melewati foyer pribadi kamar, langkah kaki Verlyn terhenti.Suasana kamar tidur utama mereka malam ini terasa berbeda dari biasanya. Lampu utama dipadamkan, menyisakan pencahayaan lampu dinding bernuansa emas yang redup dan romantis. Kelopak mawar putih kesukaannya tersebar rapi di sepanjang karpet menuju pintu kaca balkon yang terbuka sedikit, membiarkan hembusan angin malam
Pintu jati raksasa mansion Viondra-Alreo terdorong terbuka. Wangi lembut teh chamomile dan aroma kue krispi yang baru dipanggang langsung menyapa begitu mereka melangkah masuk ke dalam foyer bernuansa gothic-modern yang megah. "Bunda! Tante Delcina sama Paman Ace dan Bibi Selvania sudah sampai!" seru Venzo heboh seraya melepaskan gandengan Delcina dan berlari kecil menuju ruang keluarga utama. Di ruang keluarga yang nyaman dengan perapian bernuansa emas, Verlyn tampak berdiri anggun mengenakan gaun santai berwarna gading. Rambut krem cantiknya disanggul longgar dengan beberapa helai membingkai wajahnya yang sama sekali tidak memudar—malah makin memancarkan pesona matang seorang ibu dan Nyonya Besar Viondra-Alreo. Verlyn memutar tubuhnya, mengulas senyum manis dan hangat saat melihat kedatangan para tamunya. "Kalian sudah sampai!" sapa Verlyn gembira. Ia melangkah mendekat, memberikan pelukan hang
10 Tahun Kemudian Langkah-langkah kecil berderak menyapu rumput hijau di halaman depan kediaman megah itu. Sore yang hangat diiringi hembusan angin sepoi-sepoi membuat suasana taman terasa begitu hidup. Di tengah luasnya taman yang dipenuhi hamparan bunga berwarna-warni, seorang wanita paruh baya berpenampilan rapi—pengasuh kepercayaan keluarga Viondra-Alreo, tampak sigap mengawasi dari dekat sambil memegang handuk kecil dan botol minum anak-anak. Seorang anak laki-laki berusia sembilan tahun berlarian ke sana kemari dengan tawa riang. Gerakannya yang lincah serta senyumnya yang lepas dan hangat mencerminkan karakter sang bunda. Rambut krem cerahnya memantulkan sinar matahari sore saat ia keasyikan mengejar bola sendirian di tengah padang rumput. "Ayolah, Kayneryn! Kamu jalan santai banget, sih? Sini ikutan lari!" seru anak laki-laki itu dari tengah taman, menghentikan langkahnya sejenak sambil melambaikan tangan heboh. Sangat bertolak belakang dengannya, sang adik yang ba
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,







