MasukMalam kian merayap jauh di Wilderheim, meninggalkan Aula Utama istana belantara dalam keheningan yang mencekam. Lilin-lilin dinding yang menyala temaram seolah tidak mampu mengusir aura kelabu yang menggelayuti ruang takhta.Di dekat jendela besar, para kelima raja melamun sambil menangkup dagu mereka, menatap bulan yang sangat sempurna terlihat dari balik jendela istana mereka. Cahaya keperakan yang dipantulkan sang candra justru terasa hambar, mengingatkan mereka pada sosok jelita yang kini berada ribuan mil jauhnya di dataran es abadi.Vrax mengembuskan napas kasar, membiarkan jemarinya mengetuk-ngetuk meja batu dengan ritme yang gelisah."Betapa kesepian kita sekarang... Istana ini mendadak terasa begitu luas dan mati semenjak Ratu kita sedang dipinjam oleh raja beruang dari utara itu.""Jangan gunakan kata 'dipinjam', Vrax. Itu membuat daaku semakin panas," geram Kaelen, kuku-kuku panther-nya mencuat tipis, menggores permukaan meja hingga meninggalkan bekas dalam.Lucian yang sej
Bulu-bulu serigala salju yang tebal menjadi saksi ketika Bjorn merebahkan tubuh pualam Elara dengan kelembutan yang menyembunyikan kebuasan seekor predator puncak.Gaun sutra merah milik sang Ratu telah tersingkap, menampakkan keindahan raga polos yang berkilau di bawah temaram cahaya bintang kosmik dari balik atap kristal. Pendaran mawar emas di dada Elara berdenyut semakin cepat seiring dengan deru napas Bjorn yang kian memburu di atas wajahnya."Kau adalah keajaiban terdalam yang pernah menginjakkan kaki di atas lantai esku, Elara," geram Bjorn rendah, suaranya parau oleh berahi yang menuntut pelepasan."Maka ambil aku, Bjorn. Jadikan rahimku tempat berteduh bagi masa depan klanmu," balas Elara, jemarinya mencengkeram bahu kekar sang raja yang dipenuhi otot keras.Tanpa membuang waktu lagi, Sang Raja Beruang mengunci kedua tangan Elara di atas kepala dengan satu telapak tangannya yang besar. Gerakan dominannya begitu terasa saat ia menindih tubuh Elara, membiarkan bobot tubuh raksa
Getaran misterius di bawah lantai es perlahan mereda, menyisakan pendaran biru tua yang menenangkan di sepanjang dinding koridor saat Bjorn membimbing Elara menuju ruang pribadinya.Pintu kristal ganda setinggi tiga meter terbuka tanpa suara, menyambut langkah kaki keduanya masuk ke dalam tempat peristirahatan tertinggi sang penguasa utara.Elara seketika menghentikan langkahnya, matanya membelalak kecil karena sedikit tertegun. Ia dibawa ke kamar sang raja dan melihat betapa luas dan megahnya kamar tersebut.Langit-langit ruangan terbuat dari es kuarsa transparan yang menampilkan kerlip bintang malam kutub yang berkilauan. Di tengah ruangan, sebuah ranjang raksasa berbahan kayu kuno dilapisi bulu serigala salju putih bertumpuk-tumpuk, tampak begitu empuk, hangat, dan sangat mewah.Melihat istrinya masih terpaku di ambang pintu, Bjorn melangkah mendekat dengan gerakan yang sangat lembut. Sang raja membantu Elara menaruh jubah bulu tebalnya di sofa beludru yang terletak tak jauh dari r
Uap hangat mengepul dari piring-piring perak yang berjejer di atas meja panjang ruang makan istana es.Wangi rempah kering khas pegunungan salju bercampur dengan aroma kuah daging rusa kutub yang gurih, menciptakan atmosfer yang kontras dengan suhu beku di luar dinding kristal.Di kepala meja, Elara duduk berdampingan dengan Raja Bjorn. Di hadapan mereka, tiga sosok manusia binatang beruang dengan rambut keperakan dan jubah bulu yang tebal duduk dengan posisi tegap penuh hormat. Mereka adalah para tetua klan yang paling dihormati di dataran utara.Bjorn menuangkan madu hangat ke dalam cawan Elara sebelum membuka percakapan. "Elara, ini adalah tiga tetua tertinggi yang menjaga sisa-sisa sejarah klan kami. Tetua Torin, Tetua Borlok, dan Tetua Freya."Elara mengulas senyum manis, menganggukkan kepalanya dengan anggun ke arah ketiga paruh baya bertubuh kekar tersebut."Aku sangat terhormat bisa disambut dengan begitu baik di istana es yang megah ini. Keramahan kalian dan seluruh rakyat di
Suara lonceng kristal yang nyaring bergema dari puncak menara tertinggi istana es, memecah kesunyian abadi yang sekian lama mencengkeram dataran utara.Tidak butuh waktu lama bagi lima puluh penghuni klan beruang yang tersisa untuk berkumpul di Aula Utama. Mereka berjalan dengan langkah gontai, tubuh mereka dibalut jubah bulu yang kusam, dan gurat keputusasaan masih tercetak jelas di wajah-wajah yang pucat.Namun, begitu melihat sosok Elara yang berdiri anggun di samping takhta es bersama sang penguasa, riak kehebohan seketika menjalar di antara barisan rakyat yang tersisa.Raja Bjorn melangkah ke depan, suaranya yang bariton dan bergemuruh laksana longsoran salju memenuhi ruangan kuarsa tersebut."Wahai rakyatku, tataplah ke depan! Hari ini, aku mengumpulkan kalian semua untuk mengumumkan bahwa fajar baru telah terbit. Sang Ratu pembawa mukjizat telah tiba di tengah-tengah kita!"Rakyat beruang saling berbisik, mata mereka yang tadinya redup kini mulai memancarkan binar rasa tidak pe
Perjalanan panjang membelah lautan badai dan hamparan padang salju akhirnya berujung pada sebuah dataran putih yang terisolasi di ujung dunia.Ketika kereta es raksasa milik Raja Bjorn perlahan melambat dan berhenti, Elara melangkah turun dibantu oleh sang penguasa utara.Begitu kakinya menapak pada tanah yang membeku, Elara sedikit tertegun. Sepasang netranya menatap nanar sekeliling tempat tersebut yang tampak cukup kacau, sepi, dan berantakan.Puing-puing bangunan batu tertutup es tebal yang retak, jalanan bersalju dibiarkan tak terurus, dan sisa-sisa kejayaan masa lalu klan beruang tampak terbengkalai begitu saja tanpa ada tanda-tanda aktivitas yang bergairah.Bjorn yang berdiri di samping Elara mengembuskan napas panjang, kepulan uap putih keluar membelah udara sedingin es."Beginilah keadaan wilayah kami yang sebenarnya, Ratu Elara. Rakyatku sudah hampir punah, dan tanpa adanya harapan akan masa depan, mereka telah kehilangan seluruh semangat untuk melanjutkan hidup."Elara mene
Vrax tidak lagi berjalan; dia menyeret Elara dengan satu tangan besar yang mengunci pergelangan tangannya, sementara tangan lainnya merangkul pinggang Elara dengan kekuatan yang hampir mematahkan tulang.“Vrax, pelan sedikit! Kau menyakitiku!” seru Elara, kakinya tersandung-sandur mencoba mengimban
Zhen menarik bahu Elara, memaksanya berbalik. Tanpa aba-aba, ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Elara, memberikan ciuman-ciuman panas yang membuat Elara lemas.“Aromamu malam ini, kau tidak bisa menyembunyikannya dengan kain apa pun, Elara. Kau sedang menginginkan kami sama seperti kami menging
“Lucian benar,” sahut Vrax dengan nada suara yang kini lebih berat oleh gairah yang kembali memuncak.“Kau bicara tentang masa depan yang indah, tapi kunci dari masa depan itu ada di dalam rahimmu. Jika kita ingin melihat kota itu berdiri, maka malam ini adalah waktu yang tepat untuk menanamkan ben
Angin kencang berhembus dari arah pegunungan Barat, membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun suasana di garis depan perbatasan justru terasa membara.Elara berdiri di atas bukit batu yang menjorok ke arah lembah, menatap hamparan Hutan Berduri yang selama berabad-abad menjadi benteng alam tak







