Mag-log inAurora menatap langit-langit suite yang gelap. Jam di nakas menunjukkan pukul tiga dini hari. Damian tertidur di sofa, jasnya terlipat rapi di sandaran, dasi sudah terlepas. Napasnya teratur, tenang—seperti pria yang baru saja memenangkan peperangan.
Tapi perang Aurora baru dimulai. Ponselnya bergetar pelan di bawah bantal. Aurora cepat-cepat meraihnya, membuka pesan baru. [Kau benar-benar ingin tahu kebenaran? Cari map hitam di laci meja kerja Damian. Jawabannya ada di sana.] Aurora menelan ludah. Tatapannya beralih ke meja kerja di sudut kamar, berdampingan dengan lemari kaca penuh botol anggur. Damian… bahkan saat tidur, ia tetap memancarkan aura mengancam. Aurora berdiri perlahan, kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin. Setiap langkah seperti menantang maut. Ia menahan napas, mendekati meja itu, lalu menarik laci teratas—kosong. Laci kedua—penuh dokumen. Jantungnya melompat ketika menemukan sebuah map hitam di tumpukan bawah. Tangannya bergetar saat membuka isinya. Foto-foto jatuh berserakan di lantai. Aurora membungkuk, memungut satu per satu. Dan saat matanya menangkap wajah-wajah di foto itu, darahnya seakan berhenti mengalir. Ayahnya. Ibunya. Dan dirinya… berdiri di sebuah pesta lima tahun lalu. Di belakangnya, api berkobar. Di pojok foto, ada siluet seorang pria—Damian. Tatapannya terekam samar, tapi cukup untuk membuat Aurora terhuyung. Ingatan yang ia kubur menyeruak seperti badai. Malam itu. Suara tembakan. Jeritan. Dan suara ayahnya: “Tinggalkan dia! Selamatkan Aurora!” Aurora jatuh terduduk, napasnya terengah. Jadi… benar kata Damian. Lima tahun lalu, keluarganya meninggalkannya di neraka. Pintu suite berderit pelan. Aurora membeku. Bayangan tinggi menjulur di lantai, mendekat perlahan. Damian berdiri di ambang pintu kamar, kemeja putihnya setengah terbuka, sorot matanya gelap bagai jurang. “Apa yang kau cari, Aurora?” suaranya tenang, terlalu tenang, hingga membuat jantung Aurora hampir pecah. Aurora mematung. Nafasnya tercekat, jemarinya masih menggenggam foto yang kini terasa seperti bara. Damian berdiri di ambang pintu, tubuhnya tinggi, bayangannya menelan cahaya lampu redup. “Apa yang kau cari, Aurora?” Damian bertanya lagi dengan suara rendah, nyaris seperti geraman yang keluar dari dada. Tenang, tapi mematikan. Aurora buru-buru menyelipkan foto ke belakang punggung, tapi terlambat. Tatapan Damian jatuh ke lantai, melihat map hitam terbuka, dokumen berserakan. Bibirnya melengkung pelan, senyum yang tidak membawa kehangatan, melainkan ancaman. Ia berjalan mendekat, langkahnya tenang namun setiap denting sepatu di marmer terdengar seperti dentuman di dada Aurora. “Kau penasaran?” Damian berhenti hanya sejengkal darinya, menunduk sedikit, wajahnya begitu dekat hingga Aurora bisa merasakan hembusan napasnya. “Bagus. Karena aku juga ingin kau tahu… semuanya.” Aurora berusaha mundur, tapi punggungnya menabrak meja. Damian menumpukan tangannya di permukaan marmer, mengurungnya. Tatapannya menembus, dingin dan membakar sekaligus. “Lima tahun lalu,” ucapnya pelan, “malam yang membakar hidupku habis. Kau ingat?” Aurora menggeleng cepat, suara tercekat. “Aku… aku tidak tahu” “Tentu saja kau tidak tahu.” Damian tertawa pelan, getir, seakan sedang mendengar lelucon paling kejam. “Karena ayahmu memastikan kau tidak tahu apa pun… setelah dia menyeretmu pergi dan meninggalkanku di neraka.” Aurora ternganga. Kata-kata itu menusuk, membuat dadanya sesak. “Itu… itu tidak benar..!” Damian meraih dagunya, memaksa wajahnya menatap mata hitam yang berkilat. “Oh, Aurora… kau masih berpikir aku menikahimu karena cinta manis? Tidak. Ini lebih besar. Ini tentang balas dendam. Tentang membuatmu merasakan bagaimana rasanya… terperangkap.” Aurora menelan ludah, tubuhnya gemetar. “Kalau begitu… kenapa tidak langsung menghancurkan aku?” Damian tersenyum tipis, senyum yang lebih berbahaya daripada ancaman. “Karena menghancurkanmu terlalu mudah. Aku ingin… kau hidup. Di sisiku. Setiap hari mengingat siapa yang memegang kendali.” Ia meraih foto dari tangannya, menatapnya sekilas, lalu meletakkannya kembali ke map. “Tapi kalau kau benar-benar ingin tahu… tentang api itu, tentang siapa yang mengkhianati siapa…” Damian merendahkan suara, matanya menusuk dalam, “aku akan tunjukkan. Besok malam. Dan setelah itu, kau tidak akan pernah memandangku dengan cara yang sama.” Damian berdiri tegak, meraih bahu Aurora sekilas, tekanan jarinya membuatnya nyaris meringis. “Sekarang… tidurlah. Karena besok, neraka yang sebenarnya dimulai.” Ia berbalik, berjalan keluar kamar, meninggalkan Aurora terpaku dengan dada sesak dan pikiran yang berputar kacau. Di lantai, foto itu tetap mengintip dari map yang terbuka, seakan menertawakannya. Apa yang akan dia tunjukkan besok? Dan… apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu? ***Malam turun sepenuhnya di atas kota. Konvoi mobil hitam meluncur perlahan menuju dermaga. Di dalam mobil paling depan, Damian duduk diam dengan ekspresi setajam pisau. Di kursi belakang, Gabriel menatap keluar jendela sorot matanya tenang, tapi lelah. Di kursi depan, Kane memegang pistol di pangkuannya, matanya awas pada setiap bayangan yang bergerak di kejauhan. “Pelabuhan sudah steril, Tuan,” laporan Kane datar. “Orang kita jaga semua jalur keluar. Tapi… terlalu sepi untuk malam pertemuan.” Gabriel mengangguk pelan. “Kesunyian adalah perangkap paling tua di dunia, Kane. Tapi kita sudah siap.” Damian tak berkata apa pun. Tangannya menggenggam cincin di jari manisnya—cincin yang diberikan Aurora sebelum berangkat. ‘Untuk kembali, bukan untuk pergi,’ suara istrinya masih terngiang di kepala. --- Di mansion, Aurora berdiri di balkon lantai dua, memandangi langit
Pagi itu, mansion Blackwood terasa berbeda. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu penuh tawa dan suara lembut bukan teriakan, bukan denting peluru. Damaro, bayi kecil yang selama ini menjadi simbol harapan, menggeliat di pelukan Gabriel. Tangan tuanya bergetar halus saat menyentuh pipi mungil cucunya. “Dia mirip ayahnya,” ucap Gabriel pelan, senyumnya tipis tapi hangat. “Mata itu… mata seorang Blackwood.” Mama Velia tertawa kecil. “Tapi senyum itu dari Aurora. Untung saja, ya. Kalau semuanya dari Damian, cucu ini pasti cemberut tiap pagi.” Aurora terkekeh, sementara Damian hanya melirik istrinya dengan ekspresi datar yang tak mampu menutupi rasa bahagia. “Dia akan butuh wajah tegas untuk bertahan di dunia ini,” gumamnya, tapi sudut bibirnya terangkat juga. Valente duduk di kursi bersebelahan dengan Gabriel, memperhatika
Udara basement menahan napas saat Damian berhadapan dengan pria yang selama ini dikira telah meninggal. Gabriel Blackwood berdiri di sana hidup, menatap putranya dengan mata yang membawa seluruh beban masa lalu. Aurora menggenggam lengan Damian. Ia tak percaya sosok yang dulu hanya muncul di cerita Papa Valente kini benar-benar ada di depannya. Damian membuka suara, pelan namun tajam. “Kenapa bersembunyi selama ini, Ayah?” Gabriel menatapnya tenang. “Karena kalau aku tetap hidup di mata dunia, keluarga ini sudah dilenyapkan. Musuh kita terlalu banyak.” Damian menahan amarah. “Nama Blackwood sudah tercoreng bahkan tanpa kau.” Gabriel mendekat perlahan. “Aku tahu. Tapi yang lebih parah dari kehancuran nama adalah kebohongan yang menahannya tetap berdiri.” Aurora menatap mereka bergantian. “
Pagi menyapa mansion Blackwood dengan cahaya keemasan yang menembus jendela tinggi. Aroma kopi memenuhi ruang makan, menandai hari yang, untuk sekali ini, terasa normal.Aurora berdiri di dekat jendela besar, menatap taman yang masih diselimuti embun. Damaro tertawa kecil di kursi bayi, tangannya terangkat mencoba meraih bayangan ibunya di kaca. Damian duduk di seberang meja, membuka surat-surat yang dikirimkan oleh bawahannya semalam laporan keamanan, daftar transaksi bersih, dan satu amplop tanpa pengirim.Ia menyipitkan mata, membuka amplop itu perlahan.Di dalamnya hanya ada satu foto lama, sudah menguning. Foto itu memperlihatkan Gabriel Blackwood berdiri berdampingan dengan seseorang yang sangat Damian kenal: Valente.Dan di pojok bawahnya, sebuah tulisan tangan halus terbaca samar:“Darah yang sama. Rahasia yang sama.”Damian menatap foto itu lama, sebelum akhirnya mengangkat pandangan ke Aurora. “Kamu tahu siapa yang pernah foto bareng
Bab 89 Malam itu, mansion Blackwood akhirnya bisa bernafas lega setelah hari-hari penuh darah. Di ruang tamu, Aurora duduk di sofa panjang, menimang bayi mereka yang perlahan terlelap. Senyumnya lembut, meski kelelahan masih membayang di wajahnya. Damian berdiri di dekat perapian, diam menatap api yang berkelip, seolah mencari jawaban dalam kobaran itu.“Aku masih nggak percaya… kita bisa sampai di titik ini,” ucap Aurora pelan, tatapannya jatuh pada Damaro kecil yang tidur pulas.Damian berbalik, mendekat, lalu duduk di sampingnya. Tangannya menggenggam jemari Aurora. “Damai ini… cuma di permukaan. Aku bisa rasa, badai masih menunggu di luar sana.”Aurora menarik napas panjang, lalu menatap Damian. “Tapi aku tahu kita nggak sendirian. Papa dulu sering cerita soal Gabriel Blackwood katanya dia orang keras, tapi setia sama keluarganya. Sahabat yang bisa diandalkan.” Aurora tersenyum tipis. “Aku nggak pernah sangka akhirnya aku
Damian menghantam wajah Viktor berkali-kali, darah muncrat membasahi lantai gudang. Viktor masih berusaha melawan, tapi setiap gerakannya melambat. Pukulan terakhir Damian mendarat tepat di pelipis, membuat tubuh Viktor terkulai. Damian berdiri terhuyung, napasnya kasar, darahnya bercampur dengan darah Viktor di tangannya. Ia menatap tubuh musuh lamanya itu, lalu menggumam pelan, “Semua ini… untuk keluargaku.” Dengan sisa tenaga, Damian meraih pecahan besi tajam dan menancapkannya ke dada Viktor. Suara pekikan terakhir Viktor bergema di gudang, lalu hening. Di luar, suara langkah tergesa membuat Robert dan Raka menoleh. Lorenzo muncul bersama beberapa anak buahnya, mencoba menyerbu masuk untuk menyelamatkan Viktor. “Tahan mereka!” teriak Marcus, memberi isyarat ke Elias dan Clara. Baku tembak pun pecah. Dentuman peluru memecah keheningan malam. Robert bergerak cepat, senapannya menghantam dua anak buah Lorenz







