MasukHari-hari di atas kapal pesiar berlalu dengan rutinitas yang seolah tenang di permukaan, namun menyimpan arus deras di bawahnya.
Hazel masih berada di kapal itu, menjalani waktu dengan kesabaran, meski pikirannya tak pernah benar-benar diam. Sesekali, pandangannya menangkap sosok Xavier yang selalu tampak sibuk, bertemu dengan orang-orang asing dalam bayang-bayang, seolah ada urusan gelap yang tak boleh diketahui siapa pun.
Hazel tak peduli. Atau setidaknya, ia mencoba untuk tidak peduli.
Namun malam ini berbeda. Saat pesta berlangsung dengan segala kemewahan dan gemerlap lampu, Hazel memainkan rencananya dengan cermat dan berhasil menyuruh Jacob membawa Luna keluar dari pesta secara diam-diam sebelum Xavier menyadarinya.
Setelah memastikan mereka pergi, Hazel menyelinap keluar mengikuti langkah Xavier yang juga meninggalkan pesta. Ia pikir pria itu akan mengejar Jacob dan Luna. Tapi ternyata... tidak.
Di koridor sunyi yang hanya diterangi lampu temaram, Hazel mengikuti jejaknya hingga berhenti di depan sebuah ruangan tersembunyi, pintunya sedikit terbuka. Dari celah itu, matanya membelalak. Di dalam, Xavier sedang berdiri dengan ekspresi bengis, menyaksikan anak buahnya menghajar seorang pria yang wajahnya sudah nyaris tak bisa dikenali karena berlumuran darah.
Hazel terpaku. Suara dentuman pukulan bergema samar dalam ruangan kecil itu, bercampur dengan erangan lemah korban yang sudah nyaris tak sadarkan diri. Namun sebelum Hazel bisa mundur, sebuah tangan mencengkeram lengannya dari arah belakang.
Anak buah Xavier menyeretnya dengan kasar ke dalam ruangan, lalu melemparkannya ke lantai seperti sekantong sampah tak berguna.
Hazel terjatuh dengan tubuh membungkuk, rambutnya terurai menutupi sebagian wajah saat ia mendongak dan mendapati Xavier duduk di kursi layaknya raja di singgasana gelapnya. Pria itu menyilangkan kaki, satu tangan memegang rokok yang baru saja dihembuskannya dengan tenang, sementara mata tajamnya menatap Hazel penuh kemenangan.
“Kau kira dirimu transparan, Hazel? Sampai aku tak menyadari kehadiranmu di balik pintu itu?” ucap Xavier, suaranya tenang… terlalu tenang.
Hazel menahan nafas saat tangannya ditarik paksa. Xavier mencengkeram dagunya dengan keras, memaksanya menatap lurus ke arahnya.
“Sungguh keras kepala. Tapi justru itu yang membuatmu… semakin menarik.” Ia menyeringai sinis, matanya dingin seperti belati yang siap menebas.
Dengan gerakan malas, Xavier memberi isyarat kepada bawahannya untuk menarik keluar pria yang sudah babak belur itu. Tak butuh waktu lama hingga ruangan itu hanya menyisakan mereka berdua.
Ketegangan mengisi udara. Hazel menggertakkan gigi, menatap Xavier penuh kemarahan. “Pembunuh!” umpatnya lantang.
Xavier hanya tersenyum santai, meniupkan asap rokoknya ke udara. “Dia masih hidup. Tapi sekalipun aku membunuhnya, apa kau mengenalnya? Tidak, bukan?”
“Aku akan melaporkanmu. Kau akan masuk penjara, Xavier!” teriak Hazel.
Sesaat ruangan sunyi. Tapi detik selanjutnya, Xavier tertawa terbahak, suara tawa itu menggema, menggetarkan dinding ruangan. Bukan tawa bahagia, tapi tawa penuh ejekan.
“Lakukan saja. Tapi... karena kau sudah repot-repot datang ke sini, artinya kau harus menggantikan pria itu sebagai hiburanku malam ini.”
Hazel menegang. Matanya membelalak. “Apa maksudmu?!”
Xavier berdiri perlahan dari kursinya, mendekat langkah demi langkah, tubuhnya menjulang di hadapan Hazel. “Sederhana,” bisiknya dengan suara yang nyaris menggeram, “Kau datang, kau mengganggu... Maka sekarang, kau harus menuntaskan gangguan itu sampai... klimaksnya.”
Tak sempat merespon, tubuh Hazel tersentak kuat memaksanya bangkit, belum benar-benar ia bisa berdiri, Xavier mendorongnya ke sofa dan menghimpit tubuh Hazel dengan kedua lengan kokohnya.
Aroma pekat cedarwood memenuhi ruangan, menyusup cepat ke indera penciuman Hazel, aroma khas Xavier yang kini terasa seperti perangkap tak kasatmata. Tapi Hazel tak gentar. Tatapannya menusuk, membalas sorot mata Xavier dengan sinis meskipun tubuhnya terkepung.
Begitu tangannya terangkat, mencoba memberi perlawanan, Xavier sudah lebih dulu mencengkeram kedua pergelangan tangannya dan menekannya ke atas kepala, membatasi geraknya sepenuhnya. Hazel mengerang tertahan, rahangnya mengeras saat melihat senyuman puas terbentuk di wajah pria itu.
“Kau masuk ke kandang singa lapar, Babe,” ucap Xavier, suaranya dalam, mengalun lembut namun menakutkan. “Kelihatannya kau tak sabar untuk bertemu denganku. Apa sekarang kau mulai memikirkan aku? Atau jangan-jangan... aku adalah bagian dari imajinasi liarmu?”
Hazel mendesis tajam, “Menjauh dariku, bajingan!”
Xavier hanya menggeleng pelan, seolah sedang menghibur seorang anak kecil yang marah tanpa sebab. “Aku belum menyentuhmu, dan kau sudah memintaku berhenti? Sayang sekali,” bisiknya.
Ia menunduk, tanpa ragu menelusuri leher Hazel dengan ciuman yang membuat tubuh gadis itu menegang seketika. Hazel memejamkan mata, bukan karena menikmati, tapi karena takut. Malu dan marah bercampur jadi satu, perasaannya berkecamuk, sementara tubuhnya bergetar di bawah genggaman lelaki itu.
Tangannya terus berusaha lepas, tapi Xavier terlalu kuat. Dan lebih parahnya, pria itu menikmati setiap detik ketidakberdayaannya.
“Xavier… berhenti di sana!” serunya, mencoba mempertahankan kendali atas dirinya sendiri.
Tapi pria itu justru tertawa pelan, suaranya rendah namun jelas penuh ejekan. “Berhenti? Kenapa? Takut kehilangan kendali? Atau kau takut aku bisa membaca sesuatu dari sorot matamu?”
Hazel ingin menampar wajah itu. Wajah tampan yang kini menjelma menjadi iblis menyebalkan. Wajah yang ia benci... dan entah mengapa, sulit ia hindari dari pikirannya akhir-akhir ini.
Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena murka. Terlebih ketika Xavier mulai menurunkan satu tangannya, menyusuri sisi pahanya yang dibalut celana kain panjang. Hazel mengerang frustasi, jantungnya berdetak semakin tak karuan.
Setidaknya, hari ini ia memakai celana panjang. Itu satu-satunya batas yang masih menyelamatkan harga dirinya dari sentuhan kotor pria ini.
Namun kelegaan itu tak bertahan lama.
Xavier dengan sengaja menekan lututnya ke bagian paling sensitif Hazel, tentu niatnya jelas untuk membuat perempuan itu terangsang oleh tindakannya. Hazel tersentak, matanya membelalak, nafasnya tertahan seperti tertusuk duri tajam.
“Brengsek!” umpatnya, kali ini dengan suara penuh ledakan emosi.
Tapi Xavier hanya tersenyum, senyum setipis silet. “Kau baru saja memujiku?” katanya ringan, seolah tak ada yang salah dengan semua ini.
Dengan tenang Xavier mendekatkan bibirnya ke telinga Hazel dan berbisik. "Aku punya sesuatu yang besar, kuat, aku pastikan kau akan mengerang menikmatinya saat itu masuk ke dalam tubuhmu."
Mata Hazel membelalak, dengan wajah merah padam ia mengangkat lututnya, hingga pada akhirnya.
"Ugh! Sialan!" umpat Xavier.
Hari-hari terus bergulir, dan tanpa sadar, Hazel mulai memahami betapa ajaibnya peran sebagai seorang ibu. Setiap kali ia mendekap Mason di dadanya untuk menyusui, hatinya selalu dipenuhi rasa syukur yang tak terlukiskan. Namun, dibalik kelembutan itu, ada sosok lain yang tak kalah besar pengorbanannya, Xavier. Xavier begitu setia berada di sisi mereka. Malam-malam panjang yang penuh tangisan bayi tak membuatnya mengeluh sedikit pun. Bahkan ketika Hazel sudah terlelap karena kelelahan, Xavier rela begadang, memangku Mason di lengannya hingga fajar menyingsing, memastikan bayi kecil itu merasa aman dan hangat. Tidak sekalipun Hazel mendengar Xavier menggerutu, justru setiap pagi, senyum lembut selalu tersungging di wajah Xavier, seolah menjaga Mason adalah kehormatan terbesar dalam hidupnya. Kehadiran Mason membuat rumah mereka jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi sunyi dan kaku, melainkan ramai oleh tangisan, rengekan, lalu perlahan berubah menjadi celoteh manja, tawa riang, dan
Pagi itu menjadi hari bersejarah baru untuk hidup Xavier. Degup jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya, setiap detik yang berjalan terasa seperti satu jam penuh penyiksaan. Tatapannya terpaku pada pintu ruang bersalin yang masih tertutup rapat, sementara jemari tangannya terus mengepal, seakan hanya itu satu-satunya cara menahan rasa cemas yang bergolak dalam dadanya. Begitu pintu berderit terbuka, Xavier langsung berdiri tegak, tubuhnya kaku menahan harap sekaligus takut. Ia hampir tak berani bernafas saat dokter keluar dengan wajah tenang. "Bagaimana, Dokter?" tanyanya terburu-buru, suaranya serak penuh kegelisahan. "Semua baik-baik saja, Tuan. Anda bisa masuk." Jawaban itu bagai beban raksasa yang lepas dari dadanya. Xavier melangkah cepat, dan matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat dadanya sesak oleh emosi, bayi mungil mereka sedang dibersihkan perawat, tubuh kecil itu masih tampak merah, tangannya mengepal, hidup, nyata. Namun alih-alih menyambut bayinya te
Waktu terasa berjalan semakin cepat bagi Hazel. Kandungannya kini sudah memasuki usia delapan bulan, dan segala hal di sekelilingnya seolah hanya berputar pada satu titik, persiapan menyambut sang buah hati. Xavier tidak pernah berhenti sibuk, setiap hari selalu ada saja yang ia lakukan demi memastikan semua sempurna. Kamar bayi yang tadinya kosong kini berubah menjadi ruangan penuh kehangatan. Dindingnya dicat lembut dengan warna biru muda berpadu putih, rak kecil penuh buku dongeng berjajar rapi di sudut, dan sebuah ranjang bayi berlapis kain halus tampak sudah siap menunggu kehadiran seorang penghuni mungil. Semua detail dipilih langsung oleh Xavier, bahkan ia sendiri yang memasang hiasan dinding berbentuk bintang dan bulan, seakan ia ingin bayi mereka selalu tidur dalam mimpi yang indah. Selama sebulan terakhir, meski tubuhnya sempat dihajar morning sickness yang parah, Xavier tetap memaksakan diri untuk aktif. Ia melatih dirinya merawat bayi, belajar mengganti popok, memandikan,
Hazel duduk di ruang tamu, tangannya memijat pelan perutnya yang masih datar. Sekilas ia melirik ke arah dapur, mendengar suara piring dan pisau beradu satu sama lain. Senyum kecil tak bisa ia tahan. Xavier seorang pria yang selama ini dikenal keras, dingin, bahkan brutal di dunia luar, kini sibuk seperti ayah rumah tangga, mempersiapkan potongan buah, susu rendah lemak, hingga camilan sehat seolah Hazel benar-benar tak boleh menyentuh apapun yang kurang bermanfaat.Namun, di balik rasa hangat itu, Hazel juga merasa dirinya seolah “terikat.” Baru keluar rumah sakit, Xavier memperlakukannya seperti porselen yang rapuh. Duduk di kursi roda, diantar ke sana kemari, bahkan berjalan lima langkah saja sudah dilarang.“Aku bisa berjalan sendiri,” gumam Hazel, kali ini dengan nada agak kesal. Ia melirik kursi roda yang Xavier lipat dan letakkan di sudut ruangan. “Aku bukan pasien lagi, Xavier…”Tak lama kemudian, pria itu muncul membawa nampan. Di atasnya tersusun rapi potongan apel, pir, dan
Jam satu dini hari, keheningan yang seharusnya menjadi malam pertama mereka sebagai pengantin baru justru pecah oleh detak cemas. Hazel terbaring dengan tubuh menggigil, wajahnya pucat, dan suhu tubuhnya melonjak tinggi. Xavier yang panik tak sempat berpikir panjang, ia segera mengangkat tubuh Hazel, menyelimutinya, lalu melajukan mobil menuju rumah sakit dengan kecepatan yang tak biasa. Bagi Xavier, itu bukan sekadar rasa cemas biasa. Ia terbiasa menghadapi bahaya, darah, dan bahkan kematian dalam hidupnya, namun melihat Hazel terkulai lemah di pelukannya, tubuhnya gemetar karena demam, membuat hatinya nyaris hancur. Setibanya di rumah sakit, tenaga medis segera membawa Hazel masuk ke ruang perawatan darurat. Xavier hanya bisa menunggu di luar, berjalan mondar-mandir dengan nafas berat. Setiap detik terasa lebih panjang dari biasanya. Tepat pukul dua dini hari, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter keluar dengan ekspresi tenang, berbeda jauh dari kegelisahan Xavier. “Bagai
Dua minggu berlalu terasa begitu cepat, dan kini waktu yang dinanti hampir tiba. Resepsi pernikahan Hazel dan Xavier hanya tinggal menghitung jam. Ballroom hotel megah itu telah berubah menjadi istana cahaya, dihiasi ribuan bunga putih yang membentuk lengkungan indah di sepanjang jalan masuk, kristal-kristal lampu gantung berkilau bagaikan bintang, sementara meja-meja bundar ditata dengan elegan, lengkap dengan wine termahal yang siap disajikan untuk para tamu undangan kelas atas yang akan meramaikan pesta. Sekarang masih pukul tiga sore, sedangkan pesta baru akan dimulai pukul tujuh. Hazel duduk di kursi panjang yang menghadap cermin rias. Harusnya, ia merasa bahagia. Seorang pengantin yang baru saja resmi menjadi istri tentu menantikan malam gemilang ini. Namun, entah kenapa, perasaan yang Hazel rasakan berbeda. Ada sesuatu yang menekan dadanya, membuat ia sulit menata emosi. Xavier mendekat dengan langkah tenang. Bayangan tubuh tegapnya terpantul jelas di cermin. “Ada apa? Kau mer







