Beranda / Romansa / Tawanan Sang Mafia / BAB 7 Di Antara Bayangan dan Api

Share

BAB 7 Di Antara Bayangan dan Api

Penulis: Kupukupu
last update Tanggal publikasi: 2026-09-05 12:00:37

Cengkeraman Alaric pada kerah kaku seragam pelayan Anastasia menegang. Di depan meja rias kamar Sayap Timur, tatapan mata sebiru es milik pangeran mafia itu membakar dengan amarah irasional yang tak mampu ia jinakkan. Napas Alaric berembus kasar, menyapu leher pucat Anastasia yang tertutup kerah tinggi.

"Kau pikir kau bisa mengendalikan permainan ini dengan topeng kepasrahanmu, Anna?" desis Alaric rendah, suaranya memberat membahayakan.

Sebelum Anastasia sempat menjawab, Alaric menarik tubuh ringkih sang agen dengan satu sentakan kasar. Anastasia terseret selangkah, tumit telanjangnya bergesekan dengan lantai marmer dingin sebelum Alaric mengempaskannya ke atas kasur berseprai sutra hitam di tengah kamar suite. Pria itu menyusul cepat, melompati tepi ranjang dan mengurung Anastasia di bawah kungkungan tubuh tegapnya yang seberat baja.

Sutra hitam terasa dingin di punggung Anastasia, namun panas tubuh Alaric yang menghimpit di atasnya bagaikan bara api yang membakar. Nyeri seketika menyengat rusuknya yang memar akibat benturan keras beberapa hari lalu, berpadu dengan denyut tajam di pelipis kirinya yang menampung enam jahitan. Sebagai seorang agen kepolisian terlatih, refleks utamanya adalah mengunci persendian lawan dan meloloskan diri. Namun, Anastasia memaksa seluruh otot tubuhnya untuk tetap rileks. Ia menyembunyikan rintihan sakit fisiknya di balik desahan halus dan helaan napas pendek, menyulap rasa sakit itu menjadi gestur kepasrahan murni di mata Alaric.

Alaric menundukkan kepalanya, melumat bibir ranum Anastasia dengan kebuasan liar yang tak tertahankan. Ciuman itu dalam, menuntut, dan tanpa belas kasihan—sebuah penegasan dominasi dari pria yang terbiasa menguasai segalanya dan menolak dikendalikan oleh siapa pun. Pasokan udara di paru-paru Anastasia terdesak habis, namun alih-alih memberontak, jemari lentiknya yang gemetar merayap masuk ke sela-sela rambut hitam Alaric, membalas pautan itu dengan kelembutan yang memabukkan.

Sentuhan Alaric bergerak kasar, menelusuri garis pinggang, naik ke rusuk yang memar, hingga memicu getaran halus di sepanjang tulang belakang sang agen. Setiap inci kulit yang tersentuh jemari tegap itu seolah tersengat arus panas. Alaric memindahkan ciumannya turun ke leher jenjang Anastasia, menyesap dan menggigit kulit pucat di sana, meninggalkan tanda kemerahan yang pekat sebagai cap kepemilikan mutlak.

"T-Tuan Alaric... ah..." rintih Anastasia dengan mata hazel yang terpejam rapat, membiarkan dadanya naik-turun memburu.

Dengan gerakan tak sabar, Alaric melepaskan kancing celana bahannya dan menyingkap seragam pelayan abu-abu kaku tersebut, menanggalkan kain penghalang di antara mereka. Tatapan mata sebiru es milik Alaric membara oleh gairah kelam yang pekat, mengunci pandangannya tepat pada manik mata Anastasia.

Tanpa memberi jeda, Alaric menyatukan tubuh mereka dalam satu dorongan dalam yang intens. Sensasi sesak, gesekan panas, dan hambatan bernapas seketika menyergap, membuat Anastasia mendongakkan kepala dan mencengkeram bahu tegap Alaric kuat-kuat. Rusuknya yang memar kembali berdenyut sakit, namun Anastasia mengalihkan rasa sakit fisik itu menjadi rangkuman pelukan erat di leher sang pangeran mafia.

"Sialan..." umpat Alaric serak saat kehangatan dan keketatan tubuh Anastasia mengunci miliknya dengan presisi yang merusak akal sehat.

Alaric mulai memacu ritme pergerakannya. Hentakan demi hentakan meluncur teratur dan dominan, menghujamkan gairah yang membakar seluruh saraf mereka. Hawa panas menumpuk di udara kamar yang remang. Anastasia memeluk bahu Alaric erat-erat, membiarkan dirinya ditarik ke dalam pusaran gairah yang sejatinya ia rancang sendiri. Setiap desahan yang lolos dari bibirnya adalah umpan taktis; di balik matanya yang terpejam, otak analitis sang agen bekerja dengan perhitungan dingin: Alaric De Luca sedang terjerat dalam ketagihan fisik dan emosional yang diciptakannya sendiri.

Puncak pelepasan kini tinggal sejangkal lagi di depan mata. Ritme gerakan Alaric kian cepat dan tak teratur, napasnya memburu panas di ceruk leher Anastasia. Namun, tepat di saat pertahanan gairah itu hendak meledak—

Brak! Brak! Brak!

Gedoran membabi buta menghantam pintu ganda mahoni kamar suite tersebut.

"Tuan Alaric!" suara Marcus terdengar memecah atmosfer, membawa nada darurat yang mendesak dari balik pintu tebal. "Rombongan faksi Marseilles telah menerobos gerbang utama! Freya Voss dan Lord Voss ada di aula bawah sekarang!"

Gerakan Alaric terhenti seketika. Rahangnya mengeras kaku, dan sepasang mata birunya berkilat penuh amuk amarah yang sanggup membunuh siapa saja.

"Sialan!" bentak Alaric rendah dengan suara bariton yang pecah oleh frustrasi dan amarah yang tertahan.

Dengan gerakan mendadak, Alaric menarik tubuhnya menjauh, memutuskan ikatan fisik mereka yang belum tuntas. Anastasia merintih pelan, sengaja menampilkan raut kebas dan hampa saat kehangatan Alaric meninggalkan kulitnya secara mendadak.

Alaric menyambar kemeja hitamnya dengan jemari yang kaku oleh amarah, mengancingkannya tergesa-gesa seraya merapikan celana bahannya. Pria itu berbalik, menatap Anastasia yang terkulai lemas di atas kasur dengan kain selimut yang menutupi dadanya yang masih naik-turun memburu.

"Rapikan pakaianmu," perintah Alaric dingin dengan napas yang belum sepenuhnya stabil. "Kau ikut turun denganku."

Beberapa menit kemudian, mereka meniti anak tangga melingkar menuju aula utama. Di lantai bawah, atmosfer Mansion De Luca telah berubah menjadi medan perang dingin antara dua faksi besar dunia bawah. Puluhan pengawal bertubuh tegap dari Marseilles berbaris kaku di sepanjang dinding marmer, mengenakan mantel hitam berkerah tinggi dengan lambang belati silang faksi Voss.

Di tengah aula, berdiri seorang wanita yang dikelilingi aura kemewahan dan kekejaman yang pekat. Freya Voss. Wanita itu dibalut gaun sutra tebal berwarna merah darah yang kontras, dilapisi mantel bulu musang putih di bahunya. Wajahnya yang bergaris tegas dipoles riasan sempurna, memancarkan keangkuhan seorang putri pasar hitam yang terbiasa memerintah dengan darah.

"Kau terlambat sepuluh menit, Alaric," ujar Freya dengan suara merdu namun dingin menusuk, bahkan sebelum Alaric menapakkan kaki di anak tangga terakhir.

"Kau yang mendaratkan helikoptermu satu jam lebih awal tanpa persetujuanku, Freya," sahut Alaric datar, melangkah santai menghampiri calon istrinya dengan kedua tangan terbenam di saku celana.

Lord Voss berdiri beberapa langkah di belakang putrinya bersama Marcus. Sepasang mata sehitam jelaga milik pimpinan faksi Marseilles itu mengamati Alaric dengan tatapan menilai yang sarat akan ancaman terselubung.

"Kami datang lebih awal untuk memastikan perimeter Sayap Timur sudah bersih dari bahaya, Alaric," potong Lord Voss dengan suara berat berwibawa. "Aliansi kita minggu depan membutuhkan jaminan keamanan tingkat tertinggi."

"Mansion De Luca adalah benteng paling aman di benua ini, Lord Voss," balas Alaric tanpa memalingkan pandangannya dari Freya. "Anda tidak perlu meragukan sistem pengawasanku."

Freya menyunggingkan senyuman tipis tanpa kehangatan. Sepasang mata cokelat gelapnya yang tajam melintas di bahu tegap Alaric, seketika mengunci pandangannya pada sosok Anastasia yang berdiri menunduk kaku dua langkah di belakang pangeran mafia itu.

"Jadi... ini pelayan baru yang kau siapkan untuk melayaniku?" tanya Freya dengan nada mengintimidasi yang sangat pelan.

Freya melangkah maju. Hentakan hak tinggi sepatunya membentur marmer dengan irama yang tenang namun mematikan. Ia mengedarkan pandangan menyapu tubuh mungil Anastasia yang terbungkus seragam abu-abu kaku, sebelum berhenti tepat satu jengkal di hadapan sang agen kepolisian.

Anastasia menahan napasnya secara terukur. Di dalam benak analitisnya, ia merekam setiap detail gerakan, aroma parfum musk mahal, serta celah keamanan dari barisan pengawal faksi Voss di sekeliling mereka. Namun secara fisik, ia menahan denyut nyeri di kepalanya dan membiarkan bahunya gemetar pelan, memperlihatkan raut ketakutan murni dari seorang pelayan tak berdaya.

"Angkat wajahmu," perintah Freya dingin, menyilangkan kedua tangannya di dada.

Anastasia tidak bergerak. Ia mematuhi instruksi Alaric sebelumnya untuk tetap menunduk, meremas jemarinya semakin kencang di balik apron renda.

"Aku menyuruhmu mengangkat wajahmu, Pelacur!" bentak Freya, suaranya naik satu oktav dengan kemurkaan yang tak tertahankan.

Sebelum Anastasia sempat merespons, tangan Freya yang terbungkus sarung kulit hitam terangkat kasar. Jemarinya yang tajam mencengkeram dagu Anastasia, memaksa wajah pucat sang agen mendongak secara paksa.

Atmosfer di dalam aula utama seketika membeku bagaikan neraka es.

Mata cokelat gelap Freya menyipit tajam saat meneliti detail wajah Anastasia. Meski terbalut kain abu-abu kaku dan kerah tinggi yang menutupi lehernya, warna kulit pucat yang halus, bibir ranum yang sedikit bengkak, dan binar mata hazel milik Anastasia memancarkan keanggunan alami serta jejak intimasi baru yang tak sanggup disembunyikan oleh seragam pelayan paling hina sekalipun.

"Luar biasa..." bisik Freya dengan nada beracun yang menggetarkan udara. "Kerah tinggi kaku, perban di pelipis, dan mata hazel yang tampak begitu menyedihkan..."

Freya menghempaskan cengkeramannya secara kasar, membuat kepala Anastasia terdorong pelan ke samping. Sang putri mafia berpaling pada Alaric dengan kilatan amarah yang membakar di mata cokelatnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 13 Tawaran di Balik Bayangan

    Keheningan lorong bawah tanah Sayap Barat terasa dingin dan menyesakkan. Bau lembap batu tua berpadu dengan wangi kayu cedar dan sisa uap air pancuran dapur. Lampu dinding tembaga memancarkan pendar kekuningan yang redup, membiaskan bayangan-bayangan panjang di atas ubin marmer hitam.Anastasia berjalan perlahan membawa baki kayu berisi tumpukan serbet linen yang baru disetrika. Sepatu sol karet tipisnya bergerak tanpa suara, sementara tubuhnya secara fisik masih menampilkan kesan lelah yang pasrah, sisa dari infiltrasi malam harinya dan ketegangan interaksi dengan Alaric beberapa saat lalu.Namun, saat ia melintasi tikungan koridor menuju ruang penyimpanan utama, sebuah sosok tinggi anggun berdiri menunggunya di balik ceruk pilar marmer.Freya Voss.Sang putri mafia berdiri sendirian tanpa dikawal Hector atau barisan penjaga faksi Marseilles. Ia dibalut gaun pagi berwarna kasmir krem, menyilangkan kedua tangannya di dada dengan aura keangkuhan yang berac

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 12 Binar di Balik Celah Pintu

    Sinar matahari pagi menembus kaca-kaca tinggi koridor Sayap Timur, membiaskan pendar keemasan di atas ubin marmer yang berkilat dingin. Namun bagi Anastasia, hangatnya mentari tak mampu mengusir kelelahan fisik dan mental yang menumpuk setelah aksi infiltrasi malam harinya di ruang bawah tanah.Hanya ada jeda tiga jam tidur bagi sang agen kepolisian sebelum lonceng tugas Sayap Timur berdentang pukul lima pagi. Otot-otot tubuhnya masih menegang dari aksi menyelinap di antara peti senjata, dan benaknya masih terbayang oleh teka-teki kode pengiriman bayangan V-17 / M-04 / A.D.L. yang ia temukan beberapa jam lalu.Di atas nampan kayu mahoni yang ia bawa dengan kedua tangan terbalut perban tipis, tergeletak seperangkat dokumen logistik harian dan laporan inventaris Sayap Barat yang baru saja diserahkan oleh pengawal faksi Voss. Langkah Anastasia teratur, melintasi koridor utama menuju ruang kerja pribadi Alaric De Luca.Namun, beberapa langkah sebelum mencapai pintu

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 11 Jejak Darah di Ruang Bawah Tanah

    Jam dinding kuno di ruang tengah berdentang dua kali, menandakan pukul dua dini hari, momen krusial di mana kewaspadaan sistem keamanan Mansion De Luca berada pada titik terendahnya.Anastasia berdiri melekat pada ceruk dinding koridor belakang, dibalut pakaian pelayan hitam tanpa apron kaku. Sepatu sol karet tipis yang ia sembunyikan di balik lipatan lemari sejak Bab 3 melangkah tanpa menghasilkan bunyi sedikit pun di atas ubin batu tua.Dua menit. Itu adalah jeda waktu persis saat regu pengawal faksi Voss memutar rute patroli Sayap Barat dan barisan penjaga pribadi Alaric melakukan serah terima tugas di pos gerbang depan.Di dalam benak Anastasia, denah digital Mansion De Luca yang dihadiahkan oleh tim peretas kepolisian terpeta dengan presisi tinggi. Namun, saat menyusuri lorong penyimpanan anggur di bawah dapur utama, indra spasial sang agen kepolisian menangkap sebuah anomali arsitektur.Ketebalan dinding batu di ujung lorong bawah tanah tidak simetr

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 10 Pria yang Membela Tawanan

    Ruang makan utama Sayap Timur Mansion De Luca malam itu diselimuti suasana temaram yang terasa kaku dan mengintimidasi. Lampu gantung kristal menggantung megah di atas meja kayu mahoni raksasa yang dilapisi kain linen putih bersih. Di atasnya, perak-perak halus, lilin aromatik beraroma kayu jati, dan piring-piring porselen terata dengan presisi tinggi.Namun, hidangan steak daging domba panggang dan anggur merah Bordeaux yang tersaji tak sanggup mencairkan hawa dingin yang berhembus di antara tiga orang di ruangan tersebut.Freya Voss duduk di sisi kiri meja, dibalut gaun malam velvet berwarna hijau zamrud yang mempertegas lekuk tubuh dan keangkuhannya. Sepasang mata cokelat gelapnya berkilat penuh kedengkian saat ia memutar-mutar tangkai gelas kristalnya.Di kepala meja, Alaric De Luca duduk memimpin dengan kemeja hitam berkerah kaku yang lengannya tergulung rapi. Tangannya yang memegang pisau daging bergerak tenang, memotong hidangan

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 9 Senyum di Balik Pisau

    Kekalahan terselubung di aula utama kemarin pagi menyisakan luka yang membakar pada harga diri Freya Voss. Bagi seorang putri tunggal penguasa pasar hitam Marseilles, dipermalukan di hadapan para pengawalnya sendiri oleh Alaric demi seorang pelayan berkerah kaku adalah tamparan keras yang tak tertahankan.Maka, ketika matahari baru saja beranjak tinggi menembus tirai kamar suite tamu di Sayap Barat, Freya melancarkan pergerakan balasannya."Cari kalung zamrud milikku di kamar ganti," perintahkan Freya tanpa memalingkan wajahnya dari cermin rias. Suaranya merdu, namun dipenuhi dingin yang beracun.Anastasia berdiri patuh dua langkah di belakang kursi Freya, meremas apron rendanya. "Kalung zamrud yang mana, Nona Freya?""Kalung zamrud Haut-Rhin dengan liontin berlian hitam," potong Freya seraya memutar tubuhnya perlahan, menatap Anastasia dengan pendar kemurkaan yang tertahan di mata cokelat gelapnya. "Aku meninggalkannya di atas meja rias

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 8 Pelayan yang Tidak Takut

    Atmosfer di aula utama Mansion De Luca terasa sesak, seolah oksigen di dalam ruangan itu terkuras habis oleh keangkuhan faksi Marseilles. Sejak matahari terbit menyiram jendela-jendela kaca tinggi Sayap Timur, Freya Voss tidak membuang waktu untuk menumpahkan seluruh dominasi beracunnya.Sebagai calon Ratu Pasar Hitam, Freya terbiasa melihat semua orang tunduk di bawah telapak kakinya. Dan pagi ini, pelayan anyar berkerah kaku dengan mata hazel menyedihkan itu menjadi sasaran utama perundungannya."Teh ini terlalu dingin," desis Freya seraya mendorong cangkir porselen di atas meja perak dengan ujung jarinya.Cangkir itu berdenting keras saat membentur baki yang dipegang Anastasia. Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan baki perak tersebut agar tidak goyah."Maafkan saya, Nona Freya. Saya akan menggantinya dengan yang baru," sahut Anastasia halus, suaranya mengandung getaran cemas yang begitu pas—sebuah penampilan sempurna dari seora

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status