Startseite / Romansa / Tawanan Sang Mafia / BAB 10 Pria yang Membela Tawanan

Teilen

BAB 10 Pria yang Membela Tawanan

last update Veröffentlichungsdatum: 08.09.2026 12:00:36

Ruang makan utama Sayap Timur Mansion De Luca malam itu diselimuti suasana temaram yang terasa kaku dan mengintimidasi. Lampu gantung kristal menggantung megah di atas meja kayu mahoni raksasa yang dilapisi kain linen putih bersih. Di atasnya, perak-perak halus, lilin aromatik beraroma kayu jati, dan piring-piring porselen terata dengan presisi tinggi.

Namun, hidangan steak daging domba panggang dan anggur merah Bordeaux yang tersaji tak sanggup mencairkan hawa dingin

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 10 Pria yang Membela Tawanan

    Ruang makan utama Sayap Timur Mansion De Luca malam itu diselimuti suasana temaram yang terasa kaku dan mengintimidasi. Lampu gantung kristal menggantung megah di atas meja kayu mahoni raksasa yang dilapisi kain linen putih bersih. Di atasnya, perak-perak halus, lilin aromatik beraroma kayu jati, dan piring-piring porselen terata dengan presisi tinggi.Namun, hidangan steak daging domba panggang dan anggur merah Bordeaux yang tersaji tak sanggup mencairkan hawa dingin yang berhembus di antara tiga orang di ruangan tersebut.Freya Voss duduk di sisi kiri meja, dibalut gaun malam velvet berwarna hijau zamrud yang mempertegas lekuk tubuh dan keangkuhannya. Sepasang mata cokelat gelapnya berkilat penuh kedengkian saat ia memutar-mutar tangkai gelas kristalnya.Di kepala meja, Alaric De Luca duduk memimpin dengan kemeja hitam berkerah kaku yang lengannya tergulung rapi. Tangannya yang memegang pisau daging bergerak tenang, memotong hidangan

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 9 Senyum di Balik Pisau

    Kekalahan terselubung di aula utama kemarin pagi menyisakan luka yang membakar pada harga diri Freya Voss. Bagi seorang putri tunggal penguasa pasar hitam Marseilles, dipermalukan di hadapan para pengawalnya sendiri oleh Alaric demi seorang pelayan berkerah kaku adalah tamparan keras yang tak tertahankan.Maka, ketika matahari baru saja beranjak tinggi menembus tirai kamar suite tamu di Sayap Barat, Freya melancarkan pergerakan balasannya."Cari kalung zamrud milikku di kamar ganti," perintahkan Freya tanpa memalingkan wajahnya dari cermin rias. Suaranya merdu, namun dipenuhi dingin yang beracun.Anastasia berdiri patuh dua langkah di belakang kursi Freya, meremas apron rendanya. "Kalung zamrud yang mana, Nona Freya?""Kalung zamrud Haut-Rhin dengan liontin berlian hitam," potong Freya seraya memutar tubuhnya perlahan, menatap Anastasia dengan pendar kemurkaan yang tertahan di mata cokelat gelapnya. "Aku meninggalkannya di atas meja rias

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 8 Pelayan yang Tidak Takut

    Atmosfer di aula utama Mansion De Luca terasa sesak, seolah oksigen di dalam ruangan itu terkuras habis oleh keangkuhan faksi Marseilles. Sejak matahari terbit menyiram jendela-jendela kaca tinggi Sayap Timur, Freya Voss tidak membuang waktu untuk menumpahkan seluruh dominasi beracunnya.Sebagai calon Ratu Pasar Hitam, Freya terbiasa melihat semua orang tunduk di bawah telapak kakinya. Dan pagi ini, pelayan anyar berkerah kaku dengan mata hazel menyedihkan itu menjadi sasaran utama perundungannya."Teh ini terlalu dingin," desis Freya seraya mendorong cangkir porselen di atas meja perak dengan ujung jarinya.Cangkir itu berdenting keras saat membentur baki yang dipegang Anastasia. Anastasia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan baki perak tersebut agar tidak goyah."Maafkan saya, Nona Freya. Saya akan menggantinya dengan yang baru," sahut Anastasia halus, suaranya mengandung getaran cemas yang begitu pas—sebuah penampilan sempurna dari seora

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 7 Di Antara Bayangan dan Api

    Cengkeraman Alaric pada kerah kaku seragam pelayan Anastasia menegang. Di depan meja rias kamar Sayap Timur, tatapan mata sebiru es milik pangeran mafia itu membakar dengan amarah irasional yang tak mampu ia jinakkan. Napas Alaric berembus kasar, menyapu leher pucat Anastasia yang tertutup kerah tinggi."Kau pikir kau bisa mengendalikan permainan ini dengan topeng kepasrahanmu, Anna?" desis Alaric rendah, suaranya memberat membahayakan.Sebelum Anastasia sempat menjawab, Alaric menarik tubuh ringkih sang agen dengan satu sentakan kasar. Anastasia terseret selangkah, tumit telanjangnya bergesekan dengan lantai marmer dingin sebelum Alaric mengempaskannya ke atas kasur berseprai sutra hitam di tengah kamar suite. Pria itu menyusul cepat, melompati tepi ranjang dan mengurung Anastasia di bawah kungkungan tubuh tegapnya yang seberat baja.Sutra hitam terasa dingin di punggung Anastasia, namun panas tubuh Alaric yang menghimpit di atasnya bagaikan bara api y

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 6 Pelayan Sang Ratu Malam

    "M-minyak kayu cedar, Tuan?" bisik Anastasia dengan kelopak mata bergetar panik, menatap lurus ke dalam manik mata sebiru es milik Alaric. "Ibu Agnes... Ibu Agnes baru saja membawakan kain pembersih beraroma kayu dari pantry bawah untuk menyeka meja ini sebelum Anda masuk."Alaric menyipitkan matanya tajam. Cengkeramannya pada dagu Anastasia tidak memelonggar sedikit pun. Ibu jarinya justru mengusap pelipis wanita itu dengan tekanan yang menuntut."Kau pikir aku bisa dibohongi oleh kebetulan semacam itu, Anna?" desis Alaric rendah, suaranya memberat membahayakan."Saya tidak berani berbohong pada Anda, Tuan Alaric," sahut Anastasia dengan air mata buatan yang mulai menggenang di sudut mata hazel-nya. "Saya... saya bahkan tidak tahu di mana letak ruang kerja Anda."Alaric menatap bibir pucat yang bergetar ketakutan di hadapannya. Kebohongan atau kejujuran wanita ini tersusun begitu rapi di balik raut wajah polosnya yang tak berdosa."Bagus jika kau tidak tahu," pukas Alaric dingin sera

  • Tawanan Sang Mafia   BAB 5 Di Ujung Jarum Halus

    "Kunci pintu utama dan periksa perimeter lorong timur!"Gema suara berat pengawal di balik pintu ganda ruang kerja membuat seluruh sel di tubuh Anastasia menegang kaku. Dalam hitungan seperseribu detik, refleks terlatih seorang agen kepolisian mengambil alih penuh kendali pikirannya.Tanpa menimbulkan gesekan kain sedikit pun, Anastasia melangkah mundur bagai bayangan. Tubuh mungilnya menyelinap halus ke balik tirai beludru tebal bernuansa merah marun yang melapisi pintu kaca balkon.Krek.Gagang pintu mahoni berputar penuh. Daun pintu terbuka lebar, membiarkan pendar cahaya lampu lorong menyiram sebagian lantai kayu ek."Marcus meminta map manifestasi kargo pelabuhan selatan," ucap seorang pengawal bersenjata otomatis seraya melangkah masuk."Ambil cepat di meja tengah. Kita harus menyisir area gerbang sebelum helikopter Tuan Alaric mendarat," sahut pengawal kedua yang tetap bersiaga di ambang pintu.Di balik lipatan beludru dingin, Anastasia menahan napasnya secara terukur. Jemari le

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status