ログインDi kantor pusat Toretto Corp yang menjulang tinggi di jantung kota, Leon duduk di kursi kebesarannya.
Kursi kulit hitam yang menghadap jendela kaca besar dengan pemandangan kota metropolitan. Di hadapannya, tumpukan dokumen menanti tanda tangan. Layar komputer menampilkan presentasi proposal proyek miliaran dollar. Tapi matanya menatap kosong dia tidak fokus. Pikirannya terus kembali pada gadis itu, Rosella. Wajahnya yang pucat pagi tadi. Matanya yang berkaca-kaca tapi tidak menangis. Tangannya yang gemetar saat membersihkan piring yang dia buang. Leon mengepalkan tangannya di atas meja. “Shit!” Bukan karena dia merasa bersalah. Tidak!? Melainkan kesal, ya, sangat kesal. Entah mengapa dia tidak puas dengan hukuman yang dia berikan. Dia harus lebih menderita, pikir Leon gelap. Dia harus tahu akibatnya melawan aku. "Tuan Leon?" Sekretarisnya mengetuk pintu. "Ada jadwal meeting, klien sudah menunggu." Sambungnya. "Tunda," jawab Leon dingin tanpa mengalihkan pandangan dari jendela. "Tapi Tuan, ini klien penting…" Belum sempat melanjutkan ucapannya Leon sudah memotong. "Aku bilang tunda!" bentaknya. Sekretaris itu langsung membungkuk dan bergegas keluar. Leon bangkit dari kursinya, berjalan ke jendela besar. Tangannya masuk ke saku celana, rahangnya mengeras. Dia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk kepala pelayan di mansion: "Mulai besok, Rosella yang bertanggung jawab membersihkan semua kamar para Tuan Muda. Setiap hari. Sendirian! Jika ada yang kotor sedikit saja, potong jatah makannya." Setelah mengirim pesan, senyum tipis nan dingin terukir di bibirnya. “Kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan, Rosella. Memohon ampun padaku!” Sementara itu di mansion, Rosella baru selesai mencuci piring saat kepala pelayan memanggilnya. "Mulai besok, kamu bertanggung jawab penuh membersihkan kamar ketiga Tuan Muda," ucap kepala pelayan dengan nada yang terdengar kasian. Rosella terkejut. "Semua kamar? Sendirian?" "Perintah langsung dari Tuan Leon," jawab kepala pelayan. Siapa lagi yang terus ingin mencari kesalahan dengannya selain Leon. Rosella menggigit bibir bawahnya, menahan amarah yang kembali bergejolak. Dia belum puas rupanya. "Baik," jawabnya pasrah karena tak ada gunanya melawan. Pelayan senior yang mendengar percakapan itu berbisik-bisik. "Kasihan sekali dia.” "Tuan Leon sepertinya sangat membencinya.” Sahut lainnya. Rosella berpura-pura tidak mendengar. Dia kembali ke kamarnya, menutup pintu, lalu merosot ke lantai. Entah kenapa Leon ingin selalu menyusahkannya, kenapa malah jadi begini. Alih-alih didepak dari mansion Rosella justru terus dipersulit. Keesokan harinya, pukul lima pagi, Rosella sudah bangun. Dia harus membersihkan tiga kamar setelah Tuan Muda berangkat kerja. Kamar pertama, Lucas. Berantakan tapi wajar, buku-buku medis berserakan, tapi Lucas sudah menata pakaian kotornya di keranjang. Kamar kedua, Adrian. Masih rapi, hanya perlu ganti sprei dan lap debu. Kamar ketiga, Leon. Rosella berhenti di depan pintu kamar Leon, mengambil napas dalam-dalam. “Dia tidak ada Rosella, ayo masuk dan kerjakan tugasmu.” Dia membuka pintu dan nyaris pingsan melihat pemandangan di depan mata. Kamar Leon seperti kapal pecah, baju berserakan dimana-mana. Handuk basah dilempar ke atas tempat tidur yang berantakan. Sprei sampai terlepas dari kasur. Gelas-gelas kotor di meja, bahkan ada yang pecah. Dan yang paling parah! Sampah kertas dari tong sampah ditumpahkan ke lantai. Rosella terpaku. Ini pasti disengaja. Leon telah mengibarkan bendera perang padanya. Amarahnya memuncak. Tapi Rosella tidak bisa berbuat apa-apa. Dengan tangan gemetar, dia mulai membereskan satu per satu. Dua jam kemudian, Rosella baru selesai. Tubuhnya pegal luar biasa, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Tapi belum selesai. Dia masih harus membersihkan kamar mandi para Tuan Muda. Sore hari, Rosella kembali membersihkan lantai atas, dia harus menyiapkan air hangat agar saat pulang para Tuan Muda bisa langsung mandi. Malam itu, dia kembali membersihkan lantai atas. Tentu semua atas perintah Leon. "ROSELLA!" Suara kepala pelayan memanggil dari bawah. Rosella berlari turun, hampir tersandung di anak tangga terakhir. "Ada apa?" "Tuan Leon menelepon. Dia ingin kamu mengambilkan berkas di kamar, dia sekarang di ruang kerja,” kata kepala pelayan. Dengan langkah lelah dia kembali naik ke atas, Rosella masuk ke dalam kamar Leon. Di meja tidak ada apa-apa, hanya ada map warna hitam. Apa ini dokumen yang dimaksud? Karena tidak ada lagi berkas selain itu, Rosella pun berjalan ke ruang kerja Leon. Di depan pintu ruang Leon, Rosella mengetuk pelan. "Masuk." Suara dingin Leon membuat jantungnya berdebar bukan karena gugup, tapi karena kesal dan marah. Rosella masuk. Leon duduk di kursi besarnya, menatapnya dengan tatapan datar. "Berkasnya," ucap Leon tanpa basa-basi. Rosella meletakkan map berkas di meja. "Ini, Tuan." Leon membukanya, memeriksa sebentar, lalu dengan santai menutupnya kembali. "Oh, ternyata bukan ini yang aku butuhkan." Rosella mematung menatap Leon dengan tatapan kesal. "A-apa?" "Aku lupa berkas yang aku butuhkan masih ada di mobil,” jawab pria itu santai. Darah Rosella mendidih. Dia tahu Leon sengaja mempermainkannya. "Tapi... tapi kepala pelayan bilang berkas di atas meja..." ucapnya dengan suara bergetar menahan amarah. "Aku tidak peduli apa yang dia bilang," potong Leon dingin. "Aku butuh berkas yang ada di mobil. Ambilkan sekarang!” Rosella mengepalkan tangannya erat-erat. "Baik, Tuan," ucap Rosella dengan suara datar. Dia berbalik hendak keluar tapi Leon tiba-tiba berkata lagi. "Dan Rosella..." Gadis itu berhenti dan berbalik. "Lain kali kalau menemuiku pakai parfum dulu, tubuhmu bau keringat. Apa kamu ingin membuat aku muntah?” Kata-kata itu seperti tamparan di wajah, sungguh sakit rasanya. Rosella menunduk, menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah. "Maaf, Tuan," sahutnya lalu bergegas keluar sebelum air matanya tumpah. Setelah pintu tertutup, Leon bersandar di kursinya. Senyum tipis, senyum puas terukir di bibirnya. “Kamu harus tahu tempatmu.” Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sesuatu yang membuatnya tidak sepenuhnya puas. Ekspresi Rosella tadi, wajahnya yang pucat, tangannya yang gemetar, suaranya yang hampir pecah, kenapa terus terngiang di benaknya? Leon menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu. “Aku tidak peduli. Dia cuma pelayan!”"Uuhh Rose, aku sungguh sangat rindu padamu," bisik Leon dengan suara yang semakin berat sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Rosella untuk menghirup aroma manis yang begitu dirinya gilai.“Apa boleh Sayang?” Bisik Leon sambil menatap Rosella. Rosella menatap Lucas dan Adrian yang memejamkan mata seolah tak enak mengkhianati keduanya. Tapi… Dirinya kini dirundung gairah yang tak bisa dia tahan. “Iya Tuan.” Mendapatkan persetujuan dari Rosella membuat Leon benar-benar merasa di atas angin. Pria itu bergerak cepat namun penuh kehati-hatian. Dia membawa tubuh mungil Rosella bergeser ke sudut sofa yang paling gelap dan paling jauh dari jangkauan pandangan, membelakangi posisi Adrian dan Lucas yang tampak masih mendengkur halus dengan nafas yang teratur.Di bawah temaramnya lampu yang remang-remang, Leon mulai menagih rindunya dengan brutal.Setiap sentuhannya sangat liar, membuat Rosella tak kuasa untuk tidak mendesah. "T-Tuan... pelan-pelan, nanti mereka bangun...Uuuhhh.
"Kak Leon, Lucas ayo keluar biar dia istirahat. Kalau kalian tidur di sini bisa-bisa Rosella tidak tidur malam ini," usir Adrian dengan wajah lempeng tanpa dosa.Leon dan Lucas mendengus kasar secara bersamaan. Mereka tahu betul itu hanya taktik licik Adrian agar bisa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Namun, melihat Rosella yang benar-benar sudah memejamkan mata dengan dahi berkerut karena kelelahan, kedua singa itu akhirnya mengalah. Demi kesehatan sang ratu, mereka bertiga akhirnya sepakat keluar dari kamar utama dengan langkah berat, menutup rapat pintu dari luar, lalu turun ke lantai bawah menuju ruang tengah.Karena sama-sama frustrasi akibat puasa yang menyiksa iman, Leon, Adrian, dan Lucas akhirnya duduk berkumpul di sofa ruang tengah sembari membuka sebotol wiski mahal untuk menyalurkan energi mereka yang tertahan.Tengah malam, sekitar pukul dua pagi, suasana mansion sudah teramat sunyi. Rosella terbangun dari tidurnya karena tenggorokannya terasa sangat kering dan h
Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Suasana di mansion Toretto mengalami perubahan besar sejak Rosella memasuki semester akhir dan mulai disibukkan dengan penyusunan skripsi. Gadis ceria itu kini menjelma menjadi mahasiswi tingkat akhir yang super sibuk, dikelilingi oleh tumpukan jurnal, buku tebal, dan revisi yang tiada habisnya.Melihat wanitanya mulai sering begadang dan tampak stres menghadapi dosen penguji, ketiga pria Toretto akhirnya terpaksa sabar, demi menjaga fokus Rosella agar bisa lulus dengan nilai terbaik, Leon, Adrian, dan Lucas sepakat untuk tidak mengganggu Rosella."Adrian ingat jangan mengganggu Rosella, biasanya kamu yang selalu mangkir." kata Leon sambil menatap Adrian tajam. Adrian terkekeh, "Kali ini aku tidak akan curang." sahutnya. "Biasanya kamu mengajak Rosella ke ruanganmu dengan dalih urusan kampus dan ujung2nya minta jatah, keterlaluan memang kamu Kak!" Sahut Lucas kesal. "Itulah kenapa aku jadi Dosen karena aku lebih pintar dari kalian." Leon dan
"Kamu bisa mendesah yang suaramu bisa langsung hilang disapu angin, Sayang," bisik Adrian seksi sebelum menurunkan tubuh mereka berdua ke dalam air.Sore itu, Adrian benar-benar berubah menjadi singa yang gila dan tak terkendali. Di bawah langit London yang luas, mereka melakukan banyak gaya percintaan tanpa rasa takut sedikit pun. Mulai dari pergulatan panas di dalam air kolam yang hangat, berpindah ke tepi kolam dengan dekapan yang semakin erat, hingga beralih ke atas kursi berjemur di mana Adrian menuntut haknya dengan sangat ugal-ugalan. Rosella mencengkeram bahu tegap Adrian, mendesah sekeras-kerasnya menumpahkan segala rasa pekat yang membakar dadanya. Seperti ucapan Adrian tadi suara desahan Rosella langsung hilang menguap terbawa angin. Setelah badai gairah itu mereda, Adrian bersiap untuk mengajak Rosella pulang bersama. Namun, menyadari bahwa Adrian saat ini masih dalam masa boikot oleh Leon dan Lucas, Rosella mulai merasa khawatir.Di dalam mobil, Rosella menatap Adri
“Walah Walah habislah aku,” batin Rosella panik, merutuki mulutnya sendiri yang terlalu cepat luluh pada pesona sang dosen licik.Tanpa memperdulikan jam kuliah Rosella yang masih tersisa, Adrian benar-benar bergerak cepat. Dia menggandeng tangan Rosella dengan erat, membawa gadis itu menyusuri koridor sepi dan gedung dosen agar tidak memancing perhatian mahasiswa lain. “Tuan, kamu ngajakin aku bolos, kalau dicari bagaimana?” Tanya Rosella. “Nanti aku akan bilang, lagian jadi mahasiswa jangan terlalu patuh, sesekali bolos tak masalah.” Pria itu tersenyum licik. Adrian menepati janjinya. Sebelum menuju tujuan utama, dia membawa Rosella mampir ke sebuah kedai gelato terkenal untuk membelikan dua kerucut es krim stroberi besar, lalu mengajak gadis itu berjalan-jalan santai di sepanjang tepi sungai demi mengembalikan suasana hatinya.Setelah senyuman manis Rosella kembali merekah sepenuhnya, barulah Adrian melajukan mobilnya membelah jalanan London menuju sebuah gedung apartemen pen
‘Tidak! Aku tidak mau memberikan jatah kepada mereka, enak saja,’ batin Adrian dengan rahang mengeras.Jika di mansion Leon dan Lucas memegang kendali penuh untuk mengawasinya, maka besok di kampus akan menjadi cerita yang berbeda. Kampus adalah wilayah kekuasaannya, dan tidak akan ada yang bisa menghalanginya untuk mendapatkan kembali Rosella. Keesokan paginya di kampus, Adrian benar-benar terobsesi untuk mendapatkan maaf dari Rosella.Adrian sudah berdiri menyandarkan tubuhnya di pilar koridor utama kampus, menunggu kedatangan Rosella sejak pagi-pagi sekali.Tak lama kemudian, sosok yang ditunggunya muncul. Rosella melangkah memasuki koridor setelah diantar oleh Lucas tadi. Namun, begitu manik mata manis Rosella menangkap keberadaan Adrian yang berdiri menatapnya, wanita itu langsung memutar tubuhnya, berbalik arah untuk menghindar."Rose! Rosella, tunggu!" panggil Adrian panik. Pria itu langsung melebarkan langkahnya untuk mengejar.Namun, Rosella sama sekali tidak mau berhent







