Share

Dipermainkan Leon

Penulis: CitraAurora
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-02 15:34:51

Di kantor pusat Toretto Corp yang menjulang tinggi di jantung kota, Leon duduk di kursi kebesarannya.

Kursi kulit hitam yang menghadap jendela kaca besar dengan pemandangan kota metropolitan.

Di hadapannya, tumpukan dokumen menanti tanda tangan. Layar komputer menampilkan presentasi proposal proyek miliaran dollar. Tapi matanya menatap kosong dia tidak fokus.

Pikirannya terus kembali pada gadis itu, Rosella.

Wajahnya yang pucat pagi tadi. Matanya yang berkaca-kaca tapi tidak menangis. Tangannya yang gemetar saat membersihkan piring yang dia buang.

Leon mengepalkan tangannya di atas meja. “Shit!”

Bukan karena dia merasa bersalah. Tidak!? Melainkan kesal, ya, sangat kesal.

Entah mengapa dia tidak puas dengan hukuman yang dia berikan.

Dia harus lebih menderita, pikir Leon gelap. Dia harus tahu akibatnya melawan aku.

"Tuan Leon?" Sekretarisnya mengetuk pintu. "Ada jadwal meeting, klien sudah menunggu." Sambungnya.

"Tunda," jawab Leon dingin tanpa mengalihkan pandangan dari jendela.

"Tapi Tuan, ini klien penting…" Belum sempat melanjutkan ucapannya Leon sudah memotong.

"Aku bilang tunda!" bentaknya.

Sekretaris itu langsung membungkuk dan bergegas keluar.

Leon bangkit dari kursinya, berjalan ke jendela besar. Tangannya masuk ke saku celana, rahangnya mengeras.

Dia mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk kepala pelayan di mansion:

"Mulai besok, Rosella yang bertanggung jawab membersihkan semua kamar para Tuan Muda. Setiap hari. Sendirian! Jika ada yang kotor sedikit saja, potong jatah makannya."

Setelah mengirim pesan, senyum tipis nan dingin terukir di bibirnya.

“Kita lihat sampai kapan kamu bisa bertahan, Rosella. Memohon ampun padaku!”

Sementara itu di mansion, Rosella baru selesai mencuci piring saat kepala pelayan memanggilnya.

"Mulai besok, kamu bertanggung jawab penuh membersihkan kamar ketiga Tuan Muda," ucap kepala pelayan dengan nada yang terdengar kasian.

Rosella terkejut. "Semua kamar? Sendirian?"

"Perintah langsung dari Tuan Leon," jawab kepala pelayan.

Siapa lagi yang terus ingin mencari kesalahan dengannya selain Leon.

Rosella menggigit bibir bawahnya, menahan amarah yang kembali bergejolak. Dia belum puas rupanya.

"Baik," jawabnya pasrah karena tak ada gunanya melawan.

Pelayan senior yang mendengar percakapan itu berbisik-bisik.

"Kasihan sekali dia.”

"Tuan Leon sepertinya sangat membencinya.” Sahut lainnya.

Rosella berpura-pura tidak mendengar. Dia kembali ke kamarnya, menutup pintu, lalu merosot ke lantai.

Entah kenapa Leon ingin selalu menyusahkannya, kenapa malah jadi begini. Alih-alih didepak dari mansion Rosella justru terus dipersulit.

Keesokan harinya, pukul lima pagi, Rosella sudah bangun. Dia harus membersihkan tiga kamar setelah Tuan Muda berangkat kerja.

Kamar pertama, Lucas. Berantakan tapi wajar, buku-buku medis berserakan, tapi Lucas sudah menata pakaian kotornya di keranjang.

Kamar kedua, Adrian. Masih rapi, hanya perlu ganti sprei dan lap debu.

Kamar ketiga, Leon.

Rosella berhenti di depan pintu kamar Leon, mengambil napas dalam-dalam.

“Dia tidak ada Rosella, ayo masuk dan kerjakan tugasmu.”

Dia membuka pintu dan nyaris pingsan melihat pemandangan di depan mata.

Kamar Leon seperti kapal pecah, baju berserakan dimana-mana. Handuk basah dilempar ke atas tempat tidur yang berantakan.

Sprei sampai terlepas dari kasur. Gelas-gelas kotor di meja, bahkan ada yang pecah.

Dan yang paling parah! Sampah kertas dari tong sampah ditumpahkan ke lantai.

Rosella terpaku. Ini pasti disengaja. Leon telah mengibarkan bendera perang padanya.

Amarahnya memuncak. Tapi Rosella tidak bisa berbuat apa-apa.

Dengan tangan gemetar, dia mulai membereskan satu per satu.

Dua jam kemudian, Rosella baru selesai. Tubuhnya pegal luar biasa, keringat membasahi seluruh tubuhnya.

Tapi belum selesai. Dia masih harus membersihkan kamar mandi para Tuan Muda.

Sore hari, Rosella kembali membersihkan lantai atas, dia harus menyiapkan air hangat agar saat pulang para Tuan Muda bisa langsung mandi.

Malam itu, dia kembali membersihkan lantai atas. Tentu semua atas perintah Leon.

"ROSELLA!"

Suara kepala pelayan memanggil dari bawah.

Rosella berlari turun, hampir tersandung di anak tangga terakhir.

"Ada apa?"

"Tuan Leon menelepon. Dia ingin kamu mengambilkan berkas di kamar, dia sekarang di ruang kerja,” kata kepala pelayan.

Dengan langkah lelah dia kembali naik ke atas, Rosella masuk ke dalam kamar Leon.

Di meja tidak ada apa-apa, hanya ada map warna hitam. Apa ini dokumen yang dimaksud?

Karena tidak ada lagi berkas selain itu, Rosella pun berjalan ke ruang kerja Leon.

Di depan pintu ruang Leon, Rosella mengetuk pelan.

"Masuk."

Suara dingin Leon membuat jantungnya berdebar bukan karena gugup, tapi karena kesal dan marah.

Rosella masuk. Leon duduk di kursi besarnya, menatapnya dengan tatapan datar.

"Berkasnya," ucap Leon tanpa basa-basi.

Rosella meletakkan map berkas di meja. "Ini, Tuan."

Leon membukanya, memeriksa sebentar, lalu dengan santai menutupnya kembali.

"Oh, ternyata bukan ini yang aku butuhkan."

Rosella mematung menatap Leon dengan tatapan kesal.

"A-apa?"

"Aku lupa berkas yang aku butuhkan masih ada di mobil,” jawab pria itu santai.

Darah Rosella mendidih.

Dia tahu Leon sengaja mempermainkannya.

"Tapi... tapi kepala pelayan bilang berkas di atas meja..." ucapnya dengan suara bergetar menahan amarah.

"Aku tidak peduli apa yang dia bilang," potong Leon dingin. "Aku butuh berkas yang ada di mobil. Ambilkan sekarang!”

Rosella mengepalkan tangannya erat-erat.

"Baik, Tuan," ucap Rosella dengan suara datar.

Dia berbalik hendak keluar tapi Leon tiba-tiba berkata lagi.

"Dan Rosella..."

Gadis itu berhenti dan berbalik.

"Lain kali kalau menemuiku pakai parfum dulu, tubuhmu bau keringat. Apa kamu ingin membuat aku muntah?”

Kata-kata itu seperti tamparan di wajah, sungguh sakit rasanya.

Rosella menunduk, menggigit bibir bawahnya sampai hampir berdarah.

"Maaf, Tuan," sahutnya lalu bergegas keluar sebelum air matanya tumpah.

Setelah pintu tertutup, Leon bersandar di kursinya.

Senyum tipis, senyum puas terukir di bibirnya.

“Kamu harus tahu tempatmu.”

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sesuatu yang membuatnya tidak sepenuhnya puas.

Ekspresi Rosella tadi, wajahnya yang pucat, tangannya yang gemetar, suaranya yang hampir pecah, kenapa terus terngiang di benaknya?

Leon menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran itu.

“Aku tidak peduli. Dia cuma pelayan!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Tercebur

    Setelah mengirim pesan, Leon kembali masuk ke kolam dengan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.Lucas menatap kakaknya dengan tatapan bingung. "Kak, kamu kenapa?""Aku lapar," potong Leon datar. "Itu saja."Adrian yang memperhatikan hanya tersenyum kecil. Dia tahu kakaknya berbohong.Lima belas menit kemudian, Rosella muncul dengan nampan besar berisi buah-buahan segar, sandwich, dan beberapa gelas jus dingin.Langkahnya pelan dan hati-hati, tidak ingin mengulangi kesalahan seperti kemarin.Tapi jantungnya berdebar kencang.Kenapa harus dia yang disuruh?Kedua Tuan Muda sedang beristirahat di tepi kolam. Leon duduk di kursi santai sambil memeriksa ponselnya, Adrian berbaring sambil memejamkan mata. Netra Rosella mencari keberadaan anak bungsu keluarga Toretto, perasaan tadi berenang bersama kenapa sekarang tidak ada? Rosella meletakkan nampan di meja samping kolam dengan hati-hati. "Permisi, Tuan. Ini makanan dan minuman yang diminta," ucapnya pelan sambil menunduk.Tapi dia mer

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Tatapan Yang Bertemu

    Hari Minggu pagi, mansion Toretto terasa lebih tenang dari biasanya. Para Tuan Muda biasanya tidak bekerja di hari libur, dan pagi ini mereka bertiga memutuskan untuk berenang di kolam renang pribadi yang ada di belakang mansion.Sementara itu, Rosella mendapat tugas membersihkan ketiga kamar para Tuan Muda saat mereka sedang berenang.Gadis itu berjalan ringan menuju kamar pertama, kamar Lucas.Sambil membersihkan, pikirannya terus melayang ke kejadian semalam.Hujan meteor, Lucas tertawa lepas, bintang-bintang yang indah.Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajahnya. Tangannya bergerak otomatis melipat selimut, mengganti sprei, tapi pikirannya melayang jauh. "Ternyata dia suka astronomi," gumamnya pelan sambil tersenyum. "Lucu sekali ekspresinya waktu itu." Dia tertawa kecil mengingat antusiasme Lucas saat menjelaskan tentang meteor. Matanya yang berbinar, tangannya yang bergerak-gerak semangat, suaranya yang penuh gairah.Netra Rosella menatap bingkai foto Lucas, siapa sangka jas

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Hujan Meteor

    Sementara itu, Rosella berjalan gontai menuju garasi. Air matanya sudah mengering, yang tersisa hanya rasa lelah yang amat sangat.Dia membuka pintu mobil Leon, mencari-cari berkas yang dimaksud. Tapi tidak ada apa-apa di dalam mobil. Tidak ada berkas, tidak ada map, tidak ada apapun.Rosella terdiam jadi Leon memang sengaja mempermainkannya.Tangannya mencengkeram pintu mobil erat-erat. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah meluap-luap."Brengsek!" umpatnya pelan, suaranya serak.Ingin sekali melawan. Ingin sekali berteriak di hadapan Leon, Ingin sekali memberontak tapi apa yang bisa dia lakukan?Dia hanya pelayan. Budak yang dibeli dengan uang, tidak punya kuasa, tidak punya hak tidak punya apapun. Dengan langkah berat, Rosella kembali ke ruang kerja Leon.Tok tok tok.Rosella membuka pintu, berdiri di ambang dengan kepala tertunduk."Tidak ada berkas di mobil, Tuan," lapornya dengan suara datar, hampir tanpa emosi.Leon mengangkat alis, pura-

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Dipermainkan Leon

    Di kantor pusat Toretto Corp yang menjulang tinggi di jantung kota, Leon duduk di kursi kebesarannya. Kursi kulit hitam yang menghadap jendela kaca besar dengan pemandangan kota metropolitan. Di hadapannya, tumpukan dokumen menanti tanda tangan. Layar komputer menampilkan presentasi proposal proyek miliaran dollar. Tapi matanya menatap kosong dia tidak fokus. Pikirannya terus kembali pada gadis itu, Rosella. Wajahnya yang pucat pagi tadi. Matanya yang berkaca-kaca tapi tidak menangis. Tangannya yang gemetar saat membersihkan piring yang dia buang. Leon mengepalkan tangannya di atas meja. “Shit!” Bukan karena dia merasa bersalah. Tidak!? Melainkan kesal, ya, sangat kesal. Entah mengapa dia tidak puas dengan hukuman yang dia berikan. Dia harus lebih menderita, pikir Leon gelap. Dia harus tahu akibatnya melawan aku. "Tuan Leon?" Sekretarisnya mengetuk pintu. "Ada jadwal meeting, klien sudah menunggu." Sambungnya. "Tunda," jawab Leon dingin tanpa mengalihkan pandangan dari j

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Ibu Aku Ingin Pulang

    Lucas mengelus punggung kakaknya dengan lembut, mencoba menenangkan pria dingin itu. "Sabar, Kak. Tidak usah diambil hati."Tatapan Leon yang tadinya tertuju pada pintu kini berpaling tajam ke arah Lucas. Rahangnya mengeras."Dari kemarin pelayan itu terus membuat masalah," ucapnya dingin. "Dia harus diberi pelajaran."Ada kilatan berbahaya di mata Leon, kilatan yang biasanya muncul ketika seseorang sudah melewati batas kesabarannya."Tenang, Kak." Lucas tersenyum tipis, mencoba meringankan suasana.Dia tahu betul kakaknya tidak pernah suka ada yang membantah atau melawannya. Apalagi seorang pelayan. Dan Rosella… gadis itu sepertinya tidak tahu ke dalam lubang apa dia telah melompat.Lucas mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, soal rencana Mama dan Papa..." Kalimat Lucas menggantung. Leon langsung mengerutkan dahi. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini."Aku tidak mau dijodohkan." Suaranya tegas dan final."Bilang pada Mama, kehidupan pribadiku biar aku yang menentukan sendiri,

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Lihatlah Apa Yang Bisa Aku Lakukan!

    “Bukan membelanya, tapi kalau kamu terus berdebat dengan pelayan kita bisa terlambat,” jelas Lucas ringan.Leon menghela nafas dalam, kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kemeja lain. Lucas memerintahkan Rosella untuk pergi sebelum kakaknya keluar. “Baik, Tuan Lucas. Terima kasih atas bantuannya,” cicit Rosella sambil menatap Lucas ragu-ragu.Pria itu tertawa kecil, “Aku tidak membantumu sama sekali,” sahutnya sambil mengibaskan tangan. Rosella tersenyum kecut. Mungkin ekspektasinya terhadap Lucas sangat tinggi. Mana mungkin seorang Tuan Muda mau membela atau membantu pelayan. ‘Rosella, sadarlah,’ batin gadis itu, kemudian pamit turun. Leon yang merasa kesal dengan Rosella meminta kepala pelayan memanggilnya, dia ingin sarapan dilayani oleh gadis itu. Melihat Rosella datang, Leon segera memerintahnya. “Kentang, steak, dan sayuran,” titahnya. Tak ingin membuat kesalahan, Rosella segera mengambil semua yang diinginkan oleh pria itu.“Silahkan dimakan, Tuan Leon.” Sendok

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status