LOGIN“Bukan membelanya, tapi kalau kamu terus berdebat dengan pelayan kita bisa terlambat,” jelas Lucas ringan.
Leon menghela nafas dalam, kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kemeja lain. Lucas memerintahkan Rosella untuk pergi sebelum kakaknya keluar. “Baik, Tuan Lucas. Terima kasih atas bantuannya,” cicit Rosella sambil menatap Lucas ragu-ragu. Pria itu tertawa kecil, “Aku tidak membantumu sama sekali,” sahutnya sambil mengibaskan tangan. Rosella tersenyum kecut. Mungkin ekspektasinya terhadap Lucas sangat tinggi. Mana mungkin seorang Tuan Muda mau membela atau membantu pelayan. ‘Rosella, sadarlah,’ batin gadis itu, kemudian pamit turun. Leon yang merasa kesal dengan Rosella meminta kepala pelayan memanggilnya, dia ingin sarapan dilayani oleh gadis itu. Melihat Rosella datang, Leon segera memerintahnya. “Kentang, steak, dan sayuran,” titahnya. Tak ingin membuat kesalahan, Rosella segera mengambil semua yang diinginkan oleh pria itu. “Silahkan dimakan, Tuan Leon.” Sendok dan garpu sudah terletak di dekat piring. “Steaknya potong sekalian.” Seolah tak puas, Leon terus memerintah Rosella padahal dia harus melayani Lucas dan Adrian juga. Tanpa bisa protes, gadis itu hanya bisa menghela nafas, berusaha mengontrol kesabarannya yang dipermainkan oleh Tuan Mudanya. Dia memotong steak menjadi beberapa bagian, agar Leon dengan gampang memakan steak tersebut. “Silakan, Tuan.” Gadis itu berusaha tersenyum meskipun memaki pria itu dalam hati. …. Malam itu, sebuah perintah dari para Tuan Muda membuat pelayan bingung. Mereka yang enggan turun ke bawah meminta makan malam diantar ke atas. Dan Rosella kembali mendapatkan tugas untuk mengantar makan malam ke kamar Leon. “Kenapa mendapatkan bagian si Lion singa itu, kenapa bukan Tuan Lucas.” Gerutu Rosella. Memang pelayan senior sengaja memberikan tugas berat itu pada Rosella, sebab di antara ketiga Tuan Muda, Leon lah yang paling susah dilayani. “Kamu tunggu sampai Tuan Muda menghabiskan makanannya.” Titah pelayan senior kepada Rosella. “Baik.” Rosella melangkahkan kaki naik ke atas, beberapa kali mengetuk pintu namun Leon tak kunjung membuka pintunya. Para pelayan yang menangani Tuan Muda lain sudah keluar, tapi Leon masih belum membuka pintu. Cukup lama menunggu, akhirnya Leon membuka pintu juga. “Selamat malam, Tuan, ini makan malam Anda.” Rosella tersenyum sambil membawa nampan makanan itu masuk. Roselle berdiri menunggu Leon makan, namun baru sekali suap Leon sudah meletakkan nampan makanannya. “Ganti baru, sudah tidak hangat.” Ucapan Leon membuat Rosella melongo, jelas tidak hangat dia terlalu lama membukakan pintu. Tak berani protes, Rosella membawa nampan itu kembali. Di dapur, koki mansion memanasi makanan Leon kembali, kemudian menyajikannya dengan tempat lain. Setibanya di kamar Leon, Rosella kembali menyajikan makanannya, kali ini terlalu panas sehingga Leon belum ingin memakannya. Pria itu menerima telepon, dan karena keasyikan bicara, dia melupakan makanannya. Alhasil makanan itu kembali dingin. Selesai telpon, Leon mengangkat nampan makanannya. “Sudah dingin,” ujarnya. Tangan Rosella mengepal. Dia yang lelah benar-benar tak sabar lagi dengan sikap Leon. “Sebenarnya Anda mau apa, Tuan Leon yang Terhormat?” tanyanya sambil menatap Leon kesal. Pria itu sontak menatap Rosella dengan tatapan mematikan. “Berani sekali dirimu mempertanyakan mauku!” Suara dinginnya mencuat. Kali ini Rosella tidak takut, “Kalau Anda tidak keterlaluan, saya juga tidak berani bertanya!” Tak ada jawaban, hanya tatapan tajam Leon yang dia dapat. “Saya lelah, Anda ingin makan malam saja kenapa banyak drama? Kenapa tidak tinggal makan saja agar cepat selesai?” Tanpa sadar, Rosella mengungkap kekesalan hatinya. “Kamu di sini bekerja, bukan jadi tukang protes!” Suara dingin Leon membuat Rosella menghela nafas, dia sadar tidak ada gunanya mendebat Leon. “Baik, akan saya ganti lagi dengan makanan yang hangat.” Setelah mengambil makanan yang hangat, Rosella masuk kembali ke kamar Leon. “Aku ngantuk bawa kembali saja,” ujar Leon, lalu melenggang ke tempat tidur. Rosella tak tahan lagi, kesabarannya yang sudah setipis tisu kini habis. “Kenapa tidak bilang kalau mau tidur, jadi koki tidak perlu membuat makanan baru. Saya juga tidak perlu ke sini lagi. Naik turun-tangga Anda kira tidak melelahkan?!” Kesal dengan Rosella yang begitu berani, Leon pun mencengkeram lengan gadis itu. “Lancang!” teriak Leon. Bersamaan Lucas masuk, dia ingin mengobrol sebentar dengan Leon. Namun ketika melihat Leon mencengkeram lengan Rosella, Lucas buru-buru mendekat. “Kak, apa yang kamu lakukan? Lengannya sangat kecil, dia bisa kesakitan.” Lucas mencoba melepas tangan Leon. “Dia membangkang Lucas, dia juga berani menentangku!” sahut Leon. “Kak lepas, kamu menyakitinya,” pinta dokter nan tampan itu. Akhirnya Leon melepas lengan Rosella dengan kasar. Gadis itu kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur ke lantai. “Pergilah, jangan tunjukkan wajahmu padaku!” Tak tega, Lucas mengulurkan tangannya, “Kamu tidak apa-apa?” Gelengan kecil Rosella tunjukkan, dia menggapai tangan Lucas lalu berdiri. “Terima kasih, Tuan Lucas. Anda baik sekali, tidak seperti saudara Anda,” ujar Rosella sambil melirik Leon. Lucas tertawa mendengar ucapan Rosella. Baru kali ini ada pelayan yang terang-terangan menyindir kakaknya. “Nyawa kamu berapa Rosella, berani menyindirnya?” Lucas semakin terbahak. Gadis itu bergegas keluar sebelum Leon marah. Sementara itu, nafas Leon memburu. Amarahnya bersiap meledak. “Pelayan brengsek, lihat apa yang bisa aku lakukan padamu!”Setelah mengirim pesan, Leon kembali masuk ke kolam dengan senyum tipis yang nyaris tidak terlihat.Lucas menatap kakaknya dengan tatapan bingung. "Kak, kamu kenapa?""Aku lapar," potong Leon datar. "Itu saja."Adrian yang memperhatikan hanya tersenyum kecil. Dia tahu kakaknya berbohong.Lima belas menit kemudian, Rosella muncul dengan nampan besar berisi buah-buahan segar, sandwich, dan beberapa gelas jus dingin.Langkahnya pelan dan hati-hati, tidak ingin mengulangi kesalahan seperti kemarin.Tapi jantungnya berdebar kencang.Kenapa harus dia yang disuruh?Kedua Tuan Muda sedang beristirahat di tepi kolam. Leon duduk di kursi santai sambil memeriksa ponselnya, Adrian berbaring sambil memejamkan mata. Netra Rosella mencari keberadaan anak bungsu keluarga Toretto, perasaan tadi berenang bersama kenapa sekarang tidak ada? Rosella meletakkan nampan di meja samping kolam dengan hati-hati. "Permisi, Tuan. Ini makanan dan minuman yang diminta," ucapnya pelan sambil menunduk.Tapi dia mer
Hari Minggu pagi, mansion Toretto terasa lebih tenang dari biasanya. Para Tuan Muda biasanya tidak bekerja di hari libur, dan pagi ini mereka bertiga memutuskan untuk berenang di kolam renang pribadi yang ada di belakang mansion.Sementara itu, Rosella mendapat tugas membersihkan ketiga kamar para Tuan Muda saat mereka sedang berenang.Gadis itu berjalan ringan menuju kamar pertama, kamar Lucas.Sambil membersihkan, pikirannya terus melayang ke kejadian semalam.Hujan meteor, Lucas tertawa lepas, bintang-bintang yang indah.Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajahnya. Tangannya bergerak otomatis melipat selimut, mengganti sprei, tapi pikirannya melayang jauh. "Ternyata dia suka astronomi," gumamnya pelan sambil tersenyum. "Lucu sekali ekspresinya waktu itu." Dia tertawa kecil mengingat antusiasme Lucas saat menjelaskan tentang meteor. Matanya yang berbinar, tangannya yang bergerak-gerak semangat, suaranya yang penuh gairah.Netra Rosella menatap bingkai foto Lucas, siapa sangka jas
Sementara itu, Rosella berjalan gontai menuju garasi. Air matanya sudah mengering, yang tersisa hanya rasa lelah yang amat sangat.Dia membuka pintu mobil Leon, mencari-cari berkas yang dimaksud. Tapi tidak ada apa-apa di dalam mobil. Tidak ada berkas, tidak ada map, tidak ada apapun.Rosella terdiam jadi Leon memang sengaja mempermainkannya.Tangannya mencengkeram pintu mobil erat-erat. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah meluap-luap."Brengsek!" umpatnya pelan, suaranya serak.Ingin sekali melawan. Ingin sekali berteriak di hadapan Leon, Ingin sekali memberontak tapi apa yang bisa dia lakukan?Dia hanya pelayan. Budak yang dibeli dengan uang, tidak punya kuasa, tidak punya hak tidak punya apapun. Dengan langkah berat, Rosella kembali ke ruang kerja Leon.Tok tok tok.Rosella membuka pintu, berdiri di ambang dengan kepala tertunduk."Tidak ada berkas di mobil, Tuan," lapornya dengan suara datar, hampir tanpa emosi.Leon mengangkat alis, pura-
Di kantor pusat Toretto Corp yang menjulang tinggi di jantung kota, Leon duduk di kursi kebesarannya. Kursi kulit hitam yang menghadap jendela kaca besar dengan pemandangan kota metropolitan. Di hadapannya, tumpukan dokumen menanti tanda tangan. Layar komputer menampilkan presentasi proposal proyek miliaran dollar. Tapi matanya menatap kosong dia tidak fokus. Pikirannya terus kembali pada gadis itu, Rosella. Wajahnya yang pucat pagi tadi. Matanya yang berkaca-kaca tapi tidak menangis. Tangannya yang gemetar saat membersihkan piring yang dia buang. Leon mengepalkan tangannya di atas meja. “Shit!” Bukan karena dia merasa bersalah. Tidak!? Melainkan kesal, ya, sangat kesal. Entah mengapa dia tidak puas dengan hukuman yang dia berikan. Dia harus lebih menderita, pikir Leon gelap. Dia harus tahu akibatnya melawan aku. "Tuan Leon?" Sekretarisnya mengetuk pintu. "Ada jadwal meeting, klien sudah menunggu." Sambungnya. "Tunda," jawab Leon dingin tanpa mengalihkan pandangan dari j
Lucas mengelus punggung kakaknya dengan lembut, mencoba menenangkan pria dingin itu. "Sabar, Kak. Tidak usah diambil hati."Tatapan Leon yang tadinya tertuju pada pintu kini berpaling tajam ke arah Lucas. Rahangnya mengeras."Dari kemarin pelayan itu terus membuat masalah," ucapnya dingin. "Dia harus diberi pelajaran."Ada kilatan berbahaya di mata Leon, kilatan yang biasanya muncul ketika seseorang sudah melewati batas kesabarannya."Tenang, Kak." Lucas tersenyum tipis, mencoba meringankan suasana.Dia tahu betul kakaknya tidak pernah suka ada yang membantah atau melawannya. Apalagi seorang pelayan. Dan Rosella… gadis itu sepertinya tidak tahu ke dalam lubang apa dia telah melompat.Lucas mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, soal rencana Mama dan Papa..." Kalimat Lucas menggantung. Leon langsung mengerutkan dahi. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini."Aku tidak mau dijodohkan." Suaranya tegas dan final."Bilang pada Mama, kehidupan pribadiku biar aku yang menentukan sendiri,
“Bukan membelanya, tapi kalau kamu terus berdebat dengan pelayan kita bisa terlambat,” jelas Lucas ringan.Leon menghela nafas dalam, kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil kemeja lain. Lucas memerintahkan Rosella untuk pergi sebelum kakaknya keluar. “Baik, Tuan Lucas. Terima kasih atas bantuannya,” cicit Rosella sambil menatap Lucas ragu-ragu.Pria itu tertawa kecil, “Aku tidak membantumu sama sekali,” sahutnya sambil mengibaskan tangan. Rosella tersenyum kecut. Mungkin ekspektasinya terhadap Lucas sangat tinggi. Mana mungkin seorang Tuan Muda mau membela atau membantu pelayan. ‘Rosella, sadarlah,’ batin gadis itu, kemudian pamit turun. Leon yang merasa kesal dengan Rosella meminta kepala pelayan memanggilnya, dia ingin sarapan dilayani oleh gadis itu. Melihat Rosella datang, Leon segera memerintahnya. “Kentang, steak, dan sayuran,” titahnya. Tak ingin membuat kesalahan, Rosella segera mengambil semua yang diinginkan oleh pria itu.“Silahkan dimakan, Tuan Leon.” Sendok







