Share

Hujan Meteor

Author: CitraAurora
last update publish date: 2026-02-02 19:26:02

Sementara itu, Rosella berjalan gontai menuju garasi. Air matanya sudah mengering, yang tersisa hanya rasa lelah yang amat sangat.

Dia membuka pintu mobil Leon, mencari-cari berkas yang dimaksud. Tapi tidak ada apa-apa di dalam mobil. Tidak ada berkas, tidak ada map, tidak ada apapun.

Rosella terdiam jadi Leon memang sengaja mempermainkannya.

Tangannya mencengkeram pintu mobil erat-erat. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah meluap-luap.

"Brengsek!" umpatnya pelan, suaranya serak.

Ingin sekali melawan. Ingin sekali berteriak di hadapan Leon, Ingin sekali memberontak tapi apa yang bisa dia lakukan?

Dia hanya pelayan. Budak yang dibeli dengan uang, tidak punya kuasa, tidak punya hak tidak punya apapun.

Dengan langkah berat, Rosella kembali ke ruang kerja Leon.

Tok tok tok.

Rosella membuka pintu, berdiri di ambang dengan kepala tertunduk.

"Tidak ada berkas di mobil, Tuan," lapornya dengan suara datar, hampir tanpa emosi.

Leon mengangkat alis, pura-pura terkejut. "Benarkah? Mungkin aku salah ingat."

Dia menatap Rosella yang berdiri kaku di sana, lalu melanjutkan dengan nada santai, "Sudahlah, tidak penting. Kamu boleh pergi."

Rosella tidak bergerak.

Leon mengangkat wajahnya, menatap gadis itu dengan tatapan tajam. "Aku bilang kamu boleh pergi."

"Permisi bertanya, Tuan," ucap Rosella pelan, masih menunduk.

"Apa?"

"Apa yang sebenarnya Tuan Leon inginkan dari saya?"

Pertanyaan itu membuat Leon terdiam sejenak.

Rosella mengangkat wajahnya, menatap Leon dengan mata yang memerah tapi tidak menangis.

"Kenapa anda selalu saja mencari gara-gara dengan saya?”

Suaranya bergetar, tapi tatapannya tidak bergeser dari Leon.

Hening.

Leon menatap Rosella dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang gelap dan berbahaya.

Dia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekat. Setiap langkahnya membuat jantung Rosella berdegup semakin kencang.

Leon berhenti tepat di hadapan Rosella, menatapnya dari atas dengan tatapan menusuk.

"Kamu tahu kesalahanmu apa?" tanyanya dengan suara rendah, berbahaya.

Rosella bergeming tapi kini dengan menunduk tak lagi menatap Leon dengan berani.

"Kesalahanmu adalah kamu terlalu berani," bisik Leon dingin. "Aku menerima laporan kalau kamu sering berulah, banyak peraturan yang kamu langgar, kamu juga berani menyindir, mengataiku. Ingat kamu hanya budak disini, hidupmu adalah milikku!”

Tangannya mencengkram lengan Rosella kuat-kuat. Hingga gadis itu meringis kesakitan.

Rosella merasakan dadanya sesak. Budak, rasa sakit menguap kemana, ucapan Leon jauh lebih menyakitkan dari cengkraman tangannya.

“Saya tau Tuan.” Ucap Rosella pasrah.

Lalu dia melepas tangan Leon dengan kuat, “Saya harus istirahat, kalau anda perlu apa-apa panggil saja budak lain.”

Tanpa menunggu respon Leon, Rosella keluar.

Air mata yang sedari tadi dia tahan tak lagi bisa dibendung.

Dia yang kacau tak sengaja menabrak Lucas, “Maaf Tuan Lucas.” Rosella tak berhenti, dia terus berjalan hingga suara Lucas menghentikannya.

“Tunggu Rosella.”

Lucas berjalan mendekat, Rosella yang tidak ingin tangisnya dilihat Lucas berusaha menghapus sisa sisa air matanya.

“Kamu kenapa?” Tanyanya.

Rosella perlahan membalikkan badan, “Tidak kenapa-kenapa Tuan Lucas.” Cicitnya lirih sambil memaksakan tersenyum manis.

Lucas tertawa menatap Rosella, “Sudah jangan memaksakan diri.”

Helaan nafas terdengar, “Saya ingin pulang, saya rindu ibu, saya tidak mau disini.”

Ucapan Rosella membuat Lucas menatapnya, dia cukup tahu apa yang Rosella rasakan.

Disini Rosella hanya korban, korban kekejaman seorang ayah tiri.

Tapi dia juga tidak berbuat apa-apa, meski sama-sama Tuan Muda tapi tetap Leon yang berkuasa, kekuasaan penuh orang tua mereka berikan pada Leon. Lucas dan Adrian hanyalah pendukung Leon.

“Ayo ikut aku.” Lucas mengajak Rosella ke rooftop, dia ingin menunjukkan sesuatu yang indah pada gadis itu.

“Kita ngapain kesini Tuan?” Tanya Rosella.

“Malam ini ada hujan meteor,” jawab Lucas.

Rosella tak percaya Lucas mengajak ke rooftop untuk melihat hujan meteor.

“Anda adalah seorang dokter kenapa bisa menyukai hal-hal yang berbau astronomi?” Rosella heran.

Pria itu tersenyum.

"Sebenarnya..." Lucas menatap langit malam yang gelap. "Dokter bukan pilihanku."

Rosella terkejut mendengar pengakuan Lucas. Dia menatap pria itu dengan tatapan penasaran.

Lucas tersenyum pahit. "Aku sangat menyukai astronomi. Dulu, setiap malam aku selalu mengamati bintang dengan teleskop. Aku hafal semua rasi bintang, nama-nama planet, bahkan teori-teori tentang alam semesta."

Dia menghela nafas panjang. "Aku ingin menjadi astronom. Ingin mempelajari bintang-bintang, galaksi, semua keajaiban yang ada di luar angkasa."

"Lalu kenapa jadi dokter?" tanya Rosella pelan.

"Orang tuaku tidak setuju," jawab Lucas. "Mereka bilang astronomi tidak berguna. Tidak menghasilkan uang. Tidak bergengsi. Mereka memaksaku menjadi dokter."

Lucas tertawa getir. "Jadi disinilah aku. Menjadi dokter yang sebenarnya membenci profesinya sendiri."

Rosella merasakan dadanya sesak. Ternyata Lucas juga punya luka. Punya mimpi yang hancur.

"Tapi... Tuan Lucas terlihat baik-baik saja," ucap Rosella hati-hati.

"Karena aku sudah terbiasa berpura-pura," sahut Lucas. "Sama sepertimu yang berpura-pura kuat."

Tatapan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya, Rosella merasa ada yang memahaminya.

"Lihat!" Lucas tiba-tiba menunjuk langit.

Rosella mengikuti arah tangannya dan terperangah. Hujan meteor!

Garis-garis cahaya berpijar melintasi langit malam yang gelap. Satu, dua, tiga... puluhan meteor jatuh bagai air terjun dari langit.

"Indah sekali..." bisik Rosella terpesona.

Lucas tersenyum, senyum tulus yang jarang dia tunjukkan. Matanya berbinar menatap langit, seperti anak kecil yang melihat mainan favoritnya.

"Ini hujan meteor," jelas Lucas antusias. "Terjadi ketika Bumi melewati jejak debu yang ditinggalkan komet. Partikel-partikel kecil itu terbakar saat masuk atmosfer, menciptakan cahaya yang kita lihat."

Rosella menatap Lucas yang berbicara dengan penuh semangat. Ini sisi Lucas yang tidak pernah dia lihat. Bukan dokter yang tenang dan profesional. Tapi seorang pria yang sangat mencintai bintang-bintang.

"Tuan Lucas terlihat sangat bahagia," ucap Rosella tersenyum.

Lucas tersentak, menyadari antusiasmenya. Dia tertawa canggung. "Maaf, aku terlalu bersemangat."

"Tidak apa-apa," Rosella menggeleng. "Justru bagus melihat Tuan Lucas tersenyum seperti ini."

Mereka kembali menatap langit dalam diam. Hujan meteor masih terus berjatuhan, melukis keindahan di atas kepala mereka.

"Rosella," panggil Lucas pelan.

"Ya, Tuan?"

"Aku tahu hidupmu di sini sangat berat," ucapnya hati-hati. "Aku tahu kakakku terlalu keras padamu."

Rosella terdiam.

"Aku tidak bisa berbuat banyak," sambung Lucas. "Kak Leon yang berkuasa penuh di mansion ini.”

Mereka menghabiskan hampir satu jam di rooftop, menyaksikan hujan meteor sambil sesekali berbincang ringan. Lucas menceritakan tentang bintang-bintang, sementara Rosella mendengarkan dengan penuh minat.

Untuk sejenak, Rosella melupakan semua rasa sakitnya. Melupakan semua penghinaan yang dia terima. Di sini, bersama Lucas di bawah hujan meteor, dia merasa seperti manusia lagi. Bukan budak. Bukan pelayan.

Tapi seorang gadis yang sedang menikmati keindahan alam semesta.

"Sudah larut," ucap Lucas akhirnya. "Kamu harus istirahat. Besok kamu harus bekerja lagi."

Rosella mengangguk, meski sebenarnya dia ingin berlama-lama di sini.

"Terima kasih sudah mengajakku, Tuan Lucas," ucapnya tulus. "Ini malam terindah yang pernah aku alami sejak di sini. Dan mungkin malam terindah di sepanjang hidupku.”

Lucas tersenyum hangat. "Sama-sama, Rosella."

Mereka turun dari rooftop bersama-sama. Sebelum berpisah di koridor, Lucas berpesan, "Istirahatlah yang cukup. Dan ingat, menurut lah, jangan berbuat salah lagi agar Kak Leon tidak keras padamu.”

"Baik," sahut Rosella sambil tersenyum.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak berada di mansion, Rosella tidur dengan senyum di wajahnya.

“Terima kasih Tuan Lucas.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
GistaArnanta
Lucas terbaik emang. cus sama Lucas saja
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Kepergok Lagi

    Rosella tidur lebih nyenyak di ranjang Leon yang besar itu.Kasur ukuran super king, berbahan latex seharga mobil. Tidak ada mimpi, tidak ada suara, hanya gelap yang tenang sampai cahaya pagi masuk dari celah tirai tebal kamar Leon.Dia membuka mata, menatap langit-langit yang lebih tinggi dari kamarnya sendiri, dan butuh dua detik untuk mengingat di mana dia berada.Rosella duduk, melihat ke sisi ranjang yang kosong, Leon belum kembali.Di meja makan pagi itu Leon tidak ada di kursinya, Rosella duduk dengan teh di tangan, menatap kursi kosong Leon dengan perasaan yang terus berputar di dadanya. "Kak Leon harus keluar kota." Lucas muncul dari arah tangga, sudah rapi dengan kemejanya. "Tadi malam pertemuan dengan klien Edinburgh memutuskan ada kunjungan langsung ke site proyek, dia tidak sempat kasih kabar.” Rosella mengangguk, melepaskan nafas yang ternyata sudah ditahan."Kapan pulang?""Dua hari lagi." Lucas menarik kursinya lalu mengambil cangkir kopi. "Mungkin tiga hari."Rosel

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Yeah! Akhirnya

    Makan malam di mansion berjalan seperti biasa, Tapi tidak dengan Leon, dia duduk di kepala meja dengan ekspresi yang berbeda dari hari-hari sebelumnya, ada sesuatu di sudut bibirnya yang naik turun tanpa alasan yang jelas, matanya sesekali melirik ke arah Rosella yang duduk di kursinya dengan sangat tenang.Adrian mengangkat matanya dari piringnya, menatap Leon sebentar, lalu kembali makan.Lucas yang duduk di sisi lain melihat ke Leon, lalu ke Adrian, lalu ke Rosella, lalu kembali ke sup di hadapannya dengan ekspresi yang tidak berkata apapun.Sendok Leon berhenti di udara saat dia mengingat sesuatu dan senyum itu muncul lagi tanpa bisa dikontrol."Kak Leon kenapa?" Lucas bersuara akhirnya.Leon mengedipkan matanya, kembali ke makanannya. "Tidak apa-apa."Adrian menyesap kopinya, menatap kakaknya dari atas cangkir dengan cara seseorang yang sudah membaca situasi tapi memilih menyimpan bacaannya sendiri.Rosella makan dengan tenang, tidak menoleh ke arah Leon satu kali pun, tapi teli

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Mobil Bergoyang

    Mobil mewah milik Leon Toretto itu meluncur membelah jalanan kota dengan kecepatan yang stabil. Di dalam kabin, Rosella duduk terpaku sambil menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Dia tidak berani melirik pria yang duduk di sampingnya dengan aura yang sangat mengintimidasi.​"Kenapa diam saja?" Leon bersuara dengan nada dingin yang menggetarkan udara di dalam mobil.​"Saya lelah, Tuan." Jawab Rosella. Suasana menjadi hening, hingga pertanyaan Rosella mencuat. “Tuan katanya minggu depan Anda datang ke kampus lagi, apa iya?” Leon mengangguk, “Kamu tahu?” “Kabar burung lagi, anda ngapain ke kampus Tuan?” Tanya Rosella. Sebenarnya tujuan Leon ke kampus tentu ingin bertemu dengan Rosella, ingin memantau kebun anak pertanian adalah hanya alasan saja. Leon membawa Rosella ke dalam dekapannya, dia mengecup pucuk kepala budaknya itu dengan lembut. “Aku adalah salah pemilik kampus itu, jadi wajar kalau datang memantau yang bisa dipantau.” Jawabnya. Rosella tersenyum, dia hampir s

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Di Dalam Mobil Mewah

    Ane terus memuji Rosella, wanita itu sungguh iri dengan nasib mujur sahabatnya. “Oh Rosella.” Ujarnya sambil tersenyum senang. “Kamu bahagia sekali sih Ane.” Protes Rosella. “Jelas dong, aku bahagia buat kamu Rose, kamu benar-benar wanita paling beruntung di seluruh Inggris." Ane berbisik dengan nada yang sangat antusias.“Toretto, siapa yang tidak mau.” Lanjutnya. ​Rosella hanya bisa menarik sudut bibirnya dengan canggung. Dia menyesap teh melati hangatnya untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering seketika. Andaikan Ane tahu apa yang dia alami. Huft. ​"Tidak seperti yang kamu bayangkan, Ane." Rosella akhirnya bersuara pelan.​"Jangan merendah begitu, Rose." Ane memotong dengan cepat. "Toretto adalah keluarga terkaya, Pak Adrian adalah pewaris salah satu pewaris. Dia tampan, pintar, paket komplit.” ​Rosella menatap Ane, membayangkan bagaimana reaksi Ane jika tahu bahwa Adrian hanyalah sepertiga dari beban yang harus ditanggung setiap malam.Toretto bersaudara bukan sekadar

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Ane Tahu

    Adrian bak bayi yang kehausan dia terus menghisap dada Rosella dengan kuat. Rosella yang tak tahan terus mendesah tak peduli lagi kalo ada yang mendengar. Puas dengan dada Adrian menunggingkan Rosella di meja dan membuka resleting celananya. Dia memasukkan kejantanannya ke dalam lubang kenikmatan. Aaahhhhhh Suaranya menggema, saat miliknya masuk ke dalam sarang hangat Rosella. "Adrian, ini kampus bagaimana...." Kata Rosella disela desahnya. "Tenang saja." Potong Adrian. Seolah di kamar hotel atau kamarnya, Adrian mulai bergerak pelan, dia menikmati setiap jepitan yang Rosella berikan. Beberapa waktu kemudian Rosella duduk di kursi seberang meja Adrian, merapikan bajunya, rambutnya diikat ulang dengan cepat. Adrian sudah kembali ke ekspresi dosennya, sangat tenang, sangat biasa, seperti tidak ada yang terjadi dalam satu jam terakhir. "Saya ke toilet dulu Tuan, mau bersih-bersih." Rosella berdiri, menaikkan tasnya di bahu. "Aku juga." Adrian berdiri, mengambil ja

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Di Ruangan Adrian

    Pagi itu kursi Leon dan Lucas sudah kosong sebelum Rosella selesai menghabiskan sarapannya. Leon berangkat lebih awal karena ada meeting, Lucas menyusul tidak lama setelah itu karena shift pagi di rumah sakit dimulai jam tujuh.Tinggal Rosella dan Adrian di meja makan.Rosella merapikan piring-piring yang sudah kosong, hendak membawanya ke dapur, ketika Adrian bersuara dari kepalanya meja."Berangkat bersamaku."Rosella menoleh. "Baik, Tuan."Di dalam mobil, suasananya lebih sunyi dari biasanya.Sopir mengemudi dengan tenang, Adrian di kursi belakang dengan ponsel di tangan, Rosella di sisinya dengan tas di pangkuan.Beberapa menit berlalu sebelum Rosella bersuara."Tuan Adrian, soal semalam." Dia memulai dengan suara pelan. "Saya ingin menjelaskan, saya tidak bermaksud mengabaikan Tuan, saya lupa dan janji dengan Tuan Lucas.” Dia menoleh takut, Rosella tahu dia yang salah. "Aku mengerti." Adrian memotong, tidak mengangkat matanya dari ponselnya.Rosella menatapnya. "Tuan tidak mara

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Pembuktian Cinta

    Tok tok tok… Terdengar ketukan, Rosella segera merapikan diri. “Tuan ada yang mengetuk pintu.” Ucap Rosella. “Buka saja.” Sahutnya. Rosella membuka pintu, di depan pintu Maria berdiri di sana dengan senyum yang sudah siap di bibirnya, tapi senyum itu berhenti di tengah jalan begitu matanya melih

    last updateLast Updated : 2026-04-01
  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Kecurigaan Maria

    Malam itu Rosella tidur lebih nyenyak dari yang dibayangkan.Tidak ada mimpi, tidak ada air mata, hanya gelap yang tenang dan nafas Lucas yang teratur di sisi kepalanya, menjadi irama yang tanpa dia sadari menenangkan sesuatu yang tadi masih kacau di dalam dadanya.Tok…Tok…Tok…Suara ketukan itu da

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Maafkan Aku

    Tengah malam, tenggorokan Rosella terasa kering.Hal ini membuatnya bangkit, meraih cardigan tipis di sandaran kursi, lalu keluar dari kamarnya dengan langkah pelan agar tidak membangunkan siapapun.Lorong rumah itu sepi dan remang, hanya lampu kecil di sudut-sudut dinding yang menyala redup. Rosel

    last updateLast Updated : 2026-03-31
  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Sudahlah Rosella

    Rosella mematikan keran, mengeringkan tangannya di kain lap yang tergantung di sisinya, lalu mengambil nampan kosong dan berpura-pura sibuk menyusun peralatan dapur yang sebenarnya sudah rapi dari tadi.Baru kali pertama merasakan hal indah seperti ini kini dia harus patah hati. Rosella terdiam sa

    last updateLast Updated : 2026-03-30
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status