MasukSementara itu, Rosella berjalan gontai menuju garasi. Air matanya sudah mengering, yang tersisa hanya rasa lelah yang amat sangat.
Dia membuka pintu mobil Leon, mencari-cari berkas yang dimaksud. Tapi tidak ada apa-apa di dalam mobil. Tidak ada berkas, tidak ada map, tidak ada apapun. Rosella terdiam jadi Leon memang sengaja mempermainkannya. Tangannya mencengkeram pintu mobil erat-erat. Seluruh tubuhnya bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah meluap-luap. "Brengsek!" umpatnya pelan, suaranya serak. Ingin sekali melawan. Ingin sekali berteriak di hadapan Leon, Ingin sekali memberontak tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia hanya pelayan. Budak yang dibeli dengan uang, tidak punya kuasa, tidak punya hak tidak punya apapun. Dengan langkah berat, Rosella kembali ke ruang kerja Leon. Tok tok tok. Rosella membuka pintu, berdiri di ambang dengan kepala tertunduk. "Tidak ada berkas di mobil, Tuan," lapornya dengan suara datar, hampir tanpa emosi. Leon mengangkat alis, pura-pura terkejut. "Benarkah? Mungkin aku salah ingat." Dia menatap Rosella yang berdiri kaku di sana, lalu melanjutkan dengan nada santai, "Sudahlah, tidak penting. Kamu boleh pergi." Rosella tidak bergerak. Leon mengangkat wajahnya, menatap gadis itu dengan tatapan tajam. "Aku bilang kamu boleh pergi." "Permisi bertanya, Tuan," ucap Rosella pelan, masih menunduk. "Apa?" "Apa yang sebenarnya Tuan Leon inginkan dari saya?" Pertanyaan itu membuat Leon terdiam sejenak. Rosella mengangkat wajahnya, menatap Leon dengan mata yang memerah tapi tidak menangis. "Kenapa anda selalu saja mencari gara-gara dengan saya?” Suaranya bergetar, tapi tatapannya tidak bergeser dari Leon. Hening. Leon menatap Rosella dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, sesuatu yang gelap dan berbahaya. Dia bangkit dari kursinya, berjalan perlahan mendekat. Setiap langkahnya membuat jantung Rosella berdegup semakin kencang. Leon berhenti tepat di hadapan Rosella, menatapnya dari atas dengan tatapan menusuk. "Kamu tahu kesalahanmu apa?" tanyanya dengan suara rendah, berbahaya. Rosella bergeming tapi kini dengan menunduk tak lagi menatap Leon dengan berani. "Kesalahanmu adalah kamu terlalu berani," bisik Leon dingin. "Aku menerima laporan kalau kamu sering berulah, banyak peraturan yang kamu langgar, kamu juga berani menyindir, mengataiku. Ingat kamu hanya budak disini, hidupmu adalah milikku!” Tangannya mencengkram lengan Rosella kuat-kuat. Hingga gadis itu meringis kesakitan. Rosella merasakan dadanya sesak. Budak, rasa sakit menguap kemana, ucapan Leon jauh lebih menyakitkan dari cengkraman tangannya. “Saya tau Tuan.” Ucap Rosella pasrah. Lalu dia melepas tangan Leon dengan kuat, “Saya harus istirahat, kalau anda perlu apa-apa panggil saja budak lain.” Tanpa menunggu respon Leon, Rosella keluar. Air mata yang sedari tadi dia tahan tak lagi bisa dibendung. Dia yang kacau tak sengaja menabrak Lucas, “Maaf Tuan Lucas.” Rosella tak berhenti, dia terus berjalan hingga suara Lucas menghentikannya. “Tunggu Rosella.” Lucas berjalan mendekat, Rosella yang tidak ingin tangisnya dilihat Lucas berusaha menghapus sisa sisa air matanya. “Kamu kenapa?” Tanyanya. Rosella perlahan membalikkan badan, “Tidak kenapa-kenapa Tuan Lucas.” Cicitnya lirih sambil memaksakan tersenyum manis. Lucas tertawa menatap Rosella, “Sudah jangan memaksakan diri.” Helaan nafas terdengar, “Saya ingin pulang, saya rindu ibu, saya tidak mau disini.” Ucapan Rosella membuat Lucas menatapnya, dia cukup tahu apa yang Rosella rasakan. Disini Rosella hanya korban, korban kekejaman seorang ayah tiri. Tapi dia juga tidak berbuat apa-apa, meski sama-sama Tuan Muda tapi tetap Leon yang berkuasa, kekuasaan penuh orang tua mereka berikan pada Leon. Lucas dan Adrian hanyalah pendukung Leon. “Ayo ikut aku.” Lucas mengajak Rosella ke rooftop, dia ingin menunjukkan sesuatu yang indah pada gadis itu. “Kita ngapain kesini Tuan?” Tanya Rosella. “Malam ini ada hujan meteor,” jawab Lucas. Rosella tak percaya Lucas mengajak ke rooftop untuk melihat hujan meteor. “Anda adalah seorang dokter kenapa bisa menyukai hal-hal yang berbau astronomi?” Rosella heran. Pria itu tersenyum. "Sebenarnya..." Lucas menatap langit malam yang gelap. "Dokter bukan pilihanku." Rosella terkejut mendengar pengakuan Lucas. Dia menatap pria itu dengan tatapan penasaran. Lucas tersenyum pahit. "Aku sangat menyukai astronomi. Dulu, setiap malam aku selalu mengamati bintang dengan teleskop. Aku hafal semua rasi bintang, nama-nama planet, bahkan teori-teori tentang alam semesta." Dia menghela nafas panjang. "Aku ingin menjadi astronom. Ingin mempelajari bintang-bintang, galaksi, semua keajaiban yang ada di luar angkasa." "Lalu kenapa jadi dokter?" tanya Rosella pelan. "Orang tuaku tidak setuju," jawab Lucas. "Mereka bilang astronomi tidak berguna. Tidak menghasilkan uang. Tidak bergengsi. Mereka memaksaku menjadi dokter." Lucas tertawa getir. "Jadi disinilah aku. Menjadi dokter yang sebenarnya membenci profesinya sendiri." Rosella merasakan dadanya sesak. Ternyata Lucas juga punya luka. Punya mimpi yang hancur. "Tapi... Tuan Lucas terlihat baik-baik saja," ucap Rosella hati-hati. "Karena aku sudah terbiasa berpura-pura," sahut Lucas. "Sama sepertimu yang berpura-pura kuat." Tatapan mereka bertemu. Dan untuk pertama kalinya, Rosella merasa ada yang memahaminya. "Lihat!" Lucas tiba-tiba menunjuk langit. Rosella mengikuti arah tangannya dan terperangah. Hujan meteor! Garis-garis cahaya berpijar melintasi langit malam yang gelap. Satu, dua, tiga... puluhan meteor jatuh bagai air terjun dari langit. "Indah sekali..." bisik Rosella terpesona. Lucas tersenyum, senyum tulus yang jarang dia tunjukkan. Matanya berbinar menatap langit, seperti anak kecil yang melihat mainan favoritnya. "Ini hujan meteor," jelas Lucas antusias. "Terjadi ketika Bumi melewati jejak debu yang ditinggalkan komet. Partikel-partikel kecil itu terbakar saat masuk atmosfer, menciptakan cahaya yang kita lihat." Rosella menatap Lucas yang berbicara dengan penuh semangat. Ini sisi Lucas yang tidak pernah dia lihat. Bukan dokter yang tenang dan profesional. Tapi seorang pria yang sangat mencintai bintang-bintang. "Tuan Lucas terlihat sangat bahagia," ucap Rosella tersenyum. Lucas tersentak, menyadari antusiasmenya. Dia tertawa canggung. "Maaf, aku terlalu bersemangat." "Tidak apa-apa," Rosella menggeleng. "Justru bagus melihat Tuan Lucas tersenyum seperti ini." Mereka kembali menatap langit dalam diam. Hujan meteor masih terus berjatuhan, melukis keindahan di atas kepala mereka. "Rosella," panggil Lucas pelan. "Ya, Tuan?" "Aku tahu hidupmu di sini sangat berat," ucapnya hati-hati. "Aku tahu kakakku terlalu keras padamu." Rosella terdiam. "Aku tidak bisa berbuat banyak," sambung Lucas. "Kak Leon yang berkuasa penuh di mansion ini.” Mereka menghabiskan hampir satu jam di rooftop, menyaksikan hujan meteor sambil sesekali berbincang ringan. Lucas menceritakan tentang bintang-bintang, sementara Rosella mendengarkan dengan penuh minat. Untuk sejenak, Rosella melupakan semua rasa sakitnya. Melupakan semua penghinaan yang dia terima. Di sini, bersama Lucas di bawah hujan meteor, dia merasa seperti manusia lagi. Bukan budak. Bukan pelayan. Tapi seorang gadis yang sedang menikmati keindahan alam semesta. "Sudah larut," ucap Lucas akhirnya. "Kamu harus istirahat. Besok kamu harus bekerja lagi." Rosella mengangguk, meski sebenarnya dia ingin berlama-lama di sini. "Terima kasih sudah mengajakku, Tuan Lucas," ucapnya tulus. "Ini malam terindah yang pernah aku alami sejak di sini. Dan mungkin malam terindah di sepanjang hidupku.” Lucas tersenyum hangat. "Sama-sama, Rosella." Mereka turun dari rooftop bersama-sama. Sebelum berpisah di koridor, Lucas berpesan, "Istirahatlah yang cukup. Dan ingat, menurut lah, jangan berbuat salah lagi agar Kak Leon tidak keras padamu.” "Baik," sahut Rosella sambil tersenyum. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak berada di mansion, Rosella tidur dengan senyum di wajahnya. “Terima kasih Tuan Lucas.”Pagi itu, area kantin Toretto Agro-Corp riuh rendah oleh bisik-bisik yang tertuju langsung ke meja sudut tempat Rosella duduk. Teman sesama anak magangnya, Maya, langsung menggeser kursi mendekat dengan mata berbinar penasaran."Rosella, kamu hebat banget, sih! Kemarin ketiga Tuan Muda Toretto datang sendiri ke sini cuma buat merhatiin kamu, bahkan sampai meriksa dahi kamu segala," bisik Maya heboh. "Satu perkebunan dan kantor langsung gempar, tahu!"Rosella meremas pelan cangkir tehnya, mencoba bersikap setenang mungkin meski jantungnya berdegup kencang karena panik. Rencana penyamarannya hampir saja hancur berantakan di hari pertama."Ah, itu... kamu salah paham, Maya. Tuan Muda Lucas kan memang dokter utama di rumah sakit pusat, dia cuma kebetulan ikut peninjauan kualitas dan memastikan program kesehatan buruh berjalan dengan benar. Dia kebetulan lewat di dekatku saja," elak Rosella sebisa mungkin. Ia benar-benar tidak ingin usahanya untuk belajar dari nol sia-sia hanya karena u
Hal yang sama terjadi pada Adrian dan Lucas. Di kampus, Adrian yang sedang memberikan kuliah mendadak kehilangan minat mengajar begitu melihat jam dinding menunjukkan pukul sebelas siang. Pikiran cerdasnya terus membayangkan apakah Rosella sudah makan siang atau belum.Tanpa berpikir panjang, Adrian memberikan tugas mandiri kepada mahasiswanya dan langsung melesat menuju rumah sakit tempat Lucas bekerja. Begitu sampai di sana, ia mendapati Lucas sedang duduk di ruangannya dengan wajah uring-uringan, membolak-balik berkas pasien tanpa minat."Kamu tidak ada jadwal operasi, Lucas?" tanya Adrian sembari masuk tanpa mengetuk pintu."Aku membatalkan semuanya yang tidak darurat," gerutu Lucas frustrasi. "Aku tidak bisa berhenti memikirkan Rosella. Bagaimana kalau dia pingsan karena kepanasan di dalam rumah kaca itu? Kulitnya sangat sensitif!""Kak Leon baru saja mengirim pesan," kata Adrian sembari menunjukkan ponselnya. "Dia memantau lewat CCTV rahasia. Katanya Rosella sedang mengangka
Pagi itu, suasana di Mansion Toretto terasa sangat berbeda. Rosella bangun lebih awal, bukan untuk menyiapkan keperluan para Tuan Muda seperti dulu, melainkan untuk bersiap-siap menuju hari pertamanya magang di perkebunan agrobisnis Toretto Agro-Corp.Sesuai dengan perjanjian rahasianya dengan Leon, Rosella mengenakan pakaian yang sangat sederhana, kemeja flanel kotak-kotak, celana jins longgar yang nyaman untuk bergerak, dan sepasang sepatu bot lapangan. Rambut panjangnya diikat kuda dengan rapi. Ia menatap cermin sambil tersenyum puas. Tidak ada gaun desainer, tidak ada perhiasan mewah. Hari ini, dia hanyalah Rosella, seorang mahasiswi magang biasa.Namun, ketenangan Rosella terusik begitu ia turun ke ruang makan. Tiga Tuan Muda Toretto sudah duduk di sana, namun suasana di sekitar mereka tampak begitu mendung. Mereka menatap pakaian lapangan Rosella dengan raut wajah yang beralih antara kagum, cemas, dan tidak rela."Sayang, apa kamu benar-benar harus memakai baju sekaku itu? Ka
Leon mengernyitkan alisnya, tampak benar-benar heran dengan reaksi cepat dari kekasihnya itu. "Kenapa menolak? Bukankah itu pilihan terbaik? Di sana, aku bisa memastikan lingkungan kerjamu sangat aman. Kamu tidak akan menjadi anak magang biasa yang disuruh-suruh melakukan pekerjaan kasar. Kamu akan menjadi anak magang spesial."Leon menjeda kalimatnya sejenak, menatap Rosella dengan pandangan yang menurutnya sangat logis. "Pikirkanlah, Rose. Bukankah lebih enak kalau jadi anak magang spesial? Nilai akhir kamu dari perusahaan sudah pasti sempurna, kamu tidak akan kelelahan, dan aku juga akan memastikan kamu tetap mendapatkan pendapatan bulanan yang sangat besar, setara dengan gaji manajer senior. Semua orang akan memperlakukanmu dengan hormat. Kurang apa lagi?"Rosella menggelengkan kepalanya dengan tegas, menatap mata Leon dengan pandangan yang penuh dengan prinsip hidupnya. "Tuan Leon, dengarkan saya. Tujuan mengambil program magang ini bukan untuk menjadi seseorang yang spesial,
Sore itu, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap berhenti dengan mulus tepat di depan Mansion Toretto. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Rosella yang melangkah turun dengan tas kuliah yang tersampir di pundaknya. Wajahnya tampak sedikit lelah setelah seharian penuh menghabiskan waktu di kampus untuk mengurus berkas-berkas.Begitu sampai di lantai atas, Rosella langsung menuju ke kamarnya. Ia meletakkan tasnya di atas meja belajar, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size yang empuk. Gadis itu menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan pandangan kosong. Pikirannya tidak benar-benar berada di kamar itu, melainkan melayang jauh memikirkan satu tanggung jawab besar yang harus segera ia selesaikan sebagai syarat kelulusan, program magang.Rosella membalikkan badannya, menatap jendela besar yang menampilkan pemandangan taman samping mansion. Ia mulai menimbang-nimbang berbagai kemungkinan dalam benaknya."Bisa saja aku magang di perusahaan keluarga Anderson
Setelah memastikan Rosella dalam keadaan aman di bawah pengawasan ketat trio Toretto di London, Robin Anderson akhirnya kembali ke Liverpool. Namun, kepulangannya tidak disambut dengan ketenangan. Begitu menginjakkan kaki di mansion, ia langsung disambut oleh perintah negara dari Mommy dan Daddy Anderson. Sebuah kencan buta dengan Clarissa, putri tunggal seorang pengusaha berlian. “Kalau kamu menurut tidak perlu kami adakan kencan buta seperti ini Robin, besok kamu harus berpakaian pantas, dan ajak di pulang ke mansion.” Kata Daddy. “Baik Dad.” Sahut Robin lemas. Di ruang kerjanya, Robin menghela nafas panjang. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut. "Mereka benar-benar tidak sabar ingin punya menantu," gumamnya.Jeremy, asisten setianya, masuk dengan tablet di tangan. "Tuan, kencan buta dijadwalkan lusa di Grand Diamond Restaurant. Nona Clarissa meminta Anda menjemputnya dengan mobil koleksi terbaru."Robin menyeringai tipis, sebuah seringai yang membuat Jeremy merasa ada sesuat
Rosella terdiam, jantungnya berdebar sangat kencang mendengar perkataan Adrian. Kakinya seolah tidak mau bergerak, tapi tangan Adrian yang menariknya dengan lembut tapi pasti membuatnya mengikuti. Adrian menutup pintu, lalu berbalik menatap Rosella yang berdiri dengan tubuh gemetar."Kamu takut?"
Rosella menggeleng pelan, tangannya mencengkeram bahu Lucas dengan erat. "Saya takut."Lucas tertawa lembut mendengar jawaban jujur itu. Tangannya berhenti bergerak, menatap wajah Rosella yang memerah dengan tatapan penuh kelembutan."Takut kenapa, sayang?" tanyanya sambil mengusap pipi Rosella den
Rosella kembali ke kamar Leon dengan langkah yang terasa berat. Tangannya memegang obat-obatan yang diberikan Lucas, pikirannya masih berkecamuk dengan apa yang baru saja terjadi. Lucas memeluknya, mengaku cemburu dan mengklaimnya untuk sore ini. Sementara pagi tadi, Leon juga melakukan hal yang
Malam itu, ruang makan semua Tuan Muda sudah duduk di kursinya masing-masing. Leon duduk di ujung meja seperti biasa, meski wajahnya masih terlihat sedikit pucat dari demam yang belum sepenuhnya hilang. Tapi dia bersikeras untuk tidak melewatkan makan malam, meskipun Lucas menyarankan dia untuk is







