Beranda / Romansa / Tawanan Tiga Tuan Muda / Tatapan Yang Bertemu

Share

Tatapan Yang Bertemu

Penulis: CitraAurora
last update Tanggal publikasi: 2026-02-15 14:16:51

Hari Minggu pagi, mansion Toretto terasa lebih tenang dari biasanya. Para Tuan Muda biasanya tidak bekerja di hari libur, dan pagi ini mereka bertiga memutuskan untuk berenang di kolam renang pribadi yang ada di belakang mansion.

Sementara itu, Rosella mendapat tugas membersihkan ketiga kamar para Tuan Muda saat mereka sedang berenang.

Gadis itu berjalan ringan menuju kamar pertama, kamar Lucas.

Sambil membersihkan, pikirannya terus melayang ke kejadian semalam.

Hujan meteor, Lucas tertawa lepas, bintang-bintang yang indah.

Tanpa sadar, senyum kecil menghiasi wajahnya. Tangannya bergerak otomatis melipat selimut, mengganti sprei, tapi pikirannya melayang jauh.

"Ternyata dia suka astronomi," gumamnya pelan sambil tersenyum. "Lucu sekali ekspresinya waktu itu."

Dia tertawa kecil mengingat antusiasme Lucas saat menjelaskan tentang meteor. Matanya yang berbinar, tangannya yang bergerak-gerak semangat, suaranya yang penuh gairah.

Netra Rosella menatap bingkai foto Lucas, siapa sangka jas dokter kebanggaan Lucas bukanlah jas yang ingin dia kenakan.

Setelah selesai dengan kamar Lucas, Rosella pindah ke kamar Adrian. Dan di sini, dia masih tersenyum.

Dia membersihkan meja kerja Adrian yang penuh dengan buku-buku, matanya tertuju pada sebuah foto kecil yang tersembunyi di antara tumpukan buku. Foto Adrian di kampus. “Inikan kampus aku?” Gumam Rosella.

Rosella mengambil foto itu, menatapnya dengan lekat, benar ini kampusnya, seketika matanya terbelalak sempurna, dia dosen disana!?”

Pikiran Rosella melayang, kini digantikan dengan Adrian, jika Adrian adalah dosen disana dia bisa membujuk tuan mudanya itu siapa tahu Rosella bisa kuliah kembali.

Rosella meletakkan foto itu kembali dengan hati-hati, lalu melanjutkan pekerjaannya sambil menyusun rencana membujuk Adrian.

Terakhir, kamar Leon.

Rosella mengambil nafas dalam sebelum masuk. Dia tahu Leon sedang berenang di bawah, tapi tetap saja kamar pria itu selalu membuatnya tegang.

Dia mulai membersihkan dengan cepat, ingin segera selesai dan keluar dari kamar yang penuh aura dingin ini.

Sambil bekerja Rosella bernyanyi lagu cinta, sambil sesekali memposisikan dirinya ada di panggung besar.

Dia mulai menggoyangkan pantatnya sambil menggunakan sapu sebagai mic.

Tanpa Rosella sadari, Leon sudah berdiri di ambang pintu.

Pria itu baru saja naik untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Rambutnya masih basah, tubuhnya hanya ditutupi handuk di pinggang, tetesan air masih membasahi dada bidangnya.

Leon berdiri diam, menatap Rosella yang sedang bergoyang sambil bernyanyi.

Leon mengerutkan dahi. Ada yang aneh dengan pelayan ini hari ini. Biasanya dia terlihat lelah dan murung, tapi pagi ini dia terlihat bahagia? Bahkan menyanyikan lagu cinta.

"Jangan menyanyi, suaramu merusak dunia." ucapnya dingin.

Rosella terlonjak kaget, buru-buru berbalik. Segera dia meletakkan sapu yang dia bawa saat matanya melihat Leon yang berdiri di sana dengan tatapan tajam.

"T-Tuan Leon!" serunya terkejut.

Karena hatinya kini tengah bahagia, Rosella tidak merasa terancam seperti biasanya.

Dia bahkan tertawa kecil. "Kenapa memangnya?" tanyanya tanpa berpikir, nadanya ringan.

Leon terdiam, Ini pertama kalinya Rosella menjawabnya dengan nada seperti itu.

Alisnya terangkat, menatap Rosella dengan tatapan menyelidik. Ada yang berbeda dari gadis ini hari ini.

Leon hanya tersenyum sinis, senyum tipis yang dingin. "Telingaku sakit," ucapnya singkat, lalu berjalan ke meja untuk mengambil ponselnya.

Rosella menatap punggung Leon yang berjalan menjauhinya, lalu menggelengkan kepala sambil bergumam, tidak cukup pelan.

"Apa! telinganya sakit," gerutunya sambil kembali menyapu.

“Suara merdunya gini mana mungkin merusak telinga,mengada-ngada jadi pengen cakar wajahnya." Rosella tertawa membayangkan dirinya mencakar wajah Leon.

Seolah tak peduli, Rosella kembali bernyanyi.

Hatinya terlalu senang untuk dirusak oleh komentar pedas Leon.

Leon yang baru mengambil ponselnya berhenti. Dia berdiri di dekat pintu, membuka pesan yang masuk, tapi telinganya menangkap gerutuan Rosella.

Cakar wajahnya?

Leon melirik ke arah Rosella yang masih sibuk bernyanyi sambil menyapu, dia sama sekali tidak sadar Leon belum pergi.

"Wanita aneh," gumam Leon pelan sambil menggelengkan kepala.

Tapi tanpa sadar, sudut bibirnya terangkat sedikit. Senyum tipis yang bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.

Ada sesuatu yang lucu, melihat Rosella yang biasanya ketakutan, kini malah mengancam akan mencakar wajahnya sambil bernyanyi riang.

Leon menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan pikiran aneh itu, lalu berbalik untuk pergi.

Tapi senyum tipis itu masih terukir di wajahnya saat melangkah keluar.

Kepala pelayan yang kebetulan sedang berjalan di koridor melihat Leon keluar dari kamarnya. Pria tua itu terpaku, langkahnya terhenti.

Leon tersenyum?

Bukan senyum sinis yang biasa seperti yang selalu terlihat melainkan senyum…

Kepala pelayan merasa merinding, bulu kuduknya berdiri.

Selama bekerja di keluarga Toretto hampir dua puluh tahun, dia hampir tidak pernah melihat Leon tersenyum. Apalagi senyum seperti itu.

"Ada apa ini?" gumam kepala pelayan sambil menggaruk kepalanya bingung.

Leon yang menyadari kepala pelayan menatapnya langsung mengubah ekspresinya kembali dingin. Senyumnya lenyap seketika. "Ada apa?" tanyanya tajam.

"Ti-tidak, Tuan," jawab kepala pelayan cepat sambil membungkuk dalam.

Leon hanya mengangguk dingin, lalu turun kembali ke kolam renang dengan ponsel di tangannya.

Tapi ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya.

Kenapa Rosella begitu bahagia hari ini?

Di kolam renang, Lucas dan Adrian sedang berenang santai. Lucas berenang dengan gaya bebas yang elegan, sementara Adrian hanya mengapung sambil memejamkan mata menikmati matahari pagi.

Leon turun dan langsung melompat ke kolam dengan cipratan besar.

BYURRR!

“Brengsek kamu, Kak!" protes Adrian yang wajahnya kena cipratan.

Leon muncul ke permukaan, mengusap rambutnya ke belakang. "Salahmu menghalangi."

Lucas berenang mendekat sambil tertawa. "Kamu ngapain saja diatas Kak, kenapa lama sekali.”

"Ada yang harus aku urus," jawab Leon singkat sambil berenang ke tepi.

Adrian yang masih kesal dengan cipratan tadi berenang ke tepi kolam, bersandar sambil menatap Leon dengan tatapan curiga. "Atau... ada yang menarik perhatianmu di atas?" godanya.

Leon menatap Adrian tajam. "Maksudmu?"

"Tidak ada," jawab Adrian santai sambil tersenyum misterius. "Cuma bertanya."

Lucas yang tidak mengerti percakapan kedua saudaranya hanya menggelengkan kepala. "Kalian ini aneh."

Mereka berenang dalam diam beberapa saat. Tapi pikiran Leon terus melayang ke atas.

Ke Rosella yang tersenyum-senyum sendiri, ke Rosella yang bernyanyi riang. Kenapa gadis itu begitu bahagia?

Apa yang membuatnya berubah dari gadis yang hampir menangis kemarin, menjadi gadis yang bernyanyi riang hari ini?

Leon merasa ada yang tidak beres.

Sementara itu di atas, Rosella baru selesai membersihkan kamar Leon menghela nafas lega sambil mengelap keringat di dahinya.

"Selesai juga," gumamnya sambil tersenyum.

Dia melirik ke jendela yang menghadap kolam renang. Dari sini, dia bisa melihat ketiga Tuan Muda sedang berenang.

Matanya tanpa sadar mencari sosok Lucas. Pria itu sedang berenang dengan santai, sesekali tertawa dengan Adrian.

Rosella tersenyum kecil mengingat kejadian semalam.

Tapi kemudian tatapannya bertemu dengan Leon yang tiba-tiba menatap ke arah jendela, ke arahnya.

Rosella tersentak, langsung bersembunyi di balik tirai. Jantungnya berdegup kencang.

"Sial, dia lihat aku nggak ya?" bisiknya panik.

Dia mengintip sedikit, dan matanya bertemu lagi dengan tatapan tajam Leon yang masih menatap ke arah jendela dengan ekspresi curiga.

Rosella langsung menarik diri, wajahnya pucat. "Matilah aku kalau dia lihat."

Dengan terburu-buru, Rosella mengambil semua peralatan bersih-bersihnya dan bergegas keluar dari kamar.

Di kolam renang, Leon masih menatap ke arah jendela kamarnya dengan alis bertaut.

"Ada apa, Kak?" tanya Lucas yang menyadari tatapan kosong kakaknya.

"Tidak ada," jawab Leon datar, tapi matanya masih tertuju ke jendela.

Dia tahu ada seseorang di sana tadi. Dan dia yakin itu Rosella.

Tapi kenapa gadis itu mengintip mereka?

Atau lebih tepatnya mengintip siapa?

Leon menyipitkan mata.

"Menarik," gumam Adrian pelan, tapi cukup keras untuk didengar Leon.

"Apa?" tanya Leon tajam.

"Tidak ada, Kak," jawab Adrian sambil tersenyum misterius. "Hanya... menarik saja."

Leon menatap adiknya dengan tatapan curiga, tapi Adrian sudah berenang menjauh.

Tiba-tiba Leon memikirkan sesuatu, dia bangkit lalu mengambil ponselnya.

“Perintahkan Rosella membawakan minuman dan camilan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
GistaArnanta
Leon sudah ada tanda tanda nih
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Rosella Toretto Anderson

    Mendengar perdebatan seputar undian malam pertama di depan altar, Tuan dan Nyonya Besar Toretto hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau ketiga putra kebanggaan Toretto yang biasanya dingin, kaku, dan disegani di luar sana, bisa menjadi begitu tidak waras dan kekanak-kanakan hanya demi memperebutkan satu wanita.​"Mommy benar-benar tidak habis pikir dengan kalian bertiga," ucap Nyonya Toretto sembari tertawa kecil, melangkah mendekat untuk merangkul pundak Rosella dengan penuh kasih sayang. "Tapi melihat kalian sekompak ini demi menjaga Rosella, Mommy ikhlas. Mulai hari ini, kamu adalah putri kesayangan Mommy, Rose. Jika ketiga pria ini macam-macam, adukan saja pada Mommy."​"Daddy juga akan memastikan tidak ada yang berani membuatmu menangis lagi di mansion ini, Rose," timpal Tuan Besar Toretto dengan senyuman hangat, sebuah pemandangan langka yang membuat Leon, Adrian, dan Lucas tersenyum lega. Rosella kini benar-benar disayang oleh seluruh anggota k

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Malam Pertama

    Pekikan itu membuat pelukan erat di depan altar seketika terlepas. Rosella, trio Toretto, serta keluarga Anderson serentak menoleh ke arah pintu kapel. Di sana, Tuan dan Nyonya Besar Toretto berdiri tegap, menatap lurus ke arah altar dengan gurat penyesalan yang tersirat jelas di wajah mereka yang biasanya angkuh.​Melihat kehadiran kedua orang tuanya, Leon langsung menggeser tubuhnya, berdiri pasang badan paling depan guna melindungi Rosella di balik punggung tegapnya. Sorot mata sang CEO seketika berubah sedingin es, mengingat bagaimana masa lalu kedua orang tuanya yang menentang keras hubungan mereka hanya karena status sosial Rosella yang saat itu merupakan pelayan di mansion ini.​"Mau apa lagi Daddy dan Mommy ke sini?" tanya Leon dengan nada suara rendah yang sarat akan peringatan. "Jika kalian datang untuk mengacaukan pernikahan ini seperti dulu, silakan angkat kaki dari wilayahku."​Adrian membenarkan letak kacamatanya dengan dingin, sementara Lucas melangkah maju, ikut mengun

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Menikah

    ​"Lalu bagaimana ini?" tanya Robin dengan nada frustrasi, menatap ruang kerja yang mendadak diselimuti keheningan berat.​Leon mengetukkan jarinya di atas meja, matanya berkilat tajam sebelum akhirnya dia menyeringai tipis. "Jika kalian semua bingung, maka biar aku yang mengambil jalan tengah. Kita tidak akan mengorbankan perasaan dua orang di antara kami demi selembar kertas legalitas."​Tuan Anderson mengernyitkan alis. "Maksud Anda, Tuan Leon?"​"Secara hukum negara ini, namaku yang akan tertulis di buku nikah sebagai kepala keluarga demi meredam rumor publik dan mengamankan status anak kami," ucap Leon. "Namun, di hadapan hukum Tuhan dan keluarga Anderson maupun Toretto, Adrian dan Lucas memiliki hak yang sama denganku. Kami bertiga akan tetap mengucapkan janji suci di hadapan kalian secara privat."​Adrian dan Lucas saling pandang, lalu mengangguk setuju. Itu adalah satu-satunya cara agar tidak ada yang merasa tersisih.​"Gila... kalian benar-benar di luar nalar," gumam Robin, wa

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Bingung Memilih Yang Mana

    ​Hari-hari berikutnya di mansion Toretto berubah menjadi ajang pembuktian tak kasatmata. Tuan dan Nyonya Anderson, serta Robin yang awalnya menaruh curiga luar biasa, kini hanya bisa tertegun menyaksikan bagaimana putri mereka diperlakukan. Rosella tidak sekadar dirawat, dia diagungkan layaknya seorang putri kerajaan.​Sebagai seorang dokter, Lucas mengambil alih penuh dapur mansion. Setiap pagi, dia sendiri yang memeriksa kalori, vitamin, dan memastikan gizi Rosella terpenuhi tanpa cela. Tidak boleh ada bahan pengawet, dan semua makanan harus organik.​Sementara itu, Adrian yang biasanya kaku, mendadak memenuhi kamar Rosella dengan puluhan buku referensi terbaik seputar kehamilan dan pola asuh anak. Setiap malam sebelum tidur, dengan suara baritonnya yang tenang, sang dosen akan membacakan artikel-artikel penting itu di samping Rosella yang mendengarkan dengan patuh.​Namun yang paling membuat keluarga Anderson tercengang adalah Leon. Sang CEO menjadi pria super over-protektif. Karen

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Keputusan Yang Tepat

    ​Kata-kata mutlak dari Leon mengunci perdebatan internal mereka. Adrian dan Lucas terdiam, memendam ego masing-masing demi kesepakatan bahwa anak itu adalah darah Toretto.​Namun, keheningan di kamar mewah itu tidak bertahan lama. Di sudut ruangan, Ibu Rosella yang sejak tadi menahan tangis akhirnya melangkah maju dengan tubuh gemetar, didampingi oleh Tuan Anderson dan Robin yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah.​"Tiga ayah?!" Robin mendesis, suaranya naik satu oktav karena tidak bisa lagi membendung rasa muak. Dia menunjuk Leon, Adrian, dan Lucas bergantian. "Kalian benar-benar sakit! Adikku bukan mainan yang bisa kalian gilir dan kalian klaim anaknya sesuka hati!"​Tuan Anderson pun ikut melangkah maju, wibawa seorang kepala keluarga Anderson memancar kuat. "Tuan Leon, kami menghormati posisi Anda sebagai kepala keluarga Toretto. Tapi ini sudah di luar batas! Rosella adalah putri kami. Kehamilannya justru membuktikan bahwa berada di sini tidak aman untuk masa depannya. Kam

  • Tawanan Tiga Tuan Muda    Hamil

    Kepanikan yang mencekam seketika meledak di ruangan itu. Saat Rosella masih terisak pasrah di tengah kepungan dua keluarga, tiba-tiba pandangannya menggelap dan tubuh mungilnya langsung limbung.​"Rose!" teriak mereka semua gempar.​Sebelum tubuh Rosella menghantam lantai marmer yang dingin, Leon dengan gerakan secepat kilat langsung menyambar dan mendekap tubuh lemas wanitanya. Wajah pucat Rosella dengan mata yang tertutup rapat membuat napas Leon seketika tercekat. Tanpa menunggu sedetik pun, Leon langsung menggendong Rosella dengan protektif, membawanya berlari menaiki tangga menuju kamar utama di lantai atas.​Adrian, Lucas, dan keluarga Anderson yang dilanda kepanikan luar biasa langsung bergegas mengikuti dari belakang. Begitu tubuh Rosella dibaringkan di atas ranjang king size, suasana kamar berubah menjadi sangat tegang.​Lucas yang biasanya selalu tenang dan profesional, kini malah mondar mandir tanpa memeriksa Rosella. ​"Lucas! Kamu kan dokter! Kenapa malah bengong begitu c

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status