MasukLucas mengelus punggung kakaknya dengan lembut, mencoba menenangkan pria dingin itu. "Sabar, Kak. Tidak usah diambil hati."
Tatapan Leon yang tadinya tertuju pada pintu kini berpaling tajam ke arah Lucas. Rahangnya mengeras. "Dari kemarin pelayan itu terus membuat masalah," ucapnya dingin. "Dia harus diberi pelajaran." Ada kilatan berbahaya di mata Leon, kilatan yang biasanya muncul ketika seseorang sudah melewati batas kesabarannya. "Tenang, Kak." Lucas tersenyum tipis, mencoba meringankan suasana. Dia tahu betul kakaknya tidak pernah suka ada yang membantah atau melawannya. Apalagi seorang pelayan. Dan Rosella… gadis itu sepertinya tidak tahu ke dalam lubang apa dia telah melompat. Lucas mengalihkan pembicaraan. "Ngomong-ngomong, soal rencana Mama dan Papa..." Kalimat Lucas menggantung. Leon langsung mengerutkan dahi. Dia tahu ke mana arah pembicaraan ini. "Aku tidak mau dijodohkan." Suaranya tegas dan final. "Bilang pada Mama, kehidupan pribadiku biar aku yang menentukan sendiri," sambungnya. Bukan pertama kali kedua orang tua mereka mencoba menjodohkan Leon dengan putri-putri dari keluarga kaya raya. Tapi Leon selalu menolak mentah-mentah. Bagi Leon, menikah adalah hal yang merepotkan. Terlalu banyak yang harus dijaga sedangkan dia masih ingin bebas. Dan yang paling penting, Leon punya luka yang belum sembuh. Luka dari masa lalu. Dari seorang wanita yang pernah dia cintai dengan segenap hati, meninggalkannya dengan cara yang paling menyakitkan. Sejak saat itu, Leon bersumpah tidak akan pernah membiarkan siapapun masuk ke dalam hidupnya lagi. "Tapi Papa dan Mama pasti akan terus memaksa, Kak," kata Lucas hati-hati. "Biar saja." Leon menjawab datar. "Kalau aku tidak mau, mereka bisa apa?" Lucas menghela napas. Tidak ada gunanya berdebat dengan Leon jika pria itu sudah memutuskan sesuatu. "Oke, terserah kamu lah." Lucas bangkit dari sofa. "Aku kembali ke kamar dulu." "Hm," sahut Leon. Setelah Lucas pergi, Leon duduk sendirian di sofa. Matanya menatap kosong ke arah jendela besar kamarnya. Tapi pikirannya entah kenapa terus kembali pada gadis bermata api itu. Rosella. Leon mengepalkan tangannya. “Dia harus tahu tempatnya.” Keesokan paginya, Leon yang masih diselimuti kekesalan memanggil kepala pelayan. "Suruh pelayan baru itu yang menyiapkan sarapanku pagi ini," titahnya dingin. Kepala pelayan terkejut, langsung mengerti siapa yang dimaksud. "Tapi, Tuan, dia masih pelayan baru. Belum tentu bisa…" Belum sempat melanjutkan kalimatnya Leon sudah menyahut. "Aku tidak peduli." Tatapan Leon begitu tajam membuat kepala pelayan tak mau membantah lagi. "Baik, Tuan." Di dapur, Rosella dipanggil oleh kepala pelayan. Begitu mendengar perintah Leon, wajahnya langsung pucat. "Tapi saya tidak bisa memasak steak medium rare!" protesnya. Kepala pelayan tahu tapi dia bisa apa, ini perintah, mandat dari Tuan Muda. "Coba saja," potong kepala pelayan. Mansion ini punya koki bintang lima, tapi kenapa malah dirinya yang disuruh masak? Detik berikutnya, senyuman tipis tersungging, Rosella tahu ini bukan sekedar perintah. "Baiklah," ucapnya akhirnya, meski dadanya terasa sesak. Rosella berkutat di dapur selama hampir satu jam. Tangannya gemetar saat memotong daging, mengatur suhu kompor, mencoba mengingat-ingat tutorial memasak steak yang pernah dia tonton. Keringat mengalir di pelipisnya. “Kumohon jangan gagal.” Sambil terus berharap masakannya sempurna. Tapi dalam hatinya, Rosella tahu apa pun yang dia masak, Leon pasti akan mencari-cari kesalahan. Setelah selesai, dia menghidangkan steak itu di meja makan dengan tangan yang masih bergetar. Para Tuan Muda sudah duduk di kursi masing-masing, Leon di tengah dengan ekspresi dingin, Adrian di kanan dengan tatapan bosan, dan Lucas di kiri sambil melirik Rosella dengan tatapan yang sulit diartikan. Rosella meletakkan piring di hadapan Leon, memaksakan senyum meski hatinya terasa tercabik. "Silahkan, Tuan Leon. Sarapan buatan saya.” Adrian yang sedang meminum kopinya hampir tersedak. "Apa? Kamu yang memasak?" Kepala pelayan yang berdiri tak jauh dari sana dengan cepat menjelaskan, "Tuan Muda Leon yang meminta Rosella memasak sarapannya." "Oh..." Adrian melirik kakaknya dengan tatapan mengerti. Dia tahu Leon sedang menghukum pelayan baru itu. Leon menatap piring di hadapannya dengan tatapan datar. Dia mengambil pisau dan garpu, memotong sepotong kecil steak, memeriksa tingkat kematangannya. Semua orang dibuat was-was. Rosella yang berdiri di samping Leon, menunggu dengan nafas tertahan. Jantungnya berdegup kencang. Kemudian… Leon melempar garpu dan pisaunya ke atas meja dengan bunyi nyaring. KLANG! Semua pelayan tersentak. Leon mengambil seluruh piring itu, berdiri, lalu berjalan ke tempat sampah dan membuangnya. BRAK! "Makanan anjing kamu berikan padaku?!" Suaranya menggelegar di ruang makan yang luas dengan tatapan yang semakin menajam. Semua mata tertuju pada Leon. Lalu pada Rosella yang berdiri kaku, wajahnya pucat, tangan mengepal erat di sisi tubuhnya. Nafasnya juga memburu. Dadanya naik turun dengan cepat bukan karena takut. Melainkan karena amarah yang sudah mencapai puncaknya. Dia sudah berusaha. Dia sudah mencoba dengan segenap kemampuannya. Sementara Leon membuangnya seperti sampah. Di depan semua orang. Lucas berdiri, mencoba meredakan situasi. "Kak, jangan begitu." "Diam, Lucas!" potong Leon tanpa mengalihkan tatapan dari Rosella. "Ini bukan urusanmu!” Rosella mengangkat wajahnya, dan kali ini, dia tidak menunduk. Matanya menatap Leon dengan tatapan yang membara. Tatapan yang penuh amarah, kekecewaan, dan sesuatu yang membuat Leon terdiam sejenak. Apa itu? Air mata? Tidak! Rosella tidak menangis. Tapi matanya berkaca-kaca bukan karena sedih. Tapi karena marah. "Permisi, Tuan," ucapnya pelan, tapi setiap kata terdengar seperti pecahan kaca. "Saya akan membersihkan ini." Dia berjalan ke tempat sampah, mengambil piring yang baru saja dibuang Leon, lalu membersihkan sisa-sisa makanan yang berceceran. Tangannya gemetar. Tapi dia tidak menangis. Tidak di depan Leon. Leon menatapnya dari kejauhan, ada sesuatu yang aneh menggelitik dadanya. Sesuatu yang membuatnya tidak nyaman. Kenapa dia tidak melawan? Kenapa dia tidak bersikap seperti kemarin? Justru diamnya Rosella kali ini lebih mengganggu. Lucas menghampiri Leon, berbisik pelan, "Kak, kamu keterlaluan." Leon tidak menjawab. Dia hanya berbalik dan keluar dari ruang makan meninggalkan sarapan yang belum tersentuh. Di dapur, Rosella berdiri sendirian sambil mencuci piring. Air mengalir, tapi tangannya berhenti bergerak. Nafasnya tercekat sehingga dia kesulitan bernafas. Lalu akhirnya, air mata yang ditahannya merembes juga. Bukan karena sakit hati tapi karena lelah. Lelah diperlakukan seperti bukan manusia. Lelah harus terus menunduk. Lelah harus tersenyum meski dihina. Sampai kapan? Dia menggigit bibirnya, menahan isak tangis yang hampir keluar. “Ibu, aku ingin pulang….”Mendengar perdebatan seputar undian malam pertama di depan altar, Tuan dan Nyonya Besar Toretto hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau ketiga putra kebanggaan Toretto yang biasanya dingin, kaku, dan disegani di luar sana, bisa menjadi begitu tidak waras dan kekanak-kanakan hanya demi memperebutkan satu wanita."Mommy benar-benar tidak habis pikir dengan kalian bertiga," ucap Nyonya Toretto sembari tertawa kecil, melangkah mendekat untuk merangkul pundak Rosella dengan penuh kasih sayang. "Tapi melihat kalian sekompak ini demi menjaga Rosella, Mommy ikhlas. Mulai hari ini, kamu adalah putri kesayangan Mommy, Rose. Jika ketiga pria ini macam-macam, adukan saja pada Mommy.""Daddy juga akan memastikan tidak ada yang berani membuatmu menangis lagi di mansion ini, Rose," timpal Tuan Besar Toretto dengan senyuman hangat, sebuah pemandangan langka yang membuat Leon, Adrian, dan Lucas tersenyum lega. Rosella kini benar-benar disayang oleh seluruh anggota k
Pekikan itu membuat pelukan erat di depan altar seketika terlepas. Rosella, trio Toretto, serta keluarga Anderson serentak menoleh ke arah pintu kapel. Di sana, Tuan dan Nyonya Besar Toretto berdiri tegap, menatap lurus ke arah altar dengan gurat penyesalan yang tersirat jelas di wajah mereka yang biasanya angkuh.Melihat kehadiran kedua orang tuanya, Leon langsung menggeser tubuhnya, berdiri pasang badan paling depan guna melindungi Rosella di balik punggung tegapnya. Sorot mata sang CEO seketika berubah sedingin es, mengingat bagaimana masa lalu kedua orang tuanya yang menentang keras hubungan mereka hanya karena status sosial Rosella yang saat itu merupakan pelayan di mansion ini."Mau apa lagi Daddy dan Mommy ke sini?" tanya Leon dengan nada suara rendah yang sarat akan peringatan. "Jika kalian datang untuk mengacaukan pernikahan ini seperti dulu, silakan angkat kaki dari wilayahku."Adrian membenarkan letak kacamatanya dengan dingin, sementara Lucas melangkah maju, ikut mengun
"Lalu bagaimana ini?" tanya Robin dengan nada frustrasi, menatap ruang kerja yang mendadak diselimuti keheningan berat.Leon mengetukkan jarinya di atas meja, matanya berkilat tajam sebelum akhirnya dia menyeringai tipis. "Jika kalian semua bingung, maka biar aku yang mengambil jalan tengah. Kita tidak akan mengorbankan perasaan dua orang di antara kami demi selembar kertas legalitas."Tuan Anderson mengernyitkan alis. "Maksud Anda, Tuan Leon?""Secara hukum negara ini, namaku yang akan tertulis di buku nikah sebagai kepala keluarga demi meredam rumor publik dan mengamankan status anak kami," ucap Leon. "Namun, di hadapan hukum Tuhan dan keluarga Anderson maupun Toretto, Adrian dan Lucas memiliki hak yang sama denganku. Kami bertiga akan tetap mengucapkan janji suci di hadapan kalian secara privat."Adrian dan Lucas saling pandang, lalu mengangguk setuju. Itu adalah satu-satunya cara agar tidak ada yang merasa tersisih."Gila... kalian benar-benar di luar nalar," gumam Robin, wa
Hari-hari berikutnya di mansion Toretto berubah menjadi ajang pembuktian tak kasatmata. Tuan dan Nyonya Anderson, serta Robin yang awalnya menaruh curiga luar biasa, kini hanya bisa tertegun menyaksikan bagaimana putri mereka diperlakukan. Rosella tidak sekadar dirawat, dia diagungkan layaknya seorang putri kerajaan.Sebagai seorang dokter, Lucas mengambil alih penuh dapur mansion. Setiap pagi, dia sendiri yang memeriksa kalori, vitamin, dan memastikan gizi Rosella terpenuhi tanpa cela. Tidak boleh ada bahan pengawet, dan semua makanan harus organik.Sementara itu, Adrian yang biasanya kaku, mendadak memenuhi kamar Rosella dengan puluhan buku referensi terbaik seputar kehamilan dan pola asuh anak. Setiap malam sebelum tidur, dengan suara baritonnya yang tenang, sang dosen akan membacakan artikel-artikel penting itu di samping Rosella yang mendengarkan dengan patuh.Namun yang paling membuat keluarga Anderson tercengang adalah Leon. Sang CEO menjadi pria super over-protektif. Karen
Kata-kata mutlak dari Leon mengunci perdebatan internal mereka. Adrian dan Lucas terdiam, memendam ego masing-masing demi kesepakatan bahwa anak itu adalah darah Toretto.Namun, keheningan di kamar mewah itu tidak bertahan lama. Di sudut ruangan, Ibu Rosella yang sejak tadi menahan tangis akhirnya melangkah maju dengan tubuh gemetar, didampingi oleh Tuan Anderson dan Robin yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah."Tiga ayah?!" Robin mendesis, suaranya naik satu oktav karena tidak bisa lagi membendung rasa muak. Dia menunjuk Leon, Adrian, dan Lucas bergantian. "Kalian benar-benar sakit! Adikku bukan mainan yang bisa kalian gilir dan kalian klaim anaknya sesuka hati!"Tuan Anderson pun ikut melangkah maju, wibawa seorang kepala keluarga Anderson memancar kuat. "Tuan Leon, kami menghormati posisi Anda sebagai kepala keluarga Toretto. Tapi ini sudah di luar batas! Rosella adalah putri kami. Kehamilannya justru membuktikan bahwa berada di sini tidak aman untuk masa depannya. Kam
Kepanikan yang mencekam seketika meledak di ruangan itu. Saat Rosella masih terisak pasrah di tengah kepungan dua keluarga, tiba-tiba pandangannya menggelap dan tubuh mungilnya langsung limbung."Rose!" teriak mereka semua gempar.Sebelum tubuh Rosella menghantam lantai marmer yang dingin, Leon dengan gerakan secepat kilat langsung menyambar dan mendekap tubuh lemas wanitanya. Wajah pucat Rosella dengan mata yang tertutup rapat membuat napas Leon seketika tercekat. Tanpa menunggu sedetik pun, Leon langsung menggendong Rosella dengan protektif, membawanya berlari menaiki tangga menuju kamar utama di lantai atas.Adrian, Lucas, dan keluarga Anderson yang dilanda kepanikan luar biasa langsung bergegas mengikuti dari belakang. Begitu tubuh Rosella dibaringkan di atas ranjang king size, suasana kamar berubah menjadi sangat tegang.Lucas yang biasanya selalu tenang dan profesional, kini malah mondar mandir tanpa memeriksa Rosella. "Lucas! Kamu kan dokter! Kenapa malah bengong begitu c







