LOGINMendengar pertanyaan yang di lontarkan Rafa, tatapan Kama malah makin menajam, ia siap mengiris iris Rafa menjadi bagian kecil.
Sedangkan Kila, kikuk. Entah jawaban apa yang harus ia lontarkan? Haruskan ia menceritakan pengalaman di ceraikan sehari setelah pernikahan? Oh tidak mungkin, tapi mengakui kalau ia adalah istri Kama? Tidak akan!"Kalau kamu sudah tau statusnya, lebih baik jaga jarak dari istriku."Kama dengan gagah menyingirkan Rafa, sedangkan Kila? Ia syok berat. Ia memDengan langkah cepat seperti ada mantra yang menghipnotis Kila, ia setengah berlari menuruni anak tangga dan melihat ke arah padang rumuput. Kama masih memacu kudanya, makin menjauh dan derap langkah kuda itu makin tidak terdengar di telinga. Tapi sosok Kama masih terekam jelas.Disana, pria dengan rambut yang hampir menyentuh kuping itu, tengah menunggang kuda dengan gagahnya, memacu kudanya dengan kecepatan angin. Menebas rerumputan di depanya, di siram dengan cahaya keemasan pagi hari. Tuhan seperti menciptakan Kama untuk ini. Kila masih mematung di sana, sampai akhirnya Kama memutar kembali kudanya. Ia kembali memacu kudanya ke arah pondok kayu.Tak selang lama, Kama memacu kuda melewati Kila. Angin yang dihasilkan begitu kuat hingga rambut Kila buyar karenanya.Kila memutar badan, dengan sigap Kama berhenti di depan pondok. Tepat di depan Raga dan turun dari kuda tanpa kendala. Ia mengusap punggung kuda itu, seolah sudah terkoneksi olehnya."Sudah pamernya?" Tanya Kama dengan nad
Mendengar pertanyaan yang di lontarkan Rafa, tatapan Kama malah makin menajam, ia siap mengiris iris Rafa menjadi bagian kecil.Sedangkan Kila, kikuk. Entah jawaban apa yang harus ia lontarkan? Haruskan ia menceritakan pengalaman di ceraikan sehari setelah pernikahan? Oh tidak mungkin, tapi mengakui kalau ia adalah istri Kama? Tidak akan!"Kalau kamu sudah tau statusnya, lebih baik jaga jarak dari istriku."Kama dengan gagah menyingirkan Rafa, sedangkan Kila? Ia syok berat. Ia memutar otak begitu keras untuk mencari jawaban statusnya. Janda atau istri Kama? Tapi Kama malah dengan mudahnya mengakui kalau ia masih berstatus suami istri.Sepertinya, isi otak Kama memang rahasia.Rafa sendiri yang baru pertama kali melihat reaksi Kama, hanya bisa menahan tawa. Untung saja suasana yang remang - remang itu sedikit membantu menutupi senyum Rafa."Kamu, masuk ke dalam sana dan temani sahabatmu itu." Kama memerintahkan Kila untuk masuk, ia tidak ingin Kila berlama - l
Kila tertunduk sembari tersedu.“Berhenti menangis, aku tidak suka melihat orang menangis.”“Aku tidak bisa berhenti, air mataku jatuh begitu saja. Aku bahkan tidak bisa mengontrolnya.”Kama membiarkan Kila menangis, hal buruk telah terjadi, bahkan tak perlu Kila cari tahu. Kama sudah mengetahui banyak hal buruk yang terjadi diantara mereka jauh dari ini. Hanya saja Kama adalah laki - laki, ia bisa menahan banyak rasa sakit dan penderitaan dengan tetap menunjukan wajah tanpa perasaan. Sedangkan Kila? Dia hanya wanita lemah yang mudah tersentuh hatinya karena banyak hal. Kama bangkit, ia berdiri di hadapan Kila. Kama mengulurkan tangannya, mengusap pundak dan berhanti mengusap ujung kepala Kila, meski gerakannya kaku, karena Kama tidak biasa menenangkan orang yang menangis, tapi itu cukup membantu.“Berhenti menangis,” perintah Kama.Kila menggelengkan kepalanya, ia malah mengubur diri pada Kama. “Kama, aku dengar dari Raga ada yang butuh di obati.”Seorang pria muda berdiri di am
Cukup lama Kila dan Kama menunggu kedatangan Raga, mungkin dua puluh menit. Tapi Kama yakin, Raga sudah memacu motornya melebihi batas. “Bantu aku membawa gadis ini ke markas.” perintah Kama.Raga mematung di tempat, “Markas? Apa tidak berbahaya?” tanya Raga, mencoba untuk berhati - hati.Kama menggeleng, “Dia teman Kila, dia tidak akan berbahaya untuk siapapun,” ucap Kama. Ia membantu Raga mengangkat tubuh TIara ke motor, sebelumnya Kama sudah memerintahkan Raga untuk membawa motor dengan gerobag yang sudah di modifikasi. Motor itu yang sering di gunakan untuk mengangkut hasil kebun, dan motor itu tidak bisa melaju terlalu kencang. Melihat kondisi knalpot yang mengeluarkan asap, Kama tau kalau Raga sudah mengebut dan memaki - maki kecepatan motor itu seperti siput.“Bawa dia ke markas dan minta orang kita untuk memeriksa dan mengobati lukanya.” perintah Kama, ia menutupi tubuh TIara dengan karung dan beberapa rerumputan yang Raga ambil untuk memberi makan kuda. “Ayo, aku antar kam
“Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet dia. Siapa dia memangnya? Bosku?” Kila masih mengeluarkan banyak protes. Bahkan kedatangan Kama tanpa diminta, kenapa malah ia menekan Kila untuk bekerja cepat? Kila hampir selesai membereskan etalase, ia juga sudah mematikan oven, membersihkan semua loyang kue yang kotor setelah di pakai. Setelahnya, Kila tinggal melakukan jurnal penjualan, melaporkan hasil penjualan hari ini pada Akong serta menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara itu, Kila melihat Kama yang duduk di kursi yang di duduki Adimas sebelumnya. Ia tak mau celotelan menyebalkan dari mulut Kama, mempengaruhi moodnya hari ini. Kila menarik nafas panjang, memperluas rasa sabarnya. Mendinginkan otaknya dan mulai berpikir log
Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Kama, Raga membawa motor dengan banyak pertimbangan. Tidak terlalu pelan, tapi juga tidak mengebut. “Kenapa Kama repot - repot meminta kamu untuk mengantarku?” tanya Kila.Suara angin memecah suaranya, Kila kira Raga tidak mengendar pertanyaanya. Tapi rupanya ia salah, meski telinga Raga tertutup helm. Rupanya laki - laki ini memiliki pendengaran super.“Tentu saja aku harus menjaga burung gereja kecil selamat sampai tujuan.”Kila mengerutkan kening hingga alisnya bertaut.“Aku manusia.” bela Kila. Enak saja, ia di samakan dengan burung gereja.Raga mengangkat bahunya enteng, “Tentu saja, burung gereja hanya sebuah kiasan.”“Kenapa Kama harus repot - repot menyuruh kamu mengantarku?” tanya Ki
"Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya re
Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan peker







