Share

5

Author: Elios
last update Last Updated: 2025-12-07 22:24:12

Paman Kila punya banyak sekali usaha. Tapi tidak di kota ini, Paman Zainal memiliki beberapa pabrik di luar kota, lebih tepatnya pabrik pengolahan kayu. Paman Zainal harus menggunakan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan mengendarai mobil selama kurang lebih dua jam. BIasanya Paman Zainal akan melakukan pengecekan di pabrik setiap sebulan atau dua bulan sekali. Dan tibalah hari ini, bersama Kemala dengan rencana liburannya.

“Katakan kepada Bibi, kalau Paman mungkin akan pulang seminggu lagi.” pesan Paman Zainal pada Kila.

Kila mengangguk paham, ia melihat Kemala yang sudah heboh dengan barang - barangnya.

“Paman sudah minta seseorang untuk menjemput kamu nanti, jangan pulang terlalu malam. Melewati perbukitan di malam hari itu tidak aman.” pesan Paman Zainal lagi, guna memastikan keselamatan keponakannya itu.

“Tidak perlu Paman, aku bisa pulang dengan mobil orang - orang desa. Mereka pasti banyak yang pulang dari pasar.” Kila menolak .

Meskipun Kila menolak, rupanya Paman Zainal nampak tidak setuju.

“Pulang dengan mobil pick up maskud kamu?”

Kila mengangguk, tepat.

“Dengan barang barang dagangan yang diangkut?”

Kila kembali mengangguk, toh ia memang biasa menggunakan mobil pick up untuk pulang ke rumah selepas dari kota, kalau BIbinya melihat Kila menggunakan mobil carter, mungkin ia akan di cap pemboros dan membuang buang duit suaiminya. Tapi apa Bibi AIni tidak melihat Kemala dan Karin? Lihatlah... Kemala bahkan masih bisa berlibur saat kuliahnya sudah hampir semester sebelas.

“Aku tidak apa - apa, banyak orang desa yang wara - wiri ke kota dengan mobil seperti itu dan mereka aman - aman saja.” ujar Kila menenangkan pamannya.

“Membiarkan kamu naik mobil tanpa sabuk pengaman saja sudah haram hukumnya, apalagi membiarkan kamu diangkut seperti ternak warga. Tidak bisa, ini memalukan. Kamu harus pulang dengan orang yang sudah Paman minta untuk mengantar kamu.”

Kila tersenyum kecut, sepertinya ia memang tidak bisa membantah keputusan Pamannya kali ini.

“Baiklah... aku akan ikut pulang dengan orang yang Paman minta,” Kila mengalah.

“Bagus, dia akan menunggu setelah kamu menyelesaikan kursusmu.”

Kila mengangguk, sembari tangan Paman Zainal terulur padanya.

“Ambil ini untuk pegangan, belilah beberapa baju baru untukmu sendiri dan berhenti memakai pakaian bekas sepupu - sepupumu.”

Kila menerima uang dari Pamannya, ia mengagguk berterima kasih, “Terima kasih, Paman baik sekali.”

Ingin rasanya Kila menangis saat itu juga, kalau saja Bibinya dan kedua sepupunya bisa menerimanya dan memperlakukannya dengan baik. Mungkin Kila tidak merasa tertekan seperti ini.

“Paman berangkat dulu.” Paman Zainal berpamitan, ia berjalan ke kapal dan Kila tak perlu meunggu lama untuk melihat kapal itu berlayar.

***

***

Kila memang menolak tawaran Pamannya untuk melanjutkan kuliahnya, tapi Pamannya tentu tidak habis akal untuk membujuk Kila melakukan banyak hal yang disukainya. Salah satunya adalah membuat kue.

Dan Paman Zainal begitu gigih, membujuk Kila untuk ikut belajar membuat kue di toko kue langganan mereka di kota. Dan ini adalah toko kue satu - satunya di kota yang bisa membuat kue hias seperti cake ulang tahun.

Kegigihan dan kedekatan Paman Zainal dengan si pemilik toko, membuat Kila diperbolehkan untuk belajar membuat kue di sana. Si pemilik toko adalah peranakan cina yang sudah turun temurun meneruskan usaha keluarga. Paman Zainal adalah pemasok telur utama untuk toko kue ini.

Jarak toko kue dari pelabuhan tidaklah terlalu jauh. Hanya sepuluh menit jalan kaki.

Jadi, Kila memutuskan untuk berjalan kaki dengan santai.

Tidak jauh dengan pelabuhan, ada tempat pelelangan ikan. Semua nelayan berkumpul di sana, melakukan tranksaksi jual beli. Menjual ikan segar hasil tangkapan mereka semalaman dan membawa pulang beras untuk keluarga tercinta di rumah.

Tak ayal, ketika angin laut sedang tidak bersahabata. Beberapa diantaranya tetap nekat untuk meluat, dan sisanya memilih untuk menjadi kuli serampangan.

Setelah berjalan cukup lama, Kila akhirnya sampai.

Kini Kila berdiri di depan bangunan dua lantai, meskipun dua lantai. Toko kue ini cukup mungil, karena di samping kanan kirinya sudah diapit oleh bangunan toko lain. Meski begitu, ini adalah tempat oleh - oleh satu - satunya di kota ini. Entah kenapa, dari sepinya kota ini, toko ini tetap bertahan tak di makan usia. Bahkan usianya hampir enam puluh tahun. Di jalankan oleh generasi ketiga.

“Siang Kila,” sapa seorang perempuan berambut keriwil dengan manis.

Kila tersenyum dengan sambutan itu, “Siang Tari, apa yang sedang kamu buat itu?” tanya Kila pada temannya. Namanya Betari, lebih akrab dipanggil Tari. Ia adalah satu dari dua pegawai toko. Tari sendiri adalah orang yang memegang kendali di dapur. Sedangkan satu pegawai lagi memegang kasir dan mengurus etalase toko.

Tari mengikat rambut keriwilnya itu dengan kencang, kedua tanganya sudah memakai sarung tangan latex agar tidak kotor, tanganya sudah memegang banyak sekali hiasan.

“Aku membuat kue blackforest, pesanan untuk ulang tahun seseorang.” ujar Tari memberi tahu.

Kue blackforest itu mungkin adalah pesanan paling besar yang pernah Kila lihat sampai saat ini, mata Kila langsung takjub.

“Sepertinya seseorang akan merayakan ulang tahunya secara besar - besaran,” gumam Kila yang dijawab dengan anggukan kepala Tari.

“Siapa yang memesan?” tanya Kila, penasaran juga akhirnya.

“Seseorang, perempuan yang belum pernah aku temui sebelumnya. Pelanggan baru, tapi aku tidak tau dia berasal dari mana. Logatnya bukan orang desa seperti kita.” jelas Tari.

Kila mengangguk, melihat hiasan kue yang dihias dengan apik, “Boleh aku bantu?” Kila menawarkan bantuan.

Tari langsung tersenyum dan melepaskan sarung tangan latexnya, “Tentu saja, sementara itu. Aku akan melanjutkan memanggang beberapa brownies untuk pesanan sore nanti.”

Tari menepuk bahu Kila sembari beranjak ke arah meja dapur, menimbang bahan - bahan dengan akurat.

Kila asik menghias kue blackforest itu dengan banyak sekali dekorasi, hingga tiba saatnya ia menuliskan nama si pemilik kue yang berulangtahun itu.

“Ehm.. Tari, nama siapa yang harus aku tulis di sini... “ Kila berbalik badan dan melihat ke arah Tari.

Tari menghentikan aktivitasnya, yang sebelumnya tengah mengaduk adonan. Tangan kananya merogok saku celananya, memberikan kertas catatan yang diberikan pelanggan wanita itu padanya.

Kila segera menerima catatan itu dari tari, membukanya dan membacanya pelan.

Blackforest ukuran empat puluh sentimeter, hiasan cokelat, bertulisan selamat ulang tahun Kama.

Mata Kila tidak salah lihat kan?

***

***

Sisa hari Kila dihabiskan untuk membuat beberapa loyang kue kacang, meskipun kue kacang termasuk kue jadul. Tapi proses pembuatanya benar - benar memakan waktu. Apalagi waktu pemanggangan, memakan waktu hampir satu jam agar kue kacang tetap renyah dan gurih.

“Satu jam lagi toko akan tutup,” Ucap Tari yang tengah membungkus kue kacang dengan plastik satuan.

“Lantas?” tanya Kila, tidak biasanya Tari nampak gelisah.

Kila mendongakan kepala, melihat Tari yang menghela nafas berat. “Ada masalah?” tanya Kila.

“Ada, adikku sedang sakit. Dan tidak ada yang menemaninya.”

Kila mengerjapkan matanya, Tari seorang diri. Ibunya sudah meninggal enam tahun yang lalu meninggalkannya bersama adiknya yang kini berusia sepuluh tahun. Semenjak kepergian ibunya, Tari adalah sosok pengganti yang harus diandalkan. Mulai dari bebenah rumah, memasak dan sekarang ia membantu ayahnya yang juga seorang nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Tari dan Kila tinggal jauh di pisahkan oleh bukit.

“Ayahku baru berangkat melaut semalam, ia juga tidak tega meninggalkan adiku saat sakit begini... “ jelas Tari. Wajahnya kini kusut, meinilik cuaca yang tidak bersahabat. Ombak yang bisa mencapai sepuluh meter. Laut yang tidak bisa di kendalikan oleh manusia. Tapi Tari tau, ayahnya bukanlah seorang penakut apalagi pengecut. Mungkin hanya Dewa Laut yang tidak takut di gulung ombak dan juga ayah Tari. Di saat nelayan lain memilih untuk mencari mata pencaharian lain sembari menunggu cuaca dan angin laut bersahabat. Ayah Tari melihat ini sebagai peluang, karena makin sedikit nelayan yang melaut, makin sedikit pula harga persaingan pasar.

“Adikmu sakit apa?” tanya Kila.

“Dia demam, tapi sebelumnya ayah sudah memanggil seorang mantri untuk memeriksa adiku. Dia bilang memang sedang musim demam. Tapi adikku ini menggigil KIla, tiap malam ia merasa kedinginan seperti sedang berada di kutub es saja... “ Tari menceritakan keadaan adiknya dengan wajah yang sangat khawatir.

“Wajahnya membiru Kila,” ucap Tari dengan ekspresi ngeri, “Aku sampai ketakutan, aku kira adiku sudah tidak bernyawa... “

Kila mengusap bahu Tari, berusaha memberikan semangat agar sahabatnya itu tegar. Namun rupanya, ketegaran Tari sudah habis. Gadis itu tertunduk dan air mata menetes begitu saja.

“Aku harap, adiku sudah membaik. Aku tidak tega meninggalkan dia sendirian di rumah, tapi aku juga tidak punya pilihan. Aku harus bekerja dan ayahku juga demikian agar bisa membawa adiku itu ke rumah sakit.”

Kila menghela nafas, rumah sakit? Dipulau ini tidak ada rumah sakit. Yang maknanya, Tari harus ke pulau sebrang yang jauh lebih maju dan padat penduduk. Itu pasti memakan biaya yang sangat mahal untuk kapal dan juga rumah sakit. Tak heran kalau ayah Tari harus nekat menerjang ombak.

“Kamu mau pulang dulu? Biar aku yang menutup toko. Paman Zainal sudah meminta seseorang untuk menjemputku, jadi aku tidak apa - apa jika kamu tinggalkan.... “

Tawaran Kila memberikan kelegaan tersendiri untuk Tari, akhirnya ia bisa pulang lebih cepat dan melihat keadaan adiknya, “Terima kasih Kila... “ucap Tari dengan penuh syukur.

Kila menganggukan kepala pelan, “Sama - sama, jangan lupa membeli bahan makanan dulu. Dan buatkan masakan untuk adikmu nanti.”

Tari mengangguk paham, ia bangkit dan melepas celemek. “Aku siap - siap dulu,” ujar Tari sembari bergegegas, Tari memberikan kunci toko pada Kila.

“Tolong datang lagi ke sini besok pagi untuk membuka toko, aku janji besok pagi pagi sekali aku sudah ada di sini.”

Kila menerima uluran kuci dari Tari, “Tenang saja... “ ucap KIla menenangkan. Dibalas dengan senyuman oleh Tari.

***

***

Tak selang beberapa lama, Tari sudah pergi. Menyisakan Kila yang sendirian di toko, menyelesaikan dua loyang kue kacang masih harus di panggang. Kila memang cekatan, meskipun tidak ada Tari yang membantunya, ia tak kewalahan menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus.

Seperti sekarang ini, sembari menunggu kue yang di panggangnya matang, KIla membersihkan toko. Menyapu dan mengepel sembari membereskan etalase. Ia juga sudah mengecek beberapa roti yang hampir kadaluarsa dan mengganti dengan roti yang baru di etalase.

Roti yang hampir kadaluarsa biasanya tidak di buang begitu saja karena masih layak di konsumsi tapi tidak layak di jual, maka dari itu pemilik toko kadang membagi - bagikan roti itu sebelum masa kadaluarsa pada orang - orang yang membutuhkan.

Langit sudah menjingga, Kila menghela nafas panjang. Pekerjaanya kini telah selesai, ia tinggal menunggu orang yang diminta Paman Zainal untuk menjemputnya. Tapi sepertinya Kila melupakan sesuatu. Dahi Kila berkerut, tanda ia tengah berpikir keras. Mencoba mengingat apa yang ia lupakan... dan tetap saja, ia tak bisa mengingatnya dengan baik.

“Padahal aku belum menua, tapi kenapa aku sudah mengidap penyakit orang tua, dasar pikun... “ kutuk Kila pada dirinya sendiri.

Kila mondar mandir, mengecek kompor, oven dan masih banyak lagi. Memastikan ia tidak melewatkan sesuatu.

“Nona.... “

Seseorang masuk, refleks, Kila membalikan badan. Siapa di sana? Laki - laki yang tidak asing, Kila mengenalnya... ah tidak mungkin?

“Aku ke sini untuk menjemput kamu pulang,” ucap pria tinggi itu.

“Atas?” tanya Kila dengan kening berkerut.

Laki - laki itu adalah anak buah Kama yang mengantarkannya tempo hari.

“Pamanmu, Paman Zainal.” ucap pria itu.

Kila mengangguk, ia bahkan tak tau kapan tepatnya, Pamannya memiliki hubungan baik dengan Kama dan anak buahnya. Bahkan pernikahannya dengan Kama, pernikahan singkat tepatnya. Adalah bukti kalau Kila tidak tau menau hubungan apa yang dimiliki Pamannya dengan Kama.

“Oke, tunggu aku sebentar.” ucap Kila, ia tak mau tau hubungan apa diantara mereka tepatnya, yang Kila inginkan adalah cepat pulang. Secepatnya kalau bisa.

“Baik, aku tunggu diluar kalau begitu.”

Seperti yang diucapkannya, laki - laki itu benar berjalan keluar. Berdiri di dekat pintu kaca, dari dalam toko Kila dapat melihat punggung kekarnya. Ah laki - laki itu? Dan Kama tentunya, adalah pemilih bahu paling kekar, dan dada Kama... adalah dada paling bidang yang pernah Kila lihat.

Kila memukul kepalanya sendiri, kesal dengan isi otaknya yang tiba - tiba diluar kendali.

“Ah sudah gila rupanya aku ini.” ucap Kila dengan kesal, bisa - bisanya di situasi seperti ini ia malah membayangkan tubuh Kama. Sial, tubuh Kama memang mempesona para gadis yang melihatnya, pastinya begitu.

Kila melepas celemek, memasukannya ke dalam loker yang sudah di sediakan, di dalamnya juga terdapat celemek milik Tari. Kila yang menaruhnya di sana.

Kila mengambil tas dan menyelempangkannya, KIla berjalan keluar lima langkah sebelum pintu keluar, Kila melihat mobil sedan mengkilat yang berhenti di depan toko. Mobil yang belum pernah Kila lihat sebelumnya.

Seorang wanita berambut panjang bergelombang yang di tata sangat rapi dan apik, Kila yakin tatanan rambut itu dirias di salon - salon mahal. Kemala dan Karin pernah menunjukan foto mereka yang baru mendatangi salon terkenal di ibu kota. Karin dan Kemala di marahi habis - habisan oleh Paman Zainal karena membuang - buang uang hampir sepuluh juta rupiah untuk mengeritingkan rambut mereka.

Wanita berambut panjang itu mengenakan make up, tentu saja. Wanita cantik seperti in pasti pandai bersolek. Bibirnya dipoles warna merah menyala seperti darah, tapi anehnya, itu malah membuatnya terlihat sangat seksi, bajunya cukup ketat, dengan celana yang bertolak belakang, karena sangat gombrong.

Wanita itu berjalan memasuki toko tanpa ada rasa ragu, seperti sudah memasuki toko ini sebelumnya.

Dan saat berhadapan dengan Kila, ia terlihat sangat tinggi dengan tubuh semampai. Siapapun wanita yang melihatnya, akan terpana seperti Kila sekarang ini. Ini sempurna.

“Halo.” sapa wanita itu dengan senyum tipis, tapi tak ada keramahan di wajahnya.

“Halo.” tak sadar, suara Kila jadi gugup.

Wanita itu menilik jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangan kirinya. “Sepertinya ini sudah jam tutup, apa aku terlambat untuk mengambil pesanan kue miliku?” tanya wanita itu tanpa basa - bsai.

Kila mengembalikan kesadarannya, berhenti untuk kagum. “Kue?”

Wanita itu mengangguk, “Iya, aku memesan kue tadi pagi.” ucap wanita itu, tatapan matanya mengamati Kila dari atas ke bawah, “Tapi sepertinya aku tidak memesan ke kamu, aku memesan ke perempuan keriwil pagi tadi.”

Keriwil? Betari? Tari?

Entah kenapa Kila tidak suka cara perempuan itu menyebut Tari dengan keriwil. Ada makna merendahkan di balik ucapannya ditambah sikapnya yang sedikit... pongah? Kila tidak suka ini.

“Hanya ada satu pesanan kue, sebentar... “

Kila mengambil kertas pemberian Tari, isinya adalah permintaan ucapan yang ditulis di kue ulang tahun, dengan nama pembeli yang tertera di sana.

“Untuk Kama. Dipesan oleh Ratu.”

Perempuan itu tersenyum puas, benar. Ratu. Nama yang cocok dengan perwujudan wanita itu. Bak ratu.

“Sebentar, akan saya ambilkan.”

“Tidak masalah,” ucap Ratu.

Kila buru - buru membuka lemari pendingin, mengambil kue cokelat berukuran besar. Membungkusnya dengan kotak, memastikan kue itu terbungkus dengan apik. Kila cukup cekatan dalam mebungkus kue, tidak sampai dua menit. Ia sudah selesai.

“Ini... terima kasih sudah membeli kue di toko kami.” Kila tersenyum ramah, meski begitu, ia masih tak menyangka.

Ratu mengangkat kotak kue kemudian berbalik badan tanpa membalas ucapan Kila, ia melenggang dengan cantik?

Kila mengekori Ratu, ia berjalan di belakangnya persis. Dan berhenti di tengah pintu.

“Halo, Raga.” sapa Ratu pada laki - laki yang sejak tadi berdiri di depan toko, mengamati interaksi Kila dengna Ratu.

Raga. Akhirnya Kila tau nama laki - laki itu.

Raga tidak menyambut hangat sapaan Ratu. Ia hanya membalas dengan anggukan kepala. Ratu mengerucutkan bibirnya seolah mengejek Raga.

“Sampai bertemu nanti, di pesta.” ucap Ratu dengan suara menggoda. “Pastikan Kama tidak membuat alasan konyol untuk tidak menemuiku,” ujar Ratu dengan makna tersirat jelas, ia mengangkat kotak kue di tanganya, “Aku sudah sibuk mempersiapkan ulang tahunya.”

Ratu berjalan mendekati mobil, membuka pintu dan tak lama mobil langsung melaju begitu saja.

Kila langsung mengunci pintu toko, beberapa lampu di dalam toko dibiarkan tetap menyala.

“Tolong, antar aku pulang.” pinta Kila. Iya pura pura tidak mendengar obrolan Ratu dengan Raga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet dia. Siapa dia memangnya? Bosku?” Kila masih mengeluarkan banyak protes. Bahkan kedatangan Kama tanpa diminta, kenapa malah ia menekan Kila untuk bekerja cepat? Kila hampir selesai membereskan etalase, ia juga sudah mematikan oven, membersihkan semua loyang kue yang kotor setelah di pakai. Setelahnya, Kila tinggal melakukan jurnal penjualan, melaporkan hasil penjualan hari ini pada Akong serta menyerahkan uang hasil penjualan. Sementara itu, Kila melihat Kama yang duduk di kursi yang di duduki Adimas sebelumnya. Ia tak mau celotelan menyebalkan dari mulut Kama, mempengaruhi moodnya hari ini. Kila menarik nafas panjang, memperluas rasa sabarnya. Mendinginkan otaknya dan mulai berpikir log

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Kama, Raga membawa motor dengan banyak pertimbangan. Tidak terlalu pelan, tapi juga tidak mengebut. “Kenapa Kama repot - repot meminta kamu untuk mengantarku?” tanya Kila.Suara angin memecah suaranya, Kila kira Raga tidak mengendar pertanyaanya. Tapi rupanya ia salah, meski telinga Raga tertutup helm. Rupanya laki - laki ini memiliki pendengaran super.“Tentu saja aku harus menjaga burung gereja kecil selamat sampai tujuan.”Kila mengerutkan kening hingga alisnya bertaut.“Aku manusia.” bela Kila. Enak saja, ia di samakan dengan burung gereja.Raga mengangkat bahunya enteng, “Tentu saja, burung gereja hanya sebuah kiasan.”“Kenapa Kama harus repot - repot menyuruh kamu mengantarku?” tanya Ki

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya rembulan menerobos tiap dedaunan di sepanjang jalan. Tak pernah terbayang di benak Kila kalau ia akan duduk di bonceng oleh Kama.“Jam berapa sekarang?” tanya Kila, ia ingin sekali cepat pulang. Meski ini adalah pengalaman pertamanya di tengah - tengah hutan dengan pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan, tapi Kila tidak ingin mengambil resiko di amuk oleh Bibi Aini. “Masih punya banyak waktu untuk pulang, tunggu sebentar. Ada yang harus aku pastikan.” Kama menjawab dengan santai. Kila berdecak kesal, apa yang sebenarnya di tunggu oleh Kama? Sejak tadi ia hanya duduk sembari memandangi pepohonan, sesekali sorot matanya yang tajam seperti menembus kegelapan, masuk ke dalam hutan sa

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan pekerjaanya seperti biasa... Hari ini cukup ramai, mungkin karena cuaca yang cukup bersahabat. Cerah dan angin semilir membuat orang - orang betah jalan - jalan di luar. Apalagi duduk di tepi pantai menunggu petang. Menunggu senja, momen pergantian hari, orang bilang senja adalah sepuluh detik yang menakjubkan. Wujud kuasa Tuhan yang bisa mengubah bilah bilah cahaya keemasan, keindahan yang dikemas dalam waktu singkat di dunia yang fana ini. Golden hour. Orang luar menyebutnya. Warna jingga keemasan, merona, merekah di belahan bumi yang siap menyambut malam. Dan hanya dalam waktu kurang dari sepuluh detik, warna jingga itu menghilang. Berganti biru magis yang menggelap seiring waktu.Setiap ha

  • Tawanan Tuan Kama   7

    Sekarang sudah memasuki masa panen tebu. Kereta lori sudah sibuk mondar - mandir mengangkut hasil panen warga. Di pulau ini, ada satu pabrik gula terbesar dan satu - satunya. Di sanalah tebu - tebu itu akan di olah menjadi gula dan di perjual belikan dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Kama sendiri tidak pulang semalam, ia mengawasi para pekerja yang mondar - mandir sejak pagi. Jalur montit di pulau ini sudah ada sejak berpuluh - puluh tahun yang lalu, seorang Tuan tanah dari kota besar datang ke sini dan membeli sebagian besar tanah milik warga dan menanamnya dengan tebu dan hasil perkebunan lain. Tuan tanah itu juga membangun pabrik gula, memperkejakan warga sekitar. Meski begitu, Tuan tanah itu hanya berkunjung sekali dua kali dalam setahun, warga desa pun tidak tau dari mana aslinya Tuan tanah itu berasal. Selebihnya, hanya itu yang masyarakat tau tentang perkebunan, pabrik tebu dan jalur montit di pulai ini. Masyarakat yang sangat tradisional ini, tidaklah begitu penasaran

  • Tawanan Tuan Kama   6

    Rupanya yang Raga bawa untuk menjemput Kila adalah motor besar. “Ini, pakai helm dulu.” Raga mengulurkan helm di tanganya, ia sudah membawa dua helm. Kila sebelumnya tidak pernah memakai helm dalam segala perjalanan. Toh tidak akan ada yang menilang mereka, bahkan polisi tidak ada disini. “Sepertinya tidak perlu,” tolak Kila. “Demi keselamatan,” bantah Raga, ia memberikan helm, “Aku akan membawa motor ini dengan kecepatan penuh.” jelas Raga dengan tenang dan melenggan tenang, sementara Kila malah menelan ludahnya, ia tidak akan diajak untuk menemui ajal bukan? Tanpa babibu, Kila langsung mengenakan helmnya. Ia duduk setelah Raga menyalakan mesin. Duduk dengan sangat canggung, Kila tidak pernah berboncengan dengan laki - laki sebelumnya. “Tidak perlu pegangan kalau kikuk begini,” Raga mengenakan helmnya, rupanya ia bisa melihat wajah kaku Kila dari spion. Sial, Kila sangat malu. Untuk pertama kalinya, Kila dibonceng. Motor melaju pelan, tidak seperti yang Raga katakan sebelum

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status