Teilen

5

last update Zuletzt aktualisiert: 07.12.2025 22:24:12

Paman Kila punya banyak sekali usaha. Tapi tidak di kota ini, Paman Zainal memiliki beberapa pabrik di luar kota, lebih tepatnya pabrik pengolahan kayu. Paman Zainal harus menggunakan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan mengendarai mobil selama kurang lebih dua jam. BIasanya Paman Zainal akan melakukan pengecekan di pabrik setiap sebulan atau dua bulan sekali. Dan tibalah hari ini, bersama Kemala dengan rencana liburannya.

“Katakan kepada Bibi, kalau Paman mungkin akan pulang seminggu lagi.” pesan Paman Zainal pada Kila.

Kila mengangguk paham, ia melihat Kemala yang sudah heboh dengan barang - barangnya.

“Paman sudah minta seseorang untuk menjemput kamu nanti, jangan pulang terlalu malam. Melewati perbukitan di malam hari itu tidak aman.” pesan Paman Zainal lagi, guna memastikan keselamatan keponakannya itu.

“Tidak perlu Paman, aku bisa pulang dengan mobil orang - orang desa. Mereka pasti banyak yang pulang dari pasar.” Kila menolak .

Meskipun Kila menolak, rupanya Paman Zainal nampak tidak setuju.

“Pulang dengan mobil pick up maskud kamu?”

Kila mengangguk, tepat.

“Dengan barang barang dagangan yang diangkut?”

Kila kembali mengangguk, toh ia memang biasa menggunakan mobil pick up untuk pulang ke rumah selepas dari kota, kalau BIbinya melihat Kila menggunakan mobil carter, mungkin ia akan di cap pemboros dan membuang buang duit suaiminya. Tapi apa Bibi AIni tidak melihat Kemala dan Karin? Lihatlah... Kemala bahkan masih bisa berlibur saat kuliahnya sudah hampir semester sebelas.

“Aku tidak apa - apa, banyak orang desa yang wara - wiri ke kota dengan mobil seperti itu dan mereka aman - aman saja.” ujar Kila menenangkan pamannya.

“Membiarkan kamu naik mobil tanpa sabuk pengaman saja sudah haram hukumnya, apalagi membiarkan kamu diangkut seperti ternak warga. Tidak bisa, ini memalukan. Kamu harus pulang dengan orang yang sudah Paman minta untuk mengantar kamu.”

Kila tersenyum kecut, sepertinya ia memang tidak bisa membantah keputusan Pamannya kali ini.

“Baiklah... aku akan ikut pulang dengan orang yang Paman minta,” Kila mengalah.

“Bagus, dia akan menunggu setelah kamu menyelesaikan kursusmu.”

Kila mengangguk, sembari tangan Paman Zainal terulur padanya.

“Ambil ini untuk pegangan, belilah beberapa baju baru untukmu sendiri dan berhenti memakai pakaian bekas sepupu - sepupumu.”

Kila menerima uang dari Pamannya, ia mengagguk berterima kasih, “Terima kasih, Paman baik sekali.”

Ingin rasanya Kila menangis saat itu juga, kalau saja Bibinya dan kedua sepupunya bisa menerimanya dan memperlakukannya dengan baik. Mungkin Kila tidak merasa tertekan seperti ini.

“Paman berangkat dulu.” Paman Zainal berpamitan, ia berjalan ke kapal dan Kila tak perlu meunggu lama untuk melihat kapal itu berlayar.

***

***

Kila memang menolak tawaran Pamannya untuk melanjutkan kuliahnya, tapi Pamannya tentu tidak habis akal untuk membujuk Kila melakukan banyak hal yang disukainya. Salah satunya adalah membuat kue.

Dan Paman Zainal begitu gigih, membujuk Kila untuk ikut belajar membuat kue di toko kue langganan mereka di kota. Dan ini adalah toko kue satu - satunya di kota yang bisa membuat kue hias seperti cake ulang tahun.

Kegigihan dan kedekatan Paman Zainal dengan si pemilik toko, membuat Kila diperbolehkan untuk belajar membuat kue di sana. Si pemilik toko adalah peranakan cina yang sudah turun temurun meneruskan usaha keluarga. Paman Zainal adalah pemasok telur utama untuk toko kue ini.

Jarak toko kue dari pelabuhan tidaklah terlalu jauh. Hanya sepuluh menit jalan kaki.

Jadi, Kila memutuskan untuk berjalan kaki dengan santai.

Tidak jauh dengan pelabuhan, ada tempat pelelangan ikan. Semua nelayan berkumpul di sana, melakukan tranksaksi jual beli. Menjual ikan segar hasil tangkapan mereka semalaman dan membawa pulang beras untuk keluarga tercinta di rumah.

Tak ayal, ketika angin laut sedang tidak bersahabata. Beberapa diantaranya tetap nekat untuk meluat, dan sisanya memilih untuk menjadi kuli serampangan.

Setelah berjalan cukup lama, Kila akhirnya sampai.

Kini Kila berdiri di depan bangunan dua lantai, meskipun dua lantai. Toko kue ini cukup mungil, karena di samping kanan kirinya sudah diapit oleh bangunan toko lain. Meski begitu, ini adalah tempat oleh - oleh satu - satunya di kota ini. Entah kenapa, dari sepinya kota ini, toko ini tetap bertahan tak di makan usia. Bahkan usianya hampir enam puluh tahun. Di jalankan oleh generasi ketiga.

“Siang Kila,” sapa seorang perempuan berambut keriwil dengan manis.

Kila tersenyum dengan sambutan itu, “Siang Tari, apa yang sedang kamu buat itu?” tanya Kila pada temannya. Namanya Betari, lebih akrab dipanggil Tari. Ia adalah satu dari dua pegawai toko. Tari sendiri adalah orang yang memegang kendali di dapur. Sedangkan satu pegawai lagi memegang kasir dan mengurus etalase toko.

Tari mengikat rambut keriwilnya itu dengan kencang, kedua tanganya sudah memakai sarung tangan latex agar tidak kotor, tanganya sudah memegang banyak sekali hiasan.

“Aku membuat kue blackforest, pesanan untuk ulang tahun seseorang.” ujar Tari memberi tahu.

Kue blackforest itu mungkin adalah pesanan paling besar yang pernah Kila lihat sampai saat ini, mata Kila langsung takjub.

“Sepertinya seseorang akan merayakan ulang tahunya secara besar - besaran,” gumam Kila yang dijawab dengan anggukan kepala Tari.

“Siapa yang memesan?” tanya Kila, penasaran juga akhirnya.

“Seseorang, perempuan yang belum pernah aku temui sebelumnya. Pelanggan baru, tapi aku tidak tau dia berasal dari mana. Logatnya bukan orang desa seperti kita.” jelas Tari.

Kila mengangguk, melihat hiasan kue yang dihias dengan apik, “Boleh aku bantu?” Kila menawarkan bantuan.

Tari langsung tersenyum dan melepaskan sarung tangan latexnya, “Tentu saja, sementara itu. Aku akan melanjutkan memanggang beberapa brownies untuk pesanan sore nanti.”

Tari menepuk bahu Kila sembari beranjak ke arah meja dapur, menimbang bahan - bahan dengan akurat.

Kila asik menghias kue blackforest itu dengan banyak sekali dekorasi, hingga tiba saatnya ia menuliskan nama si pemilik kue yang berulangtahun itu.

“Ehm.. Tari, nama siapa yang harus aku tulis di sini... “ Kila berbalik badan dan melihat ke arah Tari.

Tari menghentikan aktivitasnya, yang sebelumnya tengah mengaduk adonan. Tangan kananya merogok saku celananya, memberikan kertas catatan yang diberikan pelanggan wanita itu padanya.

Kila segera menerima catatan itu dari tari, membukanya dan membacanya pelan.

Blackforest ukuran empat puluh sentimeter, hiasan cokelat, bertulisan selamat ulang tahun Kama.

Mata Kila tidak salah lihat kan?

***

***

Sisa hari Kila dihabiskan untuk membuat beberapa loyang kue kacang, meskipun kue kacang termasuk kue jadul. Tapi proses pembuatanya benar - benar memakan waktu. Apalagi waktu pemanggangan, memakan waktu hampir satu jam agar kue kacang tetap renyah dan gurih.

“Satu jam lagi toko akan tutup,” Ucap Tari yang tengah membungkus kue kacang dengan plastik satuan.

“Lantas?” tanya Kila, tidak biasanya Tari nampak gelisah.

Kila mendongakan kepala, melihat Tari yang menghela nafas berat. “Ada masalah?” tanya Kila.

“Ada, adikku sedang sakit. Dan tidak ada yang menemaninya.”

Kila mengerjapkan matanya, Tari seorang diri. Ibunya sudah meninggal enam tahun yang lalu meninggalkannya bersama adiknya yang kini berusia sepuluh tahun. Semenjak kepergian ibunya, Tari adalah sosok pengganti yang harus diandalkan. Mulai dari bebenah rumah, memasak dan sekarang ia membantu ayahnya yang juga seorang nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Tari dan Kila tinggal jauh di pisahkan oleh bukit.

“Ayahku baru berangkat melaut semalam, ia juga tidak tega meninggalkan adiku saat sakit begini... “ jelas Tari. Wajahnya kini kusut, meinilik cuaca yang tidak bersahabat. Ombak yang bisa mencapai sepuluh meter. Laut yang tidak bisa di kendalikan oleh manusia. Tapi Tari tau, ayahnya bukanlah seorang penakut apalagi pengecut. Mungkin hanya Dewa Laut yang tidak takut di gulung ombak dan juga ayah Tari. Di saat nelayan lain memilih untuk mencari mata pencaharian lain sembari menunggu cuaca dan angin laut bersahabat. Ayah Tari melihat ini sebagai peluang, karena makin sedikit nelayan yang melaut, makin sedikit pula harga persaingan pasar.

“Adikmu sakit apa?” tanya Kila.

“Dia demam, tapi sebelumnya ayah sudah memanggil seorang mantri untuk memeriksa adiku. Dia bilang memang sedang musim demam. Tapi adikku ini menggigil KIla, tiap malam ia merasa kedinginan seperti sedang berada di kutub es saja... “ Tari menceritakan keadaan adiknya dengan wajah yang sangat khawatir.

“Wajahnya membiru Kila,” ucap Tari dengan ekspresi ngeri, “Aku sampai ketakutan, aku kira adiku sudah tidak bernyawa... “

Kila mengusap bahu Tari, berusaha memberikan semangat agar sahabatnya itu tegar. Namun rupanya, ketegaran Tari sudah habis. Gadis itu tertunduk dan air mata menetes begitu saja.

“Aku harap, adiku sudah membaik. Aku tidak tega meninggalkan dia sendirian di rumah, tapi aku juga tidak punya pilihan. Aku harus bekerja dan ayahku juga demikian agar bisa membawa adiku itu ke rumah sakit.”

Kila menghela nafas, rumah sakit? Dipulau ini tidak ada rumah sakit. Yang maknanya, Tari harus ke pulau sebrang yang jauh lebih maju dan padat penduduk. Itu pasti memakan biaya yang sangat mahal untuk kapal dan juga rumah sakit. Tak heran kalau ayah Tari harus nekat menerjang ombak.

“Kamu mau pulang dulu? Biar aku yang menutup toko. Paman Zainal sudah meminta seseorang untuk menjemputku, jadi aku tidak apa - apa jika kamu tinggalkan.... “

Tawaran Kila memberikan kelegaan tersendiri untuk Tari, akhirnya ia bisa pulang lebih cepat dan melihat keadaan adiknya, “Terima kasih Kila... “ucap Tari dengan penuh syukur.

Kila menganggukan kepala pelan, “Sama - sama, jangan lupa membeli bahan makanan dulu. Dan buatkan masakan untuk adikmu nanti.”

Tari mengangguk paham, ia bangkit dan melepas celemek. “Aku siap - siap dulu,” ujar Tari sembari bergegegas, Tari memberikan kunci toko pada Kila.

“Tolong datang lagi ke sini besok pagi untuk membuka toko, aku janji besok pagi pagi sekali aku sudah ada di sini.”

Kila menerima uluran kuci dari Tari, “Tenang saja... “ ucap KIla menenangkan. Dibalas dengan senyuman oleh Tari.

***

***

Tak selang beberapa lama, Tari sudah pergi. Menyisakan Kila yang sendirian di toko, menyelesaikan dua loyang kue kacang masih harus di panggang. Kila memang cekatan, meskipun tidak ada Tari yang membantunya, ia tak kewalahan menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus.

Seperti sekarang ini, sembari menunggu kue yang di panggangnya matang, KIla membersihkan toko. Menyapu dan mengepel sembari membereskan etalase. Ia juga sudah mengecek beberapa roti yang hampir kadaluarsa dan mengganti dengan roti yang baru di etalase.

Roti yang hampir kadaluarsa biasanya tidak di buang begitu saja karena masih layak di konsumsi tapi tidak layak di jual, maka dari itu pemilik toko kadang membagi - bagikan roti itu sebelum masa kadaluarsa pada orang - orang yang membutuhkan.

Langit sudah menjingga, Kila menghela nafas panjang. Pekerjaanya kini telah selesai, ia tinggal menunggu orang yang diminta Paman Zainal untuk menjemputnya. Tapi sepertinya Kila melupakan sesuatu. Dahi Kila berkerut, tanda ia tengah berpikir keras. Mencoba mengingat apa yang ia lupakan... dan tetap saja, ia tak bisa mengingatnya dengan baik.

“Padahal aku belum menua, tapi kenapa aku sudah mengidap penyakit orang tua, dasar pikun... “ kutuk Kila pada dirinya sendiri.

Kila mondar mandir, mengecek kompor, oven dan masih banyak lagi. Memastikan ia tidak melewatkan sesuatu.

“Nona.... “

Seseorang masuk, refleks, Kila membalikan badan. Siapa di sana? Laki - laki yang tidak asing, Kila mengenalnya... ah tidak mungkin?

“Aku ke sini untuk menjemput kamu pulang,” ucap pria tinggi itu.

“Atas?” tanya Kila dengan kening berkerut.

Laki - laki itu adalah anak buah Kama yang mengantarkannya tempo hari.

“Pamanmu, Paman Zainal.” ucap pria itu.

Kila mengangguk, ia bahkan tak tau kapan tepatnya, Pamannya memiliki hubungan baik dengan Kama dan anak buahnya. Bahkan pernikahannya dengan Kama, pernikahan singkat tepatnya. Adalah bukti kalau Kila tidak tau menau hubungan apa yang dimiliki Pamannya dengan Kama.

“Oke, tunggu aku sebentar.” ucap Kila, ia tak mau tau hubungan apa diantara mereka tepatnya, yang Kila inginkan adalah cepat pulang. Secepatnya kalau bisa.

“Baik, aku tunggu diluar kalau begitu.”

Seperti yang diucapkannya, laki - laki itu benar berjalan keluar. Berdiri di dekat pintu kaca, dari dalam toko Kila dapat melihat punggung kekarnya. Ah laki - laki itu? Dan Kama tentunya, adalah pemilih bahu paling kekar, dan dada Kama... adalah dada paling bidang yang pernah Kila lihat.

Kila memukul kepalanya sendiri, kesal dengan isi otaknya yang tiba - tiba diluar kendali.

“Ah sudah gila rupanya aku ini.” ucap Kila dengan kesal, bisa - bisanya di situasi seperti ini ia malah membayangkan tubuh Kama. Sial, tubuh Kama memang mempesona para gadis yang melihatnya, pastinya begitu.

Kila melepas celemek, memasukannya ke dalam loker yang sudah di sediakan, di dalamnya juga terdapat celemek milik Tari. Kila yang menaruhnya di sana.

Kila mengambil tas dan menyelempangkannya, KIla berjalan keluar lima langkah sebelum pintu keluar, Kila melihat mobil sedan mengkilat yang berhenti di depan toko. Mobil yang belum pernah Kila lihat sebelumnya.

Seorang wanita berambut panjang bergelombang yang di tata sangat rapi dan apik, Kila yakin tatanan rambut itu dirias di salon - salon mahal. Kemala dan Karin pernah menunjukan foto mereka yang baru mendatangi salon terkenal di ibu kota. Karin dan Kemala di marahi habis - habisan oleh Paman Zainal karena membuang - buang uang hampir sepuluh juta rupiah untuk mengeritingkan rambut mereka.

Wanita berambut panjang itu mengenakan make up, tentu saja. Wanita cantik seperti in pasti pandai bersolek. Bibirnya dipoles warna merah menyala seperti darah, tapi anehnya, itu malah membuatnya terlihat sangat seksi, bajunya cukup ketat, dengan celana yang bertolak belakang, karena sangat gombrong.

Wanita itu berjalan memasuki toko tanpa ada rasa ragu, seperti sudah memasuki toko ini sebelumnya.

Dan saat berhadapan dengan Kila, ia terlihat sangat tinggi dengan tubuh semampai. Siapapun wanita yang melihatnya, akan terpana seperti Kila sekarang ini. Ini sempurna.

“Halo.” sapa wanita itu dengan senyum tipis, tapi tak ada keramahan di wajahnya.

“Halo.” tak sadar, suara Kila jadi gugup.

Wanita itu menilik jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangan kirinya. “Sepertinya ini sudah jam tutup, apa aku terlambat untuk mengambil pesanan kue miliku?” tanya wanita itu tanpa basa - bsai.

Kila mengembalikan kesadarannya, berhenti untuk kagum. “Kue?”

Wanita itu mengangguk, “Iya, aku memesan kue tadi pagi.” ucap wanita itu, tatapan matanya mengamati Kila dari atas ke bawah, “Tapi sepertinya aku tidak memesan ke kamu, aku memesan ke perempuan keriwil pagi tadi.”

Keriwil? Betari? Tari?

Entah kenapa Kila tidak suka cara perempuan itu menyebut Tari dengan keriwil. Ada makna merendahkan di balik ucapannya ditambah sikapnya yang sedikit... pongah? Kila tidak suka ini.

“Hanya ada satu pesanan kue, sebentar... “

Kila mengambil kertas pemberian Tari, isinya adalah permintaan ucapan yang ditulis di kue ulang tahun, dengan nama pembeli yang tertera di sana.

“Untuk Kama. Dipesan oleh Ratu.”

Perempuan itu tersenyum puas, benar. Ratu. Nama yang cocok dengan perwujudan wanita itu. Bak ratu.

“Sebentar, akan saya ambilkan.”

“Tidak masalah,” ucap Ratu.

Kila buru - buru membuka lemari pendingin, mengambil kue cokelat berukuran besar. Membungkusnya dengan kotak, memastikan kue itu terbungkus dengan apik. Kila cukup cekatan dalam mebungkus kue, tidak sampai dua menit. Ia sudah selesai.

“Ini... terima kasih sudah membeli kue di toko kami.” Kila tersenyum ramah, meski begitu, ia masih tak menyangka.

Ratu mengangkat kotak kue kemudian berbalik badan tanpa membalas ucapan Kila, ia melenggang dengan cantik?

Kila mengekori Ratu, ia berjalan di belakangnya persis. Dan berhenti di tengah pintu.

“Halo, Raga.” sapa Ratu pada laki - laki yang sejak tadi berdiri di depan toko, mengamati interaksi Kila dengna Ratu.

Raga. Akhirnya Kila tau nama laki - laki itu.

Raga tidak menyambut hangat sapaan Ratu. Ia hanya membalas dengan anggukan kepala. Ratu mengerucutkan bibirnya seolah mengejek Raga.

“Sampai bertemu nanti, di pesta.” ucap Ratu dengan suara menggoda. “Pastikan Kama tidak membuat alasan konyol untuk tidak menemuiku,” ujar Ratu dengan makna tersirat jelas, ia mengangkat kotak kue di tanganya, “Aku sudah sibuk mempersiapkan ulang tahunya.”

Ratu berjalan mendekati mobil, membuka pintu dan tak lama mobil langsung melaju begitu saja.

Kila langsung mengunci pintu toko, beberapa lampu di dalam toko dibiarkan tetap menyala.

“Tolong, antar aku pulang.” pinta Kila. Iya pura pura tidak mendengar obrolan Ratu dengan Raga.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Tawanan Tuan Kama   5

    Paman Kila punya banyak sekali usaha. Tapi tidak di kota ini, Paman Zainal memiliki beberapa pabrik di luar kota, lebih tepatnya pabrik pengolahan kayu. Paman Zainal harus menggunakan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan mengendarai mobil selama kurang lebih dua jam. BIasanya Paman Zainal akan melakukan pengecekan di pabrik setiap sebulan atau dua bulan sekali. Dan tibalah hari ini, bersama Kemala dengan rencana liburannya.“Katakan kepada Bibi, kalau Paman mungkin akan pulang seminggu lagi.” pesan Paman Zainal pada Kila.Kila mengangguk paham, ia melihat Kemala yang sudah heboh dengan barang - barangnya. “Paman sudah minta seseorang untuk menjemput kamu nanti, jangan pulang terlalu malam. Melewati perbukitan di malam hari itu tidak aman.” pesan Paman Zainal lagi, guna memastikan keselamatan keponakannya itu.“Tidak perlu Paman, aku bisa pulang dengan mobil orang - orang desa. Mereka pasti banyak yang pulang dari pasar.” Kila menolak .Meskipun Kila menolak, rupanya Paman Zainal n

  • Tawanan Tuan Kama   4

    Sementara itu di meja makan, Karin dan Kemala sudah duduk dengan manis di sana. Dengan piring yang sudah terisi dengan makanan. Dan juga Bibi Aini yang duduk berhadapan dengan kedua puterinya. Melihat kemunculan Kila, Kama dan ayah mereka. Karin dan Kemala sontak menganga dengan kompak. Keduanya sama - sama diserang keterkejutan. Serangan mendadak!Sementara itu, BIbi Aini yang memunggungi mereka bertiga. Tak tau apa yang membuat kedua puterinya itu terngaga sampai ia berbalik badan.Dan sama. Bibi Aini pun ternganga. “Kama?” ujar Karin dan Kemala secara berbarengan.Paman Zainal tak menggubris keterkejutan anak istrinya, ia berjalan di depan. Membiarkan Kila mau tak mau harus berdampingan dengan Kama. Kila dengan kikuk berjalan di samping Kama. Tinggi badan Kama dan Kila terlihat sangat jomplang disini.“Mari... Kila sudah memasak pagi sekali.” Paman Zainal menarik kursi untuk mempersilahkan Kama duduk. Kama akhirnya duduk. Sedangkan Paman Zainal menghampiri sisi meja yang lain,

  • Tawanan Tuan Kama   3

    Kila dengan cekatan memotong daun bawang menjadi ukuran kecil yang sama besarnya, ia juga memotong wortel dengan seukuran ibu jari. Kemudian Kila menyalakan kompor. Menuang sedikit minyak untuk menumis bawang bombay hingga layu, bersamaan dengan itu, Kila memasukan wortes. Menumisnya sebentar agar teksturnya tidak mudah ambyar saat di masak nanti. Setelah itu, Kila dengan sigap menuangkan air ke dalam panci masak tadi. Butuh waktu cukup lama untuk mendidihkan air yang nanti akan di masukan daging. Tak perlu menunggu air sampai mendidih, Kila sudah sibuk memasukan bumbu dan rempah rempat. Ia memasukan bunga lawang dan cengkeh ke dalam kantong masak berukuran kecil. Kantong itu nanti akan di masukan ke dalam air mendidih dan saat sop matang, akan di ambil supaya rempah itu tidak menggangu Tuan Puteri Karin saat menyeruput kuah sopnya.Kila memasukan garam, lada dan juga bubuk bawang putih. Kemudian mencicipi kuah racikannya. Kila mengangguk puas, ini akan membuat Tuan Puteri senang.

  • Tawanan Tuan Kama   2

    Kila terduduk lemas, ia tak bisa berpikir tenang. Pikirannya masih tertinggal di rumah Kama, dan sialnya Kila tidak bisa melenyapkan bayangan Kama dalam benaknya.“Siall..... “ geram Kila dengan kesal, ia masih saja memikirkan laki - laki berengsek seperti Kama. Tanpa sadar, Kila menangis. Ia tidak bisa menahan gejolak emosi yang membuat dadanya sesak.Kepala Kila tertunduk. Ia menangis sejadi jadinya. Rasa sakit di hatinya, tidak bisa tertahankan. Bahkan rasa sakit di pangkal pahanya masih terasa sakit sampai sekarang. Dan yang Kila tau, seorang Kama hanya meninggalkan luka di jiwa, dan tubuhnya. Kila menggertakan giginya, ia bersumpah. Dalam kebetulan manapun, ia tak ingin bertemu dengan laki - laki itu. Kama. *** ***Kila duduk di tepi ranjang, ini tidak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Seumur hidupnya ia tidak pernah menempati ruangan sebesar ini. Ruangan yang disediakan untuknya, begitu luas. Bahkan terlalu luas kalau hanya untuk di tinggali oleh Kila.Kila melihat sekel

  • Tawanan Tuan Kama   1

    Laki - laki di depan Kila ini memang brengsek. Bahkan saat mata Kila sudah memanas karena menahan air mata yang siap tumpah, Kama, nama laki - laki brengsek itu. Ia tidak peduli dengan Kila, bagaimanapun mereka telah melewatkan malam bersama. Sebagai seorang suami dan istri. Tapi sekarang?Kama bahkan tak bereaksi apa - apa dengan kesedihan di wajah Kila yang terang - terangan di perlihatkan oleh wanita itu.“Orang - orangku akan segera mengemasi barang - barangmu,” Kama berdiri sembari berlalu meninggalkan Kila.Kila tersentak, setelah menunggu kata - kata maaf atau ampunan, atau permohonan atau apapun itu... rupanya yang keluar dari mulut Kama, adalah kalimat berisi perintah untuk segera angkat kaki dari rumahnya.aKama tak berbalik badan sedikitpun, sedangkan KIla sudah siap berdiri. Siap untuk menginterupsi.“Kenapa? Kenapa Kama!” jerit Kila dengan pedihnya.“Kenapa kamu membuangku.... “ isak Kila dengan pedihnya, ia terhuyung dan segera mencari sandaran. Kila syok, tubuhnya bahka

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status