Share

5

Author: Elios
last update publish date: 2025-12-07 22:24:12

Paman Kila punya banyak sekali usaha. Tapi tidak di kota ini, Paman Zainal memiliki beberapa pabrik di luar kota, lebih tepatnya pabrik pengolahan kayu. Paman Zainal harus menggunakan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan mengendarai mobil selama kurang lebih dua jam. BIasanya Paman Zainal akan melakukan pengecekan di pabrik setiap sebulan atau dua bulan sekali. Dan tibalah hari ini, bersama Kemala dengan rencana liburannya.

“Katakan kepada Bibi, kalau Paman mungkin akan pulang seminggu lagi.” pesan Paman Zainal pada Kila.

Kila mengangguk paham, ia melihat Kemala yang sudah heboh dengan barang - barangnya.

“Paman sudah minta seseorang untuk menjemput kamu nanti, jangan pulang terlalu malam. Melewati perbukitan di malam hari itu tidak aman.” pesan Paman Zainal lagi, guna memastikan keselamatan keponakannya itu.

“Tidak perlu Paman, aku bisa pulang dengan mobil orang - orang desa. Mereka pasti banyak yang pulang dari pasar.” Kila menolak .

Meskipun Kila menolak, rupanya Paman Zainal nampak tidak setuju.

“Pulang dengan mobil pick up maskud kamu?”

Kila mengangguk, tepat.

“Dengan barang barang dagangan yang diangkut?”

Kila kembali mengangguk, toh ia memang biasa menggunakan mobil pick up untuk pulang ke rumah selepas dari kota, kalau BIbinya melihat Kila menggunakan mobil carter, mungkin ia akan di cap pemboros dan membuang buang duit suaiminya. Tapi apa Bibi AIni tidak melihat Kemala dan Karin? Lihatlah... Kemala bahkan masih bisa berlibur saat kuliahnya sudah hampir semester sebelas.

“Aku tidak apa - apa, banyak orang desa yang wara - wiri ke kota dengan mobil seperti itu dan mereka aman - aman saja.” ujar Kila menenangkan pamannya.

“Membiarkan kamu naik mobil tanpa sabuk pengaman saja sudah haram hukumnya, apalagi membiarkan kamu diangkut seperti ternak warga. Tidak bisa, ini memalukan. Kamu harus pulang dengan orang yang sudah Paman minta untuk mengantar kamu.”

Kila tersenyum kecut, sepertinya ia memang tidak bisa membantah keputusan Pamannya kali ini.

“Baiklah... aku akan ikut pulang dengan orang yang Paman minta,” Kila mengalah.

“Bagus, dia akan menunggu setelah kamu menyelesaikan kursusmu.”

Kila mengangguk, sembari tangan Paman Zainal terulur padanya.

“Ambil ini untuk pegangan, belilah beberapa baju baru untukmu sendiri dan berhenti memakai pakaian bekas sepupu - sepupumu.”

Kila menerima uang dari Pamannya, ia mengagguk berterima kasih, “Terima kasih, Paman baik sekali.”

Ingin rasanya Kila menangis saat itu juga, kalau saja Bibinya dan kedua sepupunya bisa menerimanya dan memperlakukannya dengan baik. Mungkin Kila tidak merasa tertekan seperti ini.

“Paman berangkat dulu.” Paman Zainal berpamitan, ia berjalan ke kapal dan Kila tak perlu meunggu lama untuk melihat kapal itu berlayar.

***

***

Kila memang menolak tawaran Pamannya untuk melanjutkan kuliahnya, tapi Pamannya tentu tidak habis akal untuk membujuk Kila melakukan banyak hal yang disukainya. Salah satunya adalah membuat kue.

Dan Paman Zainal begitu gigih, membujuk Kila untuk ikut belajar membuat kue di toko kue langganan mereka di kota. Dan ini adalah toko kue satu - satunya di kota yang bisa membuat kue hias seperti cake ulang tahun.

Kegigihan dan kedekatan Paman Zainal dengan si pemilik toko, membuat Kila diperbolehkan untuk belajar membuat kue di sana. Si pemilik toko adalah peranakan cina yang sudah turun temurun meneruskan usaha keluarga. Paman Zainal adalah pemasok telur utama untuk toko kue ini.

Jarak toko kue dari pelabuhan tidaklah terlalu jauh. Hanya sepuluh menit jalan kaki.

Jadi, Kila memutuskan untuk berjalan kaki dengan santai.

Tidak jauh dengan pelabuhan, ada tempat pelelangan ikan. Semua nelayan berkumpul di sana, melakukan tranksaksi jual beli. Menjual ikan segar hasil tangkapan mereka semalaman dan membawa pulang beras untuk keluarga tercinta di rumah.

Tak ayal, ketika angin laut sedang tidak bersahabata. Beberapa diantaranya tetap nekat untuk meluat, dan sisanya memilih untuk menjadi kuli serampangan.

Setelah berjalan cukup lama, Kila akhirnya sampai.

Kini Kila berdiri di depan bangunan dua lantai, meskipun dua lantai. Toko kue ini cukup mungil, karena di samping kanan kirinya sudah diapit oleh bangunan toko lain. Meski begitu, ini adalah tempat oleh - oleh satu - satunya di kota ini. Entah kenapa, dari sepinya kota ini, toko ini tetap bertahan tak di makan usia. Bahkan usianya hampir enam puluh tahun. Di jalankan oleh generasi ketiga.

“Siang Kila,” sapa seorang perempuan berambut keriwil dengan manis.

Kila tersenyum dengan sambutan itu, “Siang Tari, apa yang sedang kamu buat itu?” tanya Kila pada temannya. Namanya Betari, lebih akrab dipanggil Tari. Ia adalah satu dari dua pegawai toko. Tari sendiri adalah orang yang memegang kendali di dapur. Sedangkan satu pegawai lagi memegang kasir dan mengurus etalase toko.

Tari mengikat rambut keriwilnya itu dengan kencang, kedua tanganya sudah memakai sarung tangan latex agar tidak kotor, tanganya sudah memegang banyak sekali hiasan.

“Aku membuat kue blackforest, pesanan untuk ulang tahun seseorang.” ujar Tari memberi tahu.

Kue blackforest itu mungkin adalah pesanan paling besar yang pernah Kila lihat sampai saat ini, mata Kila langsung takjub.

“Sepertinya seseorang akan merayakan ulang tahunya secara besar - besaran,” gumam Kila yang dijawab dengan anggukan kepala Tari.

“Siapa yang memesan?” tanya Kila, penasaran juga akhirnya.

“Seseorang, perempuan yang belum pernah aku temui sebelumnya. Pelanggan baru, tapi aku tidak tau dia berasal dari mana. Logatnya bukan orang desa seperti kita.” jelas Tari.

Kila mengangguk, melihat hiasan kue yang dihias dengan apik, “Boleh aku bantu?” Kila menawarkan bantuan.

Tari langsung tersenyum dan melepaskan sarung tangan latexnya, “Tentu saja, sementara itu. Aku akan melanjutkan memanggang beberapa brownies untuk pesanan sore nanti.”

Tari menepuk bahu Kila sembari beranjak ke arah meja dapur, menimbang bahan - bahan dengan akurat.

Kila asik menghias kue blackforest itu dengan banyak sekali dekorasi, hingga tiba saatnya ia menuliskan nama si pemilik kue yang berulangtahun itu.

“Ehm.. Tari, nama siapa yang harus aku tulis di sini... “ Kila berbalik badan dan melihat ke arah Tari.

Tari menghentikan aktivitasnya, yang sebelumnya tengah mengaduk adonan. Tangan kananya merogok saku celananya, memberikan kertas catatan yang diberikan pelanggan wanita itu padanya.

Kila segera menerima catatan itu dari tari, membukanya dan membacanya pelan.

Blackforest ukuran empat puluh sentimeter, hiasan cokelat, bertulisan selamat ulang tahun Kama.

Mata Kila tidak salah lihat kan?

***

***

Sisa hari Kila dihabiskan untuk membuat beberapa loyang kue kacang, meskipun kue kacang termasuk kue jadul. Tapi proses pembuatanya benar - benar memakan waktu. Apalagi waktu pemanggangan, memakan waktu hampir satu jam agar kue kacang tetap renyah dan gurih.

“Satu jam lagi toko akan tutup,” Ucap Tari yang tengah membungkus kue kacang dengan plastik satuan.

“Lantas?” tanya Kila, tidak biasanya Tari nampak gelisah.

Kila mendongakan kepala, melihat Tari yang menghela nafas berat. “Ada masalah?” tanya Kila.

“Ada, adikku sedang sakit. Dan tidak ada yang menemaninya.”

Kila mengerjapkan matanya, Tari seorang diri. Ibunya sudah meninggal enam tahun yang lalu meninggalkannya bersama adiknya yang kini berusia sepuluh tahun. Semenjak kepergian ibunya, Tari adalah sosok pengganti yang harus diandalkan. Mulai dari bebenah rumah, memasak dan sekarang ia membantu ayahnya yang juga seorang nelayan untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Tari dan Kila tinggal jauh di pisahkan oleh bukit.

“Ayahku baru berangkat melaut semalam, ia juga tidak tega meninggalkan adiku saat sakit begini... “ jelas Tari. Wajahnya kini kusut, meinilik cuaca yang tidak bersahabat. Ombak yang bisa mencapai sepuluh meter. Laut yang tidak bisa di kendalikan oleh manusia. Tapi Tari tau, ayahnya bukanlah seorang penakut apalagi pengecut. Mungkin hanya Dewa Laut yang tidak takut di gulung ombak dan juga ayah Tari. Di saat nelayan lain memilih untuk mencari mata pencaharian lain sembari menunggu cuaca dan angin laut bersahabat. Ayah Tari melihat ini sebagai peluang, karena makin sedikit nelayan yang melaut, makin sedikit pula harga persaingan pasar.

“Adikmu sakit apa?” tanya Kila.

“Dia demam, tapi sebelumnya ayah sudah memanggil seorang mantri untuk memeriksa adiku. Dia bilang memang sedang musim demam. Tapi adikku ini menggigil KIla, tiap malam ia merasa kedinginan seperti sedang berada di kutub es saja... “ Tari menceritakan keadaan adiknya dengan wajah yang sangat khawatir.

“Wajahnya membiru Kila,” ucap Tari dengan ekspresi ngeri, “Aku sampai ketakutan, aku kira adiku sudah tidak bernyawa... “

Kila mengusap bahu Tari, berusaha memberikan semangat agar sahabatnya itu tegar. Namun rupanya, ketegaran Tari sudah habis. Gadis itu tertunduk dan air mata menetes begitu saja.

“Aku harap, adiku sudah membaik. Aku tidak tega meninggalkan dia sendirian di rumah, tapi aku juga tidak punya pilihan. Aku harus bekerja dan ayahku juga demikian agar bisa membawa adiku itu ke rumah sakit.”

Kila menghela nafas, rumah sakit? Dipulau ini tidak ada rumah sakit. Yang maknanya, Tari harus ke pulau sebrang yang jauh lebih maju dan padat penduduk. Itu pasti memakan biaya yang sangat mahal untuk kapal dan juga rumah sakit. Tak heran kalau ayah Tari harus nekat menerjang ombak.

“Kamu mau pulang dulu? Biar aku yang menutup toko. Paman Zainal sudah meminta seseorang untuk menjemputku, jadi aku tidak apa - apa jika kamu tinggalkan.... “

Tawaran Kila memberikan kelegaan tersendiri untuk Tari, akhirnya ia bisa pulang lebih cepat dan melihat keadaan adiknya, “Terima kasih Kila... “ucap Tari dengan penuh syukur.

Kila menganggukan kepala pelan, “Sama - sama, jangan lupa membeli bahan makanan dulu. Dan buatkan masakan untuk adikmu nanti.”

Tari mengangguk paham, ia bangkit dan melepas celemek. “Aku siap - siap dulu,” ujar Tari sembari bergegegas, Tari memberikan kunci toko pada Kila.

“Tolong datang lagi ke sini besok pagi untuk membuka toko, aku janji besok pagi pagi sekali aku sudah ada di sini.”

Kila menerima uluran kuci dari Tari, “Tenang saja... “ ucap KIla menenangkan. Dibalas dengan senyuman oleh Tari.

***

***

Tak selang beberapa lama, Tari sudah pergi. Menyisakan Kila yang sendirian di toko, menyelesaikan dua loyang kue kacang masih harus di panggang. Kila memang cekatan, meskipun tidak ada Tari yang membantunya, ia tak kewalahan menyelesaikan beberapa pekerjaan sekaligus.

Seperti sekarang ini, sembari menunggu kue yang di panggangnya matang, KIla membersihkan toko. Menyapu dan mengepel sembari membereskan etalase. Ia juga sudah mengecek beberapa roti yang hampir kadaluarsa dan mengganti dengan roti yang baru di etalase.

Roti yang hampir kadaluarsa biasanya tidak di buang begitu saja karena masih layak di konsumsi tapi tidak layak di jual, maka dari itu pemilik toko kadang membagi - bagikan roti itu sebelum masa kadaluarsa pada orang - orang yang membutuhkan.

Langit sudah menjingga, Kila menghela nafas panjang. Pekerjaanya kini telah selesai, ia tinggal menunggu orang yang diminta Paman Zainal untuk menjemputnya. Tapi sepertinya Kila melupakan sesuatu. Dahi Kila berkerut, tanda ia tengah berpikir keras. Mencoba mengingat apa yang ia lupakan... dan tetap saja, ia tak bisa mengingatnya dengan baik.

“Padahal aku belum menua, tapi kenapa aku sudah mengidap penyakit orang tua, dasar pikun... “ kutuk Kila pada dirinya sendiri.

Kila mondar mandir, mengecek kompor, oven dan masih banyak lagi. Memastikan ia tidak melewatkan sesuatu.

“Nona.... “

Seseorang masuk, refleks, Kila membalikan badan. Siapa di sana? Laki - laki yang tidak asing, Kila mengenalnya... ah tidak mungkin?

“Aku ke sini untuk menjemput kamu pulang,” ucap pria tinggi itu.

“Atas?” tanya Kila dengan kening berkerut.

Laki - laki itu adalah anak buah Kama yang mengantarkannya tempo hari.

“Pamanmu, Paman Zainal.” ucap pria itu.

Kila mengangguk, ia bahkan tak tau kapan tepatnya, Pamannya memiliki hubungan baik dengan Kama dan anak buahnya. Bahkan pernikahannya dengan Kama, pernikahan singkat tepatnya. Adalah bukti kalau Kila tidak tau menau hubungan apa yang dimiliki Pamannya dengan Kama.

“Oke, tunggu aku sebentar.” ucap Kila, ia tak mau tau hubungan apa diantara mereka tepatnya, yang Kila inginkan adalah cepat pulang. Secepatnya kalau bisa.

“Baik, aku tunggu diluar kalau begitu.”

Seperti yang diucapkannya, laki - laki itu benar berjalan keluar. Berdiri di dekat pintu kaca, dari dalam toko Kila dapat melihat punggung kekarnya. Ah laki - laki itu? Dan Kama tentunya, adalah pemilih bahu paling kekar, dan dada Kama... adalah dada paling bidang yang pernah Kila lihat.

Kila memukul kepalanya sendiri, kesal dengan isi otaknya yang tiba - tiba diluar kendali.

“Ah sudah gila rupanya aku ini.” ucap Kila dengan kesal, bisa - bisanya di situasi seperti ini ia malah membayangkan tubuh Kama. Sial, tubuh Kama memang mempesona para gadis yang melihatnya, pastinya begitu.

Kila melepas celemek, memasukannya ke dalam loker yang sudah di sediakan, di dalamnya juga terdapat celemek milik Tari. Kila yang menaruhnya di sana.

Kila mengambil tas dan menyelempangkannya, KIla berjalan keluar lima langkah sebelum pintu keluar, Kila melihat mobil sedan mengkilat yang berhenti di depan toko. Mobil yang belum pernah Kila lihat sebelumnya.

Seorang wanita berambut panjang bergelombang yang di tata sangat rapi dan apik, Kila yakin tatanan rambut itu dirias di salon - salon mahal. Kemala dan Karin pernah menunjukan foto mereka yang baru mendatangi salon terkenal di ibu kota. Karin dan Kemala di marahi habis - habisan oleh Paman Zainal karena membuang - buang uang hampir sepuluh juta rupiah untuk mengeritingkan rambut mereka.

Wanita berambut panjang itu mengenakan make up, tentu saja. Wanita cantik seperti in pasti pandai bersolek. Bibirnya dipoles warna merah menyala seperti darah, tapi anehnya, itu malah membuatnya terlihat sangat seksi, bajunya cukup ketat, dengan celana yang bertolak belakang, karena sangat gombrong.

Wanita itu berjalan memasuki toko tanpa ada rasa ragu, seperti sudah memasuki toko ini sebelumnya.

Dan saat berhadapan dengan Kila, ia terlihat sangat tinggi dengan tubuh semampai. Siapapun wanita yang melihatnya, akan terpana seperti Kila sekarang ini. Ini sempurna.

“Halo.” sapa wanita itu dengan senyum tipis, tapi tak ada keramahan di wajahnya.

“Halo.” tak sadar, suara Kila jadi gugup.

Wanita itu menilik jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangan kirinya. “Sepertinya ini sudah jam tutup, apa aku terlambat untuk mengambil pesanan kue miliku?” tanya wanita itu tanpa basa - bsai.

Kila mengembalikan kesadarannya, berhenti untuk kagum. “Kue?”

Wanita itu mengangguk, “Iya, aku memesan kue tadi pagi.” ucap wanita itu, tatapan matanya mengamati Kila dari atas ke bawah, “Tapi sepertinya aku tidak memesan ke kamu, aku memesan ke perempuan keriwil pagi tadi.”

Keriwil? Betari? Tari?

Entah kenapa Kila tidak suka cara perempuan itu menyebut Tari dengan keriwil. Ada makna merendahkan di balik ucapannya ditambah sikapnya yang sedikit... pongah? Kila tidak suka ini.

“Hanya ada satu pesanan kue, sebentar... “

Kila mengambil kertas pemberian Tari, isinya adalah permintaan ucapan yang ditulis di kue ulang tahun, dengan nama pembeli yang tertera di sana.

“Untuk Kama. Dipesan oleh Ratu.”

Perempuan itu tersenyum puas, benar. Ratu. Nama yang cocok dengan perwujudan wanita itu. Bak ratu.

“Sebentar, akan saya ambilkan.”

“Tidak masalah,” ucap Ratu.

Kila buru - buru membuka lemari pendingin, mengambil kue cokelat berukuran besar. Membungkusnya dengan kotak, memastikan kue itu terbungkus dengan apik. Kila cukup cekatan dalam mebungkus kue, tidak sampai dua menit. Ia sudah selesai.

“Ini... terima kasih sudah membeli kue di toko kami.” Kila tersenyum ramah, meski begitu, ia masih tak menyangka.

Ratu mengangkat kotak kue kemudian berbalik badan tanpa membalas ucapan Kila, ia melenggang dengan cantik?

Kila mengekori Ratu, ia berjalan di belakangnya persis. Dan berhenti di tengah pintu.

“Halo, Raga.” sapa Ratu pada laki - laki yang sejak tadi berdiri di depan toko, mengamati interaksi Kila dengna Ratu.

Raga. Akhirnya Kila tau nama laki - laki itu.

Raga tidak menyambut hangat sapaan Ratu. Ia hanya membalas dengan anggukan kepala. Ratu mengerucutkan bibirnya seolah mengejek Raga.

“Sampai bertemu nanti, di pesta.” ucap Ratu dengan suara menggoda. “Pastikan Kama tidak membuat alasan konyol untuk tidak menemuiku,” ujar Ratu dengan makna tersirat jelas, ia mengangkat kotak kue di tanganya, “Aku sudah sibuk mempersiapkan ulang tahunya.”

Ratu berjalan mendekati mobil, membuka pintu dan tak lama mobil langsung melaju begitu saja.

Kila langsung mengunci pintu toko, beberapa lampu di dalam toko dibiarkan tetap menyala.

“Tolong, antar aku pulang.” pinta Kila. Iya pura pura tidak mendengar obrolan Ratu dengan Raga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tawanan Tuan Kama   22 ( Bab sedikit berbahaya )

    *** Namun meski di dunia ini telah banyak di suarakan tentang kebebasan, setiap manusia, setiap individu bebas menentukan pilihan hidupnya. Sepertinya tidak berlaku untuk sebagian orang. Sama halnya dengan Kila, ia merasakan sendiri kalau Kama, tengah mengatur hidupnya. Kini ia di paksa untuk naik motor. Yah... Memang tidak ada pilihan lain selain mengikuti Kama. Sekarang sudah sore, sedikit sekai kendaraan yang bisa membawa Kila kembali ke rumah. Kama mengendarai motor dengan ugal - ugalan, Kila merasakan gemuruh angin yang di lewatinya. Bahkan di jalanan yang sunyi seperti ini, Kila merasa ngeri. Mesi begitu, ego Kila masih terlalu tinggi. Ia takut, tapi ia takan mendaratkan tanganya untuk menyentuh Kama. Tidak akan. Kama yang melihat situasi kali ini, malah semakin marah dan mengencangkan laju motornya. Kila makin takut, tapi mulutnya tertutup rapat, ia malah mencengkeram pahanya, mencondongan tubuhnya alih - alih berpegangan pada Kama. Namun akhirnya Kila kalah, seekor

  • Tawanan Tuan Kama   21

    *** Sepreti yang sudah Kila duga, ia sedikit kewalahan karena membersihkan toko dan membuat roti sendirian. Menyiapkan bahan - bahan, menguleni adonan kue tanpa alat yang canggih, serta masih mengandalkan tenaga manusia. Namun Kila tidak mengeluh, mengeluh bukanlah ciri khas dirinya. Kila adalah gadis yang pantang menyerah dan pantang mengeluh. Sejak pagi, cukup banyak pelanggan yang datang ke toko kue. Sebagian besar pelanggan yang datang pasti menanyakan kabar Kila, menanyakan kenapa ia tidak bekerja kemarin dan menanyakan keberadaan Tari. Hingga sore tiba, Kila bisa mengistirahatkan diri. Hampir seluruh roti yang ia buat hari ini, terjual. Menyisakan beberapa nampan yang masih bisa di jual keesokan hari kalau tak terjual habis hari ini. "Selamat sore.... " Suara lonceng pintu terdengar bersamaan dengan suara sapaan tadi. Tedengar suara langkah masuk dan Kila pun menjawab, "Sore... " Kila tersenyum dan di balas senyum oleh Adimas. "Seperti biasa, mengambil pesananku." Tutu

  • Tawanan Tuan Kama   20

    *** Kila tidak bisa tidur, ia menunggu Kama menghubunginya lewat pesan singkat. Mengabarkan keadaan Tari, tapi sampai tengah malam pun, Kila tak kunjung mendapatkan kabar dari Kama. Kila menyerah, kini rasa kantuk telah menguasainya. Perlahan matanya terpejam dan mungkin sebentar lagi... Ia akan terlelap dalam mimpi. Namun, suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti menarik kembali Kila dari alam mimpi. Ia terbangun dengan perasaan kaget dan gugup ketika melihat layar ponselnya. Berkali - kali Kila mengucek matanya. Tapi ia tak salah lihat. Kama menelfonya. Butuh waktu sedikit lama untuk Kila berpikir, hingga akhirnya ia mengangkat telfon Kama. Kila terbaring di atas tempat tidur, beralaskan bantal dengan ponsel yang ditindih. '"Halo... " Kila tak langsung menjawab, tapi itu memang suara Kama. "Halo... Kenapa?" Tanya Kila. " Kabar temanmu, dia baik baik - baik saja. Sore tadi dia sudah siuman, namun Rafa memberikan obat penenang, jadi sekarang ia tertidur lagi." Mendenga

  • Tawanan Tuan Kama   19

    Kama memacu motornya, melewati hutan dan akhirnya sampai di pondok kayu. Di sana ia sudah melihat Raga dan juga Rafa yang tengah sibuk menyiapkan perapian. Melihat kedatangan Kama, mereka berdua pun melambakan tangan. Kama berhenti dan memarkirkan motornya di samping pondok kayu. Langit terlihat cerah. Garis cakrawala pasti akan terlihat sangat indah jika dilihat dari atas tebing di tepi sana. "Bagaimana? Menemukan sesuatu yang menarik?" Tanya Rafa yang tengah sibuk menyusun kayu bakar yang Raga dapatkan dari hutan. Kama duduk di samping Rafa, sembari memperhatikan Raga yang tengah membuang sisik ikan. "Yah.... Beberapa hal menarik, tapi sedikit yang aku dapatkan." Jelas Kama. Raga yang sibuk membuang insang ikan, kini mulai menguping pembicaraan Rafa dan Kama. "Yah setidaknya... Bepergian hari ini tidak sia - sia. Kita mendapatkan makan malam enak." Raga menunjuk ikan yang ukuranya sama panjangnya dengan lengannya, lebih dari cukup untuk mereka bertiga. Rafa berhasil menyala

  • Tawanan Tuan Kama   18

    Bibi Aini memang orang yang sangat perhitungan masalah uang, tidak dengan siapapun dan tidak akan pandang bulu, bahkan kepada Paman Zainal sekalipun. Bahkah tak jarang, BIbi Aini sering mengoel masalah pengeluaran dan pemasukan untuk kebutuhan rumah tangga. Tak jarang Paman Zainal sudah menambah uang belanja, tapi BIbi Aini sering mengeluh kekurangan uang, yang bahkan ia jarang sekali berbelanja kepasar. Tapi untunglah, Paman Zainal mengerti betul sifat istrinya satu ini. Bibi Aini gila emas, kesanalah semua uangnya dihabiskan. Para tetangga pun sudah hapal dengan tabiat Bibi Aini ini. Bibi Aini sering sekali memamerkan kekayaanya, perhiassan barunya yang baru di beli Paman Zainal dari pulau sebrang, perhiasan keluaran terbaru dan masih banyak lagi. Kila sudah menerima uang pinjaman dari Bibi Aini, setelah kila hitung - hitung uangnya mungkin cukup untuk menjenguk adik Tari. Tinggal menunggu Kama untuk datang. Ia sudah berjanji untuk memberitahu kabar Tari. Sekarang tinggal menungg

  • Tawanan Tuan Kama   17

    "Aku antarkan kamu pulang, berpura - puralah tidak terjadi apa - apa." Kama memberitahu. Kila mengangguk, dan mereka menuju rumah Paman Zainal. Kila sedikit menjaga jarak antara dirinya dan Kama. Ini harus dilakukan. Dengan pelan Kila mundur perlahan. Kama bisa merasakan pergerakan Kila. "Kalau kamu bergerak sekali lagi, kamu akan mati." Kila menelan ludahnya, gugup. "Kita bisa mati kalau kamu terus mencoba menjauh. Aku bisa kehilangan keseimbangan dan kita terjatuh." Jelas Kama. Yah... Benar juga. Masuk akal memang, tapi ada rasa enggan dan takut saat berdekatan dengan Kama. Meski begitu, Kila harus menepis perasaanya sekarang ini. Ini bukan waktunya. Sepanjang jalan, terlihat asri dengan peponohan yang menjulang serta sinar matahari yang mulai menerobos dedaunan, kilau - kilau keemasan itu menakjubkan untuk dilihat. Tapi jalanan ini akan mengerikan ketika dilintasi di malam hari. *** Suara deru motor Kama terdengar hingga ruang tamu di kediaman Paman Zainal. Bibi Aini yang

  • Tawanan Tuan Kama   11

    “Bisa kamu lebih cepat lagi dalam bekerja?” protes Kama.Kila melirik Kama, tatapanya tajam dan penuh kesal. “Kamu lebih baik tutup mulut, karena kecerewetanmu tidak mempercepat pekerjaanku sama sekali.” Kila menghentak - hentakan tanganya saat mengelap kaca etasale, “Akong saja tidak secerewet d

  • Tawanan Tuan Kama   10

    Dan berakhir disini, Kila kembali di bonceng Raga untuk kedua kalinya. Kini mereka menuju ke toko kue. Melewati jalanan yang sudah tak asing, karena ini adalah jalan satu - satunya sebagai penghubung di seluruh pulau ini. Hanya ada satu jalan mengelilingi pulau yang tidak terputus. Tidak seperti Ka

  • Tawanan Tuan Kama   9

    "Orang - orang akan sibuk seharian bahkan sampai malam, apalagi di ujung barat sana, rembulan sudah menjulang dengan sinarnya yang tak terhalang oleh awan. Membuat pepohonan memiliki bayangan meski di malam hari. Ini adalah pemandangan magis, perpaduan antara malam yang kelam dengan sorot cahaya re

  • Tawanan Tuan Kama   8

    Kila berniat menemui Akong sore nanti, ia berniat menyetorkan uang penjualan kepada Akong karena uang penjualan biasa di setorkan setiap seminggu sekali dan sekaligus mengabarkan kalau ia yang akan menggantikan Tari sampai batas waktu yang tidak bisa di tentukan.Selebihnya, Kila mengerjakan peker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status