Share

Chapter 4

Author: dheanova
last update publish date: 2026-07-21 23:40:31

Setelah menyetujui syarat yang diucapkan oleh Mr. Romero, Kaera kembali terisak. Pria tua itu sudah pergi dan mengatakan bahwa pernikahan akan dilakukan setelah operasi ayahnya selesai.

Kaera menegakkan wajah, menyeka air matanya, dan berusaha untuk tegar. Dia memaksakan senyum sebelum masuk ke ruangan sang ayah.

Kaera beranjak dari kursi, melangkah memasuki ruangan Hadnan. Dia menghela napas pelan dan memasang mimik bahagia. Padahal ayahnya tidak bisa melihat, tetapi Kaera tetap memasang wajah bahagianya.

Tangan mungilnya menekan gagang pintu dengan pelan. Dia melangkahkan kaki, dan hal yang tidak Kaera duga terjadi, ternyata sang ayah sudah sadar.

“Kaera…” lirihnya, membuat tubuh Kaera mematung.

“Dad …,” gumamnya, membekap mulutnya sendiri ketika tangan kekar ayahnya meraba-raba sisi ranjang.

“Kemarilah, Nak,” ucap Hadnan dengan memasang wajah tenang. Kaera melangkah mendekati sang ayah.

“Dad, aku punya kabar gembira. Apa Daddy mau mendengarkannya?” ujarnya dengan begitu antusias, membuat ayahnya tersenyum kecil.

“Ada apa? Ayo cerita, Daddy ingin mendengarnya,” jawabnya.

“Aku sudah memiliki kekasih, dan tadi dia sudah melamarku. Dia juga membawaku bertemu dengan orang tuanya. Apa Daddy bahagia mendengarnya?”

Hening. Hadnan diam sejenak. Selama ini dia tidak pernah tau jika putrinya memiliki seorang kekasih. Lalu, apakah pria itu bisa menerima keadaan keluarga mereka yang tidak memiliki apa-apa?

“Tidak ada hal yang bisa membuat Daddy lebih bahagia selain melihatmu menikah dengan seorang pria yang bisa menjagamu, seperti Daddy yang selalu menjagamu, Nak. Dan satu lagi … dia bisa menerimamu apa adanya,” lirih Hadnan. Keinginannya hanya satu sekarang: melihat anaknya menikah dengan pria yang tulus menjaganya.

Kaera langsung terkekeh, namun hatinya menangis. Pria yang akan menjadi suaminya belum tentu mau menerimanya. “Daddy tenang saja, kekasihku sangat baik. Keluarganya menerimaku apa adanya, bahkan ayahnya juga membantu biaya pengobatan Daddy untuk operasi mata.” Kaera tidak sepenuhnya berbohong; Mr. Romero memang membantunya, meski dengan imbalan pernikahan bersama putranya.

Hadnan kaget dengan ucapan putrinya. “Kaera, apa mereka mengancammu? Apa dengan membantu biaya Daddy, mereka memintamu untuk menikah dengan putranya?” Tebakannya langsung tepat, namun Kaera tidak ingin ayahnya mengetahui segalanya dan menjadi beban pikiran.

“Tidak, Dad. Mereka tulus membantu kita. Aku sudah sejak lama berkencan dengannya, hanya saja aku tidak berani mengatakan kepada Daddy,” alibinya sembari memeluk sang ayah. Namun, Hadnan terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Kaera, Daddy lebih baik tidak bisa melihat lagi daripada harus mengorbankan kebahagiaanmu, Nak. Daddy ingin kamu menikah dengan orang yang benar-benar kamu cintai,” lirihnya.

“Tidak, Daddy harus bisa melihat lagi. Aku baru saja bertemu dengan keluarganya, dan mereka akan datang menemui Daddy setelah operasi nanti,” jawab Kaera, terus meyakinkan sang ayah agar pengobatan itu tetap berjalan.

***

Kaera yang awalnya merasa khawatir jika Mr. Romero mengingkari janjinya untuk melakukan pembayaran administrasi kini bisa bernapas lega.

Dia menatap nanar sang ayah yang dibawa masuk ke ruang operasi, lalu berdoa semoga semuanya baik-baik saja. Ketika Kaera sedang duduk termenung, dua orang pengawal menghampirinya.

“Maaf, Nona Kaera, Sekarang juga Anda harus ikut dengan kami,” ucap salah satu dari mereka. Kaera mendongak menatap keduanya.

“Bisakah kita pergi setelah Daddy-ku keluar dari ruangan itu?” ucapnya. Dia sudah tahu jika pengawal itu adalah utusan dari Mr. Romano.

“Maaf Nona, jangan mempersulit pekerjaan kami. Nanti Anda bisa kembali lagi kemari,” tolaknya. Karena tidak ingin menimbulkan masalah, Kaera akhirnya bangkit dan pergi bersama dua pengawal tersebut.

Sampai di parkiran, Kaera tercengang melihat mobil mewah yang akan ia tumpangi. Ia merasa takut akan membuat mobil mahal itu kotor.

“Silakan masuk, Nona,” titah pengawal setelah membukakan pintu belakang.

“Apakah tidak masalah jika aku naik? Apa mobilnya tidak akan kotor? Bagaimana kalau aku naik taksi saja?” tawar Kaera. Ia benar-benar takut. Tidak masalah jika disuruh mencuci mobil, yang dia takutkan adalah jika sepatu lusuhnya menggores lantai mobil dan dia diminta ganti rugi, uang dari mana lagi yang bisa dia dapatkan?

“Naiklah, Nona, jangan khawatir tentang itu. Mr. Romero sudah menunggu Anda, jangan buat beliau menunggu terlalu lama.”

Dengan sigap Kaera naik, tetapi dia melepas sepatu lusuhnya terlebih dahulu dan memasukkannya ke dalam tas selempang yang dia pakai. Kedua pengawal hanya membiarkannya, yang penting Nona Kaera masuk dan mereka bisa segera menemui Mr. Romero.

Di dalam mobil, Kaera sangat berhati-hati. Jangan sampai ceroboh kalau tidak ingin mengganti apa pun. Setelah tiga puluh menit perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah bangunan yang sangat megah. Namun, Kaera menduga ini bukan sekadar mansion.

“Nona, silakan.” Pintu belakang pun terbuka. Kaera turun dengan kaki gemetar.

“Kenapa kita ke mal?” tanyanya heran karena melihat begitu banyak mobil mewah terparkir rapi di sisi kanannya.

“Mari, Nona.” Pengawal tidak menjelaskan apa pun. Tugas mereka hanya menjemput.

Kaera mengikuti langkah keduanya. Matanya menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa kagum melihat tempat yang begitu berbeda dari mal pada umumnya.

‘Ah, sepertinya lantai bawah khusus untuk barang-barang mewah saja,’ gumamnya setelah masuk. Guci-guci mahal tertata rapi di setiap sudut ruangan.

“Mr. Romero, Nona Kaera sudah tiba,” bisik asisten Mr. Romano.

Pria tua dengan rahang tegas itu mendongak. Dia tersenyum tipis melihat Kaera yang tampil apa adanya. Entahlah, selama memantau Kaera Kairez, dia merasa gadis polos ini sangat cocok untuk putranya.

“Selamat datang, Kaera.” Suara tegasnya membuat Kaera kaget.

“Duduklah.”

Kaera pun duduk. Pandangan mata Mr. Romero tidak sengaja melihat kaki Kaera yang telanjang tanpa sepatu, namun dia mengabaikannya.

“Panggilkan pria sialan itu kemari,” ucap Mr. Romero pada asistennya.

“Tenanglah, Kaera. Ayahmu akan baik-baik saja. Setelah ini kamu bisa kembali ke rumah sakit,” tambah pria tua itu ketika melihat Kaera tampak gelisah memikirkan sang ayah.

“Iya, Tuan.”

Tidak lama kemudian, datanglah seorang pria tampan bertubuh tegap menghampiri Mr. Romano.

“Ada apa?” ketusnya. Matanya melirik sinis ke arah gadis yang menunduk di sofa mahalnya.

“Duduklah,” titah sang ayah.

“Kenapa kau selalu membawa gembel ke mansion-ku, Pria Tua?”

Deg.

Jantung Kaera berdetak kencang. Ternyata rumor itu benar, tuan muda keluarga Romano ini bermulut sangat tajam.

“Kaera adalah calon istrimu. Tidak ada penolakan,” tegas Mr. Romano, membuat mata pria tampan itu mendelik tidak suka.

“Tidak usah gila! Jika merasa kesepian, kau saja yang menikah, aku tidak butuh istri!" tolaknya kasar. Dia memang selalu menolak keinginan ayahnya untuk menikah.

“Kamu hanya perlu memilih, aku bunuh semua wanita simpananmu dan kekasih murahanmu itu, atau menikah dengannya,” ancam Mr. Romero. Ia sangat tidak menyukai kelakuan putranya yang gemar bergonta-ganti wanita.

“Beraninya Kau mengancam ku, Pria Tua!” serunya murka.

“Membunuhmu saja aku berani, apalagi hanya mengancam mu,” jawab Mr. Romano santai.

Gerald Romano menatap tajam ke arah Kaera. “Yang benar saja kau ini, mau menikahkan aku dengan seorang gembel?!” kesalnya melihat penampilan Kaera yang begitu sederhana.

“Aku tidak butuh penolakan mu. Besok kalian akan menikah!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 5

    “Kaera, apa kamu sudah mengenalnya? Dia putraku Gerald Romano yang akan menjadi suamimu seumur hidup, kamu bisa membunuhnya jika dia keterlaluan,” ujar Mr. Romero memperkenalkan putranya kepada gadis yang dia pilih menjadi menantunya.“Tidak Tuan,” lirihnya tanpa barani menatap Gerald.Gerald melirik ke arah Kaera dengan tatapan dingin seakan-akan ingin menelan gadis itu hidup-hidup, membuat nyali Kaera semakin ciut.“Gembel sepertinya tidak akan pernah mengenalku Dad, dan sudah berapa kali aku katakan tidak akan menikah, aku tidak percaya pernikahan, perempuan hanya membuatku terkekang saja. Lagi pula aku sudah memiliki Elena, aku tidak butuh wanita manapun Dad, Daddy saja yang menikah.”“Cukup Gerald, aku tidak main-main dengan ucapanku tadi! Jika kamu terus menolak, maka semua akan aku binasakan, ingat itu. Menikahlah dan beri aku seorang cucu.”Kaera hanya diam mendengarkan perdebatan kedua pria yang berbeda usia itu. Sebenarnya dia sangat malas, namun demi kesembuhan Ayahnya, dia

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 4

    Setelah menyetujui syarat yang diucapkan oleh Mr. Romero, Kaera kembali terisak. Pria tua itu sudah pergi dan mengatakan bahwa pernikahan akan dilakukan setelah operasi ayahnya selesai.Kaera menegakkan wajah, menyeka air matanya, dan berusaha untuk tegar. Dia memaksakan senyum sebelum masuk ke ruangan sang ayah.Kaera beranjak dari kursi, melangkah memasuki ruangan Hadnan. Dia menghela napas pelan dan memasang mimik bahagia. Padahal ayahnya tidak bisa melihat, tetapi Kaera tetap memasang wajah bahagianya.Tangan mungilnya menekan gagang pintu dengan pelan. Dia melangkahkan kaki, dan hal yang tidak Kaera duga terjadi, ternyata sang ayah sudah sadar.“Kaera…” lirihnya, membuat tubuh Kaera mematung.“Dad …,” gumamnya, membekap mulutnya sendiri ketika tangan kekar ayahnya meraba-raba sisi ranjang.“Kemarilah, Nak,” ucap Hadnan dengan memasang wajah tenang. Kaera melangkah mendekati sang ayah.“Dad, aku punya kabar gembira. Apa Daddy mau mendengarkannya?” ujarnya dengan begitu antusias, m

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 3

    Di dalam ruangan megah bernuansa Midnight Blue, gairah dan dominasi menyatu di udara. Suara deru napas berat beradu keras dengan keheningan malam.“Sayang, aku mohon pelan sedikit ... ini terlalu kuat!” erang Elena dengan napas terengah-engah. Suaranya parau, menyiratkan keputusasaan dan kenikmatan. Namun, Gerald tidak peduli. Pria itu terus bergerak tanpa belas kasihan, mengabaikan permohonan wanita di bawah kungkungannya.“Gerald, stop! Aku sudah tidak kuat lagi ... ini menyakitiku!” teriak Elena sembari mencengkeram sprei yang kini kusut tidak bertekstur lagi. Gerald terkekeh dingin. Tawa pelannya terdengar mengejek. “Diamlah, Elena! Nikmati saja. Bukannya ini yang kamu mau? Tadi kamu sendiri yang menggodaku, kan?”“Tapi tidak seperti ini, Gerald! Akh!” Elena memekik saat hentakan keras itu kembali menghantamnya. Tubuhnya terguncang hebat, rasanya seperti tubuhnya terbelah dua. Padahal ini bukan yang pertama kali mereka berdua melakukan nya. “Aku bilang diam, Elena!” tegur Geral

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 2

    Napas Kaera memburu, dadanya naik turun dengan pikiran yang kalut. Kurang lebih tiga jam dia duduk di kursi tunggu yang terasa sangat dingin. Dia memeluk lututnya yang gemetar. Di dalam ruangan sana, Ayahnya satu-satunya orang yang membuatnya kuat untuk bertahan hidup di kota yang kejam ini—sedang terbaring lemah dalam keadaan mata yang terbalut perban putih.“Nona Kaera, ayah Anda sudah dipindahkan ke ruang rawat dan kami akan melakukan operasi setelah Anda membayar uang administrasi.” Dokter Jack berdiri di hadapan seorang wanita yang sedari tadi meneteskan air mata.Kaera tertegun mendengarnya. Dia sempat bahagia mendengar ayahnya mendapatkan donor mata, hanya saja biayanya belum ada.“Berapa yang harus saya bayar, Dok?”“Anda harus membayar sebesar $19.000.”Kaera kembali tertegun dengan mata yang berkaca-kaca. “Ap..apa, Dok? Kenapa sebanyak itu? Bukankah tidak sebesar itu?” tanyanya dengan wajah terkejut. Dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?“Maaf, Nona Kaera, itu su

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 1

    Byuurr!!“DAMN!! GADIS SIALAN! BERANI SEKALI KAU, BITCH!!” teriak seorang pria bermata tajam dengan suara menggelegar.Kaera mengangkat pandangannya sembari mengusap wajahnya yang basah kuyup karena siraman segelas air. Pakaian pria di depannya kini kotor akibat kecerobohannya, tetapi gadis itu tetap menatapnya penuh ketegaran. Tidak ada raut ketakutan sedikit pun di mata indahnya yang hitam dan lebar.Suasana kafe malam itu mendadak tegang. Pria itu terlihat sangat murka, urat lehernya menonjol, dan tatapannya begitu nyalang menembus netra hitam Kaera yang secantik boneka hidup.“Lihatlah apa yang kau lakukan pada pakaianku, sialan!” bentaknya lagi, menunjuk noda pekat yang mengotori kemeja mahalnya.Beberapa pengunjung kafe yang merasa tidak nyaman memilih untuk segera pergi setelah meletakkan uang di meja, sementara beberapa orang justru bertahan di kursi mereka, seakan menikmati tontonan gratis yang menegangkan itu.“Maafkan saya, Tuan. Saya benar-benar tidak sengaja dan saya juga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status