Share

Chapter 5

Author: dheanova
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-21 23:46:38

“Kaera, apa kamu sudah mengenalnya? Dia putraku Gerald Romano yang akan menjadi suamimu seumur hidup, kamu bisa membunuhnya jika dia keterlaluan,” ujar Mr. Romero memperkenalkan putranya kepada gadis yang dia pilih menjadi menantunya.

“Tidak Tuan,” lirihnya tanpa barani menatap Gerald.

Gerald melirik ke arah Kaera dengan tatapan dingin seakan-akan ingin menelan gadis itu hidup-hidup, membuat nyali Kaera semakin ciut.

“Gembel sepertinya tidak akan pernah mengenalku Dad, dan sudah berapa kali aku katakan tidak akan menikah, aku tidak percaya pernikahan, perempuan hanya membuatku terkekang saja. Lagi pula aku sudah memiliki Elena, aku tidak butuh wanita manapun Dad, Daddy saja yang menikah.”

“Cukup Gerald, aku tidak main-main dengan ucapanku tadi! Jika kamu terus menolak, maka semua akan aku binasakan, ingat itu. Menikahlah dan beri aku seorang cucu.”

Kaera hanya diam mendengarkan perdebatan kedua pria yang berbeda usia itu. Sebenarnya dia sangat malas, namun demi kesembuhan Ayahnya, dia harus bertahan. Tanpa disadari olehnya, Entah sadar atau tidak, jika tempatnya bekerja adalah milik pria yang akan menjadi suaminya itu

“Dad, jika kau memang hanya ingin seorang cucu, aku akan memberikannya tapi tidak darinya, melainkan dari Elena. Ayolah Dad, jangan membuat semuanya menjadi rumit.”

"Terserah! Kau mau mematuhiku atau kau akan tahu sendiri akibatnya. besok kamu akan melihat semua wanita simpananmu dan kekasihmu itu mati!" ucapan Mr. Romero dengan raut wajah yang tampak emosi, tatapan datarnya dia tujukan pada putra semata wayangnya.

"Daddy ... ah sial!"

"Kalian berdua akan menikah besok, semakin cepat semakin baik, dan kau harus segera memberiku seorang cucu yang manis dan menggemaskan."

"Daddy saja sudah sangat menggemaskan sampai aku ingin melemparkan Daddy ke laut! Aku tidak mencintainya, bagaimana aku bisa menyentuh gembel seperti dia?" Tatapan jijik Gerald berikan kepada Kaera.

“Kau bisa bercinta tanpa adanya rasa cinta, maka lakukan saja, yang penting aku mendapatkan seorang cucu. Dan ingat, hanya dari rahimnya yang akan aku akui, tidak dengan yang lain!”

“Ck, kenapa Daddy begitu yakin dengannya?”

“Karena aku sudah mencari tahu semua tentang Kaera Kairez.” Ucapan itu membuat Gerald tidak bisa menjawab lagi. Meskipun dia seorang pemimpin di dunia bawah, dia hanya bisa pasrah jika Ayahnya sudah meminta.

“Dia lebih baik daripada Elena, kau akan mengerti nanti dengan keputusanku ini, dan kau pasti akan bertekuk lutut di hadapannya. Dia sangat lembut dan penyayang.”

"Jangan membandingkan kekasihku dengan wanita gembel ini Dad," tukas Gerald. Dia tidak suka jika Elena dibandingkan dengan wanita rendahan seperti Kaera.

“Baiklah terserah kau saja, pernikahan akan dilakukan besok dan sekarang aku akan menyiapkan semuanya,” final Mr. Romero.

"Terserah." Gerald sesekali melirik gadis yang menunduk sejak tadi.

“Apa yang kau lihat di bawah? Angkat kepalamu!” titahnya, namun Kaera tidak berani sama sekali.

“Angkat saja kepalamu Kaera, tidak usah takut. Jika dia menyakitimu maka laporkan saja padaku.”

“Aku pergi dulu, dan cepatlah pergi pria tua lalu bawa gembelmu itu, besok aku akan menikahinya.” Lalu Gerald pergi menjauh dari keduanya.

“Kamu harus membuat dia jatuh cinta dan percaya akan pernikahan.”

“Banyak sekali persyaratan yang Anda minta, Tuan,” lirihnya.

Mr. Romero terkekeh mendengarnya, gadis di depannya benar-benar menggemaskan. Setelah cukup berbincang-bincang di mansion mewah itu, Kaera kembali diantarkan ke Rumah Sakit oleh Xavier dan anak buah keluarga Romero.

***

Keesokan harinya, gaun pengantin yang mewah sudah melekat pada tubuh Kaera. Wajahnya terlihat sangat cantik bak boneka hidup. Pada bagian atas gaun itu terlihat sangat pas di badannya dengan belahan dada rendah tanpa lengan, sehingga mengekspos bagian dada atas dan bahunya yang putih. Sedangkan bagian bawah gaun itu sangat lebar dan mengembang menyapu lantai. Kaera terlihat seperti putri dalam dongeng.

Kaera menahan air matanya, seharusnya Daddynya ada di sampingnya, namun saat ini masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit.

Pernikahan telah sah ketika pendeta sudah melakukan tugasnya dengan baik, kini keduanya resmi menjadi sepasang suami-istri. Buliran bening pun lolos begitu saja setelah melihat jari manisnya sudah terisi oleh cincin pernikahan yang Gerald pasangkan.

“Selamat atas pernikahan kalian berdua. Dan Gerald, jaga dengan baik istrimu, aku menanti kabar baik dari kalian berdua,” ucap Mr. Romero.

“Hmm, selamat untukmu juga pria tua, kau berhasil membuat hidupku menjadi sulit.”

“Tidak masalah, sekarang bawa istrimu pulang, dan rencanakan bulan madu kalian berdua.”

“Kau saja yang bulan madu, aku tidak sudi.”

“Terserah, dan segera perintahkan Xavier untuk menggali lubang.”

“Sial, lagi-lagi kau mengancamku!” geram Gerald. Ayahnya selalu mengancam ingin membunuh kekasihnya jika dia tidak mengikuti kemauan Mr. Romero

“Ayo pulang!” ucapnya menyeret Kaera dengan kasar.

“Pelan-pelan, aku tidak bisa berjalan!” ucap Kaera yang merasa susah untuk berjalan.

“Kau lelet sekali.”

“Kau kasar, aku tidak suka pria kasar!” serunya menarik kasar tangannya agar terlepas dari cengkraman Gerald.

“Berani sekali kau membantahku!” geram Gerald.

“Kenapa harus takut? Aku diizinkan oleh Daddymu untuk membunuhmu jika kamu kasar,” ujarnya langsung mengangkat gaunnya dan berjalan dengan cepat menuju mobil pernikahan mereka.

“Lihatlah pria tua, itu menantu yang kau pilihkan untukku?” kesal Gerald langsung menyusul istrinya.

Mr. Romero hanya menarik sudut bibirnya saja, tidak disangka jika Kaera akan berani berdebat dengan putranya. Kemarin seperti ketakutan, tapi hari ini mampu membuat Gerald naik darah.

“Aku berharap banyak padamu Kaera, semoga kau bisa meluluhkan hati putraku yang keras itu,” gumamnya.

Sedangkan di dalam mobil, Kaera seperti kesusahan mengatur gaunnya yang panjang.

“Tuan Gerald, cepat masuk dan bantu aku membereskan gaun yang menyusahkan ini,” gerutu Kaera.

“Kau menyuruhku? Lakukan sendiri, aku tidak sudi berdekatan dengan wanita jelek sepertimu.”

“Mata Anda perlu diperiksa Tuan, saya cantik dan banyak yang suka, hanya saja saya miskin jadi tidak ada yang berani menyatakan perasaan mereka,” ucapnya dengan percaya diri.

“Menghayal.”

“Saya tidak menghayal, sebenarnya Anda juga mengagumi kecantikan saya, hanya saja gengsi. Sudahlah Tuan, cepat masuk dan bantu saya.”

Entah sihir apa yang digunakan oleh Kaera, sehingga membuat Gerald menuruti dan membantunya mengatasi gaun yang terlalu panjang.

“Ribet,” kesal Gerald.

“Daddy Anda yang ribet memilih gaun seperti memilih selimut untuk membungkus tubuh saya!”

“Berani sekali kamu menyalahkan Daddy.”

“Kenapa tidak? Kalau bukan karena butuh uang, saya juga tidak mau menikah dengan monster seperti Anda Tuan Gerald,” kesal Kaera dengan menggebu-gebu, entah mendapatkan keberanian dari mana sampai berani melawan Gerald.

“Semua wanita sama saja, pasti karena uang.”

“Iya, karena apa-apa harus pakai uang, makanya saya jual kebahagiaan saya pada Anda, Tuan"

“Kau!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 17

    "Minumlah, Nona Kaera," bisik Xavier dengan lembut, membantu Kaera menegakkan tubuhnya yang lemah.Kaera meneguk air itu dengan lahap, tenggorokannya yang seperti terbakar perlahan-lahan terasa sejuk. Napasnya masih memburu, tetapi secercah harapan mulai hidup kembali di matanya yang sayu."Terima kasih, Tuan Xavier..." suara Kaera terdengar serak, hampir seperti bisikan pelan. "Bagaimana... bagaimana keadaan Ayahku?"Xavier menghela napas berat, duduk bersimpuh di samping jeruji besi. "Kabar baik, Nona. Kondisi Ayah Anda hari ini mulai membaik. Dokter menanganinya dengan baik." Jawab Xavier. Air mata Kaera menetes membasahi pipinya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Syukurlah...tidak sia-sia pengorbanan ku ini jika Ayahku mulai membaik, aku tidak tau kapan bisa melihatnya lagi." "Jangan bicara begitu, Nona. Anda harus bertahan," Ujar Xavier mencoba meyakinkan Kaera. “Tuan Handan masih menunggu kepulangan Anda, Nona." Kaera menunduk, meremas kain bajunya yang kotor. Hat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 16

    "Tuan..." suara Lila menguar lembut, selembut sutra yang membelai malam, berbanding terbalik dengan jeritan histeris Elena yang masih menggaung di balik pintu.Gerald melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup rapat. aroma lavender yang menenangkan berpadu dengan remang cahaya lampu tidur. Tetapi, ketenangan itu seketika sirna begitu punggung Gerald membentur daun pintu yang tertutup.Lila, yang masih duduk di tepi ranjang dengan buku di pangkuannya, tertegun ketika melihat sorot mata pria di depannya. Tatapan yang seakan ingin di manjakan olehnya. "Tuan Gerald..." panggil Lila pelan, menutup buku di tangannya lalu berdiri perlahan.Sebelum Lila sempat melangkah lebih dekat, Gerald sudah lebih dulu merenggut jarak di antara mereka berdua. tangannya langsung menarik pinggang Lila dan mencengkram nya erat, hampir menyisakan rasa nyeri. Tanpa sepatah kata pun, bibir pria itu langsung membungkam bibir Lila dalam sebuah ciuman yang menuntut, liar, dan jauh dari kata lembut."A-akh... Gera

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 15

    Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan mansion Romano seketika pecah oleh derit engsel besi pintu ruang bawah tanah.Gerald melangkah masuk membawa kotak P3K dan sebotol air mineral. Di sudut sel yang gelap, Kaera meringkuk di atas lantai kotor dengan napas tersengal-sengal dan demam tinggi.Perlahan Kaera mendongak ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Tatapan keduanya bertemu, sorot mata polos itu terlihat penuh kebencian dan kesakitan yang luar biasa. “Apakah Anda akan membunuh saya sekarang, Tuan Gerald?" Ucap Kaera pelan, suaranya serak. "Duduk dan minum ini," Titah Gerald dengan datar.Kaera memalingkan wajahnya. "Saya... tidak butuh... belas kasihan dari orang seperti Anda...""Aku bilang minum, Kaera!" Gerald mencengkeram bahu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya."AAKH!" Jerit tertahan lolos begitu saja dari bibir Kaera. Gerakan itu membuat luka cambuk di punggungnya kembali robek, mengeluarkan cairan merah yang membasahi pu

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 14

    Hening malam di lantai atas mansion Romano terasa begitu sunyi, tetapi hening di dalam sel bawah tanah jauh lebih menyeramkan. Di atas lantai yang dingin dan kotor, Kaera terbaring miring dengan napas yang halus dan pendek-pendek. Luka cambukan di punggungnya berdenyut nyeri, menyebarkan rasa panas yang membakar setiap kali dia mencoba bergerak. Piyama tipisnya yang robek kini lengket oleh darah yang mulai mengering.Di dalam kegelapan yang sel, Kaera tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Dia hanya memaku pandangannya pada dinding batu yang berlumut, memikirkan bayangan wajah ayahnya.“Kaera... Kamu satu-satunya alasan Daddy tetap bertahan hidup...”Suara lembut ayahnya terngiang-ngiang di kepalanya, menjadi satu-satunya ingatan tipis yang menahannya agar tidak menyerah pada rasa sakit yang kehilangan kesadaran."Aku tidak boleh mati di sini" bisik Kaera dalam hatinya, mengepalkan jemarinya hingga buku kuku-kukunya memutih. "Aku harus bertahan... Aku harus keluar dari tempat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 13

    Lantai yang begitu dingin dan lembap menyerap sisa kehangatan dari tubuh Kaera. Bau karat, darah kering, dan kelembapan tanah membumbung pekat di dalam sel bawah tanah mansion Romano. Hanya ada satu bola lampu redup yang berkedip-kedip di langit-langit, memancarkan cahaya kekuningan.Kedua pergelangan tangan Kaera terikat rantai besi berat yang menggantung pada dinding batu. Gesekan rantai itu telah mengelupas kulit halus di pergelangan tangannya, meninggalkan bekas kemerahan yang berdarah. Piyama tipis yang dikenakannya tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.Tetapi, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa hancur yang mencabik-cabik dadanya.Setiap kali membayangkan ayahnya, pria tua yang baru saja mendapatkan kembali penglihatannya, sekarang sendirian di rumah sakit tanpa perlindungan dan menjadi target klan Vancura, napas Kaera terasa seperti terhenti. Air mata yang bercampur dengan debu mengering di pipinya yang pucat.Pintu be

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 12

    Tiga hari sudah berlalu sejak peristiwa di rumah sakit, dan suasana di dalam mansion keluarga Romano berubah menjadi seperti medan perang yang menunggu ledakan pertama.Pagi itu, suara mesin mobil sport meraung keras di halaman depan. Elena melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan langkah anggun. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal tergenggam erat.Di meja makan, Gerald sedang memeriksa laporan keuangan klan melalui tabletnya, sementara Kaera duduk di ujung meja lain, sembari menyesap teh hangatnya dengan tenang.“Selamat pagi, sayang ku,” sapa Elena dengan suara manis yang memuakkan. Dia membungkuk, mendaratkan kecupan singkat di pipi Gerald sebelum mengalihkan pandangannya pada Kaera dengan tatapan jijik. “Dan... selamat pagi untuk pelayan yang beruntung bisa duduk di meja ini.”Kaera bahkan tidak menyia-nyiakan energinya untuk menoleh ke arah selir suaminya. “Suara burung gagak di pagi hari mem

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status