Share

Chapter 3

Penulis: dheanova
last update Tanggal publikasi: 2026-07-21 23:39:55

Di dalam ruangan megah bernuansa Midnight Blue, gairah dan dominasi menyatu di udara. Suara deru napas berat beradu keras dengan keheningan malam.

“Sayang, aku mohon pelan sedikit ... ini terlalu kuat!” erang Elena dengan napas terengah-engah. Suaranya parau, menyiratkan keputusasaan dan kenikmatan.

Namun, Gerald tidak peduli. Pria itu terus bergerak tanpa belas kasihan, mengabaikan permohonan wanita di bawah kungkungannya.

“Gerald, stop! Aku sudah tidak kuat lagi ... ini menyakitiku!” teriak Elena sembari mencengkeram sprei yang kini kusut tidak bertekstur lagi.

Gerald terkekeh dingin. Tawa pelannya terdengar mengejek. “Diamlah, Elena! Nikmati saja. Bukannya ini yang kamu mau? Tadi kamu sendiri yang menggodaku, kan?”

“Tapi tidak seperti ini, Gerald! Akh!” Elena memekik saat hentakan keras itu kembali menghantamnya. Tubuhnya terguncang hebat, rasanya seperti tubuhnya terbelah dua. Padahal ini bukan yang pertama kali mereka berdua melakukan nya.

“Aku bilang diam, Elena!” tegur Gerald penuh penekanan. “Jangan banyak bicara ketika aku sedang bergerak. Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak memancingku, tapi kamu tidak mendengarkannya. Jadi sekarang jangan buat mood-ku makin buruk!”

“Gerald, jangan ... aku bisa mati! Tolong ampuni aku ...,” lirih Elena. Kekasihnya malam ini seperti orang lain, bermain sangat brutal. “Bermainlah dengan wanita simpananmu yang lain! Tolong ....”

Gerald mendengus, matanya yang tajam berkabut oleh gairah. “Kita akan berhenti bermain ketika pagi datang, Sayang. Jadi, simpan tenaga dan jeritanmu itu.”

“Tidak! Gerald, aku mohon ....”

“Gantikan eranganmu dengan desahanmu yang seksi seperti biasanya, Elena. Itu lebih membuatku bergairah” sela Gerald.

Dua jam sudah berlalu dan itu seperti neraka bagi Elena. Gerald akhirnya mengerang keras, mendongak sembari memejamkan mata erat-erat saat mencapai puncaknya. Peluh keringat membasahi tubuh kekarnya yang sempurna.

Gerald Romano, pewaris tunggal keluarga berkuasa, Romero Romano, sekaligus ketua mafia nomor satu di dunia bawah tanah. Pria tampan yang kejam, dingin, dan tidak pernah percaya pada hal konyol yang di sebut pernikahan.

Dengan napas yang masih memburu, Gerald menatap Elena yang terkapar tidak berdaya.

“Elena? Kenapa kamu jadi lemah begini?” tanya Gerald dingin. “Aku bahkan belum puas. Kau harus melayaniku satu ronde lagi.”

Elena menggeleng lemah, suaranya hampir tidak terdengar. “Gerald... aku benar-benar sudah tidak sanggup. Bermainlah dengan wanita simpananmu saja. Aku bebaskan kamu malam ini.”

Gerald menatapnya datar, lalu mencabut diri dan meraih handuk di lantai untuk dililitkan ke pinggangnya.

“Baiklah kalau itu mau mu,” ucap Gerald santai. “Kamu mau tetap di sini melihatku, atau pindah ke kamar lain?”

“Di sini saja ... aku bahkan tidak sanggup hanya untuk sekadar berdiri,” bisik Elena pasrah.

“Pilihan yang bagus.” Gerald meraih ponsel di atas meja. “Xavier, panggilkan Lila ke kamar utama. Sekarang.”

Tidak butuh waktu lama, pintu kamar terbuka. Seorang wanita dengan gaun transparan super minim melangkah masuk dengan senyum menggoda.

“Malam, Tuan Gerald.” sapa Lila melenggak-lenggok mendekat ke arah pria itu.

“Puaskan aku malam ini, Lila. Kamu tau betul apa yang harus kamu lakukan, kan?” ujar Gerald tanpa basa-basi.

Lila terkekeh manja, matanya melirik sinis ke arah Elena yang terbaring tanpa busana di ranjang. “Tentu saja, Tuan. Hanya denganku kamu bisa mendapatkan kepuasan yang sesungguhnya.”

Lila mengecup bibir tebal Gerald, lalu jemari lentiknya mengusap rahang tegas pria itu hingga turun melucuti handuk di pinggang Gerald.

“Buktikan, Lila,” bisik Gerald serak. Pria itu duduk di sofa panjang, matanya lurus menatap Elena.

Lila berlutut di hadapan Gerald dan langsung menjalankan tugasnya. Suara mendesah berat dari mulut Gerald langsung memenuhi ruangan.

‘Kenapa rasanya sesakit ini?’ batin Elena.

Dia yang menyuruh Gerald bersama wanita lain, tapi dia pula yang kini merasa hatinya teriris-iris. Elena merapatkan jarinya, menutup telinganya rapat-rapat. Suara desahan dan erangan di ruangan itu membentur indra pendengarannya tanpa ampun.

Lila memang jauh lebih berpengalaman. Wanita itu cukup kuat untuk mengimbangi permainan brutal sang ketua mafia hingga beberapa ronde berakhir.

Hah... hah...

Napas Gerald dan Lila terengah-engah saat keduanya terkapar lemas di sofa.

“Kamu sangat luar biasa, Lila. Aku sangat menyukai permainanmu malam ini,” puji Gerald terang-terangan.

Lila tersenyum manja, menyandarkan kepalanya di dada bidang Gerald. “Terima kasih, Tuan. Saya akan terus berusaha lebih baik lagi untuk melayani Anda di ranjang ... kapan pun Anda membutuhkan saya.”

“Wanita pintar,” bisik Gerald seraya mengelus rambut Lila.

Di atas ranjang, Elena mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kukunya menancap di telapak tangan. Air mata hangat menetes deras menyusuri pipinya.

Status ‘kekasih resmi’ yang selama ini dia banggakan mendadak terasa seperti lelucon paling menjijikkan.

‘Kekasih? Aku hanya pajangan berlabel kekasih yang dia siksa kapan pun dia mau,’ jerit Elena dalam hati.

Tiba-tiba, Gerald bangkit dari sofa. Pria itu berjalan mendekati ranjang, menatap Elena yang sedang menangis sesenggukan dengan pandangan menelisik.

“Kenapa menangis, Elena? Bukankah ini yang kamu minta?” tanya Gerald sembari mencengkeram dagu Elena pelan tapi memaksa wanita itu menatap matanya.

Elena menepis tangan Gerald, lalu menatap pria itu dengan tatapan mata yang tidak lagi sama. Rasa cintanya yang tulus malam ini menjadi kekecewaan.

“Ya, ini yang ku minta,” jawab Elena dengan suara bergetar namun dingin. “Terima kasih sudah mengingatkanku posisi asliku di matamu, Gerald.”

Gerald menyipitkan mata, merasakan perubahan aura pada kekasihnya. “Apa maksudmu?”

Elena tersenyum getir, mengusap air matanya kasar. “Tidak ada. Nikmatilah malammu. Karena mulai besok... kamu tidak akan pernah bisa menyentuhku lagi.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 17

    "Minumlah, Nona Kaera," bisik Xavier dengan lembut, membantu Kaera menegakkan tubuhnya yang lemah.Kaera meneguk air itu dengan lahap, tenggorokannya yang seperti terbakar perlahan-lahan terasa sejuk. Napasnya masih memburu, tetapi secercah harapan mulai hidup kembali di matanya yang sayu."Terima kasih, Tuan Xavier..." suara Kaera terdengar serak, hampir seperti bisikan pelan. "Bagaimana... bagaimana keadaan Ayahku?"Xavier menghela napas berat, duduk bersimpuh di samping jeruji besi. "Kabar baik, Nona. Kondisi Ayah Anda hari ini mulai membaik. Dokter menanganinya dengan baik." Jawab Xavier. Air mata Kaera menetes membasahi pipinya. Senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat. "Syukurlah...tidak sia-sia pengorbanan ku ini jika Ayahku mulai membaik, aku tidak tau kapan bisa melihatnya lagi." "Jangan bicara begitu, Nona. Anda harus bertahan," Ujar Xavier mencoba meyakinkan Kaera. “Tuan Handan masih menunggu kepulangan Anda, Nona." Kaera menunduk, meremas kain bajunya yang kotor. Hat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 16

    "Tuan..." suara Lila menguar lembut, selembut sutra yang membelai malam, berbanding terbalik dengan jeritan histeris Elena yang masih menggaung di balik pintu.Gerald melangkah masuk, membiarkan pintu tertutup rapat. aroma lavender yang menenangkan berpadu dengan remang cahaya lampu tidur. Tetapi, ketenangan itu seketika sirna begitu punggung Gerald membentur daun pintu yang tertutup.Lila, yang masih duduk di tepi ranjang dengan buku di pangkuannya, tertegun ketika melihat sorot mata pria di depannya. Tatapan yang seakan ingin di manjakan olehnya. "Tuan Gerald..." panggil Lila pelan, menutup buku di tangannya lalu berdiri perlahan.Sebelum Lila sempat melangkah lebih dekat, Gerald sudah lebih dulu merenggut jarak di antara mereka berdua. tangannya langsung menarik pinggang Lila dan mencengkram nya erat, hampir menyisakan rasa nyeri. Tanpa sepatah kata pun, bibir pria itu langsung membungkam bibir Lila dalam sebuah ciuman yang menuntut, liar, dan jauh dari kata lembut."A-akh... Gera

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 15

    Jarum jam dinding di ruang tengah menunjukkan pukul dua dini hari. Keheningan mansion Romano seketika pecah oleh derit engsel besi pintu ruang bawah tanah.Gerald melangkah masuk membawa kotak P3K dan sebotol air mineral. Di sudut sel yang gelap, Kaera meringkuk di atas lantai kotor dengan napas tersengal-sengal dan demam tinggi.Perlahan Kaera mendongak ketika mendengar suara langkah kaki mendekatinya. Tatapan keduanya bertemu, sorot mata polos itu terlihat penuh kebencian dan kesakitan yang luar biasa. “Apakah Anda akan membunuh saya sekarang, Tuan Gerald?" Ucap Kaera pelan, suaranya serak. "Duduk dan minum ini," Titah Gerald dengan datar.Kaera memalingkan wajahnya. "Saya... tidak butuh... belas kasihan dari orang seperti Anda...""Aku bilang minum, Kaera!" Gerald mencengkeram bahu gadis itu untuk menegakkan tubuhnya."AAKH!" Jerit tertahan lolos begitu saja dari bibir Kaera. Gerakan itu membuat luka cambuk di punggungnya kembali robek, mengeluarkan cairan merah yang membasahi pu

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 14

    Hening malam di lantai atas mansion Romano terasa begitu sunyi, tetapi hening di dalam sel bawah tanah jauh lebih menyeramkan. Di atas lantai yang dingin dan kotor, Kaera terbaring miring dengan napas yang halus dan pendek-pendek. Luka cambukan di punggungnya berdenyut nyeri, menyebarkan rasa panas yang membakar setiap kali dia mencoba bergerak. Piyama tipisnya yang robek kini lengket oleh darah yang mulai mengering.Di dalam kegelapan yang sel, Kaera tidak menangis lagi. Air matanya sudah habis. Dia hanya memaku pandangannya pada dinding batu yang berlumut, memikirkan bayangan wajah ayahnya.“Kaera... Kamu satu-satunya alasan Daddy tetap bertahan hidup...”Suara lembut ayahnya terngiang-ngiang di kepalanya, menjadi satu-satunya ingatan tipis yang menahannya agar tidak menyerah pada rasa sakit yang kehilangan kesadaran."Aku tidak boleh mati di sini" bisik Kaera dalam hatinya, mengepalkan jemarinya hingga buku kuku-kukunya memutih. "Aku harus bertahan... Aku harus keluar dari tempat

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 13

    Lantai yang begitu dingin dan lembap menyerap sisa kehangatan dari tubuh Kaera. Bau karat, darah kering, dan kelembapan tanah membumbung pekat di dalam sel bawah tanah mansion Romano. Hanya ada satu bola lampu redup yang berkedip-kedip di langit-langit, memancarkan cahaya kekuningan.Kedua pergelangan tangan Kaera terikat rantai besi berat yang menggantung pada dinding batu. Gesekan rantai itu telah mengelupas kulit halus di pergelangan tangannya, meninggalkan bekas kemerahan yang berdarah. Piyama tipis yang dikenakannya tidak mampu menahan hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.Tetapi, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa hancur yang mencabik-cabik dadanya.Setiap kali membayangkan ayahnya, pria tua yang baru saja mendapatkan kembali penglihatannya, sekarang sendirian di rumah sakit tanpa perlindungan dan menjadi target klan Vancura, napas Kaera terasa seperti terhenti. Air mata yang bercampur dengan debu mengering di pipinya yang pucat.Pintu be

  • Tebusan Sang Don Kejam   Chapter 12

    Tiga hari sudah berlalu sejak peristiwa di rumah sakit, dan suasana di dalam mansion keluarga Romano berubah menjadi seperti medan perang yang menunggu ledakan pertama.Pagi itu, suara mesin mobil sport meraung keras di halaman depan. Elena melangkah masuk ke dalam ruang makan dengan langkah anggun. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya yang dipoles lipstik merah menyala. Di tangannya, sebuah amplop cokelat tebal tergenggam erat.Di meja makan, Gerald sedang memeriksa laporan keuangan klan melalui tabletnya, sementara Kaera duduk di ujung meja lain, sembari menyesap teh hangatnya dengan tenang.“Selamat pagi, sayang ku,” sapa Elena dengan suara manis yang memuakkan. Dia membungkuk, mendaratkan kecupan singkat di pipi Gerald sebelum mengalihkan pandangannya pada Kaera dengan tatapan jijik. “Dan... selamat pagi untuk pelayan yang beruntung bisa duduk di meja ini.”Kaera bahkan tidak menyia-nyiakan energinya untuk menoleh ke arah selir suaminya. “Suara burung gagak di pagi hari mem

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status