Home / Romansa / Telanjur Khilaf / Korban Istri

Share

Korban Istri

Author: Zee Jofany
last update publish date: 2021-06-03 16:45:45

Aku hanya bisa memukul kemudi,menoleh cepat pada Hera yang semakin menciptakan suasana mencekam. Ini bahkanbukan adegan horor, kenapa dia menjadi payah begini? Saat mendekatiku saja,bertingkah badai tanpa takut risiko apa pun. Sekarang?

Hanya dipergoki oleh Angela, langsungmenjadi percikan shower. Mereka berbeda, aku tahu itu. Mustahilkusamakan setiap wanita yang pernah singgah dengan istri yang menemani selamatujuh tahun, lengkap masa pacaran tiga tahun. Jauh sekali, mereka bermainperasaan. Namun, Angela? Dia akan terlihat tangguh di setiap suasana.

“Berhentilah membuang air mata, kamubilang bisa lebih baik dari Angela. Mana buktinya? Tunjukkan taringmu, Her!”Akhirnya aku kesal, bukan main dia bersikap bocah di usia kepala tiga. Apa katadunia? Saat di atas ranjang menjadi pusat gempa, tetapi ketika ada masalahmalah mirip kerupuk tersiram air.

“Mas, kalau kalian beneran cerai, akuakan dianggap pelakor.” Kalimat paling koplak, sejak tahun lalu sudah jelasgelar itu dia jadikan mahkota. Mengatakan padaku bahwa akan rela menjadi yangkedua, siri saja tak masalah. Namun, apa katanya? Tak mau dianggap pelakor.Lucu sekali wanita ini.

“Kamu turun di sini atau ikut kerumahku?” Aku menawarinya pilihan, siapa tahu dia menjadi memiliki keberaniansaat aku bersikap jantan. Ternyata Hera memilih turun di jalan, entah akanpulang bersama siapa. Tak mau ambil pusing.

Tujuanku sekarang pulang, mencobamemperbaiki semuanya. Menjelaskan tentu bukan suatu alternatif, berjanji takmengulangi pun percuma. Angela telah mengatakan hal tegas, meminta perceraian.Sial!

Apa aku akan menukar berlian denganrongsokan pasir? Bagaimana akan menjadi pria hebat ketika ada masalah hanyabisa menangis? Hera sialan! Mulut saja besar, nyali lebih mirip anak kucing dipasar.

Membanting setir, memasuki halaman.Tampak pintu rumah terbuka, kuatur napas. Sepertinya aku memang tak tahu malu,tetapi harus menyelesaikan semua ini. Menjadi ksatria, bukan melarikan diri.

Apa pun doa yang tertangkap ingatankubaca, berharap Angela akan luluh. Namun, kaki baru akan menyentuh batasambang pintu, wajah tenang nan cantik istriku muncul. Menahan diri lebihberani.

“Masih punya wajah untuk menginjakkankaki di rumah ini?” Kenapa dia masih menyetel nada keren begitu, salahkumembuat dia menghabiskan waktu menonton Drama Korea setiap malam. Terinspirasidari karakter utama di sana, semua menjadi dingin. Katanya, itu keren.

Angela menerapkan karakter buruktersebut, memiringkan kepala ke arah kanan. Memindaiku seolah barcode dalamdiri telah berada dalam masa tenggang, tak terbaca oleh pemindai hinggadilarang masuk rumah. Begitulah situasinya sekarang.

“Maaf, aku ....”

“Bersujud.” Dia memotong perkataanku,mengedikkan dagu dengan kedua tangan berlipat di depan dada. Sikap macam apaini? Dia menyuruhku bersujud? Wanita macam apa yang memiliki pola pikirdemikian? Durhaka sekali.

“Aku suamimu, jangan kurang ajar.”

“Iya, suamiku ... sampai satu jamyang lalu. Sekarang, bukan lagi. Paham?” Angela mengibas tangan, “Janganmemohon padaku, tak akan berlaku.”

Dia tak main-main rupanya, sorotmenikam dari dua bola mata menandakan keseriusan. Anehnya, aku tak berkutik.Geming, biasanya akan menerobos masuk. Mengabaikan setiap ucapannya.

“Aku masih suamimu, perempuan takberhak mengakhiri pernikahan sepihak.” Akhirnya aku menemukan jawaban kalimatpembungkam mulut, dia pasti akan terdiam seperti dulu. Menerima dengan pasrahsetiap takdir buruk bersamaku.

“Lalu?” Dia tampak sengaja menggantungkata-kata sembari memainkan kuku-kuku di tangannya, “Kamu akan terus bersikaptak tahu malu saat keberadaanmu bahkan tak dianggap manusia olehku? Jikabegitu, masuklah. Tetap tinggal dan berpura-pura menjadi bangkai di rumah ini.Tebar aroma busukmu sampai mual menggiringmu merangkak menuju kematian.”

Apa dia bilang? Bahasanya begitumenyebalkan, pemilihan khas seorang Angela. Selalu mampu menikam relung hatitanpa pukulan, tanpa amarah. Namun, ia sanggup melukaiku hanya dengan ucapan.

“Kamu akan menyesal telah melakukanini padaku.”

“Apa aku terlihat menyesal dariawal?” tanya Angela santai dengan posisi masih berdiri begitu angkuh, “Memilihmuadalah ujian buatku dan mempertahankan laki-laki tak tahu malu hanya akanmenjadi kutukan paling sial. Jadi, tahu jalan keluarnya, ‘kan?”

Astaga! Aku kehabisan kata, kenapadia begitu santai? Di mana hati dan perasaannya? Aku menjadi suami bukan hanyamelakukan perselingkuhan, masih ada banyak hal yang kami lewati bersama.Tidakkah dia memikirkan semua itu.

Hanya karena satu kesalahan, diamelupakan kenangan manis bersamaku. Keterlaluan, Angela memang wanita takberperasaan. Bukanlah wajar seorang laki-laki menyeleweng? Lagi pula aku takpernah serius dengan semua wanita itu.

Aku iseng saja, mencoba merayu danmereka mau. Hera pun sama, dia mendekat karena merasa nyaman bersamaku. Apa akusalah jika mencoba menyenangkan hati seorang wanita?

Mereka butuh perlindungan, aku hanyamenjalankan peran. Memberi kenyamanan yang dibutuhkan, tak ada paksaan. Bahkan,saat ketahuan pun, semua baik-baik saja. Angela tak terluka, buktinya diadengan sikap santai mengusir dan meminta perceraian.

Wanita ini pasti tak normal, diamemiliki kelainan. Di mana-mana, yang namanya istri sah akan menjambak parapelaku yang merebuthaknya,bukan malah menjadi penonton. Istriku ini terlalu tenang, apa dia benar-benarbaik saat ini?

“Kamu yakin akan bercerai denganku,tak mau berpikir ulang tentang kenangan kita?” Aku yakin, dia akan mengurungkanniat. Sebab, dialah yang lebih dulu datang padaku, mengatakan cinta di masalalu. Mustahil mau bercerai!

“Ho’oh, aku yakin.” Jawaban yangbenar-benar menyebalkan, terlalu pandai berpura-pura sampai terlihat begitunyata. Aku yakin, dia akan menangis setelah aku pergi. Lebih baik pergi darisini, membiarkan dia berpikir nyaman tanpa emosi.

“Baiklah, aku beri kamu waktu untukberpikir. Jangan mengambil keputusan saat emosi, aku tetap ingin bersamamu.Sampai kapan pun.” Mencoba menjadi bijak meski harga diri harus terinjak-injak,dia akan melihat kesungguhanku setiap kali mengenang kebersamaan kami.

“Woi, Dyo Kusuma!” Kali ini adaintonasi yang cukup tinggi dibanding sebelum-sebelumnya, “Mau kuberitahu hal-haljujur tentang kita?”

Benar bukan? Dia pasti akanmengatakan penyesalan saat aku memutuskan pergi, gayanya saja minta cerai.Ujung-ujungnya tak mau dipisah. Angela hanya bersikap angkuh demi menjaga sakithatinya.

“Silakan, jika itu membuatmu lega.”

“Baiklah, karena kamu yang meminta.”Dia hanya mengangguk-angguk dengan gerakan bibir menyamping beberapa kali,“Harus kumulai dari mana?”

“Apa pun, asal kamu bahagia.”

“Oke, dengarkan baik-baik. Aku takakan menarik setiap kata-kata yang keluar dari mulutku,” ujarnya memulaipembicaraan serius, “Sebenarnya ada banyak hal tentang kita yang harus dibahas,tetapi aku akan ambil alasan paling sederhana. Kita seharusnya bercerai sejakkamu ketahuan memiliki naluri binatang, karena manusia hanya diciptakanberpasangan dengan pemilik naluri serupa. Bukan makhluk jadi-jadian macam kamu. Maaf, aku terlambat mengatakannya.Namun, masa bodohku sudah usai. Silakan pergi dan sampai bertemu lagi di sidangperceraian.”

Pintu ditutup, aku hanya bisa membukamulut lebar-lebar. Diakah wanita yang kuanggap tak tahu apa-apa selama ini? Kenapapembalasannya begitu kejam? Apa setiap wanita memiliki kekuatan super di balikdiamnya?

Apa yang harus aku lakukan sekarang?Kalian pasti tahu, siapa korban dalam kisah ini? Itu aku, suami yang tersakiti.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Telanjur Khilaf   Usai Berpisah

    Tidak ada satu pasangan pun yang menginginkan perceraian, apalagi aku yang belum pernah membayangkan mengenai fase tersebut. Namun, jika kondisi tak memungkinkan lagi, mau tidak mau semuanya harus dihadapi. Setidaknya hubungan sehat yang harus didapatkan olehku.Sebelum memutuskan untuk menjalani perceraian, aku sudah mengetahui risiko yang bisa didapat. Bukan hanya rasa sedih dan sakit, ternyata juga memicu terjadinya gangguan mental. Jadi, jangan sampai meremehkan mengenai situasi ini.Kadang aku pun sulit menerima kenyataan mengenai situasi kami, aku dan Dyo tak lagi bersama. Oleh karena itu, sering lupa tentang status diri. Hanya saja, tak sampai merasa sangat tertekan oleh masa-masa sulit ini.Gangguan kesehatan mental pasca perceraian jelas terasa, pergumulan psikologis pun menggangguku. Terkadang aku merasa terisolasi dari diri sendiri, bahkan keluarga, dan teman-teman. Mengalami rasa tidak aman dalam bertindak, bahkan apa pun yang dilakukan terasa tidak biasa.Akibatnya, pikir

  • Telanjur Khilaf   Memaafkan

    Aku merasa sedikit lebih lega setelah bertemu Aira, setidaknya beban yang begitu berat tak dirasakan seorang diri. Namun, ketika berada di rumah seorang diri justru menjadikan suasana hati semakin memburuk. Perasaan sedih begitu mendominasi.Aku menghela napas dengan berat, mengingat setiap detail kejadian yang terjadi beberapa bulan terakhir. Semua terangkai begitu sempurna, seolah memang sudah direncanakan dengan matang. Hera memang bukan lawan yang bisa dianggap enteng, setidaknya wanita itu memiliki sisi tak tahu malu yang sangat besar.Keasyikannya dalam merenungi nasib terganggu oleh getar ponsel genggam yang diletakkan di saku celana, “Iya, ini aku.”Rupanya Edho menghubungi kembali melalui panggilan pribadi, aku berdiri untuk mencari tempat paling aman dalam mengobrol. Memasuki kamar yang tak terpakai, tetapi sering kugunakan saat mengerjakan tulisan. Ruang kerja rahasia yang berada di bagian belakang bangunan.“Katakan saja, aku akan mendengarkan.” Aku berkata sambil mengunci

  • Telanjur Khilaf   Berhak Bahagia

    “Angela!” seru seorang perempuan berusia sekitar 36 tahun, salah seorang sahabat terbaik yang kumiliki menghampiri.Aira yang sudah membaca pesan dari teman terbaiknya menyambut dengan dekap hangat, penguat di kala masalah membelit sempurna. Aku memang tidak setuju saat wanita tersebut memutuskan menikah dengan lelaki asing, tetapi posisiku kala itu memang bukan sosok yang bisa memilih hal terbaik. Apalagi musibah yang menimpa, tak bisa dibayangkan betapa mengerikan situasi hidupnya saat itu.“Mereka berkolaborasi dengan sempurna, aku sampai terkecoh dibuatnya.” Aku melaporkan temuan yang sangat mengejutkan, dibanding kembali pulang. Lebih memilih mengutarakan semua kebejatan keluarga suaminya pada sang sahabat.Seharusnya aku mendengarkan apa yang dikatakan oleh Aira, tidak menyimpan kepercayaan pada Dyo. Semua orang yang semula begitu jahat mendadak baik, tentu ada niat terselubung. Aku terlalu naïf untuk kehidupan nyata, padahal sangat ahli menciptakan kisah super halu yang mengeju

  • Telanjur Khilaf   Mencari Kesalahan

    “Angela, temui aku. Ada yang harus kamu lihat sendiri, ini tentang suamimu.” Kalimat dari Edho inilah yang membuatku menunda pergi ke rumah orang tua Dyo, mengubah rute menuju taman kota.Di sana, seorang pria tampan tengah melambaikan tangan sebagai isyarat keberadaannya, dan aku tersenyum sembari mendekat. Langsung kusambar tablet di tangan Edho, memeriksa semua hasil temuan teman terbaik. Beberapa poin cukup dipahami, tetapi sisanya hanya dilewati karena tak mengerti.“Jelaskan saja garis besarnya,” ujarku pada rekan yang hanya mengangguk patuh, “kirim gambar-gambar yang berhasil kamu ambil dari media sosial.”Edho kembali mengangguk sebelum membuka mulut, “Suamimu sedang dalam pengawasan serius, sepertinya pimpinan pabrik sudah menemukan hal-hal mencurigakan terkait penggelapan dana. Hanya menunggu semua bukti terkumpul, apa informasi ini berguna?”Aku hanya terdiam, akan lebih nyaman jika segera mengetahui mengenai kebenaran tentang perselingkuhan Dyo bersama Hera. Akan tetapi, m

  • Telanjur Khilaf   Tak Pernah Jera

    Jika bukan karena ingin memberikan pembalasan setimpal, aku sudah menggugat cerai. Sebab, apa lagi yang bisa dipertahankan dari rumah tangga menjjikkan ini? Dyo bahkan sudah menodai pernikahan kami sejak lama tanpa otak.Aku jelas merasa jijik setiap kali melihat wajah Dyo, tetapi untuk sementara memang harus menahan hingga waktu balas dendam tiba. Sekuat apa pun mencoba terlihat baik-baik saja, tetap perasaan kesal mendominasi sehingga tak mampu menyingkirkan jarak yang sengaja dibuat sejak pagi. Bagaimana bisa tersenyum mesra ketika kenyataan buruk menampar kesadaran?‘Jangan pikir aku bodoh, apa pun bisa kulakukan demi sakit hati yang kalian buat. Lihat saja!’ Aku bergumam dalam batin sembari meluruskan tatap pada pria yang sedang menikmati sarapan, benar-benar tak punya otak sampai masih bisa tetap santai di depanku.Akting paripurna yang begitu bagus, aku memuji kemahiran Dyo dalam menyembunyikan semua perbuatan busuknya. Bahkan, sampai memiliki anak kecil bersama gundik yang ter

  • Telanjur Khilaf   Masih Dipantau

    Semua tak hanya sampai di sana, sekalipun pelabrakan menuai hasil maksimal. Tetap saja dua manusia menjijikkan itu justru menjadi sangat mengerikan, menjelma iblis tanpa mau peduli pada perasaanku. Bahkan, Hera sengaja meneror agar aku mengetahui aksi mereka.“Halo …?” Aku sengaja mengeluarkan suara meskipun curiga, “Mas, ada apa?”Fokus pecah begitu saja ketika menyadari masih tentang panggilan dari nomor ponsel Dyo, tanpa obrolan. Hanya grasak-grusuk suara benda bergesekan, kulirik jam yang tertempel di dinding. Pukul satu malam, tetapi desau napas tak teratur jelas menunjukkan aktivitas mencurigakan di seberang sana.Ini bukan sekali, aku sudah menerima panggilan demikian setiap kali suami tercinta pamit dalam perjalanan bisnis. Bahkan, ini yang terparah. Apa Dyo sedang menonton film dewasa untuk menggodanya?Biasanya memang lelaki tampan tersebut memiliki cara konyol dalam mengutarakan kerinduan, sekalipun pernikahan telah berusia 7 tahun. Akan tetapi, pria yang kunilai baik selal

  • Telanjur Khilaf   Bonus Shift Malam

    Ini di tahun yang sama, kejadian 2017 lalu. Ketika aku masih bersama Ayu, santri asal pondok pesantren ternama yang dianggap alim nan lugu itu sudah dilepas segelnya oleh Dyo Kusuma. Bangga? Jelas, dong! Usia 28 tahun masih laku pada gadis.Sebenarnya malas sekali untuk dinas malam, tetapi

  • Telanjur Khilaf   Kisah dari 2017

    Masih dari tahun 2017, saat aku sudah bekerja di salah satu Puskesmas. Memang ada seorang gadis cantik yang dekat denganku, tetapi kami hanya sebatas saling menggenggam tangan. Sebab, dia anak pondok yang menjaga sikap untuk jauh dari khilaf.Kami membahas hal seru di setiap tulisan yang k

  • Telanjur Khilaf   Kisahku Bersama Ayu Samira

    Membahas Angela tak akan ada habisnya, dia bagai rumus matematika. Sulit dipecahkan isi pikirannya, kenapa selalu mengetahui setiap kesalahan yang kuperbuat di luar rumah? Berbohong pun percuma, akan tetap ketahuan. Apa kepalanya berisi metal detektor?“Dari mana?” tanya ini selalu menyambu

  • Telanjur Khilaf   Kisah dari 2005

    Ini kisah tragisku tahun 2015, ya. Kala itu, setelah ketahuan selingkuh dengan Cindy Elfareza. Sikap istriku terlalu tenang, tetapi kalian tahu peribahasa bukan? Tentang air yang beriak tanda tak dalam dan akan tenang dalam menghanyutkan, Angela ada pada poin kedua.Tanpa riak, tandanya mu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status