Share

Bab 15 -

Author: Pipin
last update publish date: 2026-09-28 11:56:22

Layar ponsel di genggaman Lea meredup perlahan. Lima panggilan berturut-turut ke nomor 'Om Tampan' sama sekali tak diangkat. Jangankan dijawab, dioper ke nada panggil saja langsung dialihkan ke pesan suara.

"Dasar polisi kaku! Benar-benar sengaja menutup akses!" umpat Lea, menghentakkan kakinya kesal saat melangkah masuk ke rumahnya.

Di dinding ruang tamu, kalender gantung menatapnya dengan angka-angka yang seolah menjulurkan lidah. Lea mendekat, jemarinya mengusap lingkaran spidol merah di tan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 22 - Kedatangan "masa lalu. "

    "Lea..." panggil Alexander lirih, suaranya tercekat di tenggorokan. Langkah kakinya hendak mendekat, namun tertahan oleh tatapan mata Lea yang begitu hancur dan penuh keputusasaan."Aku nggak peduli sama keselamatanku sendiri, Om! Sama sekali nggak peduli!" potong Lea. "Tapi mana mungkin aku biarkan sesuatu yang buruk terjadi sama Om?!"Air mata menetes deras menelusuri pipi halus perwira muda itu. Ia menyapu air matanya kasar dengan punggung tangan, menatap Alexander dengan kejujuran paling telanjang yang tak lagi bisa ia tutupi."Aku tahu ini gila... jatuh cinta setengah mati sama pria yang seumuran sama Ayahku sendiri," bisik Lea sengau. "Tapi aku nggak bisa ngontrol perasaan ini, Om. Sekalipun perasaan ini nggak pernah Om balas... aku nggak mau hubungan ini berakhir dengan kematian Om!"Alexander membeku total. Kata-kata Lea menghantam dadanya begitu telak, menyisakan sesak yang amat membakar."Sekarang aku mohon... kalaupun bukan demi aku, lakukan ini demi Joshua!" desak Lea deng

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 21 - Rasa sayang dan Ancaman

    "Pa! Pa, coba lihat ini! Ada bangkai kucing di depan pintu!" teriak Joshua panik. Napas polisi muda itu memburu pendek. Sejak beberapa hari terakhir, firasat buruk terus membayangi pikirannya, dan penemuan mengerikan di ambang pintu rumah mereka hari ini seolah mengonfirmasi ketakutannya.Alexander melangkah keluar dari dalam rumah, masih mengenakan kemeja polos dengan lengan tergulung di siku. Matanya memicing menatap bangkai kucing berdarah yang tergeletak tepat di atas keset. "Tenang, Jo... Ini mungkin cuma ulah anjing liar kawasan ruko," ujar Alex dengan suara tenang yang dibuat-buat, berusaha meredam kepanikan putranya."Anjing liar apanya, Pa?!" potong Joshua dengan suara naik satu nada. Tangan kanannya gemetar di samping paha. "Aku yakin tadi ada orang yang sengaja meletakkannya! Firasatku nggak salah, Pa... Seminggu terakhir ini ada yang terus mengintai aku!""Jo, kamu itu polisi sekarang," tegur Alex. "Kamu baru saja lulus pendidikan. Kenapa bisa jadi sepenakut ini hanya ka

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 20 - Om, Nikah Yuk

    Suasana kafe remang-remang di sudut kota malam itu cukup tenang untuk mengobrol santai. Pria paruh baya itu masih tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang detektif paling disiplin dan kaku di Markas Kepolisian seperti dirinya mengiyakan ajakan makan malam di luar jam dinas bersama bawahannya sendiri—yang baru tadi pagi ia sambut secara resmi."Nggak nyangka ya, Om... kita akhirnya berdiri di tempat yang sama," ujar Lea memecah keheningan, mengaduk tehnya pelan. "Padahal sejujurnya, aku nggak pernah mau ada di sini."Alexander menaikkan sebelah alisnya. "Nggak mau di sini? Maksud kamu, di kepolisian?""Ayah melarang keras aku jadi polisi," sahut Lea renyah, menyunggingkan senyum tipis. "Kata Ayah dulu, polisi itu terlalu terikat hukum resmi. Gerakannya terbatas, kaku, dan yang paling penting... gajinya dikit banget! Gagal total deh impianku buat beli rumah mewah."Soal rumah, dada Lea mendadak berdesir getir. Demi membiayai seluruh operasional, sekolah kilat perwira, hingga taktisnya

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 19 - Tetap konsisten Ya Om?

    "Pa, kok Papa bisa berdiri santai di depan sana sebagai Komandan yang disegani, sementara aku cuma dijadiin polisi baru yang serba canggung begini sih? Nggak adil banget!" rengek Joshua setengah berbisik, merapikan kerah seragamnya dengan raut wajah kesal.Melihat sosok Alexander yang begitu dihormati dan selalu diberi jalan oleh para perwira senior, ego Joshua terbakar. Ia ingin dipandang seperti ayahnya. Namun kenyataannya, di sudut ruangan ini, ia hanyalah penyidik muda yang keberadaannya bagai angin lalu, meski semua orang tahu darah Alexander mengalir di tubuhnya."Fokus, Joshua," tegur Alexander tanpa menoleh sedikit pun. "Kamu di sini buat belajar disiplin, bukan buat pamer status sebagai anak Komandan."Belum sempat Joshua mendengus membalas ucapan ayahnya, mikrofon di podium utama mendadak berumpan balik dengan suara mencicit nyaring, memotong seluruh perdebatan mereka.Kapolres mengetuk podium dua kali, membuat puluhan pasang mata penyidik dan perwira di dalam ruangan seketi

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 18 - Telat Om, aku sudah jatuh cinta

    [Pesan dari: Komandan Alex] Bisa bertemu jam makan siang ini? Ada yang harus saya bicarakan. Saya tunggu di restoran dekat taman kota. Setelah membaca pesan itu, Lea langsung menuju tempat yang dimaksud. Di meja kayu dekat jendela kaca besar, dua cangkir kopi dan dua piring makanan utama dibiarkan mendingin tanpa tersentuh. Keduanya masih dalam pikiran masing-masing. "Saya ingin mengatakan sesuatu, Lea..." ujar Alexander memulai percakapan. Lea mendongak, menatap iris mata cokelat tua milik pria matang di depannya. "Aku juga, Om." Alexander menatapnya dalam, lalu menyandarkan punggungnya. "Kamu duluan." Lea menghela napas pelan. Ia mengalihkan pandangannya sekilas ke luar jendela, membiarkan dadanya bergemuruh pelan. Semalaman ia tidak bisa tidur, terus-menerus mempertimbangkan ucapan Paman Heri tentang masa lalu ayahnya sebagai eksekutor mafia. Ia tidak bisa terus-terusan menyeret Alexander ke dalam jurang kematian yang diciptakan oleh jaringan masa lalu ayahnya. "Aku akan da

  • Telat Om! Aku Sudah Jatuh Cinta   Bab 17 - Dalang sebenarnya

    Keesokan paginya, dimeja Alexander, sudah tergeletak sebundel map draf laporan penyelidikan yang tebal dan tertata sangat rapi. Alexander membaca baris demi baris berkas itu dengan kacamata baca terpasang di pangkal hidungnya. Muka kaku Alex perlahan berubah dari skeptis menjadi terperanjat. Analisisnya begitu presisi—mulai dari tekstur tanah lumpur berkapur Tanjung Priok, pemetaan stiker Bea Cukai '09-J', hingga pola pergantian sif patroli Polsek setempat yang dimanfaatkan para pelaku. Ia menengadah, menatap Bimo yang berdiri di depan mejanya. "Kamu menyelesaikan semua analisis tajam ini dalam satu malam?" tanya Alex tak percaya. Walau ia tahu Bimo adalah perwira muda yang pekerja keras, detail analisis ini terlalu matang, terlalu dingin, dan rasanya hampir mustahil dikerjakan sendirian oleh seorang penyidik junior dalam waktu hitungan jam. "Tentu, Komandan!" jawab Bimo dengan posisi berdiri tegap, menepuk dadanya penuh kebanggaan—meski ada sedikit rasa gugup membakar tenggor

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status