LOGINPagi ini aku merasa lebih segar meski jam tidurku terbilang kurang.
Sebelum subuh tadi aku baru sampai rumah dan baru istirahat setelah berjuang ambil peran dalam drama yang di sutradarai si Raja neraka kemarin.Namun, ketika baru bangun tidur, saat nyawaku belum benar-benar terkumpul. Putra tiba-tiba masuk kamarku tanpa mengetuk pintu dan langsung menegurku.“Kak, Kakak serius ada hubungan dengan Bos Kakak, Harvey Adam ini?” Putra menunjuk layar ponsel di tangannya.Aku hanya menatap Putra tanpa berkata apa-apa. Otakku masih nge-lag.“Kak, dia ini pengusaha terkenal. Kakak maupun keluarga kita gak selevel sama dia, Kak!"Aku takut kalau Kakak cuma dipakai mainan sama dia!”Seketika mataku melebar, “ngomong apa sih?”“Ini…” Putra mendekat, memberikan ponselnya padaku. “Seheboh itu beritanya!"Beberapa saat aku menatap layar ponsel itu dan membaca judul postingan “Ini Alasan Harvey Adam Ditinggalkan Tunangannya!"Wah parah sih ini, kalau begini tentu aku yang paling dirugikan. Dalam kadus sejarah skandal bos dan bawahannya, pasti bawahannya yang dikira menggoda lebih dulu. Orang pasti mengira aku yang merayu si Raja Neraka. Padahal selama ini aku saja tidak tahu kalau sebelumnya Pak Harvey dan Bu Sellyn itu pernah bertunangan.Oke, Aku membuang napas besar dan mengembalikan ponsel Putra padanya dan mualai menyadarkannya. "Heh, asal kamu tahu ya, kalau Kakak gak lakuin itu, hari ini kita sudah diusir dari rumah ini dan jadi gelandangan.”Aku berdiri dari tempat tidur, berjalan menuju meja riasku dan merogoh tas besar yang ku taruh di kursinya.Ku lemparkan sebuah map ke atas kasur.Pandangan Putra mengikuti map itu.“Tuh, udah ditebus sertifikat rumahnya.” Aku menunjuk Putra dari jarak sekitar dua meter, “jangan berani lagi menyentuhnya!”Aku tahu, tadi Putra hanya merasa khawatir padaku, tapi aku benar-benar belum bisa menghilangkan sepenuhnya rasa kesalku padanya. Itu kenapa emosiku tersulut ketika dia menegurku.“Oh..." Dia mengangguk patuh. "Aku kira…” ekspresinya seperti orang menyerah.Setelah itu Putra langsung membalikkan badan dan meninggalkan kamarku.Dari punggungnya aku pun paham, jika sebenarnya Putra merasa bersalah dan menyesal. Kasihan juga kalau di lihat-lihat.Tapi aku tidak mau memperlihatkan rasa kasihanku. Bagaimanapun dia harus punya rasa jera agar tidak melakukan hal ceroboh lain hari.Terdiam sejenak, pikiranku tiba-tiba kembali ke si Raja Neraka.ini tidak bisa dibiarkan, Aku harus minta pertanggung jawaban padanya soal berita heboh ini… Dia itu punya kuasa, masak iya tidak bisa membendung berita buruk yang beredar tentang dirinya?Aku tidak mau gara-gara berita ini, aku jadi dihujat banyak orang nantinya. Dianggap merusak hubungan orang atau parahnya dikatain Pelakor!Kebetulan hari ini kami ada janji untuk bertemu, membahas soal kerjasama selanjutnya. Awas saja kalau nanti dia tidak mau membersihkan nama ku, akan kubuat skor kita jadi satu sama!***Sesampainya di perusahaan, aku merasa sedikit bingung karena kantor ini sepi.Aku memutuskan untuk bertanya pada salah satu petugas kebersihan yang sedang bekerja dan katanya sebagian besar dari mereka termasuk Pak Harvey sedang berada di gedung putih.Aku ingat, perusahaan sejak tahun kemarin memang menjadi sponsor utama pembangunan gedung putih. Sebuah perpustakaan yang berada di pusat kota.Rupanya, hari ini gedung itu resmi dibuka dan Pak Harvey pasti disana untuk memotong pita peresmian.Aku segera bergegas kesana dengan mengendarai taksi online.Sesampainya disana, ternyata acara telah di mulai, pite juga sudah di potong dan semua orang berkumpul di halaman belakang gedung putih untuk mendengarkan sambutan dari pimpinan Adamindo Group.Aku melihatnya dari kejauhan. Pak Harvey sudah berada di podium, dia bersiap untuk pidato di depan para tamu.“Selamat Pagi, para tamu yang terhormat, teman-teman terkasih. Saya senang menyambut anda semua disini.”Seketika, riuh tepuk tangan terdengar dari berbagai penjuru halaman terbuka ini, aku juga melihat Bu Sellyn dan tunangannya di barisan pengunjung.Pesona seseorang yang sedang berdiri di podium saat ini memang terlihat luar biasa. Sayangnya, mau bagaimanapun dia tetap si Raja Neraka!Lihat saja, aku akan menunggunya turun dari podium dan menuntut tanggung jawabnya, dia sudah menciptakan situasi yang membuatku tersudut.“Sebelum kita bicara tentang bisnis, izinkan saya untuk meluruskan sesuatu.” Dia melanjutkan, “tentang berita “skandal” yang baru saja mencuat ke publik. Itu tidak benar!”Apa? Apa maksudnya tidak benar, jelas-jelas kemarin di hadapan mantan tunangan dan banyak wartawan dia mengatakan kalau aku adalah kekasihnya dan dia menciumku.Ini tidak bisa dibiarkan!Seketika aku maju kedepan, entah dorongan apa yang membuatku menjadi pemberani. Aku hanya ingin melakukan apa yang ada dalam hatiku.Tanpa ragu aku melangkah ke podium. Menatap lurus pada posisi dimana Raja Neraka itu berdiri.Sempat dia menyadari kedatanganku dan melihatku.“Kenyataannya…”Kenyataan apa?Aku segera mempercepat langkahku menuju podium.Ini tidak beres!Pasti dia mau lari dari masalah.Begitu sampai di podium, aku langsung naik dan tanpa ragu menangkup kedua pipinya. Kemudian ku tutup bibirnya yang bicara seenaknya itu dengan bibirku.Ku biarkan dia tenggelam dalam lumatan manisku.Sejenak aku sadar kalau suara dari tempat penonton menjadi begitu sunyi. Mungkin semua orang disini sedang terkejut atas apa yang kulakukan.Tapi aku tidak peduli, kemarin dia menciumku di tepi pantai. Tapi itu di Bali, di Bali banyak turis asing yang bahkan tidak tabu untuk berpakaian setengah telanjang, berciuman di tempat umum juga tidak ada yang peduli. Tapi tidak disini, ini Ibu kota.Rasakan kau Raja Neraka!Pembalasanku lebih memalukan dari apa yang kamu lakukan padaku kemarin.Namun beberapa detik kemudian, aku merasakan kedua tangan Pak Harvey memeluk pinggangku. Astaga, dia menikmatinya?Begitu aku melepaskan tautan bibirku, Aku baru menyadari kalau wartawan sudah mengelilingi kami dengan kamera yang terus merekam.“Ikut saya!” Ucap Pak Harvey.Dia menggenggam tanganku, membawaku berjalan menuju pintu masuk ke dalam gedung putih.Beberapa teman kantor yang mengenalku berusaha memanggil.“Prilly!”“Prilly, ada apa inj?”Tapi aku hanya diam melewati kerumunan itu mengikuti langkah Pak Harvey.Tak lama setelah kami masuk, kami berpapasan dengan sepasang laki-laki dan perempuan. Wajahnya seperti tidak asing.“Coki?” Aku menghentikan langkahku.Pria di hadapanku yang sedang memeluk pinggang pasangannya ini seketika melirik tanganku yang sedang di genggam Pak Harvey.“Lara?” Aku menyapa wanitanya. Dia mengangguk sombong.“Pak Harvey Adam?” Ucap Coki.Tapi Pak Harvey hanya menatapnya asing, seolah dia sendiri bingung, siapa laki-laki ini.“Permisi Ily!” Sapa Coki.Aku hanya mengangguk, mengijinkan dia untuk segera pergi dari hadapan kami, kemudian segera mengibaskan tangan Raja neraka ini.“Lepaskan tanganku!”“Siapa dia?”“Pacarku.”“Oh!” Dia mengangguk seperti mengolok.“Mantan, mantan Pacar!”“Oh, begitu... Oke,” Pak Harvey memasukkan kedua tangannya ke saku celananya. “Sekarang jelaskan, apa itu tadi!?” menatapku meminta penjelasan.Sementara pikiranku masih teralihkan pada pertemuanku dengan mantan pacar juga mantan sahabatku sendiri. Sedang apa dia disini? Kenapa juga harus bertemu disaat yang seperti ini?Otakku jadi tidak bisa mencetak jawaban untuk Pak Harvey.Satu tahun yang lalu Aku dan Coki berpisah karena mengetahui Coki berselingkuh dengan sahabat ku sendiri, Lara. Iya... wanita yang bersamanya tadi.“Maaf pak.” Hanya kata maaf jawaban yang bisa dihasilkan otakku sementara ini.“Hah? Apa? Maaf?” Kedua alis Pak Harvey bertaut.Jangan lupa berlangganan untuk mendapat notif update novel ini ya... Dan terimakasih duah meninggalkan jejjak review di kolom komentar. Komentar kalian adalah semangat untuk kami para Author <3
Aku membalas senyumnya, lalu melangkah keluar dari pendopo kecil itu.Baru beberapa langkah meninggalkan tempat itu, suara gemericik air mulai terdengar dari arah samping.Aku menoleh.Kolam renang.Entah kenapa kakiku justru melangkah ke sana.Semakin dekat, suasana di sekitar kolam justru semakin sunyi. Keramaian di depan rumah seolah tidak sampai ke tempat ini. Hanya terdengar suara air yang mengalir pelan dan embusan angin yang sesekali menggoyangkan dedaunan.Aku berhenti di tepi kolam.Pandangan itu langsung bertemu dengan bayanganku sendiri yang memantul di permukaan air.Gaun putih gading ini terlihat begitu anggun.Aku tersenyum kecil.Namun senyum itu perlahan memudar.Hari ini…seharusnya aku memang mengenakan gaun seperti ini. Bukan di rumah Pak Harvey.Bukan untuk menjalankan sebuah pertunangan palsu.Melainkan…untuk bertunangan dengan Coki.Aku masih ingat bagaimana kami pernah membicarakan hari itu. Kami sempat berdebat soal bunga, soal warna dekorasi, bahkan soal menu
Pukul enam tepat, Porsche hitam milik Pak Harvey berhenti di depan rumahku. Siap membawaku ke rumahnya.Aku membuka pintu mobil begitu beliau memencet tombol pengunci.Udara pagi masih terasa sejuk.Hari ini rumah Pak Harvey terlihat jauh berbeda dibanding terakhir kali aku datang.Beberapa mobil boks terparkir rapi di halaman.Puluhan orang berlalu-lalang membawa rangkaian bunga, meja, hingga perlengkapan pesta.Pendopo utama yang biasanya lengang kini dipenuhi para dekorator.Aku bahkan sempat melihat beberapa pelayan sedang menyusun peralatan makan di taman belakang.Ramai sekali.Tanpa sadar aku menghembuskan napas pelan.“Ikut.”Suara Pak Harvey membuyarkan lamunanku.“Iya, Pak.”Aku segera berjalan mengikutinya.Baru beberapa langkah, Panji datang tergesa membawa sebuah map.“Selamat pagi, Pak Harvey.”“Selamat pagi.”“Ini jadwal tamu yang sudah diperbarui.”Pak Harvey membukanya sekilas.“Pak Fikri?”“Beliau mengkonfirmasi hadir bersama istrinya.”Pak Harvey mengangguk.“Proyek
Sepanjang perjalanan pulang, suasana di dalam mobil begitu sunyi.Aku sengaja memandang keluar jendela agar tidak melihat wajah Pak Harvey.Entah kenapa, setelah makan malam tadi, aku justru merasa suasana di antara kami menjadi semakin canggung.Padahal seharusnya tidak.Bukankah semua yang kulakukan tadi memang bagian dari tugas?Aku hanya sedang membantu drama pertunangan ini agar terlihat meyakinkan di depan Bu Sellyn.Kalau bukan karena itu, mana mungkin aku menyuapi pria menyebalkan itu.Mana mungkin aku mengusap sudut bibirnya.Astaga…Semakin diingat justru semakin memalukan.Aku mengusap kedua pipiku pelan.Hangat.Pasti merah sekali.Di sampingku, Pak Harvey tetap fokus menyetir.Tangannya mantap menggenggam kemudi.Tatapannya lurus ke depan.Tidak satu kalimat pun keluar dari mulutnya.Ya…Mungkin memang suasana hatinya sedang buruk.Melihat wanita yang dicintainya bermesraan dengan pria lain di depan mata siapa yang sanggup tetap tenang?Aku mencuri pandang sekilas.Wajahn
Tunangan Bu Sellyn mengulurkan tangan pada Pak Harvey. Setelah mereka bersalaman, tangan itu berpindah padaku. Aku pun menyalaminya.“Prilly, kenalkan, ini Fery. Sayang, ini Prilly.” Bu Sellyn memperkenalkan.“Astaga, kita bertemu di sini,” tambahnya.Suara Bu Sellyn terdengar begitu ringan, seolah pertemuan ini hanyalah kebetulan yang menyenangkan.Aku tersenyum sopan.“Selamat sore.”“Selamat sore,” jawab Pak Harvey datar.Ferry lebih dulu mengulurkan tangan.“Senang bertemu lagi, Pak Harvey.”Pak Harvey menyambut uluran tangannya tanpa mengubah ekspresi sedikit pun.“Saya juga.”Kemudian Ferry menoleh kepadaku.“Nona Prilly.”Aku membalas jabat tangannya.“Senang bertemu lagi.”Bu Sellyn langsung meraih lengan Ferry dan menggandengkannya dengan manja.“Sayang, bukankah restoran ini favorit kita?”“Iya.”Ferry tersenyum tipis.Mereka tampak begitu serasi.Aku melirik Pak Harvey sekilas.Wajahnya tetap datar.Ya Tuhan…Apa sebenarnya isi hati laki-laki ini?Bagaimana mungkin seseoran
Setelah keluar dari toko perhiasan, Pak Harvey mengajakku ke sebuah restoran dengan pemandangan tepian laut ibu kota. Pelayan restoran disana langsung mengarahkan kami duduk di meja paling sudut di depan jendela besar yang sangat strategis menampakkan pemandangan laut dengan beberapa bukit yang menakjubkan.Begitu duduk, aku mengamati view istimewa restoran ini. Ini pemandangan yang luar biasa. Tapi aku heran, karena sejak datang, Pak Harvey justru sibuk membolak balik buku menu tanpa sedikitpun memperdulikan pemandangan disini dan membuatku bertanya.“Sejak kita duduk, Anda tidak sekalipun menoleh ke pemandangan sekeliling kita.”“Saya sering kesini, ini tempat favorit saya, saya sudah hafal diluar kepala bagaimana bentuk pemandangan disini.” jawab Pak Harvey sambil terus sibuk membolak-balik buku menu, sambil sesekali membalas pesan masuk di ponselnya.Aku bergumam, “Ini hal terbodoh yang pernah saya dengar di hidup saya.”Bagaimana tidak jadi hal terbodoh? Definisi dari tempat favo
Begitu Pak Fikri pergi, aku sudah tidak tahan untuk meminta penjelasan tentang pesta pertunangan ini.“Siapa yang mengizinkan anda memutuskan untuk mengadakan pesta pertunangan ini sendiri, pak Harvey?”Wajah pak Harvey seketika berubah tegas. “Kita bicara di dalam!” dia melangkah masuk ke ruang konferensi dengan aku di belakangnya.Begitu kami masuk, Pak Harvey menutup pintu, “Ily, jangan pernah meneriaki saya lagi!” tekannya.Aku meletakkan tas tanganku diatas meja konferensi dengan sedikit membanting.Dia pikir, cuma dia yang bisa marah disini dan aku akan takut, kemudian tunduk padanya?Oh, tidak!Aku semakin mendekat dan ku jenjangi tatapan mata Pak Harvey, “Lalu. saya harus berterimakasih, gitu? Setidaknya anda beritahu saya kalau akan ada pesta pertunangan. Bukan malah saya tidak tahu apa-apa seperti ini!? Apa—apa yang anda pikirkan tentang saya? Anda menganggap saya sebagai mainan anda? Anda pikir saya akan mengikuti apapun kemauan anda seperti kerbau dicocok hidungnya, begitu?
“Hah? Apa? Maaf?” Kedua alis Pak Harvey bertaut, terlihat tidak puas pada jawabanku. Tujuanku menciumnya di depan umum memang untuk balas dendam, agar dia tidak bisa mencabut deklarasi yang kemarin dia buat, kalau aku adalah kekasihnya. Aku tidak mau dianggap buruk sendirian… Ini saatnya untukku me
Turun dari pesawat, aku tak bertanya apapun pada Pak Harvey, begitu juga sebaliknya. Bahkan dia meninggalkanku di belakang. Hanya ada Panji yang siaga di sampingku, membantu aku turun dari pesawat. Jujur, aku sangat penasaran sebenarnya, skenario apa ini, ada juga kekhawatiran, bagaimana kalau Raj
Setelah sekitar 30 menit duduk bersama si raja neraka dengan hening di dalam mobil. Aku merasakan mobil ini berhenti, tapi aku tidak tau ini dimana. Karena sepanjang jalan aku hanya bergelut dengan gelisahku.Aku memikirkan hutang keluargaku, memikirkan apa yang akan dia lakukan padaku dan bantuan s
“Mr. Bossy?” Aku merasa heran karena tak biasanya kekasih virtual ku ini mengaktifkan nomor ponselnya di siang hari. Ada apa kali ini, momentum nya begitu pas. Apa mungkin chemistry kami yang mengundang Mr. Bossy untuk menelepon ketika Aku sedang terpuruk seperti ini? “Hi, Ily kamu sedang apa?”







