เข้าสู่ระบบ
14.25
Ruang rapat, Bhuana Tower Suasana dingin dan tegang menyelimuti selama rapat berlangsung. Tampang mereka tampak serius. Selama lebih dari dua jam rapat berlangsung. Tidak ada satupun dari mereka yang berani memulai dengan guyonan lucu. "Keadaan pasar semakin buruk karena demo kemarin. Saya khawatir, jika keadaan ini terus dibiarkan maka perusahaan bisa bangkrut." "Para investor dari luar juga sudah mulai panik. Bahkan sudah terlihat ada yang menjual semua aset mereka. Semalam saya sudah berkordinasi juga dengan pimpinan untuk mengurangi ekspansi kita di berbagai perusahaan anak cabang, tapi sepertinya itu belum bisa membalikan keadaan jadi baik." "Jadi bagaimana solusi anda Pak? Apa perusahaan harus mengambil langkah terakhir dengan melakukan PHK masal?" Semua orang berubah diam. Kompak menatap depan. Pada seorang pria yang duduk di kursi berbeda dari lainnya. Tatapan wajah mereka banyak memiliki arti. Menaruh harapan besar pada pria itu. Menanti dengan sabar jawaban yang akan diberikan dari semua permasalahan ini. "Huft." Sejenak, Bayu menghela nafas panjang. Sejak datang hingga sekarang ia lebih memilih untuk diam. Menatap kosong pada tumpukan berkas laporan di meja yang menggunung. Tapi bukan berarti ia tidak memikirkan. Bukan berarti juga ia lepas tanggung jawab. Terbukti sejak ia menjabat posisi paling strategis. Selama tiga tahun ini perusahaan sudah banyak melakukan ekspansinya ke berbagai wilayah. Selama ditangannya juga perusahaan banyak memperoleh laba besar. Bayu tetap tenang. Tidak berekpresi meski sorot mata semua orang masih tertuju padanya. Ia memilih untuk bersikap santai. Duduk bersandar pada kursi sambil mengotak-atik ponselnya. * * * Luna Bay Suites, Lantai 30 Drtt drttt drtt Dering ponsel berdering nyaring. Sejenak membuat Kartika menghentikan pekerjaan, melirik cepat ke atas meja. Menatap ke dalam layar putih yang sedang menyala. "Siapa?" Buru-buru ia matikan mesin penyedot debu yang dipegangnya. Menaruhnya dulu lalu berjalan meraih benda pipih tersebut seraya asal mengelap tanganya yang sedikit basah ke baju. 'Hari ini aku pulang lebih cepat dari biasanya. Jadi tolong persiapkan semua.' "Mas Bayu," katanya sedikit terkejut setelah membaca isi pesannya. Tidak biasanya Bayu pulang sedini ini. Biasanya ia akan pulang larut malam atau bahkan tidak pulang. Terkadang memilih menginap di kantor. Kartika masih diam. Mencerna isi pesanya sambil mengetuk-ngetuk ponselnya. Bukannya ia tidak senang. Hanya saja sedikit aneh saja. Ia sendiri juga tidak menganggap ini sebagai beban. Kartika justru dengan senang hati akan melakukannya. Mempersiapkan semua sebelum Bayu datang. "Aku harus cepat-cepat mandi!" serunya tersenyum riang. Bergegas pergi ke kamar untuk mempersiapkan dirinya secara maksimal. Untungnya ia tadi sudah sempat masak. Jadi nanti tinggal ia hangatkan saja. Kartika melenggang pergi, melepas jepit rambut. Rambutnya yang hitam panjang ikut bergoyang ke kanan dan kiri. Bahagianya ia sambil menanggalkan satu persatu pakaian. "Lalalala!" Perasaannya tidak pernah sebahagia ini. Seperti ketiban durian runtuh. Kartika menganggap ini begitu penting dan tidak ingin sampai membuat Bayu kecewa. * * Bhuana Tower "Sintia, tolong kamu reschedule besok pertemuan dengan Pak Pranoto!" "Tapi Pak, ini Pak Pranoto sudah berada di jalan. Sebentar lagi akan sampai-, " sahut Sintia langsung terdiam saat sepasang sorot mata tajam mengarah padanya. Glek! Sintia bisa apa, ia glagapan. Tidak bisa membatah satu pun perintah atasan sekalipun argumennya benar. "Ba-baik Pak. Akan saya jadwalkan besok," gagapnya menunduk takut. Bayu baru menerima jawaban itu. Lekas ia memilih untuk segera pergi. Keluar dari gedung perkantoran. "Siapkan mobil saya sekarang!" tegas Bayu pada seorang staf tanpa memandang orangnya. "Baik Pak!" Pria ini lantas pergi. Tidak begitu lama mobil yang diminta sudah siap di depan lobi. Bayu nyalakan dulu sebatang rokok. Menyesapnya beberapa kali lalu beranjak mengendarai sendiri mobil sport hitam miliknya. Mobil sport terbaru buatan Italia yang baru saja tiba di Jakarta minggu lalu. Baru juga ia pergunakan untuk ke kantor hari ini. Sebenarnya membeli mobil baru ini bukan juga bagian dari whislistnya. Mobil sport ini hadiah ulang tahun dari Dona, sang tunangan. Bayu membawa mobilnya lumayan kencang. Menembus jalanan kota yang masih lengang. Belum terlalu padat seperti di jam-jam pulang kantor. Angin sore itu juga cukup berhembus kencang. Menuip helai rambut Bayu yang sedikit panjang. Dengan gayanya, Bayu duduk di belakang kursi kemudi seraya mengenakan kemeja putih yang lengennya ia gulung setengah. Tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai di apartemen yang ia huni kurang lebih satu tahun ini. Bayu bergegas turun. Berjalan memasuki private lift yang terhubung langsung ke unitnya. Ting! Pintu lift terbuka. Di depan sana sudah berdiri Kartika yang sudah siap menanti kepulangannya. Bayu menyunggingkan senyuman. Rasanya beban dipundak hilang seketika saat melihatnya. Tanpa berlama, Bayu mendekat. Langsung memeluk erat tubuhnya. "Kamu cantik Kartika," pujinya berbisik. Tidak luput meninggalkan kecupan hangat di pundak wanita cantik ini. "Terimakasih Mas," sahut Kartika malu-malu dengan wajah merona. Meski tidak sekali ini ia mendapatkan pujian begini. Tapi baginya tetap terasa berbeda jika ucapan itu berasal dari mulut Bayu, pria tampan dengan segudang pesonanya. Juga pria yang sudah selama sebulan ini selalu hinggap dipikiran. Bayu masih ingin begini. Bergelendot manja dalam pelukan Kartika. Mencium wangi tubuh Kartika yang memabukkan. Kartika sendiri juga enggan untuk menyudahi, mendorongnya pergi. Ia membiarkan sampai Bayu sendiri yang beranjak darinya. "Aku kangen saat seperti ini sayang," bisiknya mencumbu belakang telinga. Bayu mulai memanas. Menekan tubuh Kartika ke tembok sambil melepas gaun tipis yang Kartika kenakan. Menyesap setiap inci demi inci tubuh indah itu. "Eumphh!" Kartika mengerang hebat. Merasakan serangan brutal di sekujur area tubuhnya yang sensitif. "Mas jangan disini, aku takut ketahuan Mbak Dona." Kartika seketika ingat, mengepalkan kedua tangan. Menahan serangan Bayu selanjutnya. Tidak nyaman saja melakukan hubungan ini terang-terangan. Terlebih, Kartika belum siap dengan semua konsekuensi yang akan ia hadapi. Bayu hanya tersenyum tipis. Tidak nampak kecemasan sama sekali di wajah. "Tenang saja, Dona tidak akan datang. Hari ini dia ada pemotertan di luar kota," ujarnya. Kembali menekan tubuh Kartika, melanjutkan kegilaannya barusan. "Aaahhh!" erang Kartika menjambak kasar rambut Bayu sambil menggigit bibir bawah. Merasakan gerakan naik turun sang pria.Bayu keluar lebih dulu dari kamar kecil tadi. Langkahnya penuh kehati-hatian. Melenggang seolah tidak terjadi sesuatu padanya dan Kartika tadi. Seraya merapikan kerah kemeja. Sementara, Kartika masih berada di dalam. Menunggu giliran untuk keluar. Setelah cukup yakin, ia baru berani keluar dari tempat ini sambil mengendap-endap. Lorong panjang menuju area belakang tetap sepi. Tidak ada seorang yang melintas. Ditunjang pencahayaan yang sedikit gelap. Kartika berjalan menyusuri lorong menuju dapur sambil merapikan bajunya yang sedikit koyak. Hal yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Mbok Rah, asisten rumah tangga orang tua Bayu melihat itu semua. Dengan jelas, Mbok Rah merekam kebersamaan Bayu dan Kartika yang sama-sama keluar dari dalam gudang kecil sambil membenerkan pakaian. "Astaga!" Kagetnya sampai membungkam mulut ini. Mbok Rah bergegas, menyusul Kartika ke dalam dapur. Bagimanapun, ia sangat peduli. Semenjak datang dan bekerja pada keluarga ini. Mbok Rah banyak memba
Kartika terpaku mendengar candaan Pak Yuan. Terlebih saat ini tatapan semua orang sedang menujunya. Melirik tanpa ampun. Tubuh Kartika mendadak kaku. Kesulitan untuk bergerak. "Emm...itu saya..." ucapnya sangat lirih lalu terpotong. Tanpa sempat ia lanjutkan. Di tengah suasana canggung dan tak pasti. Bu Leni membuka celotehan. Membanggakan Dona, sang calon mantu. "Kalau dipikir-pikir, Dona juga gak kalah pintarnya dalam hal memasak. Kemarin dia sempat buatkan cake secara khusus untuk saya. Soal rasa gak usah diragukan lagi, lulusan FnB Prancis."Dona nampak menyunggingkan senyuman lalu kembali menyendokan potongan kecil makanan ke dalam mulut dengan tenang. Rasa percaya dirinya kembali hadir berkat Bu Leni. Merasa sangat bangga sekaligus istimewa. Dalam hal ini ia menang telak. Tidak ada yang bisa menandingi."Kamu juga Bayu masih aja berani konsumsi kopi berlebih. dokter kemarin kan sudah mewanti-wanti kamu untuk mengurangi. Kasian lambung kamu jadi korban," tutur Bu Leni beralih
"Besok sore datang ke rumah. Kita mau ada acara pesta," ucap suara seorang pria dari balik telefon yang Bayu panggil dengan sebutan Papa."Pesta apa Pa? Tumben," balasnya masih dalam posisi basah sambil meredam suara nafas yang ngos-ngosan."Pesta kecil-kecilan aja. Ulang tahun pernikahan Mama dan Papa yang ke 35 tahun." Bayu menghela nafas panjang. Sementara Kartika masih menguping pembicaraan tepat di belakang punggung Bayu. "Papa gak mau tahu intinya kamu harus datang dan gak boleh alesan. Besok, secara khusus Dona dan Papanya juga bakal datang. Mereka yang bakal siapin surprise party buat acara nanti. Oh iya, sekalian Papa minta tolong buat kamu ajak Kartika ke rumah. Biar dia bantu-bantu Mbok Rah di belakang," tuturnya. Bayu dan Kartika kompak saling memandang setelah mendengar. Tidak lama, telfon mati. Bayu taruh dulu ponselnya ke atas nakas lalu kembali ke posisi awal. Duduk berhadapan dengan Kartika. "Kenapa?" tanya Bayu atas sikap Kartika yang berbeda. Raut wajah Kartika t
18:55Kartika terbangun, tersadar sudah tidak mendapati pakaian di tubuh. Wanita cantik ini lekas bangun. Meraih handuk yang tergelatak di lantai lalu melilitkan lagi ke tubuh. Kartika palingkan wajah ke samping. Menatap Bayu yang masih tertidur pulas dan hanya memakai celana pendek sepaha. Baru saja tadi mereka menuntaskan permainan singkat. Setelah itu terlelap bersama. Kartika baru terbangun lagi disaat waktu sudah menginjak malam. "Ah! Bisa-bisanya aku ikut tiduran disini," gerutu Kartika lekas bangkit, berdiri dari sana.Konyol saja, jika ketahuan Dona dalam kondisi seperti ini. Kartika enggan berbuat bodoh. Sebisa mungkin ia tutupi hubungan ini agar tidak terendus yang lain. Termasuk Dona. Ia berpaling dari sana. Bergerak cepat menuju kamar. Kartika terlalu terburu-buru, tidak ingat untuk menutup pintu lebih dulu. Dalam pikirannya, hanya ingin cepat-cepat mengenakan pakain dengan pantas dan kembali beraktifitas dengan normal. Namun, langkah kaki Bayu lebih cepat. Bergerak m
Ruang Direktur,Tok tok tok"Permisi Pak! Saya boleh masuk?" "Hem," dehem Bayu yang sedang duduk di kursi. Sibuk meneliti laporan. Bahkan tidak sempat melirik Sintia yang datang. "Ini obatnya Pak." Sintia mendekat, menaruh segelas air putih serta 2 butir obat di meja. Bayu melirik obat yang Sinta sodorkan. Baru teringat satu nama yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam hati. "Kartika." ucapnya. Hampir terlupa jika ia tadi memintanya untuk datang. Bayu berdiri dari kursi. Wajahnya kebingungan, clingungkan mencari Kartika. "Mana dia?" "Maksud Bapak, Kartika?" "Iya dia ada dimana?" tanyanya antusias. "Udah pulang Pak," jawab Sintia sambil menunjuk luar, yang terjadi Bayu jutru murka. Berlari keluar mengejar Kartika. "Hah!" kesalnya berlari melewati Sintia yang masih berada di tempat. Sintia kebingunan, tidak paham letak salahnya dimana. Ia merasa sudah jadi sekertaris yang baik dan teladan, tapi masih saja salah di mata pimpinan. "Maksdunya apa coba?" gumam Sintia seorang diri
"Maaf ada urusan apa ya?" tanya balik wanita ini. "Saya Kartika, asisten rumah tangga Pak Bayu. Kebetulan saya diminta kesini buat antar obat beliau," jelasnya sambil menunjukan bungkusan kecil yang ia bawa. "Baik, sebentar ya?" Kartika mengangguk, sebentar menunggu kabar. Resepionis tersebut sedang menghubungi seseorang. Tidak lama ia muncul, balik menemui Kartika. "Pak Bayu kebetulan sedang ada tamu, tapi gak apa-apa. Mbak diminta keatas aja. Nanti bisa temui Sintia, sekertaris Pak Bayu." "Oh, iya terimakasih." "Sama-sama," sikapnya baik tersenyum ramah. Kartika balik tersenyum. Merasa begitu dihargai. Awalnya ia skeptis, berpikir tidak ada yang mungkin menggubris kehadirannya, karena penampilanya yang sesederhana ini. Nyatanya, orang-orang di kantor begitu ramah. Tidak ada diskriminasi. Semua orang berhak datang, tanpa memandang kelas atau status sosial. Kartika melangkah maju. Berjalan percaya diri menuju ruang yang wanita tadi tunjukkan. Sekarang ia







