LOGIN"Bawa saja ini. Alamatnya sudah tertera jelas disitu. Nanti begitu sampai stasiun, kamu hubungin saja temanku. Dia yang akan mengantarmu ke tempatnya."
Kartika mengangguk paham saja. Berbekal kartu nama dan beberapa helai salinan baju. Ia nekat pergi bekerja di kota. Tidak mudah memang, tapi ia tidak punya pilihan lain. Minim pendidikan dan juga skill. Hanya pekerjaan ini satu-satunya yang ia bisa lakoni. Kartika sudah sampai pada alamat tujuan. Menunggu di luar, berdiri di ambang pintu masuk unit apartemen. Sambil memegang selembar kartu nama yang diberikan seorang teman. "Jadi kamu orangnya?" Kartika tertegun sewaktu mendengar suaranya. Mengangkat wajah perlahan, menatap kagum pada pria yang berdiri di depan. Suaranya sarat kesan seksi dan menggoda. Tidak berhenti sampai disitu saja, kaos tipis sedikit basah serta celana pendek yang pria ini kenakan. Turut membuatnya sampai menelan ludah. "Iya, saya Kartika." Kartika berbicara cepat sambil mengulurkan tangan kanan. "Aku Bayu. Ya sudah ayo masuk! Aku tunjukan kamar kamu!" singkat Bayu membalas jabat tangan Kartika lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah. * * * * * "Bay, ayo dong sayang! Aku keburu telat!" teriak Dona kesal. Mengomel tanpa henti. Sudah lebih dari dua jam ia duduk. Menanti Bayu yang belum selesai dengan urusan biologisnya. "Ck!" Dona kembali berdecak kesal. Melempar asal ponselnya ke atas sofa. Sambil terus menggerutu dan melipat kedua tangan di depan dada. Sementara menunggu, Dona beranjak dulu dari sofa. Berkeliling seluruh ruangan sambil melakukan inspeksi dadakan. Dia tipe wanita perfeksionis. Tidak suka dengan kekacauan dan sangat teliti. Setitik debu pun tidak bisa lolos dari pandangan. "Bagus juga kerjaannya!" ujarnya mengomentari pekerjaan Kartika. Hampir seluruh bagian rumah ini ia periksa. Bahkan tidak tanggung-tanggung, ia meneliti ke setiap bagian kolong meja dan kursi. Memeriksa debu yang mungkin masih tertempel di sana dengan sapuan ujung jari. "Good!" pujinya lagi. Cukup puas dengan pekerjaan rumah Kartika. Dona beralih lagi menuju ke area dapur. Memeriksa bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Untuk satu hal ini cukup membuat Kartika deg degan. Takut terkena omelan lagi. Kemarin ia sudah cukup kenyang kena damprat wanita ini. Gara-gara menyimpan kubis beku dalam lemari pendingin. Itu juga bukan mutlak kesalahannya. Semua itu karena permintaan Bayu sendiri yang memang meminta untuk disiapkan kubis dalam setiap makannya. Entah itu dilalap, direbus atau dibuat acar. Intinya setiap makan kubis tidak pernah terlewat. I lope kubis. Kartika mulai was-was. Mengawasi gerak-gerik Dona sambil mengelap vas bunga. "Huek, ikan apa ini bau banget." Jijik Dona mencium bau tidak enak dalam lemari pendingin. "Kartika! Ikan apa ini? Kenapa ada disini?" Teriaknya mengomel sambil mengeluarkan sekotak ikan. "Iya Mbak." Kartika sudah bisa menebak akhinya, tapi ia tetap mendekat, berusaha menjelaskan. "Ikan apa ini?" tanyanya lagi dengan ekspresi wajah jijik. Menjimpit bagian ujung ikannya. "Itu ikan cucut Mbak, dari kampung." "Dari kampung? Kenapa kamu taruh disini? Kamu mau meracuni calon suami saya?" bentaknya murka. Kartika berdiri dengan tubuh gemetar. Glagapan untuk menjelaskan. "E-enggak Mbak bukan begitu. Maksud saya bukan-" kata Kartika terputus, disela Dona dengan cepat. "Buang aja semua! Saya gak mau lagi lihat ikan itu ada disini!" gertaknya penuh amarah. Melempar ke atas meja dapur wadahnya sampai sebagian ikan berserakan. "I-iya Mbak." Kartika menunduk takut. Bergegas membersihkan kekacaun. Memunguti satu persatu ikan ke dalam wadah lalu hendak membawanya keluar. "Kartika tunggu!" Belum sempat Kartika pergi. Dona memanggilnya kembali. Terpaksa membuatnya membalikan badan. "Iya Mbak, ada apa?" ucapnya begitu takut. Trauma berbuat salah lagi. "Ini apa?" Kartika membelalakkan mata lebar. Terkejut melihat benda yang Dona pegang. Tentu ia hapal dengan benda itu. Satu strip obat kemasan warna biru yang baru habis ia konsumsi 7 butir. "Ini alat kontrasepsi kan? Kamu yang konsumi ini?" tuduhnya masih memegang pil kontrasepsi di tangan. Tubuh Kartika mulai panas dingin. Bibirnya terasa kaku untuk menjelaskan. Namun, bukan berarti ia tidak ingin menjawab. Ia hanya takut salah ucap sampai menyebabkan salah paham. "I-iya Mbak, itu punya saya," jawabnya resah. "Buat apa? Bukannya kamu bilang kemarin, kalau kamu udah pisah lama sama suami kamu?" Selidik Dona makin mencurigai. Ia tentu paham latar belakang Kartika. Lagipula ia sangat teliti. Tidak asal menerima orang asing untuk bekerja di rumah ini. "Bu-buat jaga-jaga saja Mbak." Suara Kartika tercekat, wajahnya memucat. Selalu memalingkan wajah, menghindari sorot mata Dona. Dona memicingkan mata. Tentu tidak langsung menerima jawaban yang Kartika lontarkan. "Buat jaga-jaga apa? Maksud kamu apa Kartika?" cecarnya meninggi, tapi terputus karena suara lantang Bayu yang datang menyela perbincangan serius ini. "Ayo sayang, kita berangkat sekarang!" Kartika bisa sedikit bernafas lega. Bayu datang di saat yang tepat, tapi ia belum bisa berpuas. Resah, menebak kearah mana Bayu akan berpihak. Dona sendiri belum selesai dengan itu. Berdiri di sebelah sana dengan mata memicing. Memegang tinggi-tinggi pil kontrasepsi. "Ada apa? Ayo berangkat!" ajak Bayu tetap dengan santainya. Tidak terpengaruh benda yang Dona pegang. "Sebentar, ada yang ingin aku tanyakan dulu sama dia!" Dona berjalan mendekati. Mengulurkan pil kontrasepsi yang ditemukannya di atas kulkas. "Jawab! Buat apa kamu minum ini?" tekannya makin mengintimidasi. Kartika semakin takut. Wajahnya pusat pasi. Antara bingung untuk menjelaskan dan takut salah, tapi lebih tepatnya ia panik hubungan gelapnya dengan Bayu akan ketahuan. Sekarang, Bayu tidak bisa tinggal diam. Dirinya mengambil langkah tegas, merebut obat yang Dona pegang. "Ck! Apaan sih kamu Don? Ini kan punya dia, udah biar aja terserah dia!" katanya lalu memberikan obat tadi pada Kartika. Dona berubah masam. Tidak terima Bayu bersikap demikian. "Ya kan aku cuma butuh penjelasan dia Bay, buat apa dia minum obat ini. Dia kan kemarin bilang, kalau dia itu janda. Wajar dong kalau aku tanya begini." "Ya terus, apa pentingnya buat kamu?" "Tentu aja penting. Kita ini majikannya, yang gaji dia! Jadi kita harus tahu dalam tentang dia!" "Termasuk semua urusan pribadinya?" skak Bayu. "Iya lah, kita harus tahu semua. Termasuk sama siapa dia berhubungan selama ini. Jangan sampai dia berhubungan sama orang luar. Terus masukin maling kesini," ocehnya sambil melirik sinis Kartika. Kartika sendiri tidak memiliki kemampuan membela. Ia terpojok dengan semua tuduhan yang Dona berikan. Bayu menggeleng lalu tersenyum miring. "Buat apa kamu ngurusin kehidupan pribadi Kartika, gak ada untungnya juga di kamu. Udah, yang penting kerjaan dia beres. Kamu mending fokus aja sama diri kamu!" tegasnya lalu meraih tangan dan tas Dona. Segera membawanya pergi. "Tapi Bay..." Bayu enggan mengghiraukan. Secepat mungkin mengajak Dona pergi. Namun, sebelum pintu lift terbuka, ia sempatkan menoleh Kartika. "Kartika, gaji kamu bulan ini sudah aku transfer. Tolong, nanti dicek!" ucapnya cepat buru-buru masuk lift sambil membawa Dona bersamanya. "Makasih Mas," lirih Kartika menjawab, setelah keduanya sudah hilang dari pandangan. "Huft, selamat!" Kartika sekarang bisa bernafas lega. Terhindar dari masalah berkat Bayu. Ia menepi sejenak. Mengecek gaji yang Bayu kirimkan bulan ini. Rp. 8.000.000 Nominal yang diterimanya cukup membuatnya bisa tersenyum. Menyegarkan pikirannya yang sempat tegang. Kartika kembali bersemangat lagi, memegang alat tempurnya. Namun baru sebentar ia bekerja, benda pipih ini kembali berdering. Sebelum sempat ia letakkan. "Mas Bayu." Buru-buru ia buka lagi. Membaca satu pesan dari Bayu. 'Maaf ya soal tadi. Nanti, aku pulang sore lagi. Love you.'Bayu keluar lebih dulu dari kamar kecil tadi. Langkahnya penuh kehati-hatian. Melenggang seolah tidak terjadi sesuatu padanya dan Kartika tadi. Seraya merapikan kerah kemeja. Sementara, Kartika masih berada di dalam. Menunggu giliran untuk keluar. Setelah cukup yakin, ia baru berani keluar dari tempat ini sambil mengendap-endap. Lorong panjang menuju area belakang tetap sepi. Tidak ada seorang yang melintas. Ditunjang pencahayaan yang sedikit gelap. Kartika berjalan menyusuri lorong menuju dapur sambil merapikan bajunya yang sedikit koyak. Hal yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Mbok Rah, asisten rumah tangga orang tua Bayu melihat itu semua. Dengan jelas, Mbok Rah merekam kebersamaan Bayu dan Kartika yang sama-sama keluar dari dalam gudang kecil sambil membenerkan pakaian. "Astaga!" Kagetnya sampai membungkam mulut ini. Mbok Rah bergegas, menyusul Kartika ke dalam dapur. Bagimanapun, ia sangat peduli. Semenjak datang dan bekerja pada keluarga ini. Mbok Rah banyak memba
Kartika terpaku mendengar candaan Pak Yuan. Terlebih saat ini tatapan semua orang sedang menujunya. Melirik tanpa ampun. Tubuh Kartika mendadak kaku. Kesulitan untuk bergerak. "Emm...itu saya..." ucapnya sangat lirih lalu terpotong. Tanpa sempat ia lanjutkan. Di tengah suasana canggung dan tak pasti. Bu Leni membuka celotehan. Membanggakan Dona, sang calon mantu. "Kalau dipikir-pikir, Dona juga gak kalah pintarnya dalam hal memasak. Kemarin dia sempat buatkan cake secara khusus untuk saya. Soal rasa gak usah diragukan lagi, lulusan FnB Prancis."Dona nampak menyunggingkan senyuman lalu kembali menyendokan potongan kecil makanan ke dalam mulut dengan tenang. Rasa percaya dirinya kembali hadir berkat Bu Leni. Merasa sangat bangga sekaligus istimewa. Dalam hal ini ia menang telak. Tidak ada yang bisa menandingi."Kamu juga Bayu masih aja berani konsumsi kopi berlebih. dokter kemarin kan sudah mewanti-wanti kamu untuk mengurangi. Kasian lambung kamu jadi korban," tutur Bu Leni beralih
"Besok sore datang ke rumah. Kita mau ada acara pesta," ucap suara seorang pria dari balik telefon yang Bayu panggil dengan sebutan Papa."Pesta apa Pa? Tumben," balasnya masih dalam posisi basah sambil meredam suara nafas yang ngos-ngosan."Pesta kecil-kecilan aja. Ulang tahun pernikahan Mama dan Papa yang ke 35 tahun." Bayu menghela nafas panjang. Sementara Kartika masih menguping pembicaraan tepat di belakang punggung Bayu. "Papa gak mau tahu intinya kamu harus datang dan gak boleh alesan. Besok, secara khusus Dona dan Papanya juga bakal datang. Mereka yang bakal siapin surprise party buat acara nanti. Oh iya, sekalian Papa minta tolong buat kamu ajak Kartika ke rumah. Biar dia bantu-bantu Mbok Rah di belakang," tuturnya. Bayu dan Kartika kompak saling memandang setelah mendengar. Tidak lama, telfon mati. Bayu taruh dulu ponselnya ke atas nakas lalu kembali ke posisi awal. Duduk berhadapan dengan Kartika. "Kenapa?" tanya Bayu atas sikap Kartika yang berbeda. Raut wajah Kartika t
18:55Kartika terbangun, tersadar sudah tidak mendapati pakaian di tubuh. Wanita cantik ini lekas bangun. Meraih handuk yang tergelatak di lantai lalu melilitkan lagi ke tubuh. Kartika palingkan wajah ke samping. Menatap Bayu yang masih tertidur pulas dan hanya memakai celana pendek sepaha. Baru saja tadi mereka menuntaskan permainan singkat. Setelah itu terlelap bersama. Kartika baru terbangun lagi disaat waktu sudah menginjak malam. "Ah! Bisa-bisanya aku ikut tiduran disini," gerutu Kartika lekas bangkit, berdiri dari sana.Konyol saja, jika ketahuan Dona dalam kondisi seperti ini. Kartika enggan berbuat bodoh. Sebisa mungkin ia tutupi hubungan ini agar tidak terendus yang lain. Termasuk Dona. Ia berpaling dari sana. Bergerak cepat menuju kamar. Kartika terlalu terburu-buru, tidak ingat untuk menutup pintu lebih dulu. Dalam pikirannya, hanya ingin cepat-cepat mengenakan pakain dengan pantas dan kembali beraktifitas dengan normal. Namun, langkah kaki Bayu lebih cepat. Bergerak m
Ruang Direktur,Tok tok tok"Permisi Pak! Saya boleh masuk?" "Hem," dehem Bayu yang sedang duduk di kursi. Sibuk meneliti laporan. Bahkan tidak sempat melirik Sintia yang datang. "Ini obatnya Pak." Sintia mendekat, menaruh segelas air putih serta 2 butir obat di meja. Bayu melirik obat yang Sinta sodorkan. Baru teringat satu nama yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam hati. "Kartika." ucapnya. Hampir terlupa jika ia tadi memintanya untuk datang. Bayu berdiri dari kursi. Wajahnya kebingungan, clingungkan mencari Kartika. "Mana dia?" "Maksud Bapak, Kartika?" "Iya dia ada dimana?" tanyanya antusias. "Udah pulang Pak," jawab Sintia sambil menunjuk luar, yang terjadi Bayu jutru murka. Berlari keluar mengejar Kartika. "Hah!" kesalnya berlari melewati Sintia yang masih berada di tempat. Sintia kebingunan, tidak paham letak salahnya dimana. Ia merasa sudah jadi sekertaris yang baik dan teladan, tapi masih saja salah di mata pimpinan. "Maksdunya apa coba?" gumam Sintia seorang diri
"Maaf ada urusan apa ya?" tanya balik wanita ini. "Saya Kartika, asisten rumah tangga Pak Bayu. Kebetulan saya diminta kesini buat antar obat beliau," jelasnya sambil menunjukan bungkusan kecil yang ia bawa. "Baik, sebentar ya?" Kartika mengangguk, sebentar menunggu kabar. Resepionis tersebut sedang menghubungi seseorang. Tidak lama ia muncul, balik menemui Kartika. "Pak Bayu kebetulan sedang ada tamu, tapi gak apa-apa. Mbak diminta keatas aja. Nanti bisa temui Sintia, sekertaris Pak Bayu." "Oh, iya terimakasih." "Sama-sama," sikapnya baik tersenyum ramah. Kartika balik tersenyum. Merasa begitu dihargai. Awalnya ia skeptis, berpikir tidak ada yang mungkin menggubris kehadirannya, karena penampilanya yang sesederhana ini. Nyatanya, orang-orang di kantor begitu ramah. Tidak ada diskriminasi. Semua orang berhak datang, tanpa memandang kelas atau status sosial. Kartika melangkah maju. Berjalan percaya diri menuju ruang yang wanita tadi tunjukkan. Sekarang ia







