LOGINBayu keluar lebih dulu dari kamar kecil tadi. Langkahnya penuh kehati-hatian. Melenggang seolah tidak terjadi sesuatu padanya dan Kartika tadi. Seraya merapikan kerah kemeja. Sementara, Kartika masih berada di dalam. Menunggu giliran untuk keluar. Setelah cukup yakin, ia baru berani keluar dari tempat ini sambil mengendap-endap. Lorong panjang menuju area belakang tetap sepi. Tidak ada seorang yang melintas. Ditunjang pencahayaan yang sedikit gelap. Kartika berjalan menyusuri lorong menuju dapur sambil merapikan bajunya yang sedikit koyak. Hal yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Mbok Rah, asisten rumah tangga orang tua Bayu melihat itu semua. Dengan jelas, Mbok Rah merekam kebersamaan Bayu dan Kartika yang sama-sama keluar dari dalam gudang kecil sambil membenerkan pakaian. "Astaga!" Kagetnya sampai membungkam mulut ini. Mbok Rah bergegas, menyusul Kartika ke dalam dapur. Bagimanapun, ia sangat peduli. Semenjak datang dan bekerja pada keluarga ini. Mbok Rah banyak memba
Kartika terpaku mendengar candaan Pak Yuan. Terlebih saat ini tatapan semua orang sedang menujunya. Melirik tanpa ampun. Tubuh Kartika mendadak kaku. Kesulitan untuk bergerak. "Emm...itu saya..." ucapnya sangat lirih lalu terpotong. Tanpa sempat ia lanjutkan. Di tengah suasana canggung dan tak pasti. Bu Leni membuka celotehan. Membanggakan Dona, sang calon mantu. "Kalau dipikir-pikir, Dona juga gak kalah pintarnya dalam hal memasak. Kemarin dia sempat buatkan cake secara khusus untuk saya. Soal rasa gak usah diragukan lagi, lulusan FnB Prancis."Dona nampak menyunggingkan senyuman lalu kembali menyendokan potongan kecil makanan ke dalam mulut dengan tenang. Rasa percaya dirinya kembali hadir berkat Bu Leni. Merasa sangat bangga sekaligus istimewa. Dalam hal ini ia menang telak. Tidak ada yang bisa menandingi."Kamu juga Bayu masih aja berani konsumsi kopi berlebih. dokter kemarin kan sudah mewanti-wanti kamu untuk mengurangi. Kasian lambung kamu jadi korban," tutur Bu Leni beralih
"Besok sore datang ke rumah. Kita mau ada acara pesta," ucap suara seorang pria dari balik telefon yang Bayu panggil dengan sebutan Papa."Pesta apa Pa? Tumben," balasnya masih dalam posisi basah sambil meredam suara nafas yang ngos-ngosan."Pesta kecil-kecilan aja. Ulang tahun pernikahan Mama dan Papa yang ke 35 tahun." Bayu menghela nafas panjang. Sementara Kartika masih menguping pembicaraan tepat di belakang punggung Bayu. "Papa gak mau tahu intinya kamu harus datang dan gak boleh alesan. Besok, secara khusus Dona dan Papanya juga bakal datang. Mereka yang bakal siapin surprise party buat acara nanti. Oh iya, sekalian Papa minta tolong buat kamu ajak Kartika ke rumah. Biar dia bantu-bantu Mbok Rah di belakang," tuturnya. Bayu dan Kartika kompak saling memandang setelah mendengar. Tidak lama, telfon mati. Bayu taruh dulu ponselnya ke atas nakas lalu kembali ke posisi awal. Duduk berhadapan dengan Kartika. "Kenapa?" tanya Bayu atas sikap Kartika yang berbeda. Raut wajah Kartika t
18:55Kartika terbangun, tersadar sudah tidak mendapati pakaian di tubuh. Wanita cantik ini lekas bangun. Meraih handuk yang tergelatak di lantai lalu melilitkan lagi ke tubuh. Kartika palingkan wajah ke samping. Menatap Bayu yang masih tertidur pulas dan hanya memakai celana pendek sepaha. Baru saja tadi mereka menuntaskan permainan singkat. Setelah itu terlelap bersama. Kartika baru terbangun lagi disaat waktu sudah menginjak malam. "Ah! Bisa-bisanya aku ikut tiduran disini," gerutu Kartika lekas bangkit, berdiri dari sana.Konyol saja, jika ketahuan Dona dalam kondisi seperti ini. Kartika enggan berbuat bodoh. Sebisa mungkin ia tutupi hubungan ini agar tidak terendus yang lain. Termasuk Dona. Ia berpaling dari sana. Bergerak cepat menuju kamar. Kartika terlalu terburu-buru, tidak ingat untuk menutup pintu lebih dulu. Dalam pikirannya, hanya ingin cepat-cepat mengenakan pakain dengan pantas dan kembali beraktifitas dengan normal. Namun, langkah kaki Bayu lebih cepat. Bergerak m
Ruang Direktur,Tok tok tok"Permisi Pak! Saya boleh masuk?" "Hem," dehem Bayu yang sedang duduk di kursi. Sibuk meneliti laporan. Bahkan tidak sempat melirik Sintia yang datang. "Ini obatnya Pak." Sintia mendekat, menaruh segelas air putih serta 2 butir obat di meja. Bayu melirik obat yang Sinta sodorkan. Baru teringat satu nama yang selalu ia simpan rapat-rapat dalam hati. "Kartika." ucapnya. Hampir terlupa jika ia tadi memintanya untuk datang. Bayu berdiri dari kursi. Wajahnya kebingungan, clingungkan mencari Kartika. "Mana dia?" "Maksud Bapak, Kartika?" "Iya dia ada dimana?" tanyanya antusias. "Udah pulang Pak," jawab Sintia sambil menunjuk luar, yang terjadi Bayu jutru murka. Berlari keluar mengejar Kartika. "Hah!" kesalnya berlari melewati Sintia yang masih berada di tempat. Sintia kebingunan, tidak paham letak salahnya dimana. Ia merasa sudah jadi sekertaris yang baik dan teladan, tapi masih saja salah di mata pimpinan. "Maksdunya apa coba?" gumam Sintia seorang diri
"Maaf ada urusan apa ya?" tanya balik wanita ini. "Saya Kartika, asisten rumah tangga Pak Bayu. Kebetulan saya diminta kesini buat antar obat beliau," jelasnya sambil menunjukan bungkusan kecil yang ia bawa. "Baik, sebentar ya?" Kartika mengangguk, sebentar menunggu kabar. Resepionis tersebut sedang menghubungi seseorang. Tidak lama ia muncul, balik menemui Kartika. "Pak Bayu kebetulan sedang ada tamu, tapi gak apa-apa. Mbak diminta keatas aja. Nanti bisa temui Sintia, sekertaris Pak Bayu." "Oh, iya terimakasih." "Sama-sama," sikapnya baik tersenyum ramah. Kartika balik tersenyum. Merasa begitu dihargai. Awalnya ia skeptis, berpikir tidak ada yang mungkin menggubris kehadirannya, karena penampilanya yang sesederhana ini. Nyatanya, orang-orang di kantor begitu ramah. Tidak ada diskriminasi. Semua orang berhak datang, tanpa memandang kelas atau status sosial. Kartika melangkah maju. Berjalan percaya diri menuju ruang yang wanita tadi tunjukkan. Sekarang ia







