LOGIN
“Tapi kenapa harus aku bun, aku masih ingin kerja” nada keras keluar dari mulut Nayla Anita Sari. Dia menatap marah bundanya yang baru saja bicara tak masuk akal.
“Nayla, jangan bicara begitu dengan bundamu” seorang pria paruh baya balik memarahi Nayla. “Bagaimana aku nggak marah yah, ucapan bunda barusan nggak masuk akal. Kenapa? Kenapa harus aku yang menikah dengan kenalan Pakde Toni. Kenapa bukan anaknya aja yang dinikahin, aku bukan anaknya kenapa harus aku” protes Nayla lalu menatap ayahnya, Tama Haidar. “Nayla, kamu tahu sendiri pakde kamu nggak punya anak Perempuan. Dan kamu juga sudah di anggap anaknya kan, jadi tolong bantu pakde kamu. Orang yang di jodohkan dengan kamu juga bukan orang sembarang” Anita mendekati putrinya, dia memegang lembuh bahu putrinya itu tapi Nayla langsung bergeser menjauh. “Tapi aku belum pengen nikah bun, aku..aku masih pengen kerja” Nayla menatap bundanya yang terlihat memohon padanya. “Kamu menikah nanti juga masih bisa kerja Nay, sudahlah turuti pakde kamu. Kita banyak hutang budi dengan pakdemu” Timpal Tama, dia terkesan memaksa tak memikirkan perasaan putrinya sendiri. Mata Nayla berkaca-kaca, ia tak bisa menerima ini. Tapi orang tuanya terus menuntut dan terus mengingatkan hutang budi mereka pada pakdenya, yang merupakan kakak dari ibunya. “terserah kalian kalau begitu, hidupku kan memang selama ini kalian atur” Nayla hanya bisa pasrah, ia merasa kecewa dengan kedua orang tuanya. Karena selama ini mereka terlalu banyak mengatur dirinya dan tak pernah membiarkan nya mengambil Keputusan sendiri. “Sudah jangan sedih Nay, bunda jamin kamu bakal Bahagia sama suami kamu nanti. Hidup kamu nggak bakal kekurangan Nay, calon suami kamu Mayor TNI. Dia komandan Batlyon Nay, jadi bayangkan hidupmu pasti bahagis” Anita memegang Pundak putrinya. “persetan dengan itu semua bun,” Nayla menepis tangan bundanya lalu dia langsung pergi dari situ. Tama mendekat pada istrinya, dia melihat sekilas anaknya yang berjalan keluar rumah. “kamu yakin calon suami Nayla orang baik, aku nggak mau putriku menikah dengan orang yang tidak memperlakukannya dengan baik” ucap Tama, meskipun ia setuju dengan keinginan istrinya dan juga kakak iparnya untuk menjodohkan Nayla putri bungsunya tapi ia juga merasa takut, kalau putrinya tidak akan baik-baik saja. Ia takut putrinya mendapatkan pria yang tidak baik. “Aku jamin mas, dia orang baik. Toh kakak ku sendiri yang ngajuin perjodohan, kamu tahu sendiri kakakku milihin orang nggak pernah salah. Contohnya milihin kamu, keluarga kita langgeng sampai sekarang kan, sampai punya anak dua” ucap Anita menatap kearah suaminya. “Iya sih, tapi aku takut kalau..” “Udah mas, nggak usah takut. Katanya kamu mau lihat mobilnya Bayu, ya sudah sana soal Nayla biar aku yang urus” ucap Anita meyakinkan suaminya. “ya sudah, aku pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa dengan Nayla kabari aku” ucap Tama, mereka berdua berjalan kedepan. Anita mengantar suaminya hingga depan rumah, Setelah suaminya pergi Anita masuk kembali kedalam rumah tapi ia di kagetkan dengan Nayla yang berjalan membawa kopernya. “Nay, Nayla mau kemana kamu nak?” buru-buru Anita menghampiri Nayla. “Aku mau pergi aja dari sini bun, aku nggak mau lagi tinggal sama kalian.” Ucapnya dan akan melewati bundanya. Tapi Anita langsung menahan tangan Nayla, “Nay, kamu nggak bisa pergi begitu aja dari rumah sayang.” “Bagaimana aku nggak pergi bun, aku tinggal dirumah tapi hidupku selalu kalian atur. Aku nggak mau menuruti ucapan kalian lagi. Kenapa kalian nggak adil sama aku bun, mas Bayu kalian bebasin tapi kenapa aku nggak bun. .” tangis Nayla pecah, tatapan penuh permohonan ia berikan pada bundanya. “Ya karena kamu Perempuan Nay, kalau kamu kenapa-kenapa yang tanggung jawab pasti orang tua kamu. Tolong jangan begini, kamu mau bunda kamu mati..kalau kamu mau silahkan pergi aja Nay.” Kata Anita, nada mengancam keluar dari mulutnya. Nayla melebarkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan bundanya barusan. Bisa-bisanya bundanya bilang begitu. “Maksud bunda apa? Bunda pengen ngancem aku? Bunda pengen bunuh diri?” Anita diam saja, memalingkan wajahnya. “Karena buat apa bunda hidup, anak bunda saja nggak nurut sama bunda. Kamu pengen lihat bunda kamu yang bakal dikatain bude kamu. Kamu tahu sendiri bude kamu nggak suka sama bunda, apalagi nanti kalau dia dengar kamu nolak. Pasti dia bakal ngatain bunda yang nggak tahu terima kasih” “kenapa bunda harus takut, kenapa juga takut dengan omongannya. Bunda nggak tahu terimakasih darimana coba” bingung Nayla, dia menatap heran bundanya. “Pakde..pakde kamu ada hutang budi sama keluarga pria yang di jodohkan denganmu Nay, dan..dan pakde kamu..” “udah nggak usah di jelasin, aku tahu. Intinya karena hutang budikan oke, kalau itu maksunya. Aku balas hutang budi itu semua meskipun mengorbankan kebahagianku” Nayla menitikan air matanya tanpa suara. Wajahnya tetap dingin dengan sorot mata yang kosong. “bunda mohon, kamu jangan nangis. Bunda jamin kamu bakal Bahagia Nay, suami kamu orang baik.” Ucap Anita memegang lembut wajah putrinya, menghapus air mata sang putri. Nayla sendiri hanya diam dengan air mata yang masih menetes, “beginikah hidup di penjara itu, selalu di larang melakukan apapun atas kehedak sendiri” batinnya menangis menerima ini semua. …………….. “Adyan, ini keponakanku Nayla Anita Sari. Dia keponakan yang sudah ku anggap sebagai anakku sendiri, jadi aku harap kamu memperlakukan dia dengan baik nantinya” ucap Toni memperkenalkan Nayla yang duduk di sebelahnya. Pria yang Bernama Adyan Prastya Dirgantara, seorang Mayor muda yang baru berusia tiga puluh tiga tahun dan menjabat sebagai Danyon muda di salah satu Batalyon. Adyan mengangguk pelan sambil terus memperhatikan Perempuan di depannya yang hanya menunduk tak menatap padanya. “bagaimana cantikkan ponakan saya,” Toni terlihat bangga memperkenalkan keponakannya pada mantan anak buahnya itu. Toni seorang purnawirawan TNI AD yang sudah hampir lima tahun ini pengsiun. “Iya ndan” jawab Adyan lirih sambil tersenyum tipis. “Jadi bagaimana, mau menikah dengan ponakan saya kan? Tapi ya itu kamu harus baik dengannya, jangan menyakiti ponakan saya. Saya sudah menganggap Nayla putri saya sendiri” ucap Toni memperingatkan Adyan. “Siap ndan, isyaallah saya akan menjaganya dan tidak menyakitinya” Adyan sesekali melihat Perempuan di depannya yang kini melihat kearahnya. Mereka saling lihat dengan wajah datar mereka, entah saling memikirkan apa dalam kepala keduanya. “Mohon ijin ndan,..” ucap Adyan ragu, “Iya kenapa?” tanya Toni menatap penasaran wajah Adyan yang berubah gelisah. “Emm, soal pernikahan. Bagaimana kalau di lakukan besok?” ucap Adyan serius, “Apa?” ucap Nayla dan Toni bersamaan, ***“kamu kenapa?” tanya Adyan, sambil melihat depan kearah mana Nayla menatap.Nayla tetap melihat kedepan ekormatanya bergerak melihat orang yang berjala masuk kedalam restauran. Seorang yang tak asing dimatanya bergandengan mesra dengan pria lain “nggak, nggak mungkin” gumamnya lirih seperti syok tak menyangka dengan apa yang ia liat.“kamu lihat apa? jangan membuatku khawatir?’ tegas Adyan, mengoyang pundak Nayla. “sebenarnya apa yang kamu liat?” tanya Adyan memalingkan paksa wajah Nayla agar menghadap kearahnya.“Ta..tadi, tadi aku..aku liat bunda mas” jawab Nayla terbata, sambil menunjuk-nunjuk kedepan wajahnya pucat dengan sorot mata tak percaya.Adyan dibuat semakin bingung, “bunda? Bunda kamu?” tanyanya.Nayla mengangguk pelan mengiyakan, “Bu..bunda sama pria lain, bunda nggak sama ayah” gagapnya, masih syok dengan apa yang ia lihat. “Aku harus turun, aku..aku harus ketemu b
Nayla terlihat gelisah menghindari tatapan tajam nan mau Adyan, yang sedari tadi terus menatap tajam menusuk. Mungkin kalau tidak sedang bicara dengan orang lain, pria itu akan menghampiri mengeluarkan kalimat mautnya. Nayla terus menunduk hanya sesekali memperhatikan Adyan.Irgi yang duduk di sebelah Nayla, sesekali memperhatikan sang sepupu yang terlihat gelisah. Tak fokus pada oborlan mereka, tatapan sesekali melihat kearah Adyan.Perlahan Irgi menyenggol pelan pundak Nayla “kenapa? Takut sama suamimu, sudah cuekin saja fokus ngobrol sama teman-temanku” ucap Isrgi sedikit berbisik di telinga Nayla, ia sesekali juga melihat dimana Adyan melihat mereka saat ini, sebuah senyum diperlihatkan, senyum ramah yang semakin membuat Adyan lebih dingin lagi.“Da..daritadi mas Adyan ngeliatin kita. Aku jadi nggak enak”“sudah biarin saja, kamu perhatikan saja gelagat suamimu. Gelagat itu menunj
“ARKKKK Hantu..” teriak istri Toni saat keluar dari kamar mendapati seorang berbaring di sofa sambil berselimut putih.Dari dalam kamar keluar Toni yang menbarak istrinya masih berteria. “Ada apa sih bun, kenapa?” ucapnya menyalakan lampu ruang tengah tersebut.Dari arah sofa terlihat orang itu bergerak membuka selimut, mendengar kgaduan – Adyan. Dialah pelakunya, membuka selimut tanpa rasa bersalah melihat kearah dua orang yang menatap heran.Toni terlihat menghela nafas, berjalan mendekati suami keponakannya. Sedangkan istrinya terlihat sedikit kesal berjalan cepat mendekat, berkacak pinggang di depan Adyan.“Yaampun Adyan, bude kira kamu hantu!. Kenapa tidur di luar” bude Nayla menatap heran.“kenapa kamu disini, kenapa nggak dalam kamar?” tanya Toni menatap Adyan, rasa penasaran muncul.Perlahan Adyan mendudukkan diri, melihat du
“terus tadi kamu bil..arhkkk” ucap Nayla terhenti, perempuan itu tiba-tiba memegangi perutnya sambil merintih kesakitan. Melihat istrinya kesakitan sambil memegangi perut jelas membuat Adyan langsung khawatir, ia mendekat memegang perut istrinya juga.“kenapa sayang? Perut kamu kenapa?” panik Adyan, sambil melihat wajah Nayla yang terus merintih sakit.Nayla diam merasakan sakit diperutnya, ia tak menjawab pertanyaan-pertanyaan Adyan yang panik. Malah Nayla seperti orang kebingungan mengerjap-ngerjapkan matanya seperti merasakan kenapa perutnya sakit. “Aku laper mas” ucapnya kemudian setelah sempat loading sesaat.Mulut Adyan seketika mengenganga mendengar itu, “kamu laper?” tanyanya tak percaya.“Sshhh, iya arkh aku..aku laper” desis Nayla, memeluk perutnya sambil merintih. Merasakan perih. Dia memang sedari tadi belum makan, ia tadi yang i
Nayla baru keluar kamar setelah lama didalam sejak Adyan pergi tadi. Bahkan ia melewatkan makan malam bersama keluarga pakdenya, perasaan tak enak merambah. Perlahan kakinya berjalan pelan keluar kamar, mencari keberadaan pemilik rumah. Terdengar suara yang mengobrol di ruang tamu, membuat Nayla merasa penasaran. Kakinya itu membawanya mendekat, belum sampai di ruang tamu sebuah ucapan menghentikannya untuk mendekat.“Ayah boleh percaya dengan Adyan saat tugas, tapi ini menyangkut kehidupan pribadi. Bagaimana bisa dia masih membantu mantan kekasihnya disaat dia punya istri” protes istri Toni melihat sikap suaminya itu yang terlalu percaya dengan Adyan. “Ayah nggak lihat rumah tangganya sama Nayla saja masih gantung, ayah nggak kasihan sama Nayla? Ayah nggak ada rasa bersalah dengannya” lanjut istri Toni dengan emosi yang menggebu, bicaranya tak henti.Toni menunduk mendengar omelan istrinya, mengusap wajah kasar kemud
Adyan berjalan keluar, menatap lurus kedepan dengan rasa penasaran. Ia mendengar suara seseorang yang tengah bicara di luar, rasa penasarannya semakin terasa tak kalau suara sesegukan diringi ucapan memohon perempuan terdengar jelas di telinganya. “Siapa pakde?” tanya Adyan saat sudah berada dekat mereka. Pakde Nayla yang berdiri di tengah pintu berbicara denan seorang perempuan yang ada di luar, pria paruh baya itu menoleh melihat Adyan. Wajah pria pakde terlihat merah padam, dengan tangan terkepal. Adyan jelas menyadari kalau ada yang tak beres dari pakdenya.Ia melihat kedepan dan ia kaget saat melihat seorang perempuan paruh baya berdiri sambil menangis di depan pakde Nayla itu. Seorang yang amat sangat ia kenal menangis dengan tatapan memohon. “Adyan," panggil perempuan itu sedikit maju "tolong ibu nak. Tolong bujuk Amel agar mau dibawa kerumah sakit jiwa. Dia..dia mengamuk tadi. Dan ibu butuh bantuan kamu” itu ibu Ame
Adyan membuka pintu rumahnya, sedangkan Nayla di belakang hanya memperhatikan dengan penasaran. Kira-kira siapa yang bertamu kerumahnya saat ini.Saat pintu terbuka, Adyan terpaku di tempatnya dengan tangan yang masih memegang gagang pintu. Nayla diam melihat bingung sang sua
“kenapa kamu harus memikirkan soal pesan tadi nay, itu bukan urusanmu” ucap nayla pada dirinya sendiri. Ia yang tengah mengelap meja makan kembali teringat pesan yang masuk di ponsel Adyan siang tadi. Tangan nayla yang memegang lap di atas meja dia, pandangannya melamun, dengan pikira
Setelah Adyan berangkat bekerja, Nayla keluar rumah membawa sapu lidi di tangannya. Ia melihat rumbut di halaman depan cukup tinggi dan banyak dedaunan dari pohon jambu yang rontok. Ia melangkah pelan ke halaman rumput depan itu yang begitu dekat dengan jalan depannya.Terden
Pulang dari rumah Danyon hanya keheningan semata yang terjadi, Nayla diam dalam lamunannya sedangkan Adyan diam memandang istrinya yang pulang dari rumah atasannya tadi diam tak bicara.Dikamar keduanya sibuk diam, Adyan yang duduk di meja kerja masih memantau Nayla yang mema







