Share

Teman Tempur Di Ranjang Mayor
Teman Tempur Di Ranjang Mayor
Author: Fafacho

Bab 1.

Author: Fafacho
last update publish date: 2025-12-03 17:13:37

“Tapi kenapa harus aku bun, aku masih ingin kerja” nada keras keluar dari mulut Nayla Anita Sari. Dia menatap marah bundanya yang baru saja bicara tak masuk akal.

“Nayla, jangan bicara begitu dengan bundamu” seorang pria paruh baya balik memarahi Nayla.

“Bagaimana aku nggak marah yah, ucapan bunda barusan nggak masuk akal. Kenapa? Kenapa harus aku yang menikah dengan kenalan Pakde Toni. Kenapa bukan anaknya aja yang dinikahin, aku bukan anaknya kenapa harus aku” protes Nayla lalu menatap ayahnya, Tama Haidar.

“Nayla, kamu tahu sendiri pakde kamu nggak punya anak Perempuan. Dan kamu juga sudah di anggap anaknya kan, jadi tolong bantu pakde kamu. Orang yang di jodohkan dengan kamu juga bukan orang sembarang” Anita mendekati putrinya, dia memegang lembuh bahu putrinya itu tapi Nayla langsung bergeser menjauh.

“Tapi aku belum pengen nikah bun, aku..aku masih pengen kerja” Nayla menatap bundanya yang terlihat memohon padanya.

“Kamu menikah nanti juga masih bisa kerja Nay, sudahlah turuti pakde kamu. Kita banyak hutang budi dengan pakdemu” Timpal Tama, dia terkesan memaksa tak memikirkan perasaan putrinya sendiri.

Mata Nayla berkaca-kaca, ia tak bisa menerima ini. Tapi orang tuanya terus menuntut dan terus mengingatkan hutang budi mereka pada pakdenya, yang merupakan kakak dari ibunya.

“terserah kalian kalau begitu, hidupku kan memang selama ini kalian atur” Nayla hanya bisa pasrah, ia merasa kecewa dengan kedua orang tuanya. Karena selama ini mereka terlalu banyak mengatur dirinya dan tak pernah membiarkan nya mengambil Keputusan sendiri.

“Sudah jangan sedih Nay, bunda jamin kamu bakal Bahagia sama suami kamu nanti. Hidup kamu nggak bakal kekurangan Nay, calon suami kamu Mayor TNI. Dia komandan Batlyon Nay, jadi bayangkan hidupmu pasti bahagis” Anita memegang Pundak putrinya.

“persetan dengan itu semua bun,” Nayla menepis tangan bundanya lalu dia langsung pergi dari situ.

Tama mendekat pada istrinya, dia melihat sekilas anaknya yang berjalan keluar rumah.

“kamu yakin calon suami Nayla orang baik, aku nggak mau putriku menikah dengan orang yang tidak memperlakukannya dengan baik” ucap Tama, meskipun ia setuju dengan keinginan istrinya dan juga kakak iparnya untuk menjodohkan Nayla putri bungsunya tapi ia juga merasa takut, kalau putrinya tidak akan baik-baik saja. Ia takut putrinya mendapatkan pria yang tidak baik.

“Aku jamin mas, dia orang baik. Toh kakak ku sendiri yang ngajuin perjodohan, kamu tahu sendiri kakakku milihin orang nggak pernah salah. Contohnya milihin kamu, keluarga kita langgeng sampai sekarang kan, sampai punya anak dua” ucap Anita menatap kearah suaminya.

“Iya sih, tapi aku takut kalau..”

“Udah mas, nggak usah takut. Katanya kamu mau lihat mobilnya Bayu, ya sudah sana soal Nayla biar aku yang urus” ucap Anita meyakinkan suaminya.

“ya sudah, aku pergi dulu. Nanti kalau ada apa-apa dengan Nayla kabari aku” ucap Tama, mereka berdua berjalan kedepan. Anita mengantar suaminya hingga depan rumah,

Setelah suaminya pergi Anita masuk kembali kedalam rumah tapi ia di kagetkan dengan Nayla yang berjalan membawa kopernya.

“Nay, Nayla mau kemana kamu nak?” buru-buru Anita menghampiri Nayla.

“Aku mau pergi aja dari sini bun, aku nggak mau lagi tinggal sama kalian.” Ucapnya dan akan melewati bundanya. Tapi Anita langsung menahan tangan Nayla,

“Nay, kamu nggak bisa pergi begitu aja dari rumah sayang.”

“Bagaimana aku nggak pergi bun, aku tinggal dirumah tapi hidupku selalu kalian atur. Aku nggak mau menuruti ucapan kalian lagi. Kenapa kalian nggak adil sama aku bun, mas Bayu kalian bebasin tapi kenapa aku nggak bun. .” tangis Nayla pecah, tatapan penuh permohonan ia berikan pada bundanya.

“Ya karena kamu Perempuan Nay, kalau kamu kenapa-kenapa yang tanggung jawab pasti orang tua kamu. Tolong jangan begini, kamu mau bunda kamu mati..kalau kamu mau silahkan pergi aja Nay.” Kata Anita, nada mengancam keluar dari mulutnya.

Nayla melebarkan matanya, dia terkejut mendengar ucapan bundanya barusan. Bisa-bisanya bundanya bilang begitu.

“Maksud bunda apa? Bunda pengen ngancem aku? Bunda pengen bunuh diri?”

Anita diam saja, memalingkan wajahnya.

“Karena buat apa bunda hidup, anak bunda saja nggak nurut sama bunda. Kamu pengen lihat bunda kamu yang bakal dikatain bude kamu. Kamu tahu sendiri bude kamu nggak suka sama bunda, apalagi nanti kalau dia dengar kamu nolak. Pasti dia bakal ngatain bunda yang nggak tahu terima kasih”

“kenapa bunda harus takut, kenapa juga takut dengan omongannya. Bunda nggak tahu terimakasih darimana coba” bingung Nayla, dia menatap heran bundanya.

“Pakde..pakde kamu ada hutang budi sama keluarga pria yang di jodohkan denganmu Nay, dan..dan pakde kamu..”

“udah nggak usah di jelasin, aku tahu. Intinya karena hutang budikan oke, kalau itu maksunya. Aku balas hutang budi itu semua meskipun mengorbankan kebahagianku” Nayla menitikan air matanya tanpa suara. Wajahnya tetap dingin dengan sorot mata yang kosong.

“bunda mohon, kamu jangan nangis. Bunda jamin kamu bakal Bahagia Nay, suami kamu orang baik.” Ucap Anita memegang lembut wajah putrinya, menghapus air mata sang putri.

Nayla sendiri hanya diam dengan air mata yang masih menetes,

“beginikah hidup di penjara itu, selalu di larang melakukan apapun atas kehedak sendiri” batinnya menangis menerima ini semua.

……………..

“Adyan, ini keponakanku Nayla Anita Sari. Dia keponakan yang sudah ku anggap sebagai anakku sendiri, jadi aku harap kamu memperlakukan dia dengan baik nantinya” ucap Toni memperkenalkan Nayla yang duduk di sebelahnya.

Pria yang Bernama Adyan Prastya Dirgantara, seorang Mayor muda yang baru berusia tiga puluh tiga tahun dan menjabat sebagai Danyon muda di salah satu Batalyon.

Adyan mengangguk pelan sambil terus memperhatikan Perempuan di depannya yang hanya menunduk tak menatap padanya.

“bagaimana cantikkan ponakan saya,” Toni terlihat bangga memperkenalkan keponakannya pada mantan anak buahnya itu. Toni seorang purnawirawan TNI AD yang sudah hampir lima tahun ini pengsiun.

“Iya ndan” jawab Adyan lirih sambil tersenyum tipis.

“Jadi bagaimana, mau menikah dengan ponakan saya kan? Tapi ya itu kamu harus baik dengannya, jangan menyakiti ponakan saya. Saya sudah menganggap Nayla putri saya sendiri” ucap Toni memperingatkan Adyan.

“Siap ndan, isyaallah saya akan menjaganya dan tidak menyakitinya” Adyan sesekali melihat Perempuan di depannya yang kini melihat kearahnya. Mereka saling lihat dengan wajah datar mereka, entah saling memikirkan apa dalam kepala keduanya.

“Mohon ijin ndan,..” ucap Adyan ragu,

“Iya kenapa?” tanya Toni menatap penasaran wajah Adyan yang berubah gelisah.

“Emm, soal pernikahan. Bagaimana kalau di lakukan besok?” ucap Adyan serius,

“Apa?” ucap Nayla dan Toni bersamaan,

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 44.

    “Makasih… kalian sudah mau nganterin aku ke sini.”Ucapan itu keluar dari mulut Anya dengan nada sedikit kaku, seolah ia gengsi untuk benar-benar mengucapkan terima kasih.Ia berdiri di samping motornya, menatap dua tentara yang masih berdiri di depannya.Wajah Anya terlihat agak canggung.Terlebih lagi, bayangan kejadian di jalan tadi masih terlintas di kepalanya.Saat motor melewati jalan yang rusak dan berlubang—Motor Zevan sempat oleng sedikit.Dan karena Anya sengaja tidak berpegangan…Tubuhnya hampir saja jatuh.Refleks.Tangannya langsung memeluk pinggang Zevan dengan erat.Saat itu juga wajahnya langsung panas.Untung saja Zevan tidak mengatakan apa-apa.“Ya, sama-sama,” jawab Zevan dan Fauzi hampir bersamaan.Anya menggaruk tengkuknya pelan, masih merasa sedikit malu.“K

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 43.

    “Bang, pokoknya aku nggak mau dianter sama mereka. Aku berani kok sendiri,” kukuh Anya sambil menyilangkan tangan di depan dada. Wajahnya keras kepala. Matanya menatap kakaknya dengan penuh protes. Jelas ia protes, ia tak mau di antar oleh dua orang yang menurutnya arogan.Namun Adyan tetap berdiri tegap di depannya. Wajahnya datar, tapi auranya jelas tidak bisa dibantah.“Nggak ada penolakan, Anya,” ucap Adyan tegas, nada suaranya rendah… tapi penuh perintah. “Kamu tetap akan diantar Lettu Zevan dan Letda Fauzi.”Anya langsung mengerucutkan bibirnya kesal. Ia mendengus pelan kalau kakaknya sudah bicara dengan nada seperti itu, biasanya tidak ada ruang untuk berdebat lagi.Dan Anya tahu benar kakanya itu bisa sangat mengerikan kalau sudah marah. Dan tatapan yang mengerikan kakaknya lah yang membuat ia takut.“Kalau begitu kita permisi dulu, Ndan,” uc

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 42.

    “Adyan.”Satu panggilan itu langsung memutus suasana hangat di antara mereka.Adyan menoleh dengan wajah jelas tak senang. Tatapan yang tadi lembut saat menatap istrinya seketika mengeras—dingin, kaku, seolah tembok tebal berdiri di antara dirinya dan orang yang baru saja memanggilnya.Nayla ikut menoleh. Alisnya sedikit berkerut, matanya menyapu sosok pria di depan mereka. Nalurinya langsung menangkap perubahan sikap suaminya. Adyan cuma seperti ini kalau bertemu orang yang tak ia sukai.“Mayor satu ini sekarang sibuk sekali,” ucap pria itu santai, senyum tipis terbit di wajahnya. “Kumpul sama teman lama saja sudah jarang.”Tangannya terulur.Adyan membalas jabatan tangan itu—singkat, dingin—dengan senyum tipis yang jelas-jelas palsu.“Istrimu?” tanya pria itu, melirik Nayla.“Iya,” jawab Adyan ce

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 41.

    Hari yang cerah pagi ini seperti menggambarkan suasana hati Nayla yang juga penuh cerah dan bahagia. Pagi ini hatinya sudah berbunga karena kepedulian Adyan padanya, pria itu baru saja selesai memijatnya. Saat bangun ia merasa kakinya terasa sakit, Adyan yang melihat itu langsung memijatnya penuh kelembutan.Nayla keluar kamar sambil menahan senyumnya, sesekali ia melihat sang suami yang memutuskan untuk tidur lagi. Hari ini Adyan tak pergi dinas, karena pria itu nanti janji akan menemaninya kontrol ke dokter kandungan.Baru saja Nayla melangkah kedapur, ia sudah di ledek oleh adik iparnya yang ternyata sudah duduk nyaman di meja makan menatap dirinya dengan senyum meledek. “hemm, hem cie...habis apa mbak kok senyum-senyum sendiri sih” goda Anya pada kakak iparnya yang langsung memasang wajah malu-malu.Nayla refleks menunduk, pipinya memanas.“Ngg… nggak,” jawabnya gugup. “Mbak nggak habis ng

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 40.

    “Nggak usah teriak, Mbak, yang salah mbak sendiri” ucapnya datar, nadanya tenang tapi menusuk.Tatapan itu membuat Anya sedikit tertegun, meski rasa kesalnya belum juga surut. Dadanya naik turun, emosinya masih bergejolak.Sementara pria satunya berjongkok, mulai memunguti belanjaan Anya tanpa banyak bicara.Anya berdiri perlahan, menepuk-nepuk celananya dengan kasar. Tatapannya tajam, tapi di balik itu ada rasa malu kecil yang mulai menyelinap—jatuh di tempat umum, dengan kondisi berantakan.“Apa? Kamu tadi bilang apa? Salahku.? Perasaan masnya yang salah jalan dempet-dempet” ngegas Anya tak terima, dengan kedua tangannya berada di pinggang. Membiarkan belanjaannya di bawah.Pria dingin itu tetap pada posisinya. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi.“Memang salah mbak,” balasnya tenang. “Yang nggak fokus.”“Kamu..” Anya mendesis geram,

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 39.

    “udah nggak usah, kamu duduk aja” Adyan mengambil piring yang miliknya yang di ambil oleh Nayla, istrinya itu akan mencuci piring bekas mereka sarapan.“tapi mas,..” Nayla yang sudah berdiri menatap tak mengerti kearah suaminya.“udah kamu duduk aja, biar Anya yang cuci piring” ucap Adyan, lalu melihat kearah depan tv dimana adiknya duduk santai di sana. “Anya,.” Serunya memanggil sang adik.Anya yang merasa terpanggil melihat kearah abangnya, “Iya bang,” jawabnya menatap sang kakak.“Sini kamu,” perintah Adyan dengan tegas, dengan tatapan tajamnya. Segera Anya langsung berdiri dari duduknya, berjalan mendekati kakaknya yang tengah bersama kakak iparnya.“Iya bang, kenapa?” tanyanya saat sudah berada di depan Adyan,“beresin meja makan, habis itu cuci piring. Kalau mau d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status