Share

Bab 2.

Author: Fafacho
last update Last Updated: 2025-12-03 17:14:29

“Emm, soal pernikahan. Bagaimana kalau di lakukan besok?” ucap Adyan serius,

“Apa?” ucap Nayla dan Toni bersamaan,

“Apa besok? Nggak masuk akal” ucap Nayla spontan, dia menatap heran dengan pria asing di depannya yang akan menjadi suaminya.

“Adyan, bukannya terlalu cepat kalau besok. Kamu dan Nayla juga belum mengurus pengajuan menikah, bagimana bisa menikah besok” ucap Toni.

“Iya ndan, maaf sebelumnya tapi ibu saya sakit parah ndan dan saat ini kondisinya tak memungkin menunggu lama. Jadi saya ingin menikah besok agar ibu saya bisa melihat saya menikah” ucap Adyan jujur, dia memang tak ingin berbohong soal alasannya menikah. Ia tak perduli tanggapan dari keponakan komandannya.

Nayla terus menatap kearah Adyan

“Jadi pria ini menikah karena ibunya sakit, jadi dia terpaksa menikah denganku. Apa-apaan ini,” batin Nayla. Nayla menelan ludah, dadanya naik turun. Jujur emosinya ingin meledak tapi ia tak bisa marah begitu saja di depan pakdenya.

“Kenapa hidupku begini, dinikahi secara paksa tanpa cinta” batinnya meratapi dirinya sendiri.

Toni hanya bisa diam memperhatikan keponakannya yang terlihat syok mendengar jawaban Adyan barusan. Tapi entah kenapa walaupun jawab Adyan begitu, ia masih menginginkan keponakannya menikah dengan Adyan.

“Iya nggak pa-pa, besok saya dan orang tua Nayla akan menikahkan kalian”

Mendengar itu Nayla langsung melihat kearah Pakdenya, Ia tak habis pikir dengan pakdenya yang tetap akan menikahkan dirinya.

“Terimakasih ndan”

Nayla terpaku, tenggorokannya terasa tercekat. Kata-kata “besok menikah” masih menggema keras di kepalanya.

Sementara Adyan sesekali menunduk, dan melihat kearah Nayla yang tak mengeluarkan kata-kata. Perempuan itu hanya duduk terpaku,

“Pa..pakde aku nggak mau. Aku belum siap menikah” ucap Nayla akhirnya bersuara. Dia tak perduli orang tuanya marah dan pakdenya malu, masa ia dinikahi hanya untuk membuat ibu pria di depannya Bahagia. Sedangkan hidupnya sendiri di pertaruhkan.

Pakdenya menghela nafas pelan, “Nak, ini demi kebaikan kalian kebaikan mu juga. Ibunya Adyan ingin melihat anaknya menikah dan kamu juga ingin di ayomi kan. Kamu jangan takut Adyan tidak baik denganmu, pakde jamin dia orang baik dan kamu tadi dengar dia bersungguh-sungguh kan ingin menjagamu” Toni berusaha membujuk Nayla.

“Itu bukan alasan yang cuku” batin Nayla menjerit, tapi mulutnya tak bisa mengeluarkan semua keberatannya.

Adyan menatap Nayla serius

“Nayla, saya tahu kamu tidak kenal saya sebelumnya. Tapi tolong bantu saya, saya akan menjaga kamu kedepannya. Jadi tidak usah khawatir”

“Saya mohon tolong saya, mungkin ini kesempatan terakhir ibu saya melihat anaknya Bahagia dengan pasangan. Saya mohon” ucap Adyan sedikit menunduk, sebenarnya ini seperti menjatuhkan harga dirinya tapi mau bagaimana lagi tak ada pilihan lain.

“Orang tua ku memang brengsek, sebenarnya apa yang mereka dapatkan dari menikahkanku ini.” Batin Nayla mengumpat, Dia ingin menolak keras tapi mengingat ucapan mamanya.

“Apa ini caraku untuk keluar dari rumah” batinnya lagi.

“Nay, mau ya..terima lamaran Adyan. Pakde jamin hidup kamu Bahagia” Toni yang duduk di samping Nayla seperti memohon juga.

“Ya sudah kalian atur saja pernikahan ini” ucap Nayla pada akhirnya, dia menatap sekilas Adyan yang kini menatapnya juga. Nayla langsung membuang mukanya saat Adyan menatapnya.

“Terimakasih sudah mau menikah dengan saya” ucap Adyan. Nayla diam saja, Toni langsung menyahut agar suasana tak canggung.

……………………..

SAH….

Sahutan suara dari orang-orang yang ada di ICU itu menjadi tanda kalau Nayla saat ini sudah sah menjadi istri dari Adyan. Nayla menitikan air matanya, bukan air mata haru bahagia tapi air mata sedih. Sedih karena ia harus menikah dengan orang yang tidak ia cintai.

“Nak Adyan, titip Nayla ya” ucap Tama setelah menikahkan putrinya, ia menepuk Pundak Adyan lembut.

“Iya yah,” ucap Adyan singkat sambil mencium tangan ayah mertuanya itu.

Ayah Adyan segera menghampiri Tama, mereka saling mengucap terima kasih dan bicara.

“Salam kenal ya pak, semoga keluarga kita rukun selalu” ucap Arman ayah Adyan.

Adyan mengecup punggung tangan ibunya, tapi wajahnya tetap tanpa senyum—seolah pernikahan barusan hanyalah prosedur, bukan momen sakral yang layak dirayakan.

Nayla berdiri kaku beberapa langkah di belakang, memegangi buket bunga yang sudah mulai layu sejak tadi terkena pendingin ruangan. Mata ayahnya sesekali meliriknya, memastikan putrinya tetap kuat berdiri. Tapi Nayla tahu, kekuatannya hanyalah topeng tipis yang hampir retak.

“Terima kasih… kamu sudah menunggu keinginan bunda yang terakhir,” suara ibu Adyan bergetar. “Bunda ingin kamu… punya seseorang yang bisa jagain kamu di rumah.”

Adyan menunduk, tidak menjawab. Rahangnya mengeras, jelas ia tidak sepenuhnya setuju, tapi ia juga tidak bisa membantah permintaan terakhir seorang ibu yang bahkan sulit melepas napas tanpa bantuan mesin.

Nayla menelan ludah, hatinya mencubit kuat.

Ia bukan pilihan.

Ia hanya permintaan terakhir seseorang yang sedang menghadapi ajal.

Dan Adyan… menerima pernikahan itu bukan karena cinta—bahkan bukan karena suka.

“Tapi bunda…” Nayla maju satu langkah, mencoba tersenyum meski suaranya goyah. “Semoga bunda cepat sembuh. Kami akan berusaha…”

Ibu Adyan tersenyum tipis, sangat lemah namun hangat.

“Maaf ya, Nak Nayla… kalau caranya terlalu tiba-tiba.”

Nayla buru-buru menggeleng. “Tidak, Bun. Tidak apa-apa.”

Padahal hatinya ingin berkata sebaliknya.

Ibu Adyan lalu mengarahkan tatapannya pada putranya, menatapnya lama, seolah ingin memastikan Adyan tidak kabur dari kenyataan setelah ini.

“Dan… jaga istrimu,” ucapnya, napas tersengal. “Jangan biarkan dia merasa sendirian.”

Adyan terdiam.

Beberapa detik.

Terlalu lama untuk sebuah janji sederhana.

“Ya, Bun.” Jawabnya akhirnya.

Kalimat yang terdengar seperti sekadar formalitas.

Nayla menunduk, menahan sesak yang mulai naik ke dada.

Suasana hening.

Mesin ICU berdenting pelan, satu-satunya suara di ruangan yang terasa semakin sempit.

Ayah Nayla duduk di kursi pojok, berdoa dalam diam.

Ayah Adyan berdiri di sisi lain, mengusap wajah dengan napas panjang.

Tiba-tiba ibu Adyan memejamkan mata, suaranya pelan sekali.

“Kalian boleh pergi dulu… Bunda capek…”

“Bun?” Adyan buru-buru mendekat.

“Tenang… Bunda hanya mau istirahat…” bisiknya.

Perawat masuk, mengisyaratkan bahwa keluarga harus keluar untuk memberi waktu bagi pasien stabil kembali.

Ayah Adyan menepuk bahu anaknya.

“Tunggu di luar dulu, Dan.”

Adyan mengangguk, lalu berbalik menuju pintu.

Tanpa menoleh ke Nayla.

Tanpa menggandeng tangannya.

Tanpa meminta ikut.

Nayla sendiri hanya mengikutinya dalam diam, langkahnya kecil dan gemetar.

Ketika pintu ICU tertutup, dinginnya koridor rumah sakit menyergap, dan barulah wajah Adyan terlihat jelas di bawah lampu putih pucat itu.

Datar. Kosong. Tak terbaca.

Nayla memberanikan diri membuka suara.

“Adyan… kalau kamu tidak suka—”

“Jangan mulai.” Adyan memotong cepat, tatapannya menancap sekilas. “Aku menikah karena bunda. Sudah.”

Ada jeda.

Hanya beberapa detik.

Tapi cukup untuk meremukkan hati.

Nayla menunduk lagi.

“Baik…” bisiknya.

Adyan menghela napas panjang, seolah lelah dengan situasi yang bahkan belum dimulai.

“Kita pulang saja setelah semua selesai,” katanya datar. “Sesederhana itu.”

Sesederhana itu.

Pernikahan.

Hubungan.

Hidup Nayla mulai hari ini.

Nayla mengepalkan tangannya yang dingin.

Ia baru saja menjadi istri seorang mayor—

tapi entah mengapa, rasanya seperti baru saja masuk ke perang yang tidak pernah ia inginkan.

---

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 29.

    Nayla pulang kerumah membawa makanan, dia sengaja sekalian membelikan makan malam untuk suaminya. Wajah lelah serta mata yang masih sediit sembab terlihat jelas di wajah Nayla. Ia melangkah membuka pintu rumahnya, tapi sebelum ia memutar knop pintu, pintu di depannya itu sudah terbuka lebih dulu. Siapa lagi yang membukanya kalau bukan Adyan, dua orang itu sama-sama terlihat terkejut saling tatap.“mas Adyan mau kemana?” tanya Nayla melihat suaminya yang terlihat sudah mandi dan berpakaian rapi dengan tangannya yang memegang kunci mobil.“Darimana saja kamu?” bukannya menjawab, Adyan malah balik bertanya dengan dingin. Menatap menuntut jawaban dari sang istri.“Aku habis ketemu temanku mas, maaf kalau aku kesorean pulangnya” Nayla merasa bersalah karena pulang sore, apalagi melihat tatapan Adyan yang seperti menahan kemarahan.“masuk” Adyan tak membalas,

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 28.

    Hari ini Adyan dan Nayla sudah berada di Semarang, mereka sibuk dengan kegiatannya masing-masing karena tugas mereka sudah menunggu. Apalagi Adyan banyak pekerjaan yang harus ia urus menghadiri acara-acara yang seharusnya di hadiri Danyon tapi terpaksa ia yang harus hadir karena Danyon masih di luar negeri. Bukan itu saja yang ia lakukan, ia juga harus melihat latihan di tempat yang berbeda, saat ini Adyan baru selesa memantau latihan dan dia baru kembali ke kantornya.Ia duduk di kursi kerjanya, menyandarkan diri sambil sesekali menghela nafas. Ia terlihat cukup lelah kemarin baru pulang dari sumsel kini ia harus di sibukkan dengan pekerjaan yang sangat padat.Saat Adyan tengah merilekskan tubuhnya, bunyi getar singkat di benda pipih yang teronggok di meja depan mengalihkannya. Pandangan Adyan langsung terarah kebenda pipih itu, dimana layarnya yang menyala. Tangan Adyan bergerak mengambil ponselnya, melihat nama Nayla yang mengirimkan pesan.&nbs

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 27.

    Adyan yang sudah membayar saat berbalik dia melihat Lettu Faris tengah bicara dengan Nayla, melihat itu membuat Adyan penasaran sekaligus sedikit kaget. Dalam kepalanya bertanya-tanya kenapa Lettu Faris bicara dengan istrinya, apa yang tengah mereka bicarakan. Begitulah kira-kira yang dipikirkan Adyan, langkahnya ia percepat mendekat ke arah mereka berdua yang terlihat serius.“hemm,” Adyan berdehem saat sudah berada di dekat mereka berdua. Sontak keduanya bersamaan berbalik melihat kearah Adyan yang menatap datar mereka.“Mayor Adyan” “mas” ucap mereka berdua bersamaan, Nayla terlihat was-was, takut kalau suaminya akan salah paham. Apalagi meihat tatapan tak suka Adyan membuatnya seperti tengah di introgasi.“Lettu Faris, sedang apa kau disini?” Adyan menatap serius Faris, sesekali ia juga menatap sang istri yang terlihat akan menjelaskan tapi saat melihat tatapan dinginny

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 26.

    Nayla terbangun dari tidurnya, ia membuka matanya perlahan lalu sedikit menoleh kesamping dimana Adyan tengah tidur lelap di sebelahnya. Ingatannya berputar pada sore tadi dimana mereka berhubungan intim tapi Adyan terlihat berbeda pria itu sedikit lembut dari biasanya bahkan terkesan tak memaksa.“Aku nggak mimpikan, tadi mas Adyan bisa selembut itu denganku” batin Nayla masih tak percaya, ia sedikit memiringkan tubuhnya menghadap Adyan. Wajah Nayla bersemu merah, pipinya merona mengingat suara Adyan yang meminta ijin padanya.Refleks kedua tangan Nayla memegang wajahnya, berusaha mentralkan diri agar tak kepanasan dengan hal manis tadi. “ternyata mas Adyan bisa selembut itu melakukannya” gumam Nayla, bibirnya merekah dengan tatapan berbinar menatap Adyan yang lelap. Perlahan tangan Nayla refleks ingin mengelus wajah tampan suaminya, tapi itu hanya mengambang di udara saja. Ia ragu untuk melakukannya, bagaimana kalau Adyan nanti b

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 25.

    Nayla terlihat tak tenang matanya menyisir sekitar sesekali tangannya juga bergerak gelisah. Dia merasa tak tenang menunggu kedatangan pakdenya. Kira-kira ia harus bersikap seperti apa saat bertatap muka nanti, dua bulan lebih ia memblokir nomor pakdenya dan kini malah akan bertemu. Pertemuan yang tak di rencanakan sebelumya.“Nanti pakde bakal ngungkit nggak ya?’ batin Nayla penasara, penuh tanya dalam dirinya sendiri.Adyan yang duduk di sebelah Nayla jelas juga merasakan ada yang aneh dengan sang istri, terlihat ia sesekali melihat Nayla seperti melamun nampak gugup.“Kenapa?” tanya Adyan singkit, mendengar pertanyaan dari suaminya Nayla menoleh menatap suaminya.“Nggak, nggak pa-pa mas” jawab Nayla berusaha terlihat biasa, agar Adyan tak semakin curiga dengan ekspresinya kini.Adyan lalu diam, tapi tatapannya sesekali masih melihat kearah Nayla, beberapa menit akhirnya yang mereka

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 24.

    Nayla terus memperhatikan Adyan, ia merasa risau takut kalau suaminya marah dengan ceritanya tadi soal Yusuf.“kenapa melihatku seperti itu, kau nggak mau makan?” tanya Adyan saat mendapati Nayla yang memperhatikannya.Nayla langsung glagapan karena ketahuan memperhatikan Adyan, “I..iya ini aku makan mas” jawab Nayla kikuk. Dia lalu fokus dengan makannya meskipun masih sedikit gugup. Sedangkan Adyan juga kembali makan lagi, pria itu sepertinya tak terlalu menganggap serius.Tapi bagi Nayla, terus kepikiran sesekali ia masih memperhatikan Adyan yang makan. Pria itu seperti tak menganggap serius ini semua. “kenapa ya mas Adyan tanya-tanya soal masa lalu ku, sebegitu ingin tahu kah dirinya denganku” batin Nayla dengan pandangannya yang sesekali melihat Adyan yang sibuk makan.Tangan Nayla yang tadi menyendok makanan berhent sejenak, pandangannya kembali menata kearah suaminya. &ldq

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status