Beranda / Romansa / Teman Tempur Di Ranjang Mayor / Bab 9. Ditinggal Di Jalan Sunyi

Share

Bab 9. Ditinggal Di Jalan Sunyi

Penulis: Fafacho
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-08 20:00:59

Nayla tampak kebingungan, meskipun begitu dia berusaha untuk tenang tak panik dengan keadaannya saat ini. Dia melihat sekeliling jalan yang sepi hanya ada beberapa yang lewat tapi tak ada yang menawarkan dirinya tumpangan.

Dia perlahan berjalan sambil memeluk dirinya sendiri meskipun ia juga takut, takut kalau ada seseorang yang akan mencelakai dirinya. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di dekatnya, melihat itu Nayla langsung wasapda, dia sedikit menjauh sambil memperhatikan mobil berwarna merah itu yang sudah berhenti.

Seorang pria berseragam loreng turun dari mobil itu membuat Nayla sedikit menyipitkan matanya, karena merasa tak asing.

"Mbak Nayla, ngapain kok jalan sendiri?" tanya pria itu saat keluar dari mobil.

"Serda Niko,." ucapnya lirih saat mengenali pria tegap berseragam loreng itu.

"Habis darimana mbak? kok sendirian?" tanya Serda Niko, sambil memperhatik

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 9. Ditinggal Di Jalan Sunyi

    Nayla tampak kebingungan, meskipun begitu dia berusaha untuk tenang tak panik dengan keadaannya saat ini. Dia melihat sekeliling jalan yang sepi hanya ada beberapa yang lewat tapi tak ada yang menawarkan dirinya tumpangan.Dia perlahan berjalan sambil memeluk dirinya sendiri meskipun ia juga takut, takut kalau ada seseorang yang akan mencelakai dirinya. Baru beberapa langkah ia berjalan, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di dekatnya, melihat itu Nayla langsung wasapda, dia sedikit menjauh sambil memperhatikan mobil berwarna merah itu yang sudah berhenti.Seorang pria berseragam loreng turun dari mobil itu membuat Nayla sedikit menyipitkan matanya, karena merasa tak asing."Mbak Nayla, ngapain kok jalan sendiri?" tanya pria itu saat keluar dari mobil."Serda Niko,." ucapnya lirih saat mengenali pria tegap berseragam loreng itu."Habis darimana mbak? kok sendirian?" tanya Serda Niko, sambil memperhatik

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 8.

    Kini Adyan dan Nayla saling berhadapan mereka berdiri di tempat agak sepi hanya mereka berdua sedangkan Anya tengah menikmati makanan yang sudah mereka pesan tadi. Nayla merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Adyan, dia sedikit takut untuk melihat mata elang suaminya itu. Sesekali ia hanya bisa menunduk karena tatapan Adyan begitu menusuk."Mas..mas Adyan mau bicara apa ya?' tanya Nayla akhirnya dengan berani membuka suaranya, meskipun masih ada rasa takut yang hinggap.Adyan tak segera menjawab, dia malah masih menatap menelisik Nayla yang semakin gugup."Saya hanya memperingatkanmu, jangan sampai kau merusak nama ku nanti. Saya tak perduli kau punya hubungan dengan siapa, tapi jangan merusak reputasiku" tukas Adyan memperingatkan Nayla.Nayla sedikit mendongak menatap Adyan."maksudnya mas?" ucap Nayla tak mengerti."Jangan pikir saya bodoh, saya mendengar kau bicara dengan pria lain kan. Saya hanya mengingatkanmu saja soal itu" tukas Adyan, dia terlihat cuek dengan aura dinginny

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 7.

    "Halo Nay, kau tega denganku..?" ucap seorang pria di seberang sana. Mata Nayla melebar, tangannya spontan menutup mulutnya saat ini, ia terlihat kaget mendengar suara tak asing itu di seberang sana. Tangan Nayla yang menutup mulutnya itu gemetar, ia masih terlihat terkejut mendengar suara orang di seberang sana. "Yu..Yusuf,.." Nayla terbata, wajahnya tampak syok saat menyebut nama itu."masa kau lupa dengan suaraku, kau melupakanku Nay. Aku nggak nyangka kau menikah dengan orang lain dan meninggalkanku begitu saja tanpa kabar" Suara pria bernama Yusuf itu terdengar kecewa di seberang sana.Nayla masih terlihat syok, tangannya juga masih menutup mulutnya tak percaya kalau suara yang ia dengar adalah Yusuf kekasihnya yang di kabarkan hilang dalam misi kemanusian satu tahun lalu. "nggak,..nggak mungkin kau Yusuf, nggak mungkin kan?" Nayla masih tak mempercayai itu, matanya terlihat berkaca-kaca."Untuk apa, aku membohongimu Nay. Ini aku Yusuf, aku kembali untuk mu tapi kau malah sudah

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 6.

    Di kamar Nayla tak bisa tidur, ia yang tadinya sudah siap tidur dengan selimut yang menutupi tubuhnya mendadak gelisah saat mengingat wajah dingin Adyan padanya. Pria itu seperti marah dengannya, tapi ia sendiri tidak tahu kenapa pria itu sampai memberikan tatapan tajam penuh kemarahan padanya.Sesekali Nayla melihat kearah pintu, dia benar-benar gelisah saat ini. Hatinya begitu tak tenang, takut kalau Adyan masuk. Nayla yang tadinya rebahan kini memilih menyandarkan tubuhnya dengan tatapan yang sesekali melihat kearah pintu."Semoga mas Adyan nggak tidur di kamar" ucapnya penuh harap, ia takut saja kalau Adyan bakal tidur di kamar. Ia tak tahu apa yang akan di lakukan pria itu, apalagi ucapannya tadi begitu membuatnya merinding sendiriNamun harapan Nayla sirna, pintu terbuka dan Adyan masuk kedalam kamar. Pria itu yang hendak menutup pintu kembali melihat sekilas kearah Nayla yang sedikit terkejut melihatnya."mas..mas Adyan, ke..kenapa masuk" ucap Nayla spontan, tubuhnya berubah te

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 5.

    Ibu Adyan selesai di makamkan, Nayla yang ikut kepemakaman dan kini menenangkan adik iparnya sesekali melihat Adyan yang sama sekali tak beranjak dari pusaran sang ibunda. Padahal para pelayat sudah mulai meninggalkan pemakaman."Hiks, hiks, aku..aku masih butuh bunda. Tapi kenapa bunda ninggalin aku ya mbak" tangis Anya di pundaknya. Nayla melihat adik iparnya itu yang terus menitikan air mata."Anya,,ikhlas ya sayang. Kan ada mbak, kalau apa-apa kamu bisa bilang ke mbak ya ikhlasin bunda ya. Semoga bunda tenang di sana," Nayla mengusap lembut pundak adik iparnya itu. Sesekali dia juga melihat kearah Adyan yang memegangi nama bundanya. "dia sesayang itu dengan bundanya" batin Nayla melihat Adyan yang terlihat begitu kehilangan. Wajah pria itu yang dingin kini semakin terlihat begitu dingin.Bertepatan dengan itu Adyan menatap kearahnya, tatapan yang cukup tajam. Nayla buru-buru memalingkan wajahnya, karena jujur ia terintimidasi dengan tatapan tersebut."Anya, Adyan ayo kita pulang n

  • Teman Tempur Di Ranjang Mayor   Bab 4.

    Sinar mentari masuk melalui cela-cela jendela, Nayla yang masih tergelum selimut perlahan mengerjapkan matanya saat sinar surya itu mengenai wajahnya. Dengan gerak perlahan Nayla menyandarkan dirinya di sandaran kasur. Tubuhnya teramat lelah dan terasa pegal-pegal, tulangnya seperti remuk. Dia melihat kearah jendela yang masih tertutup tirai, di luar terdengar suara beberapa orang yang mengobrol dan terdengar suara riuah para tentara yang tengah lari pagi bersama. "Diluar sepertinya sudah ramai, aku keluar atau tetap di dalam saja?" batin Nayla sambil mencuri dengar suara di luar. "sepertinya aku di dalam saja, nanti kalau aku keluar mereka pasti heran melihatku" putus Nayla. Dia lalu beralih melihat pintu kamarnya yang masih tertutup "di luar kayaknya sepi, mas Adyan sepertinya belum pulang" lirih Nayla.Nayla perlahan melangkah turun dari tempat tidurnya, meskipun badannya terasa remuk ia tak seharusnya malas-malasan begini. Lebih baik ia bergerak sebelum Adyan pulang dan akan marah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status