Share

Masa Lalu

Penulis: Rita Aria
last update Tanggal publikasi: 2022-11-09 13:05:52

Kembali pada tahun-tahun kuliah, Shela adalah pribadi yang rajin menyapa teman-temannya. Seringkali senyum riangnya membuat wajahnya yang cantik semakin terlihat memesona. Meskipun begitu tetap saja ada orang-orang yang tidak menyukainya.

Seperti apa yang terjadi siang ini ketika dia tanpa sengaja menabrak rekan sekelasnya. Hanya masalah kecil, namun pada dasarnya orang itu memang tidak menyukainya.

"Eh, maaf, nggak sengaja," ucap Shela dengan rasa bersalah. Tangannya terulur untuk membantu Sarah bangkit.

"Gimana, sih? Kamu kalo jalan yang bener, dong!" Sarah menepis tangan Shela dengan kasar, tidak mau untuk bersentuhan dengannya lebih lama.

Shela hendak mengatakan sesuatu tapi tangannya tiba-tiba ditarik dari belakang. Dia menoleh dan mendapati pria tampan yang sedang menatapnya dengan senyum hangat.

"Udah, biarin aja dia. Yang penting kamu udah minta maaf," ucap pria itu sambil menggandeng Shela pergi.

Namanya Arthur, teman akrab Shela sedari SMA. Dia hampir tidak ingat sejak kapan mereka bisa menjadi teman dekat. Mungkin itu yang namanya cocok, jadi semuanya mengalir begitu saja tanpa disadari.

Hari ini mereka sudah berjanji untuk pergi ke toko buku bersama. Awalnya mereka sepakat untuk bertemu di gerbang kampus. Shela tidak menyangka Arthur akan langsung datang ke kelasnya.

"Jadi, 'kan? Ngapain bengong?"

Shela mengembangkan senyumnya. "Jadi dong. Kamu bawa motor, 'kan?"

"Bawa, tapi panas nih. Kalo aja ada mobil mah enak," ucap Arthur dengan sedikit nada keluhan.

Memang hari ini udara terasa begitu terik, berbeda dari beberapa hari terakhir yang hampir setiap hari diguyur hujan. Maklum, ini adalah November yang identik dengan bulan hujan.

"Nabung dulu buat beli mobil." Shela terkekeh saat menjawab. Ya, dia memang bukan dari kalangan orang kaya. Jangankan membeli mobil, jika tagihan kost bulanan berjalan lancar saja dia merasa untung.

Dia kuliah di salah satu kampus terkenal di kota Yogyakarta. Jika bukan karena nilainya yang tinggi, sepertinya sangat mustahil baginya untuk bisa sekolah di sana. Itu karena ada program beasiswa sehingga dia bisa masuk universitas impiannya.

Berhubung rumahnya jauh dari kampus, dia harus rela menyewa kost agar lebih menghemat waktu dan biaya. Tapi tetap saja, kebutuhan sehari-harinya masih memakan banyak biaya.

"Nih, pakai aja jaketku. Kasian kamu nanti kepanasan." Arthur mengulurkan jaketnya dengan wajah yang terlihat tidak peduli.

Shela segera menerimanya. "Nah, gitu dong baru baik."

Arthur tidak mengatakan lebih banyak. Mereka berdua berjalan menuju tempat parkir sepeda motor.

"Shel!!" teriak Neva dari kejauhan, dia berlari menghampiri Arthur dan Shela yang hendak naik ke motornya.

"Mau ke mana?" tanyanya sambil melirik ke arah Arthur.

"Ke toko buku Nev, kenapa?" Shela akhirnya turun kembali dari motor Arthur karena Neva tiba-tiba ingin mengajaknya bicara.

Dia membawa pergi Shela dari hadapan Arthur. Mereka berbisik-bisik berdua dan sesekali melirik arah Arthur yang tengah menunggu Shela.

"Parah! Punya temen ganteng tapi gak kasih tahu aku!" Neva menepuk pundak Shela, namun matanya melirik bayangan pria tersebut.

Shela sudah bisa merasakan jika Neva menyukai Arthur sejak saat pertama kali bertemu saat itu.

"Kenalin aku dong sama dia?!"

Shela menatap tak percaya pada Neva. Kalimat itu sudah sering ia dengar dari bibirnya. Neva adalah salah satu teman Shela yang hobi dengan bergonta-ganti pacar sesuka hatinya.

**

Dalam hatinya dia sebenarnya tak ingin mengenalkan sahabatnya itu kepadanya. Karena dia tak ingin Arthur di sakiti oleh Neva seperti teman-teman Shela yang pernah ia kenalkan pada Neva.

"Gimana?" tanyanya untuk memastikan lagi.

"Ehm.. Tar deh ya, aku tanya orangnya dulu. Dia lagian gak pernah pacaran soalnya." Raut wajah Shela berubah, dia merasa tak enak pada Neva begitupun pada Arthur.

"Ya udah aku tunggu kabar dari kamu ya?!" Neva lalu beringsut dari hadapannya sebelum dia tersenyum manis pada Arthur sebagai tanda perkenalan pertamanya.

**

Toko buku bekas langganan Shela.

Arthur hanya mondar-mandir sejak tadi. Lebih tepatnya sejak tiba di toko buku tersebut. Mungkin jika bukan karena Shela yang mengajaknya ke sana. Sepertinya dia tak akan pernah mau menginjakkan kakinya di sana.

Tempat itu tempat favorit Shela. Selain karena memang harganya yang lebih murah. Dia juga bisa mengirit uang yang dikirimkan oleh orangtuanya padanya.

"Ekspresinya ngeselin banget," gumam Shela saat memilih-milih buku di sana.

Gadis itu akan betah seharian di sana. Meski ditinggal sendirian oleh Arthur. Dia sangat suka berkutat dengan aroma buku lama yang tersebar dalam ruangan itu.

Arthur memainkan ujung sepatunya. Pemilik nama lengkap Arthur Nathaniel itu sudah sering melarangnya untuk ke toko itu. Namun dia hafal betul jika sahabatnya itu tidak bisa dilarang.

Dia dulu sudah pernah melarangnya, namun malah berujung pada pertengkaran mereka berdua.

"Arthur," panggil Shela, si pemilik nama langsung menolehnya dengan kedua alis terangkat.

"Kenapa?" tanya Arthur dia mencoba berdiri di samping Shela.

"Temenku yang tadi cantik gak?" Shela melirik wajah Arthur dari samping. Ingin tahu bagaimana ekspresinya.

"Biasa aja, kenapa emang?"

"Dia suka sama kamu katanya,"

Tak ada reaksi apapun dari Arthur. Dia hanya mengangguk-angguk. Yah, hanya mengangguk lalu pergi dari samping Shela.

"Kamu gak suka sama dia?"

"..."

Shela menarik napasnya dalam-dalam dan berjalan menghampiri Arthur. "Kamu masih normal kan?" bidiknya membuat Arthur membelalakkan matanya seketika.

Melihat ekspresi Arthur, tawa Shela langsung meledak. Bagaimana bisa Arthur langsung menunjukkan ekspresi seperti itu di depannya padahal sahabatnya itu hanya bercanda padanya.

Namun Shela cukup penasaran karena selama dia memiliki hubungan pertemanan dengan Arthur. Dia belum pernah melihat Arthur memiliki seorang kekasih.

"Jangan begitu, aku punya seseorang yang aku suka." Tatapannya pada Shela cukup membuat gadis itu terintimidasi. Hingga ia harus merenggangkan jarak diantara mereka berdua.

"Siapa? Bukan aku 'kan?!" jawabnya asal namun ekspresi wajahnya terlihat jelas jika dia sedang malu-malu.

Arthur mengacak-acak rambut Shela hingga berantakan karena gemas. Perasaan yang selama ini ia pendam untuk Shela sepertinya tak akan pernah bisa ia ungkapkan padanya.

Karena Shela lebih takut kehilangan sahabat seperti Arthur daripada menjalin hubungan dengannya.

"Aku tahu teman kamu Neva itu suka mainin cowok, Shel. Terus kamu mau ngasih aku ke dia, gitu?!"

Shela sempat terdiam memikirkan ucapan dari Arthur. Seharusnya dia tidak melakukannya meskipun Neva memaksanya. Karena saat ini Arthur sudah tahu siapa Neva yang sebenarnya.

Shela tak pernah mengatakan hal apapun tentang Neva. Namun sepertinya, berita itu lebih cepat menyebar dari kobaran api.

Gadis itu pura-pura sibuk dengan sepuluh tumpuk bukunya yang akan dia beli. Namun tanpa ucapan, Arthur meraihnya dan membawakan buku tersebut untuknya.

"Thanks," ucapnya pelan karena merasa tak enak padanya.

Arthur hanya tersenyum padanya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Rumah Yang Sesungguhnya

    Pagi di awal bulan Mei itu terasa luar biasa cerah. Lapangan utama universitas dipenuhi oleh warna-warni bunga, gema musik musik seremonial, dan wajah-wajah berseri para wisudawan yang dibalut toga hitam. Suasana penuh haru dan suka cita membuncah di setiap sudut kampus.Di antara kerumunan lulusan terbaik fakultas, Shela berdiri membenarkan letak topi toganya di depan cermin kecil. Balutan kebaya berwarna abu-abu lembut tampak menyatu sempurna dengan senyum bahagianya. Di kakinya, sepatu kets biru langit pemberian Arthur terpasang rapi—menjadi saksi bisu perjalanan panjang yang membawanya berdiri tegak hingga detik ini."Shel," dipanggil sebuah suara yang paling ia hafal di dunia.Shela memutar badannya dan mendapati Arthur melangkah mendekat. Pria itu tampak begitu tampan dengan setelan kemeja rapi yang dibalut jubah toga. Tidak ada lagi raut cemas, tidak ada lagi jejak ketakutan di matanya. Hanya ada ketenangan, kebanggaan, dan cinta murni yang memancar penuh.Arthur membawa sebuke

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Kertas Dan Cita-Cita

    Bulan-bulan berikutnya di lingkungan kampus terasa jauh lebih tenang dan produktif. Setelah semua badai skandal dan intimidasi berakhir, Shela dan Arthur memfokuskan seluruh energi mereka untuk menuntaskan tahap akhir masa studi. Koridor fakultas yang dulu dipenuhi bisik-bisik miring kini berganti menjadi ruang perjuangan akademis bagi mereka berdua.Sebagai penerima Beasiswa Unggulan sekaligus asisten riset di rektorat, jadwal Shela terbilang padat. Di sela-sela mengolah data penelitiannya tentang analisis literatur digital, ia harus bolak-balik memenuhi panggilan dosen pembimbing. Namun, Shela tidak pernah merasa sendirian lagi.Setiap sore, bangku panjang kayu di lorong lantai dua perpustakaan menjadi saksi bisu kebersamaan mereka. Tempat yang dulu menyimpan memori pahit saat Neva mengancam Arthur kini bertransformasi menjadi markas kecil tempat mereka menyusun masa depan."Ar, variabel di bab empat kamu masih ada yang spill over nih," celetuk Shela tanpa mengalihkan pandangan dari

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Hadiah Yang Tertunda

    Pagi itu, udara Yogyakarta berembus hangat dengan langit yang bersih tanpa gumpalan awan mendung. Shela terbangun dengan senyum yang mendadak terkembang di bibirnya. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-22.Tidak ada perayaan besar yang ia harapkan, apalagi setelah semua gelombang drama yang baru saja mereka lalui bersama di kampus. Bagi Shela, bisa melangkah tenang tanpa ancaman Neva, memiliki Beasiswa Unggulan yang menjamin masa depannya, dan menggenggam jemari Arthur secara terbuka adalah hadiah terbaik yang pernah ia dapatkan.Namun, Arthur jelas punya gagasan yang berbeda.Pukul sepuluh pagi, sebuah ketukan teratur terdengar di pintu kamar kost Shela. Saat wanita itu membukanya, Arthur sudah berdiri di sana dengan kemeja putih kasual dan celana bahan yang membuatnya tampak sangat tampan. Di tangannya, pria itu memegang sebuah kotak kado berukuran sedang yang dibungkus rapi dengan kertas sampul warna biru langit—warna favorit Shela."Selamat ulang tahun, Shela Maria," ucap

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Hubungan Baru

    Sabtu sore itu, langit Yogyakarta dinaungi warna jingga yang hangat, berpadu lembut dengan sisa-sisa angin musim hujan yang menyegarkan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Shela berdiri di depan cermin kamar kostnya tanpa ada perasaan cemas yang menggelayut di dada. Tidak ada beban bayangan ancaman Neva, tidak ada rasa bersalah yang menghimpit, dan yang paling penting, tidak ada lagi kebohongan yang membatasi langkahnya.Shela mengenakan gaun kasual berwarna krem sederhana, memoleskan sedikit bedak dan lipstik bergaris natural. Rambut cokelatnya dibiarkan terurai lembut. Saat melangkah turun ke ruang tamu kost, ia disambut oleh suara klakson sepeda motor yang sangat familier.Arthur berdiri di samping sepeda motornya. Pria itu memakai jaket denim kesayangannya—jaket yang dulu sering Shela pinjam saat mereka masih terjebak dalam status sahabat yang canggung. Tatapan Arthur terkunci pada Shela yang berjalan mendekat. Senyum gummy yang sudah lama hilang dari bibirnya kini kembal

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Putus Asa

    Kabar tentang dipanggilnya Neva oleh pihak Dekanat menyebar bagai api menyambar jerami kering di area kampus. Foto-foto yang sempat ditempel di papan pengumuman beserta barang bukti ancaman pencemaran nama baik telah masuk ke meja Bagian Kemahasiswaan. Ayah Neva, yang biasanya dipandang sebagai sosok sakti pembawa dana hibah yayasan, tak lagi bisa menutupi ulah putrinya setelah surat peringatan keras resmi diterbitkan oleh pihak rektorat.Kehormatan, gengsi, dan obsesi yang selama ini dipupuk Neva hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan jam. Di mata teman-temannya, Neva bukan lagi ratu kampus yang dipuja, melainkan sosok licik yang tega memfitnah teman sendiri demi memaksakan cinta.Malam itu, gerimis tipis kembali membasahi jalanan di depan rumah kost tempat Arthur tinggal. Pukul sembilan malam, suasana gang yang biasanya tenang mendadak pecah oleh suara deru mesin mobil yang berhenti asal di bahu jalan.Pintu mobil sedan putih itu terbuka dengan kasar. Neva turun dengan pakaian

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Melawan Badai

    Bisik-bisik miring di sepanjang koridor fakultas semakin menjadi-jadi. Tatapan menghakimi dari mahasiswa yang melintas bertubi-tubi mengarah pada Shela. Namun, alih-alih menunduk malu atau berlari menutupi wajahnya seperti yang diharapkan Neva, Shela melangkah dengan punggung yang dipaksa tegak lurus. Dagu wanita itu terangkat, matanya memancarkan ketenangan yang dingin meski di dalam dadanya bergemuruh menahan amarah yang membakar.Shela berjalan mendekati papan pengumuman. Dengan gerakan tenang dan tegas, tangannya terulur melepas satu per satu kertas foto yang menempel di sana. Ia melipat lembaran beracun itu dengan rapi, lalu membalikkan badan tepat menghadap Neva yang berdiri bersedekap bersama dua temannya beberapa meter di belakangnya.Neva menyunggingkan senyum kemenangan yang tipis, melangkah mendekat dengan gaya angkuhnya yang biasa."Gimana, Shel? Suka sama kejutan pagi ini?" bisik Neva pelan saat mereka berhadapan, suaranya manis namun sarat akan racun. "Aku cuma mau bantu

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Selamat Tinggal Cinta Pertama

    Seorang wanita tampak menunggu temannya di depan sebuah gedung pernikahan. Sudah setengah jam dia menunggunya untuk mengurus gedung yang akan dipakainya nanti. Sebulan lagi temannya akan menikah.Namun ada sedikit yang mengganjal di hati wanita yang bernama Shela tersebut. Karena temannya akan meni

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Terkena Jebakan

    Dalam ruangan yang cukup terang, Arthur duduk terdiam dengan kepala yang menunduk. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah Shela mau membalas pesan darinya. Sayangnya sampai saat ini perempuan itu tidak memberinya pesan apa pun.Perasaannya menjadi tidak nyaman. Dia takut Shela ben

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Prinsip

    "Bodoh! Udah lah kamu nggak usah nemuin aku lagi. Buat apa? Apa kamu mau ngasih luka lagi?"Shela berbalik untuk meninggalkan Brian. Dia masih ingat bagaimana dia dulu sangat mencintainya. Sempat dia merasa jatuh setelah mengetahui siapa Brian yang sebenarnya. Untungnya saat itu dia memiliki Arthur

  • Temanku Menusukku Dari Belakang   Teman Dekat

    Setelah selesai membeli buku, Shela dan Arthur kembali ke motor. Mereka tidak langsung pulang melainkan mampir terlebih dahulu ke warung bakso kesukaan mereka.Arthur mengendarai motornya dengan santai. Bukan karena dia tidak berani bermain dengan kecepatan, namun karena dia sedang menikmati momen

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status