ログインSementara itu, di lantai teratas Hotel Mulia Jakarta, Victor Vance sedang berdiri di hadapan belasan layar monitor raksasa sembari memegang segelas champagne. Pria pirang itu tersenyum puas melihat pergerakan bursa saham yang menurutnya sudah sepenuhnya berada dalam genggaman Sovereign Crown Syndicate.Namun, senyuman di wajah anggunnya seketika sirna ketika seluruh layar monitor di ruangan itu mendadak berkedip merah membara.BZZZZTTT!Suara dengungan frekuensi tinggi yang sangat memekakkan telinga meledak dari seluruh pengeras suara di ruangan tersebut. Gelombang elektromagnetik buatan yang semula ditujukan untuk mencuci otak warga Jakarta mendadak berbalik arah, menghantam balik sistem saraf para peretas asing milik Victor Vance."Aaaargh!" beberapa peretas Eropa buatan Victor menjerit kesakitan sembari memegangi kepala mereka, jatuh tersungkur dari kursi mereka dengan hidung yang mengeluarkan darah segar."Apa-apaan ini?!" bentak Victor Vance histeris, melemparkan gelas kristalnya
"Teknologi asing mereka bukan cuma nyerang bursa saham, Sat, tapi semua pertahanan pelindung digital Himawan Group dibobol cuma dalam waktu tiga menit!" cetus Liana geram, mematikan layar laptopnya yang dipenuhi peringatan berwarna merah di dalam jet pribadi yang sedang melaju kencang menuju Jakarta.Satria yang duduk tenang di sebelahnya memiringkan kepala. Dia menatap layar yang kini mulai memancar kedipan garis-garis kode asing yang liar."Sovereign Crown tidak bergerak sendirian, Li. Victor Vance membawa tim peretas tingkat tinggi dari Eropa untuk memutus sistem komunikasi internal kita sebelum bursa saham ditutup," ujar Satria tenang.Tiba-tiba, layar laptop Liana yang semula terkunci mendadak berkedip cepat. Kode-kode merah ancaman itu terhapus secara otomatis, digantikan oleh lambang garis emas berbentuk mata naga melingkar dan sebuah kotak obrolan rahasia yang muncul di tengah layar."Sistem keamanan jaringan Anda sangat primitif untuk ukuran konglomerat utama, Mbak Liana. Tap
Satria memicingkan matanya. Dia menerima tablet tersebut dari tangan Liana, mengusap layarnya dengan ibu jari yang kokoh. "Dua belas persen... Itu persis jumlah saham minoritas yang sebelumnya dipegang oleh gabungan konsorsium tiga taipan Jakarta—Tirta, Hasyim, dan Sofyan.""Tapi bukannya mereka bertiga sudah tunduk penuh sama kamu setelah peristiwa di Kempinski dan kekalahan Mbah Kromo?" tanya Liana bingung. matanya membelalak menatap suaminya. "Kenapa tiba-tiba mereka berani melakukan aksi bunuh diri finansial kayak begini? Ini sama saja mereka memotong leher mereka sendiri!"Satria tidak langsung menjawab. Dia memejamkan matanya rapat-rapat. Dia tidak mengarahkan pikirannya pada analisis pasar saham, melainkan mengalirkan kesadarannya ke bawah lantai kayu tempat mereka berpijak.Tato naga emas di dada Satria berdenyut hangat. Pendar cahaya keemasan yang sangat tipis berkilat di balik kemeja putihnya.Huummm...Getaran batin Satria merambah jauh meninggalkan perbukitan Solo, melinta
Di dalam ruang rapat utama yang megah, Baskoro Himawan berdiri di ujung meja panjang, menatap kedatangan menantu dan putri tunggalnya dengan raut wajah yang dipenuhi rasa bangga yang luar biasa. Seluruh jajaran direksi dan investor papan atas berdiri memberikan tepuk tangan riuh saat Satria melangkah masuk.Pemuda yang dulunya dipandang sebelah mata itu kini telah menjelma menjadi sosok pemimpin agung—seorang pelindung murni yang tidak hanya menguasai strategi bisnis tingkat tinggi, tetapi juga memegang kendali atas kestabilan energi tanah di mana kekayaan mereka berdiri."Hari ini," Baskoro membuka suara dengan tegas setelah seluruh hadirin kembali duduk, "Himawan Group tidak hanya mencatatkan rekor pertumbuhan aset tertinggi sepanjang sejarah perusahaan, melainkan resmi memulai era baru di bawah kepemimpinan Satria dan Liana."Baskoro menatap Satria dengan binar mata penuh kepercayaan mutlak. "Satria telah membuktikan bahwa kekuatan sejati bukan diukur dari seberapa banyak kita meng
Sebelum Mbah Kromo sempat melepaskan mantranya, Satria sudah melesat maju bagai kilat keemasan—siap meruntuhkan pertahanan musuh besarnya demi melindungi wanita yang dicintainya dan tanah kelahirannya dari kegelapan.Gerakan Satria melipat jarak dalam sekejap mata. Pendar cahaya keemasan yang membungkus tubuhnya membelah kabut hijau milik Mbah Kromo Singo.Mbah Kromo yang panik menghentakkan tongkat Ular Kepala Tiga ke depan, menyemburkan gumpalan racun hitam pekat berbentuk rahang naga laut yang menganga lebar. Namun, Satria bahkan tidak mengedipkan mata. Tangan kanannya yang mengepal erat dipenuhi energi murni yang begitu padat hingga udara di sekitarnya bergetar hebat.BUMMM!Pukulan Lengan Naga Satria menghantam tepat di tengah gumpalan racun hitam tersebut. Ledakan energi murni seketika menyapu bersih seluruh hawa kotor Mbah Kromo. Pukulan itu melaju tanpa hambatan dan menghantam keras bagian tengah tongkat kayu berukir milik sang dukun tua.KREK... PRANG!Tongkat pusaka berusia
Gema gamelan dan gelak tawa tamu undangan di pendopo depan masih terdengar samar, namun di sudut taman belakang kediaman Himawan, keheningan mendadak terasa janggal.Angin sore yang semula berembus lembut tiba-tiba berembus kencang, membawa hawa dingin yang tak lazim. Wangi melati yang memenuhi area taman perlahan terkikis oleh aroma amis air laut dan bau kemenyan terbakar yang pekat.Liana yang sedang menyandarkan kepala di dada Satria refleks mendongak. Tubuhnya merinding hebat saat merasakan perubahan suhu yang drastis."Sat..." lirih Liana, cengkeraman tangannya di jas beskap Satria seketika mengencang. "Kenapa dadaku mendadak sesak banget? Angin ini... rasanya aneh."Satria tidak langsung menjawab. Sepasang mata hitam pekatnya memicing tajam menatap ke arah sudut dinding benteng tua di ujung taman. Tato naga emas di dada bidangnya yang semula berdenyut tenang kini membara panas, memancarkan pendar keemasan tipis yang menembus kain beskap hitamnya.Batin naga murni di dalam tubuh







