Share

Bab 70

Author: Hisa NK
last update publish date: 2026-07-30 12:26:46

"Sat!" jerit Liana pendek saat rasa dingin yang luar biasa tajam mendadak menjalar cepat dari pergelangan kakinya, menusuk hingga ke sumsum tulang.

Satria berbalik dalam hitungan fraksi detik. Sepasang manik matanya yang sepekat malam berkilat tajam melihat rantai hitam berukir aksara Jawa kuno—Rantai Sangkala—yang melilit rapat pergelangan kaki istrinya. Rantai gaib itu membara dengan pendar merah kehitaman, menjalar naik seperti sulur tanaman beracun yang mengincar jantung Liana.

Tanpa membua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 70

    "Sat!" jerit Liana pendek saat rasa dingin yang luar biasa tajam mendadak menjalar cepat dari pergelangan kakinya, menusuk hingga ke sumsum tulang.Satria berbalik dalam hitungan fraksi detik. Sepasang manik matanya yang sepekat malam berkilat tajam melihat rantai hitam berukir aksara Jawa kuno—Rantai Sangkala—yang melilit rapat pergelangan kaki istrinya. Rantai gaib itu membara dengan pendar merah kehitaman, menjalar naik seperti sulur tanaman beracun yang mengincar jantung Liana.Tanpa membuang waktu, Satria melesat seraya mengulurkan tangan. Telapak tangan kokohnya mencengkeram rantai gaib tersebut secara langsung.BZZZZTTT!Asap hitam berbau belerang membumbung tinggi saat energi naga murni dari telapak tangan Satria beradu dengan racun Sangkala. Rantai itu meledak hancur menjadi debu gaib, namun sentakan balik dari ajian kotor tersebut sempat membuat hawa dingin menjalar ke lengan Satria.Satria menarik Liana rapat ke dalam dekapannya, mendekap tubuh molek istrinya yang gemetar m

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 69

    "Pusaka itu cuma umpan, Den Satria!" jerit Vanya Cedric mendadak melalui saluran komunikasi, suaranya dipenuhi nada panik yang belum pernah terdengar sebelumnya.Di atas dermaga pelabuhan Jakarta yang diterangi pendar keemasan, Satria yang baru saja menuntaskan hantaman naga gaibnya mendadak menghentikan gerakannya. Pendar keemasan dari ledakan Pusaka Raja Sangkala di udara belum sempat redup sepenuhnya ketika kesadaran batin netrakawaskitan-nya menangkap sesuatu yang sangat janggal.Serpihan cahaya merah darah yang hancur dari pusaka itu tidak menguap. Serpihan itu justru meresap masuk ke dalam air laut, bergerak cepat bagai ribuan cacing gaib yang mengikuti garis arus bawah air—bukan untuk menyerang Jakarta, melainkan berbalik ke arah timur dengan kecepatan yang tak masuk akal!"Sat... ada apa?" lirih Liana, menyadari perubahan raut wajah suaminya yang mendadak mengeras bagai batu pualam.Satria tidak langsung menjawab. Manik mata hitam pekatnya berkilat emas pekat, menembus gelomba

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 68

    Sementara itu, jauh di dalam gua tersembunyi di tebing pesisir utara Jawa Tengah.PRAAANGGG!Altar batu kuno berukir ular berkepala tujuh hancur berkeping-keping. Nyai Sangkala memuntahkan darah segar berwarna merah pekat, tubuhnya yang renta ambruk ke lantai tanah yang dingin. Ikatan batin Sumpah Darah yang dibangunnya selama tiga dekade diputus secara paksa oleh kekuatan mutlak naga murni, memberikan dampak balasan yang menghancurkan separuh kekuatan batinnya."Nyai!" teriak pria paruh baya bertato ular, berlari menghampiri wanita tua itu dengan raut wajah panik luar biasa. "Ikatan batinnya... terputus total! Naga Murni itu berhasil membersihkan darah Baskoro Himawan!"Nyai Sangkala mengerang sakit, memegangi dadanya yang memusar panas. Matanya yang merah menyala menatap langit-langit gua dengan kebencian tiada tara."S-Satria Himawan..." desis Nyai Sangkala parau, suaranya sarat akan racun kedengkian yang amat pekat. "Kamu memang berhasil memutus ikatan darahku pada manusia itu...

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 67

    "Kamu terlalu percaya diri, Naga Muda!" gertak suara ganda Nyai Sangkala yang keluar dari tenggorokan kaku Baskoro Himawan.Pria tua itu melangkah patah-patah mendekati jendela, jarinya yang gemetar hebat terangkat membentuk stempel gaib. Ujung-ujung kuku Baskoro mendadak menghitam, memancarkan bau busuk bangkai pesisir yang menyeruak memenuhi seluruh penjuru kamar."Satu gertakan lagi dari energimu, Satria, maka jantung manusia renta ini akan kupilin hingga pecah dari dalam!" ancam Nyai Sangkala, suaranya melengking parah memetahkan sunyinya malam. "Darah yang mengalir di tubuhnya sudah menyatu dengan sumpahku selama tiga puluh dua tahun! Kamu tidak bisa memisahkan racun dari pemiliknya tanpa membunuh pemiliknya sendiri!"Satria tidak bergeming sejinjang pun. Wajahnya yang rupawan tetap dingin bagai pahatan batu pualam, namun di balik ketenangan itu, kemampuan netrakawaskitan-nya bekerja dalam kecepatan puncaknya. Manik mata hitam pekat milik Satria telah berubah menjadi dua bola cah

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 66

    "Semua itu hanyalah gangguan untuk mengalihkan perhatian saya," potong Satria tegas. "Trah Sangkala tahu kalau mereka tidak akan bisa menumbangkan naga dari luar. Jadi, mereka menunggu momen saat racun di dalam tubuh Pak Baskoro sempurna untuk menghancurkan pilar Himawan Group dari dalam!"Satria mengepalkan tangannya. Tato naga emas di dadanya berdenyut panas. Dia menyadari permainan permainan licik musuh kali ini: jika Satria menghancurkan racun Sumpah Darah itu secara paksa menggunakan energi naga murni, jantung Baskoro Himawan yang sudah renta bisa terhenti seketika. Namun jika dibiarkan, Nyai Sangkala dapat mengambil alih kesadaran Baskoro kapan saja untuk menghancurkan Liana dan seluruh takdir kejayaan yang telah mereka bangun."Gali semua datanya dalam waktu dua puluh empat jam. Jangan sampai Liana tahu sedikit pun tentang hal ini!""Siap, Den Satria! Saya akan laksanakan detik ini juga!" tegas Hendra membungkuk.Satria berbalik, menatap ke arah jendela yang mengarah pada pendo

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 65

    Di dalam ruang bawah tanah markas operasional siber Himawan Group, aroma ozon dan derum kipas pendingin server raksasa mengisi udara yang dingin. Vanya Cedric mengusap wajahnya yang lelah, menyandarkan punggung pada kursi kerja ergonimisnya. Di hadapannya, belasan monitor canggih masih menampilkan grafik frekuensi yang perlahan kembali stabil setelah pertempuran dahsyat di langit Jakarta."Semua titik koordinat Pasak Sangkala sudah dinetralkan seratus persen, Den Satria," ujar Vanya melalui sambungan komunikasi terenkripsi. Jemari lentiknya mengetik beberapa baris kode penutup. "Sistem Aura-Link di seluruh wilayah Jabodetabek dan Jawa Tengah-tengah sudah kembali dalam status proteksi hijau. Tidak ada anomali frekuensi yang tersisa.""Terima kasih, Vanya. Istirahatlah, kamu sudah bekerja sangat keras malam ini," balas suara bariton Satria dari seberang saluran. Suaranya terdengar begitu tenang, membawa rasa aman yang meresap ke dalam hati Vanya.Vanya tersenyum tipis. "Siap, Den. Tapi.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status