Compartilhar

Bimbang

last update Data de publicação: 2026-07-26 14:58:28

POV Yudha

“Aaaghh!” Aku berteriak frustasi, suara teriakanku terbawa angin sepanjang perjalanan. Motor matic ini menjadi saksi bisu perjuanganku mencari pekerjaan. Tapi, sepertinya takdir tak berpihak padaku. Sudah banyak tempat kudatangi, dari perusahaan besar hingga toko kecil, tetap saja tak ada yang mau menerimaku.

“Aku harus bagaimana sekarang?” gumamku kesal, menggeram frustasi. Tanganku memukul bagian speedometer motor dengan keras, suara dentuman plastik membuatku sedikit lega, meskipun
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terancam Diceraikan Karena Hamil   Pengakuan Mengejutkan

    Mobil melaju kencang di jalan tol. Aku menatap jalanan yang membentang di hadapanku, pikiran melayang jauh, tak henti-hentinya memikirkan Mas Yudha. Perjalanan ini terasa begitu panjang, padahal baru beberapa jam kami meninggalkan kota kecil.Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya merasa kagum pada Arga. Lelaki itu begitu baik hati, mau menemaniku mencari Mas Yudha, suamiku yang bekerja di luar kota.Ucapan wanita yang mengaku sebagai calon istri Mas Yudha masih terngiang jelas di telingaku. Perkataan wanita itu seolah menusuk hatiku, membuatku tak sabar ingin segera bertemu Mas Yudha."Dira, kita akan menuju ke mana? Yudha tinggal di mana?" Suara Arga memecah lamunanku.Aku menggeleng lemah, mataku berkaca-kaca. "Aku tidak tahu alamat kontrakannya, Ga. Tapi aku tahu perusahaan tempat Mas Yudha bekerja, Karisha Cosmetics. Apakah kamu tahu alamatnya?"Arga tampak berpikir sejenak. "Oh, aku pernah mendengarnya. Kita akan ke sana," jawabnya, senyum hangat terukir di bibirnya. Ia ke

  • Terancam Diceraikan Karena Hamil   Hal Mengejutkan Dari Yudha

    "Maksudmu?" tanyaku, mataku tak lepas dari tatapan Arga yang intens. Genggaman tangannya semakin erat, membuatku merasa terjebak dalam sorot matanya yang dalam."Aku ... aku …," ucapnya terbata-bata, suaranya bergetar, membuatku semakin penasaran dengan apa yang hendak ia katakan. Namun, sebelum Arga bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah rasa nyeri menusuk perutku. Aku mengerutkan dahi, menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.Tatapan Arga seketika berubah, kekhawatiran terpancar dari matanya. Kalimat yang hendak diucapkannya terhenti. "Dira, kamu kenapa?" tanyanya cemas, suaranya terdengar panik."Perutku ... perutku sakit!" jawabku, suara terengah-engah karena rasa sakit yang semakin menjadi.Rasa sakit itu seperti gelombang yang menghantamku, membuatku meringkuk menahan rasa nyeri. Arga tampak panik, ia melepaskan genggaman tangannya dan mengusap bahuku. "Tenang, Dira!" “Pak Arga, ada apa?" Suara Bu Wina memecah keheningan, suaranya terdengar khawatir. Ia muncul di ambang pintu, wa

  • Terancam Diceraikan Karena Hamil   Yudha Tak Ada Kabar

    Beberapa bulan telah berlalu sejak terakhir kali aku mendengar kabar dari Mas Yudha. Waktu terasa begitu cepat, tapi rasa rinduku padanya tak kunjung surut. Aku masih ingat jelas saat terakhir kali ia menelponku, dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai sopir pribadi seorang CEO ternama di Jakarta. Sejak saat itu, Mas Yudha seakan menghilang ditelan hiruk pikuk kota besar.Hari demi hari kuluangkan untuk menunggunya menelepon. Namun, setiap kali aku menelepon, panggilan itu selalu berakhir dengan nada dering yang dingin dan hampa. Aku mencoba menghubungi Mas Yudha melalui pesan singkat, tetapi tak kunjung mendapat balasan. Rasa cemas mulai menggerogoti hatiku.“Apakah dia baik-baik saja?” bisikku lirih, mataku terpaku pada layar ponsel yang menampilkan nama Mas Yudha. Seiring waktu, kekecewaan mulai menggantikan rasa rindu. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Apakah kesibukannya sebagai sopir pribadi seorang CEO membuatnya melupakan aku? Apakah dia sudah tak lagi mengingatkanku?”Aku m

  • Terancam Diceraikan Karena Hamil   Pekerjaan Baru

    POV YudhaMbak Nilam berlari tergopoh-gopoh, koran kusut di tangannya mengepul seperti asap, menandakan betapa tergesa-gesanya langkahnya. "Yud, lihat ini!" serunya, suara sedikit terengah-engah.Aku yang sedang terduduk di ruang tamu kontrakan baruku, mengernyit heran, "Ada apa, Mbak?""Baca ini, ada lowongan pekerjaan."Aku meraih koran itu, mataku langsung tertuju pada headline yang mencolok: "Lowongan Sopir Pribadi untuk CEO Ternama". Sebuah perusahaan kosmetik terkemuka, Karisha Cosmetics, sedang mencari sopir pribadi untuk CEO-nya, Karisha Evelyn. Aku membaca berita itu dengan seksama, jantungku berdebar kencang."Kamu bisa mendaftar di sana, Yud," ucap Mbak Nilam, matanya berbinar-binar.Aku terdiam, pikiran berputar cepat. "Tapi, Mbak, masak aku jadi sopir? Aku pergi jauh sampai Jakarta, hanya untuk jadi sopir?""Yudha, biarpun sopir, tapi kamu baca, gajinya besar!" Mbak Nilam mencoba membujukku, suaranya sedikit mendesak.Ya, gaji yang ditawarkan memang menggiurkan, jauh mele

  • Terancam Diceraikan Karena Hamil   Makanan Dari Siapa?

    "Astaghfirullahaladzim. Apa ini?" gumamku, suara terengah-engah.Kamar yang biasanya tertata rapi kini berubah menjadi medan perang. Berkas-berkas penting terkait rumahku berserakan di lantai, bercampur dengan pecahan tabungan berbentuk ayam yang kusembunyikan di balik lemari.Aku terhuyung mendekat, kakiku terasa lemas. Tubuhku ambruk di depan pecahan tabungan itu, air mata menggenang di pelupuk mata. Setiap pecahan keramik yang berserakan di lantai seolah menusuk hatiku."Siapa yang tega melakukan ini?" bisikku, suara serak menahan tangis.Rasa marah dan kekecewaan bercampur aduk dalam dada. Tabungan itu adalah perjuangan keras selama bertahun-tahun. Dalam sekejap habis tak bersisa. Dengan tangan gemetar, aku meraba-raba tumpukan berkas yang berserakan. Tujuan utamaku, sertifikat rumah. Harapan terakhirku agar aset berharga itu masih ada. Namun, pencarian itu sia-sia. Sertifikat rumahku lenyap. Hilang tanpa jejak."Apa Mas Yudha yang mengambil semuanya?" bisikku, suara nyaris tak t

  • Terancam Diceraikan Karena Hamil   Kesunyian Tanpa Yudha

    “Pak Arga—”Suara itu, membuatku dan Arga tersentak. Kami berdua spontan mendongak, pandangan kami beradu sekejap sebelum bersama-sama menoleh ke arah pintu masuk."Wina–" Dengan cepat Arga melepas genggamannya, tangannya terulur ke belakang, seolah ingin menepis sesuatu yang tak terlihat. Aku menunduk seketika, pipiku terasa panas terbakar, karena malu telah tertangkap basah oleh Bu Wina.“Kalian–”Hening seketika menyelimuti ruangan, hanya suara napas kami yang terdengar. Bu Wina terdiam, matanya terbelalak, seolah tak percaya dengan pemandangan yang baru saja ia lihat.Aku dan Arga seolah seperti dua orang bodoh yang kebingungan, salah tingkah yang tak tahu harus berbuat apa. "A-ayo, kita lanjutkan pekerjaan kita," ucap Arga memecah keheningan, suaranya terdengar sedikit gemetar. Bu Wina mengangguk, raut wajahnya masih menunjukkan keterkejutan. Ia mengalihkan pandangannya dari kami berdua dan kembali ke tempat. ***Setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan yang melelahkan, akh

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status