MasukPOV Arga
“Jadi Dira sedang hamil?” tanyaku pada Wina, sekretaris butik yang mewawancarai Dira.
“Betul, Pak. Tadi beliau sendiri yang menyampaikannya,” jawab Wina dengan nada serius.
Aku terdiam, mencerna semua informasi itu. Dira, yang pernah mempunyai mimpi besar dalam dunia fashion, sekarang sedang mengandung. Namun, aku tak bisa mengabaikan rasa khawatir yang muncul di benakku.
Mengapa Dira memutuskan untuk bekerja di tengah kehamilannya? Di mana suaminya? Mengapa ia tega membiarkan istrinya yang sedang hamil bekerja?
Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiranku, dan setiap pertanyaan itu semakin menambah rasa ingin tahuku. Dira adalah sosok yang kuat dan mandiri, tetapi keputusannya untuk mencari pekerjaan saat hamil membuatku merasa ada yang tidak beres.
Seolah ada dorongan dalam diriku untuk mencari tahu lebih banyak tentang situasi yang dihadapi Dira. Aku ingin memastikan bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia tidak menghadapi kesulitan yang lebih besar. Mungkin, aku bisa membantunya tanpa mengganggu hidupnya saat ini.
Tapi, bagaimana cara mendekatinya tanpa membuatnya merasa tidak nyaman? Semua ini terasa rumit, dan aku tahu aku harus berhati-hati dengan langkahku selanjutnya.
"Yasudah, terima kasih atas informasinya. Kamu boleh kembali bekerja," ucapku pada Wina, suaraku terdengar datar, tetapi pikiran dan perasaanku jauh dari kata tenang.
Informasi yang baru saja kudapatkan tentang Dira, tentang kehamilannya dan keputusannya untuk bekerja, membuatku merasa gelisah.
Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa tinggal diam dan membiarkan Dira menghadapi semua ini sendirian. Tapi, bagaimana caranya? Aku tidak ingin mencampuri urusan pribadinya, terlebih lagi mengingat hubungan kami yang telah lama berakhir. Namun, melihatnya berjuang sendirian dalam kondisi hamil membuatku merasa tidak tega.
Aku bersandar pada kursi, mencoba menenangkan diri. Aku harus memikirkan strategi yang tepat. Aku tidak bisa bertindak gegabah, aku harus mempertimbangkan perasaan Dira dan menghormati pilihan hidupnya.
Aku mengambil ponselku, berpikir keras tentang cara terbaik untuk mendekati Dira. Mengirim pesan? Terlalu formal dan mungkin akan membuatnya canggung. Menghubunginya langsung? Mungkin terlalu tiba-tiba dan akan membuatnya terkejut. Aku butuh pendekatan yang tepat, sesuatu yang halus dan tidak akan membuatnya merasa tertekan.
Setelah beberapa saat berpikir, aku memutuskan untuk menghubungi Wina lagi. "Wina," panggilku, suaraku terdengar lebih lembut dari sebelumnya. "Tolong cari tahu lebih banyak tentang Dira. Bukan tentang keahliannya, tapi tentang keadaannya saat ini. Cari tahu ada apa dengan suaminya hingga ia harus bekerja sendiri padahal sedang hamil, dan apakah ada sesuatu yang bisa kita bantu."
Aku tahu permintaan ini sedikit tidak lazim, melangkahi batas profesionalitas, tetapi aku merasa perlu untuk mengetahui lebih banyak tentang Dira. Aku perlu memastikan bahwa dia baik-baik saja, bahwa dia tidak sedang menghadapi kesulitan yang serius.
Aku menunggu jawaban Wina, sambil terus memikirkan langkah selanjutnya. Ekspresi wajah Wina pun seolah heran dengan permintaanku. Namun, ia hanya mengangguk sopan untuk menghormatiku sebagai bosnya.
“Baik, Pak,” jawabnya kemudian meninggalkan tempat.
Memang tak bisa dipungkiri. Perasaan cintaku pada Dira masih tergenggam kuat di dalam hati. Meskipun waktu telah berlalu, meskipun kita telah berpisah, perasaan itu tetap ada, bersemayam dalam-dalam, seperti akar pohon yang kokoh mencengkeram tanah.
Kenangan tentangnya, tentang senyumnya, tentang tawa cerianya, masih begitu jelas terukir dalam memoriku. Setiap detail kecil, dari caranya berbicara hingga caranya tertawa, masih begitu hidup. Itulah mengapa aku merasa begitu khawatir ketika mendengar kabar kehamilannya dan keputusannya untuk bekerja.
Akan tetapi, cinta ini tak lagi egois seperti dulu. Aku tidak akan memaksakan diri atau perasaan ini padanya. Aku hanya ingin memastikan kesejahteraannya, menawarkan bantuan tanpa harus mencampuri urusan pribadinya.
Aku menarik napas panjang, membiarkan kenangan lima tahun lalu membanjiri pikiranku. Bayangan masa lalu itu muncul dengan begitu jelas, seolah-olah waktu berhenti dan aku kembali ke momen-momen tersebut.
Lima tahun yang lalu …
“Ga, aku ingin pergi ke acara ini, apa kamu mau mengantarku?” tanya Dira dengan ekspresi penuh harap sambil menunjukan sebuah undangan non formal dalam ponselnya.
“Boleh, acaranya kapan?”
“Besok,” jawab Dira berbinar.
Raut wajahku sedikit berubah kala aku mendengar jawaban Dira, “Besok? Tapi, Dira, kalau besok aku tidak bisa, aku ada pertemuan dengan klien ayah.”
Seketika ekspresi Dira tampak kecewa, ia mengubah posisi duduknya dan menunduk lesu. “Maafkan aku, Dira.”
“Aku tahu jawabanmu akan selalu seperti itu,” ucapnya menghela napas berat.
Aku ingat bagaimana ambisiku yang besar dalam dunia bisnis seringkali membuatku mengabaikan perasaannya, mengabaikan kebutuhannya. Aku terlalu fokus pada karirku, hingga aku melupakan hal yang paling berharga dalam hidupku: hubungan dengan Dira.
Di tengah-tengah keheningan. Tiba-tiba ponsel Dira berdering, ia menjawab dengan lesu, aku tak mendengar percakapan apa yang mereka bicarakan, aku hanya melihat perubahan ekspresi wajah Dira.
Setelah panggilan itu terputus, aku bertanya, “Ada apa, Dira? Siapa yang telepon?”
Tak langsung menjawab, Dira lebih dulu menghela napas dan memandangku nanar. “Ayah, memintaku pulang karena Yudha dan keluarganya datang ke rumah.”
Aku mengerutkan dahi, siapa Yudha? Mengapa datang bersama keluarganya?
“Yudha siapa?”
“Yudha, Laki-laki yang dijodohkan Ayah untukku.”
Seketika aku terbelalak mendengar pernyataan itu, aku tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
“Lalu kau tidak menolak?”
Dira hanya menggelengkan kepala, membuatku sangat terkejut, aku merasa Dira mempermainkan hatiku.
“Apa maksudmu? Kenapa kau tidak menolak? Sementara kamu sudah memiliki aku,” ucapku dengan nada sedikit meninggi.
Dira menatapku intens, pancaran matanya penuh kesedihan dan kekecewaan. “Bukankah sudah berulang kali aku memintamu untuk menemui ayahku? Tapi alasanmu selalu tidak ada waktu, dan sekarang kau masih menyalahkan aku saat Ayah memberi jodoh untukku, apa itu benar, Arga?”
Aku terdiam, Kata-kata itu seakan menamparku begitu keras. Sampai disitu akhirnya, hubungan kami kandas. Perpisahan itu sangat menyakitkan, menghancurkan, meninggalkan luka yang begitu dalam di hatiku.
Aku menyesali semua kesalahanku, semua kekuranganku. Seharusnya aku lebih peka, seharusnya aku lebih menghargai Dira, seharusnya aku lebih memperhatikan perasaannya.
Jika saja waktu bisa diputar kembali, aku akan melakukan segala hal untuk memperbaikinya. Namun, waktu terus berjalan, dan aku hanya bisa belajar dari kesalahan masa lalu. Kenangan itu, meski menyakitkan, mengajarkan banyak hal berharga tentang cinta, tentang komitmen, dan tentang arti sebuah hubungan yang sebenarnya. Dan kini, aku hanya bisa berharap Dira bahagia, dimanapun dia berada.
BERSAMBUNG.
POV YudhaJantungku berdebar kencang saat menarik tangan Karisha menjauh dari Dira. Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa Dira akan mencariku hingga ke kota ini. Kepanikan mencengkeramku. Aku harus menghindarinya, setidaknya untuk saat ini. Aku tak ingin Karisha mengetahui segalanya, apalagi jika sampai dia tahu siapa Dira sebenarnya. Aku tak ingin pernikahan ini gagal, aku tak ingin kehilangan Karisha."Karisha, ayo kita pergi dari sini," kataku, suaraku sedikit gemetar."Kenapa, Yud? Apa yang terjadi? Siapa perempuan itu sebenarnya?" tanyanya, matanya menatapku dengan penuh tanya."Bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat yang lebih tenang," jawabku, berusaha agar suaraku terdengar tenang.Aku menariknya memasuki mobil dan melaju sejauh mungkin, berharap Dira tak mengejar kami. Namun, bayangan Dira terus menghantuiku. Rasa bersalah dan ketakutan bercampur aduk dalam dadaku. Wanita hamil itu telah kubuat menangis. Sepanjang perjalanan, kenangan beberapa bulan lalu
"Apa maksudmu, Mas?" tanyaku, mataku melebar tak percaya.Mas Yudha, suamiku, bersikeras tak mengakui aku sebagai istrinya. Kenapa? Apa alasannya? Mengapa ia tega berbohong di hadapan wanita cantik itu?"Ya, kamu bukan istriku. Jangan mengaku-ngaku," jawabnya dingin, tatapannya menusuk.Aku terpaku di tempat, tak mampu berkata-kata. Rasa kecewa dan luka menusuk hatiku. Di saat itu, aku merasa dunia runtuh.Sementara itu, Arga, rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Langkahnya pasti menuju Mas Yudha, niatnya jelas, menghukum pria itu atas penghianatannya. Aku bisa melihat amarah membara di matanya, siap meledak. Namun, aku menahannya. Aku menggeleng, menahan tangannya sebelum ia bertindak gegabah."Jangan, Ga," bisikku, suara hampir tak terdengar di tengah rintik hujan. "Jangan sampai terjadi keributan di tempat umum ini." Aku tak ingin memperburuk keadaan, tak ingin menambah beban masalahku.Mas Yudha, dengan tanpa ampun, meraih tangan Karisha, wanita yang berdiri di sampingnya, dan
Mobil melaju kencang di jalan tol. Aku menatap jalanan yang membentang di hadapanku, pikiran melayang jauh, tak henti-hentinya memikirkan Mas Yudha. Perjalanan ini terasa begitu panjang, padahal baru beberapa jam kami meninggalkan kota kecil.Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya merasa kagum pada Arga. Lelaki itu begitu baik hati, mau menemaniku mencari Mas Yudha, suamiku yang bekerja di luar kota.Ucapan wanita yang mengaku sebagai calon istri Mas Yudha masih terngiang jelas di telingaku. Perkataan wanita itu seolah menusuk hatiku, membuatku tak sabar ingin segera bertemu Mas Yudha."Dira, kita akan menuju ke mana? Yudha tinggal di mana?" Suara Arga memecah lamunanku.Aku menggeleng lemah, mataku berkaca-kaca. "Aku tidak tahu alamat kontrakannya, Ga. Tapi aku tahu perusahaan tempat Mas Yudha bekerja, Karisha Cosmetics. Apakah kamu tahu alamatnya?"Arga tampak berpikir sejenak. "Oh, aku pernah mendengarnya. Kita akan ke sana," jawabnya, senyum hangat terukir di bibirnya. Ia ke
"Maksudmu?" tanyaku, mataku tak lepas dari tatapan Arga yang intens. Genggaman tangannya semakin erat, membuatku merasa terjebak dalam sorot matanya yang dalam."Aku ... aku …," ucapnya terbata-bata, suaranya bergetar, membuatku semakin penasaran dengan apa yang hendak ia katakan. Namun, sebelum Arga bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah rasa nyeri menusuk perutku. Aku mengerutkan dahi, menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.Tatapan Arga seketika berubah, kekhawatiran terpancar dari matanya. Kalimat yang hendak diucapkannya terhenti. "Dira, kamu kenapa?" tanyanya cemas, suaranya terdengar panik."Perutku ... perutku sakit!" jawabku, suara terengah-engah karena rasa sakit yang semakin menjadi.Rasa sakit itu seperti gelombang yang menghantamku, membuatku meringkuk menahan rasa nyeri. Arga tampak panik, ia melepaskan genggaman tangannya dan mengusap bahuku. "Tenang, Dira!" “Pak Arga, ada apa?" Suara Bu Wina memecah keheningan, suaranya terdengar khawatir. Ia muncul di ambang pintu, wa
Beberapa bulan telah berlalu sejak terakhir kali aku mendengar kabar dari Mas Yudha. Waktu terasa begitu cepat, tapi rasa rinduku padanya tak kunjung surut. Aku masih ingat jelas saat terakhir kali ia menelponku, dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai sopir pribadi seorang CEO ternama di Jakarta. Sejak saat itu, Mas Yudha seakan menghilang ditelan hiruk pikuk kota besar.Hari demi hari kuluangkan untuk menunggunya menelepon. Namun, setiap kali aku menelepon, panggilan itu selalu berakhir dengan nada dering yang dingin dan hampa. Aku mencoba menghubungi Mas Yudha melalui pesan singkat, tetapi tak kunjung mendapat balasan. Rasa cemas mulai menggerogoti hatiku.“Apakah dia baik-baik saja?” bisikku lirih, mataku terpaku pada layar ponsel yang menampilkan nama Mas Yudha. Seiring waktu, kekecewaan mulai menggantikan rasa rindu. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Apakah kesibukannya sebagai sopir pribadi seorang CEO membuatnya melupakan aku? Apakah dia sudah tak lagi mengingatkanku?”Aku m
POV YudhaMbak Nilam berlari tergopoh-gopoh, koran kusut di tangannya mengepul seperti asap, menandakan betapa tergesa-gesanya langkahnya. "Yud, lihat ini!" serunya, suara sedikit terengah-engah.Aku yang sedang terduduk di ruang tamu kontrakan baruku, mengernyit heran, "Ada apa, Mbak?""Baca ini, ada lowongan pekerjaan."Aku meraih koran itu, mataku langsung tertuju pada headline yang mencolok: "Lowongan Sopir Pribadi untuk CEO Ternama". Sebuah perusahaan kosmetik terkemuka, Karisha Cosmetics, sedang mencari sopir pribadi untuk CEO-nya, Karisha Evelyn. Aku membaca berita itu dengan seksama, jantungku berdebar kencang."Kamu bisa mendaftar di sana, Yud," ucap Mbak Nilam, matanya berbinar-binar.Aku terdiam, pikiran berputar cepat. "Tapi, Mbak, masak aku jadi sopir? Aku pergi jauh sampai Jakarta, hanya untuk jadi sopir?""Yudha, biarpun sopir, tapi kamu baca, gajinya besar!" Mbak Nilam mencoba membujukku, suaranya sedikit mendesak.Ya, gaji yang ditawarkan memang menggiurkan, jauh mele







