로그인POV Yudha“Perusahaanmu bergerak di bidang apa, Nak Yudha?” tanya wanita paruh baya itu, Ibu Karisha, menatapku penuh selidik. Tatapannya tajam, menilai.Aku gelagapan. Pipiku terasa memanas. Perusahaan? Aku hanya seorang sopir! Mana mungkin aku punya perusahaan? Pikiran kosong melulu. Aku tak tahu harus menjawab apa. Lidahku terasa kelu.“Emm, properti, Mi. Yudha punya beberapa cabang juga di luar negeri,” sambar Karisha cepat, menyelamatkan situasi. Suaranya terdengar begitu tenang dan percaya diri, seolah itu adalah kebenaran mutlak.Aku hanya bisa terdiam, menatap Karisha dengan perasaan campur aduk. Kebohongan ini terasa begitu nyata, begitu meyakinkan. Aku, yang hanya rakyat biasa, dibuatnya seolah-olah seorang pengusaha sukses. Situasi ini terasa begitu absurd, penuh dengan kepalsuan yang terselubung di balik kemewahan dan keramahan yang dibuat-buat. Rasa getir dan kekesalan mulai muncul, mencampuri rasa takut dan ketidakberdayaan yang selama ini kurasakan.Keheningan menyelim
POV YudhaJantungku berdebar kencang saat menarik tangan Karisha menjauh dari Dira. Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa Dira akan mencariku hingga ke kota ini. Kepanikan mencengkeramku. Aku harus menghindarinya, setidaknya untuk saat ini. Aku tak ingin Karisha mengetahui segalanya, apalagi jika sampai dia tahu siapa Dira sebenarnya. Aku tak ingin pernikahan ini gagal, aku tak ingin kehilangan Karisha."Karisha, ayo kita pergi dari sini," kataku, suaraku sedikit gemetar."Kenapa, Yud? Apa yang terjadi? Siapa perempuan itu sebenarnya?" tanyanya, matanya menatapku dengan penuh tanya."Bukan siapa-siapa. Aku hanya ingin mengajakmu ke tempat yang lebih tenang," jawabku, berusaha agar suaraku terdengar tenang.Aku menariknya memasuki mobil dan melaju sejauh mungkin, berharap Dira tak mengejar kami. Namun, bayangan Dira terus menghantuiku. Rasa bersalah dan ketakutan bercampur aduk dalam dadaku. Wanita hamil itu telah kubuat menangis. Sepanjang perjalanan, kenangan beberapa bulan lalu
"Apa maksudmu, Mas?" tanyaku, mataku melebar tak percaya.Mas Yudha, suamiku, bersikeras tak mengakui aku sebagai istrinya. Kenapa? Apa alasannya? Mengapa ia tega berbohong di hadapan wanita cantik itu?"Ya, kamu bukan istriku. Jangan mengaku-ngaku," jawabnya dingin, tatapannya menusuk.Aku terpaku di tempat, tak mampu berkata-kata. Rasa kecewa dan luka menusuk hatiku. Di saat itu, aku merasa dunia runtuh.Sementara itu, Arga, rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Langkahnya pasti menuju Mas Yudha, niatnya jelas, menghukum pria itu atas penghianatannya. Aku bisa melihat amarah membara di matanya, siap meledak. Namun, aku menahannya. Aku menggeleng, menahan tangannya sebelum ia bertindak gegabah."Jangan, Ga," bisikku, suara hampir tak terdengar di tengah rintik hujan. "Jangan sampai terjadi keributan di tempat umum ini." Aku tak ingin memperburuk keadaan, tak ingin menambah beban masalahku.Mas Yudha, dengan tanpa ampun, meraih tangan Karisha, wanita yang berdiri di sampingnya, dan
Mobil melaju kencang di jalan tol. Aku menatap jalanan yang membentang di hadapanku, pikiran melayang jauh, tak henti-hentinya memikirkan Mas Yudha. Perjalanan ini terasa begitu panjang, padahal baru beberapa jam kami meninggalkan kota kecil.Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya merasa kagum pada Arga. Lelaki itu begitu baik hati, mau menemaniku mencari Mas Yudha, suamiku yang bekerja di luar kota.Ucapan wanita yang mengaku sebagai calon istri Mas Yudha masih terngiang jelas di telingaku. Perkataan wanita itu seolah menusuk hatiku, membuatku tak sabar ingin segera bertemu Mas Yudha."Dira, kita akan menuju ke mana? Yudha tinggal di mana?" Suara Arga memecah lamunanku.Aku menggeleng lemah, mataku berkaca-kaca. "Aku tidak tahu alamat kontrakannya, Ga. Tapi aku tahu perusahaan tempat Mas Yudha bekerja, Karisha Cosmetics. Apakah kamu tahu alamatnya?"Arga tampak berpikir sejenak. "Oh, aku pernah mendengarnya. Kita akan ke sana," jawabnya, senyum hangat terukir di bibirnya. Ia ke
"Maksudmu?" tanyaku, mataku tak lepas dari tatapan Arga yang intens. Genggaman tangannya semakin erat, membuatku merasa terjebak dalam sorot matanya yang dalam."Aku ... aku …," ucapnya terbata-bata, suaranya bergetar, membuatku semakin penasaran dengan apa yang hendak ia katakan. Namun, sebelum Arga bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah rasa nyeri menusuk perutku. Aku mengerutkan dahi, menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.Tatapan Arga seketika berubah, kekhawatiran terpancar dari matanya. Kalimat yang hendak diucapkannya terhenti. "Dira, kamu kenapa?" tanyanya cemas, suaranya terdengar panik."Perutku ... perutku sakit!" jawabku, suara terengah-engah karena rasa sakit yang semakin menjadi.Rasa sakit itu seperti gelombang yang menghantamku, membuatku meringkuk menahan rasa nyeri. Arga tampak panik, ia melepaskan genggaman tangannya dan mengusap bahuku. "Tenang, Dira!" “Pak Arga, ada apa?" Suara Bu Wina memecah keheningan, suaranya terdengar khawatir. Ia muncul di ambang pintu, wa
Beberapa bulan telah berlalu sejak terakhir kali aku mendengar kabar dari Mas Yudha. Waktu terasa begitu cepat, tapi rasa rinduku padanya tak kunjung surut. Aku masih ingat jelas saat terakhir kali ia menelponku, dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai sopir pribadi seorang CEO ternama di Jakarta. Sejak saat itu, Mas Yudha seakan menghilang ditelan hiruk pikuk kota besar.Hari demi hari kuluangkan untuk menunggunya menelepon. Namun, setiap kali aku menelepon, panggilan itu selalu berakhir dengan nada dering yang dingin dan hampa. Aku mencoba menghubungi Mas Yudha melalui pesan singkat, tetapi tak kunjung mendapat balasan. Rasa cemas mulai menggerogoti hatiku.“Apakah dia baik-baik saja?” bisikku lirih, mataku terpaku pada layar ponsel yang menampilkan nama Mas Yudha. Seiring waktu, kekecewaan mulai menggantikan rasa rindu. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Apakah kesibukannya sebagai sopir pribadi seorang CEO membuatnya melupakan aku? Apakah dia sudah tak lagi mengingatkanku?”Aku m







