تسجيل الدخولTanpa mengetuk pintu dan tanpa mengucapkan salam, Fira langsung melangkah masuk menerobos ruangan kerja Dewa. Wanita itu meletakkan tumpukan laporan keuangan di atas meja sang kakak sepupu dengan agak kasar."Mas Dewa, aku pinjam sofanya sebentar ya," kata Fira dengan suara bergetar, lalu langsung menjatuhkan diri duduk di sofa panjang.Dewa, yang tengah fokus membaca berkas, sontak mengangkat kepala. Ia terkejut melihat tingkah Fira yang sama sekali tidak seperti biasanya. Pria itu bangkit dari kursi kebesarannya, lalu melangkah mendekati sofa dan duduk di sisi sang adik sepupu."Kamu kenapa, Fir? Ada apa?" tanya Dewa dengan nada menyelidik.Fira menunduk, meremas jarinya sendiri sebelum menatap Dewa dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Mas... boleh nggak sih kalau pernikahannya dibatalkan saja?"Dewa terperanjat mendengar permintaan yang begitu mendadak itu. "Kamu ini ngomong apa, sih? Kenapa tiba-tiba minta dibatalkan?""Aku sudah nggak mau menikah lagi, Mas," jawab Fira lir
Saat hasrat Dewa kian membuncah dan permainan tangan Alya semakin menghanyutkan, tiba-tiba—Tok! Tok! Tok!—suara ketukan pintu kamar terdengar nyaring dari luar."Mbak Alya! Mbak Alya!" panggil Fira dari balik pintu dengan suara menggelegar.Alya langsung terkesiap. Ia buru-buru menghentikan gerakannya, lalu menyambar handuk untuk menutupi tubuh Dewa. "Fira manggil, Mas. Aku keluar dulu ya," bisik Alya panik.Dewa mendengus kesal, napasnya masih memburu dengan wajah memerah menahan gemas. "Anak itu benar-benar hobi banget mengganggu waktu kita! Apa dia tidak tahu kalau di dalam kamar ini sedang ada aktivitas rahasia yang sangat penting?" protes Dewa setengah berbisik."Sudah-sudah, cepat pakai bajumu. Sekalian kita turun sarapan," balas Alya terkekeh geli, lalu berjalan cepat menuju pintu.Ceklek. Saat pintu kamar terbuka. Wajah Fira langsung menyembul di baliknya. "Ada apa sih, Fir? Kok teriak-teriak begitu?" tanya Alya."Itu, Mbak Alya... Aku disuruh Tante untuk memanggil Mba
Pagi itu, suasana kamar utama kediaman Erlangga terasa begitu tenang. Alya tengah duduk santai di dekat meja rias ketika pintu kamar mendadak terbuka, memperlihatkan Fira yang menyelinap masuk secara diam-diam.Kebetulan, Dewa sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Memanfaatkan kesempatan itu, Fira mendekat dan duduk di sisi Alya dengan wajah muram."Mbak... boleh aku tanya sesuatu?" ucap Fira ragu-ragu.Alya menoleh, menatap sang adik ipar dengan saksama. "Kamu mau tanya apa, Fir? Kelihatannya kok serius banget.""Iya, Mbak... Apa benar setiap orang yang mau menikah itu selalu ada cobaannya?" tanya Fira lirih.Mendapati pertanyaan bernada galau itu, Alya terdiam sejenak sebelum tersenyum tipis. "Kalau kata orang-orang tua sih memang ada, Fir. Tapi semua cobaan itu pasti bisa dilewati, dan tidak akan pernah menghalangi niat dua orang untuk bersatu, kok," jawab Alya menenangkan.Fira menunduk, memainkan jarinya sendiri. "Tapi entah mengapa... aku merasa kalau
"Fira ini makin hari makin enggak bisa diatur. Dia itu mau apa terus-terusan ke apartemen Devan," gerutu Dewa dengan nada kesal, melipat kedua tangannya di dada sambil menggelengkan kepala melihat tingkah sang adik sepupu.Alya tersenyum simpul mendengar kekesalan suaminya. Ia bergeser duduk lebih dekat, lalu mengusap pelan lengan Dewa. "Sudahlah, Mas... Biarkan saja. Dia kan sudah dewasa. Kamu dulu waktu pacaran sama aku juga begitu, kan? Maklumi saja, toh mereka sebentar lagi juga akan menikah. Lagian, kamu harus yakin kalau mereka berdua tidak akan berbuat macam-macam."Dewa menghela napas panjang. "Ya... ya... Baiklah." Sesaat kemudian, sorot mata Dewa mendadak berubah menjadi teduh namun penuh arti. Ia menatap istrinya lekat-lekat. "Kalau begitu, ayo kita tidur sekarang..." bisiknya dengan suara serak menggoda.Mendengar bisikan itu, bulu kuduk Alya seketika merinding. Tatapan mata Dewa saat itu sungguh mirip dengan tatapan seekor singa kelaparan yang baru saja menemukan seger
"Selalu saja begini... Kamu tuh selalu saja suka membodohiku, Mas!" protes Alya dengan pipi merona merah, menatap suaminya dengan tatapan sebel sekaligus salah tingkah.Mendengar protes itu, Dewa justru terkekeh renyah. "Membodohi bagaimana, Sayang? Itu kan bukan membodohi, tapi nafkah batin untuk kamu." Seketika itu juga, kedua bola mata Alya terbelalak lebar. Wajahnya sontak memanas hingga ke telinga. Para pelayan toko yang berdiri tak jauh dari tempat mereka langsung berusaha menahan tawa, merespons keusilan customer mereka. "Kamu ini ya... sembarangan saja kalau ngomong di depan orang!" bisik Alya gemas sambil mencubit pelan pinggang suaminya.Dewa terkekeh lalu mengalihkan pandangan ke etalase. "Baik, Mbak, perhiasannya saya ambil dan bungkus ya," kata Dewa mengabaikan protes istrinya, lalu menyerahkan kartu pembayaran kepada pelayan toko."Baik, Tuan. Mohon ditunggu sebentar," jawab pelayan itu dengan senyuman penuh takjub.Tak berselang lama, kotak beludru eksklusif be
"Janji, Mas... aku enggak akan pernah meninggalkan kamu. Kamu juga harus janji, jaga kesehatan dan jaga baik-baik dirimu. Ada aku dan anak kita," ucap Alya penuh ketulusan.Dewa mengangguk pelan, meresapi setiap kata yang diucapkan istrinya. "Entah mengapa, saat aku mendengar berita itu tadi, aku seolah ikut merasakan berada di posisi David... Betapa hancurnya rasa kehilangan seorang istri tercinta," cerita Dewa kepada Alya dengan nada masih menyisakan sisa-sisa kegelisahan."Memangnya meninggal karena apa, Mas?" tanya Alya penasaran."Sakit kanker stadium akhir. Kasihan sekali..." Jawab Dewa. "Tapi yang membuatku heran, kenapa tidak diobati sejak masih stadium awal? Kenapa harus dibiarkan sampai parah begitu? Secara dia kan bos besar ya, seharusnya uang tak jadi masalah kan?" Alya pun heran. Dewa mulai menceritakan garis besar kisah tragis yang ia dengar. "Dulu, David dan Alea adalah sepasang kekasih yang saling mencintai, sama seperti kita. Tapi karena latar belakang Alea yang







