Share

4. Melewati Batas

Author: Angsa Kecil
last update publish date: 2026-07-17 12:52:34

Megha meringis saat cengkeraman di pergelangan tangannya makin menekan. “Lepaskan dulu tangan saya, Pak. Ini sakit.”

Bima membuang napas beratnya, kasar, dan berusaha mengontrol emosi yang bergolak di dadanya. Perlahan, dia mengendurkan dan melepaskan pegangan tangannya.

Dia merutuki diri yang tak bisa menahan penasarannya.

Lalu, Megha mengusap pergelangan tangannya yang memerah, sambil menarik napas panjang untuk menata suaranya. “Kalau untuk aroma parfum yang ini, maaf, saya tidak bisa menjualnya. Ini aroma parfum pertama yang berhasil saya racik dengan bantuan mentor saya. Saya sudah berjanji pada diri saya sendiri dan beliau untuk tidak mengkomersilkan resep ini.”

Mata Bima memicing tajam. Rasa penasarannya kian membumbung tinggi. “Jadi, cuma kamu yang pakai aroma parfum ini?”

Megha mengangguk kecil, perasannya makin tak enak. Tetapi, dia sama sekali tidak paham dengan semua sikap itu.

Bima kembali memangkas jarak di antara mereka, dengan tatapan intens.

Megha yang tak nyaman reflek melangkah mundur seiring tapak kaki Bima yang mengikis jarak.

“Ah!” Punggung Megha tertahan pada dinding laboratorium.

“P-Pak, Anda sudah melewati batas!”

Bima malah menghentak tawanya dengan senyum miring penuh arti.

“S-saya akan bilang sama Bu Laras. Tolong hormati saya, jangan seperti ini.” Suara Megha bergetar pelan. Napasnya kian berat dan terengah, makin gelisah saat ruang geraknya terhimpit.

Bima bergeming. Pria itu justru meletakkan satu tangannya di samping kepala Megha. Lalu, memajukan tubuhnya dan mengunci wanita itu dalam jarak yang berbahaya. Sorot matanya mengunci manik mata Megha.

“Apa kita pernah bertemu di suatu tempat?” bisik Bima. Saraf-saraf di kepala Bima yang tegang selama berhari-hari mendadak rileks hanya karena berada sedekat itu dengan Megha. Aroma Megha seolah menjadi candu yang berhasil membius fokusnya.

Megha menahan napasnya. Jantungnya berdegup gila-gilaan hingga dadanya kempas-kempis. Dia berusaha keras menyembunyikan rasa gugup yang hampir membuatnya hilang kendali. “T-tentu saja tidak, Pak. Ini pertama kalinya saya melihat Anda.”

‘Lebih baik berbohong, daripada menambah masalah, lagipula sebentar lagi aku akan bercerai. Ternyata Bima bukan pria baik-baik, mesum dan penggoda,’ batin Megha.

Mata Bima menyipit, tak mau percaya begitu saja. Lalu, Bima menundukkan kepala sedikit lagi, membiarkan ujung hidungnya hampir menyentuh leher Megha, menyesap aroma khas itu lebih dalam.

Sedang Megha meremas kuat coat lab-nya dengan napas tertahan. “P-Pak!”

“Lima hari yang lalu. Malam hari. Kamu ada di mana?” Suara Bima makin berat di dekat telinga Megha.

Megha memejamkan mata sejenak. “Saya di rumah. Pulang kerja dan beristirahat seperti biasa.”

Bima terkekeh, tentu tidak puas dengan jawaban itu. Karena dia sangat yakin dengan tebakan pikirannya.

Lalu, pria itu memasukkan jarinya pada sisi helai rambut Megha, menikmati wangi yang menguar. Megha benar-benar mengacaukan kontrol dirinya.

Sadar situasi makin tidak terkendali, Megha mendorong dada bidang Bima. “Tolong jaga batasan Anda, Pak! Bukankah Anda sudah punya istri?” Dia menahan emosi yang bercampur aduk di dadanya.

Bima terkekeh kecil. Alih-alih marah karena didorong, pria itu justru menyukai kepolosan dan wajah merah Megha yang tampak begitu alami.

“Istri?” Bima mengulang kata itu dengan senyum remeh. “Aku bahkan sampai lupa soal itu. Jangan pikirkan dia, karena satu bulan lagi aku akan menceraikannya.”

Lagi. Pukulan tak kasatmata menghantam dada Megha. Rasa nyeri mencubit hatinya. Tetapi, dia berusaha keras memasang ekspresi tenang dan elegan.

Lalu, Megha menatap mata Bima. “Kenapa Anda menikahinya kalau cuma untuk diceraikan?” Dia memalingkan wajahnya. Kesal sendiri.

Bima menyunggingkan senyum miring, kesal. “Istriku itu sama sekali tidak penting untuk dibahas. Dari awal aku menikahinya memang untuk diceraikan. Aku sama sekali tak tertarik padanya. Dan dia bukan levelku.”

Dada Megha makin sesak. Sebelum malam itu, dia tak peduli apa yang dikatakan pria itu, tapi sekarang mendengar hal itu, rasanya kesal sekali.

“Kenapa tidak menyukainya? Apa dia kurang cantik, atau ada hal lain yang membuat Anda menolaknya?”

Bima memajukan wajahnya lagi, menatap bibir Megha yang sedikit terbuka. “Dia bahkan tidak pantas untuk aku lihat. Tidak sepertimu, yang dalam sekali bertemu dan sekali lihat saja sudah menyita seluruh perhatianku.”

Kalimat itu terucap begitu saja dari bibir Bima, tampak seperti sebuah pujian bernada godaan manis, tapi justru terasa menyakitkan bagi Megha.

Megha memaksakan senyum tipis, merasa takdir sedang bercanda. Pria yang berdiri di dengannya itu, yang begitu mendamba aroma tubuhnya saat ini, adalah suaminya sendiri, dan pria yang baru saja menegaskan betapa tidak berharganya sosok sang istri di matanya, ya itu dirinya.

‘Haruskah aku bilang padanya kalau wanita malam itu adalah aku? Tapi, Bima saja sama sekali tidak mengenaliku sebagai istrinya. Dia malah menggodaku terang-terangan sebagai wanita lain,’ batin Megha getir.

Dada wanita itu berdenyut, dia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan kekacauan di dadanya. ‘Lebih baik tetap diam dan pura-pura tidak tahu apa-apa,’ batinnya lagi.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Megha mendorong kuat dada bidang Bima.

“Maaf, Pak. Saya wanita baik-baik. Jangan bersikap seperti ini sebelum Anda resmi menceraikan istri Anda. Saya bukan wanita murahan yang bisa Anda perlakukan sesuka hati.”

Bima menarik tubuhnya tegak sambil terkekeh kecil saat melihat pertahanan diri wanita di hadapannya. Bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat. “Baiklah, aku paham.”

Pria itu lalu berbalik, lalu menatap meja formulasi. “Aku setuju pada semua variasi aroma parfum yang sudah kamu buat ini. Nanti sekretarisku yang akan mengirimkan rincian detailnya untuk area hotel mana saja dengan aroma yang seperti apa.”

Tanpa menunggu balasan dari Megha, Bima melangkah keluar dari laboratorium. Senyum yang sejak tadi ditahannya pelan mengembang.

‘Menarik. Kamu masih belum mau mengaku rupanya, Kelinci manis. Baiklah, kita lihat sampai kapan kamu bertahan. Aku sendiri yang akan membuatmu mengakui kejadian malam itu.’

Insting Bima tidak pernah salah. Dia sangat yakin wanita ini adalah sosok yang melewati malam dengannya di hotel. Pengakuan Megha jika racikan parfum itu dibuat sendiri dan hanya dia satu-satunya orang yang memilikinya sudah lebih dari cukup menjadi bukti valid.

Tanpa membuang waktu, tanpa menyapa staf lainnya, Bima berjalan cepat langsung meninggalkan Elvora Perfumery.

Laras yang melihat Bima keluar begitu saja tanpa pamit dibuat heran dan kebingungan. Wanita paruh baya itu lalu terburu-buru menemui Megha. “Kiran?”

Megha menoleh, masih dengan rasa merinding dan gumpalan gejolak rasa kesal. “Ya, Bu.”

Bu Laras mendekatkan bibirnya pada telinga Megha. “Katakan jujur, Apa kamu mengenal Pak Bima sebelumnya, punya hubungan khusus? Kenapa dia bersikap seperti itu padamu?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   102. Tapi Aku Rela

    Muka Jefri merah padam menahan dongkol. “Dasar wanita tidak tahu untung!” ketusnya kasar, lalu berbalik dan menyingkir pergi dengan langkah lebar geram. Megha kini berdiri sendirian di sudut, napasnya agak terengah menahan luapan emosi yang sejak tadi ditahannya rapat-rapat. Dari kejauhan, Varen yang sejak tadi memperhatikan gerak-gerik mereka dengan rasa khawatir, kini melangkah mendekat. “Dasar, Megha. Dia tetep saja nggak bisa diam dan ngalah. Om Jefri begitu kejam, bagaimana kalau dia kenapa-napa!” Pikirannya yang tajam sudah bisa menebak alur permainannya. Jelas rencana jebakan Veronica dan Bima baru saja masuk tepat ke dalam perangkap. Dia nggak peduli dengan akhir dari Bima, yang penting baginya hanyalah Megha. Tanpa membuang waktu, Varen memotong kerumunan tamu yang sibuk mengobrol. Dia memangkas jarak hingga berdiri tepat di belakang Megha. “Ikut aku sekarang, Megha!” bisik Varen cepat di samping telinganya. Ekor mata Jefri melirik tajam Varen yang menyambar Megha, la

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   101. Istri Expired

    “Om saja nggak tahan melihat kamu yang pamer mesra sama istrimu. Apalagi Veronica, yang akan menjadi istri yang sesungguhnya!”Bima terdiam. Dadanya berdenyut pelan, sementara ekor matanya melirik Megha dengan sejuta rasa yang sulit diartikan.Dia paham, Jefri sedang sengaja memancing kesalahan pahaman di depan mereka. Hanya saja, yang membuatnya gelisah, takut jika Megha mulai berpikiran yang tidak-tidak. “Tenang saja. Jangan dengarkan dan jangan percaya kalau Om Jefri ngomong,” bisik Bima.Megha yang posisinya masih menempel rapat di sebelah Bima dalam pose pura-pura romantis itu menekan rahangnya. “Jangan dengarkan? Kamu kira aku tuli? Aku masih bisa mendengar jarak satu meter lebih. Suruh saja calon mertuamu ini yang diam!” balas bisiknya.Bima menahan kesal dan gelisah jadi satu. Istri satu-satunya itu benar-benar menyebalkan. Tapi cinta.“Ehem! Sepertinya kamu terlalu nyaman di sebelah Bima sampai lupa waktu. Mungkin sudah saatnya kamu pergi. Jangan membuat mataku sakit!” Jefri

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   100. Itulah Pesona Suamimu

    Bima berjalan dengan langkah tegap, memancarkan aura dominan dan karisma luar biasa. Di sampingnya, Megha melangkah anggun, dengan gaun berkilau diterpa cahaya lampu. Kombinasi sempurna antara kecantikan yang berkelas dan aura dingin yang mempesona. Mereka berdua berjalan bersisian bak pasangan paling romantis dan berkuasa di jagat raya, memancarkan kombinasi visual yang benar-benar mematikan. Semua orang di ruangan itu tercengang tanpa terkecuali. Beberapa tamu penting sampai menatap tanpa berkedip. “Ini benar-benar istri Bima Mavendra?” bisik seorang pria paruh baya berkacamata tebal, menatap tak berkedip ke arah tangga. “Luar biasa. Auranya sama sekali tak tenggelam di sebelah Bima.” Pengusaha lain di sampingnya membetulkan posisi kerah jasnya sambil mengangguk pelan. “Gaya jalannya tenang sekali. Cantik, tapi tatapannya dingin berkelas. Pantas saja Bima merahasiakannya selama ini.” “Saya pikir cuma wanita biasa yang beruntung,” timpal seorang wanita bergaun elegan d

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   99. Kostum Kelinci?

    “Jangan berpikir mau pakai kostum kelinci, untuk mempertegas spesies-mu. Kamu pakai kostum macam begitu, tetap nggak akan kelihatan manis.”Megha membolakan matanya geregetan. Lalu, dia menatap gaun di depannya.“Aku nggak mau pakai gaun yang kamu siapkan ini. Aku mau pilih gaun sendiri. Lagian ini cuma acara keluarga, bukan pesta megah kelas dunia. Nggak perlu pakai gaun sebagus ini,” ketus Megha sambil membuang napas lemas.Gaun satin bertali tipis warna emerald green itu punya potongan backless yang cukup rendah dan belahan di paha kiri yang lumayan tinggi. Modelnya simpel, modern, dan sangat elegan, tapi jelas menunjukkan lekuk tubuh dengan sangat pas. Megha cuma merasa terlalu terekspos karena tidak terbiasa memakai pakaian terbuka seperti itu.Bima mendengkus pelan, menaikkan sebelah alisnya dengan gaya super percaya diri. “Kamu bilang ini bagus? Menurut standarku, gaun ini biasa aja. Lagipula, ini bukan sekadar pesta keluarga biasa, Megha. Kamu itu berdiri di sebelahku. Mengim

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   98. Six Pack

    Kalimat Megha mendadak tertahan di tenggorokan. Matanya menegang begitu menangkap penampakan suaminya. Rambut Bima yang masih basah dengan sisa tetesan air di dada bidang serta perut six-pack-nya benar-benar bikin salah fokus. Penampilan pria itu kelihatan amat hot sekaligus keren tanpa minus. Setengah mati Megha menahan napas, dadanya berdebar tak karuan sampai rasanya mau melompat keluar. Melihat reaksi itu, Bima tersenyum miring. ‘Nah, kan, benar perkiraanku. Dia langsung syok saat melihat ketampananku. Mulut bodoh tajam dan mengelak, tapi respon raga tidak bisa bohong,’ batinnya dengan tingkat kepercayaan diri makin melonjak. Lalu, Bima berjalan pelan menghampiri meja dengan wajah tenang yang dibuat sok cool. Namun, begitu pandangannya jatuh pada isi piring dan isi gelas, matanya seketika melotot lebar. “Kenapa kamu bawa makanan seperti ini? Ini yang kamu sebut sarapan?” ketus Bima, heran dan geram. Megha masih mencoba menetralkan debar jantungnya yang makin liar. Dia menelan

  • Terbuai Setelah Malam Pertama   97. Ada yang Cemburu

    “Tenang dulu. Kamu masih bisa cara cara lain.”Seorang temannya mencoba menenangkan, tapi Varen langsung menepis tangan itu kasar. “Kamu pikir aku bisa tenang?! Bertahun-tahun aku yang ada di samping Megha! Saat dia terpuruk, saat dia hampir menyerah sama hidupnya, siapa yang pegang tangannya?! Aku!”Lalu, Varen tertawa sumbang, tatapannya nyalang, dadanya panas.“Waktu dia sakit parah, tidak ada yang peduli, sampai harus masuk UGD malam-malam, siapa yang kalang kabut cari dokter terbaik?! Aku yang tidak tidur semalaman buat menunggunya di samping ranjangnya! Aku yang usap dahinya, aku yang pastikan dia baik-baik saja! Bima di mana saat itu?! Pria brengsek itu bahkan tidak tahu kalau Megha sedang kesakitan!”Dadanya naik turun. Bayangan Megha yang kini terikat dalam pernikahan dengan Bima membuat kepalanya rasanya mau pecah. Selama ini dia selalu jadi benteng pertahanan Megha, memberikan porsi support paling besar tanpa menuntut apa-apa. Dia mengorbankan waktu, perasaan, dan segalan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status