Masuk
“Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya.
Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum kamu puasin!” jawabnya seraya mendorong wanita itu ke kamar dan mencuri ciuman di bibir beberapa kali. “Dit! Sabar!” “Nggak bisa, Sin! Aku udah nggak nahan!” Raditya meloloskan celananya, begitu juga sang wanita hingga bagian bawah mereka tak tertutupi sehelai benang pun. “Kalaupun udah nikah sama si culun itu, aku bakal terus sama kamu. Kita beli apartemen di samping, biar bisa terus main!” Wanita itu tertawa, tubuh mereka sama-sama terbakar oleh gairah hingga tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang sedang menatap jijik sekaligus kecewa. Raniya tak menyangka, pria sekaligus kekasih idaman yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu berselingkuh dan mempunyai niat busuk kepadanya, bahkan meremehkannya yang tulus. Dua minggu lagi mereka akan menikah, tetapi ia justru harus melihat adegan menjijikkan itu. Di apartemen dan ranjang yang seharusnya menjadi saksi cintanya bersama Raditya disahkan. “RADITYA!” Raniya berteriak, matanya memerah dan basah, nafasnya tersengal seakan tak ada lagi oksigen di sana. Raditya yang tengah menindih kekasihnya itu sontak menoleh, matanya terbelalak melihat Raniya berada di apartemen itu, terlebih melihat dirinya tanpa sehelai benang pun bersama wanita lain. Miliknya yang nyaris memasuki kewanitaan Sintia pun ditarik mundur, kedua tangannya spontan sibuk menarik selimut guna menutupi tubuh polos Sintia dan bagian bawahnya. “Ran, kam—” “Jadi, kayak gini kamu di belakangku?” Raniya tak memberikan kesempatan untuk Raditya menjawabnya. “Selama ini, kamu nganggep aku bego buat tetep jalan sama jalang ini, hah! Aku nggak nyangka kamu sebrengsek ini, Dit!” Raditya mendecakkan lidah, tatapannya pada Raniya sudah berubah, tampak sekali aslinya, tidak seperti biasanya yang seolah-olah penuh dengan cinta. “Aku nggak brengsek-brengsek amat kok! Cuman, kamu aja yang culun! Cewek kayak kamu itu bosenin, nggak menarik! Masa pacaran udah lama, cuman gandengan, mikir dong!” balas Raditya tak merasa bersalah sama sekali. “Sekarang, kamu udah liat, kan? Mau batalin, hah? Terserah, kalau emang ada yang mau sama kamu! Lagian, aku juga males!” Jantung Raniya seperti diremas hebat, pria itu sama sekali tidak ada belas kasihnya meskipun hubungan mereka terhitung lama. Tak mau terlihat lemah, Raniya segera mengambil keputusan daripada hidup teraniaya sampai mati. “Oke, kita nggak usah nikah aja. Aku juga males dan jijik sama kamu!” kata Raniya mengepalkan tangannya, menahan kuat agar tak semakin rapuh di sana. Setelah mengatakan itu, Raniya tak mendengar lagi panggilan dari Raditya. Ia mengambil tas kemudian meninggalkan apartemen yang seharusnya menjadi saksi cinta mereka, bahkan susah payah ia menyisihkan uang untuk membayar setengahnya. Namun, semua sudah terjadi meskipun menyakitkan, setidaknya seumur hidup tidak terkurung bersama pria yang salah. Sore itu, Raniya berniat langsung mengabarkan pada orang tuanya sebelum benar-benar meninggalkan apartemen, ia menelpon sang ibu. “Ma,—” Pecah tangisnya tanpa bisa ditahan. [Ada apa, Ran? Udah ketemu sama Raditya? Gimana jadi kapan pelunasan gedungnya?] Raniya menutup matanya yang basah dengan satu tangan. “Raniya nggak jadi nikah, Ma. Ditya selingkuh, dia bawa perempuan ke apartemen. Ditya bohongin aku!” Hancur sudah perasaan Raniya mengatakan itu. [Kok bisa sih! Kamu pasti buat salah sama dia, nggak mungkin Ditya kayak gitu kalau kamu nggak ada salahnya, Ran! Atau jangan-jangan kamu nggak ngasih dia apa-apa, iya?] Raniya terdiam, berusaha mencerna kalimat ibunya yang alih-alih iba kepadanya, justru terdengar seperti sedang menyudutkan dirinya di sana. “A-apa maksud, Mama?” tanyanya gagu. [Apa lagi? Laki-laki selingkuh atau nyari enak dari perempuan lain itu ya karena kamu nggak bisa ngasih ya dia mau! Selama ini, kamu pasti bosenin, terlalu hati-hati, pacaran maunya di rumah aja, nggak prioritasin dia. Kamu egois! Pantes kalau Ditya males lama-lama! Kamu bikin malu aja!] Raniya menjauhkan ponselnya, memutus sambungan sepihak. Ia pikir ibunya akan memberikan dukungan dan membelanya, ternyata tak jauh berbeda dengan Raditya. Raniya mematikan teleponnya, ia tidak ingin pulang dulu, rasanya percuma tidak akan memperbaiki keadaan. Raniya terus berkeliling sampai langit berubah gelap, kesedihannya yang tak kunjung mereda membawa Raniya mengambil jalan pintas, yakni datang ke club malam yang kerap didengarnya dari salah seorang teman. “Kamu beneran mau mabuk?” Fana menyipitkan matanya, merasa tidak yakin. Raniya mengangguk. “Aku nggak seculun itu kok, kita udah dewasa!” kata Raniya tersenyum centil pada pelayan yang mengantarkan pesanannya sangat frustrasi. “Yaiya sih! Cuman, ini bukan kebiasaan kamu, takutnya malah kamu sakit nanti!” Fana khawatir. Raniya tersenyum tipis, ternyata semua orang meragukannya, memandang dirinya tidak bisa apa-apa dan layak sekali diperlakukan buruk. [Kamu bikin malu aja!] “Kamu itu culun! Pacaran udah lama, cuman gandengan!” Raniya menutup telinganya yang berisik, ragu-ragu matanya melirik minuman beralkohol di mejanya. Tetapi, semua perkataan itu terlalu menyakitkan. “Ran!” Fana terpekik. Raniya menepis tangan temannya itu. “Jangan halangin aku!” ucapnya. Raniya ingin mencicipi sesuatu yang baru, seperti datang ke club malam, minum-minuman beralkohol, berjoget dalam kondisi mabuk dan pulang pagi dengan penampilan kacau balau. Semua itu, tak lain sebagai bentuk kekecewaan dan pelampiasannya atas rencana pernikahan yang gagal. Semakin lama, Raniya merasa tubuhnya panas dan terbakar, pandangannya mulai kabur juga bergoyang-goyang. “Ran, aku tinggal ya, cowokku udah dateng! Kalau ada apa-apa, telpon aja!” kata Fana tak bisa menemani lebih lama. Raniya hanya mengangguk dan terkekeh tidak jelas, rasa panas di tubuhnya membuat Raniya mulai membuka kancing cardigannya, menyisakan tanktop berwarna krem dengan bentuk depan rendah sehingga belahan dadanya terlihat, lalu membuang cardigannya begitu saja. “Dia bilang aku culun, heh!” kata Raniya sambil tertawa sekaligus menangis, tangannya mulai bergerak melepaskan kancing celananya untuk meredakan hawa panas di tubuhnya itu. “Na, pesenin lagi! Aku mau lagi! Ayo, kita minum sampe mampus!” katanya tak kuasa menegakkan kepala, keningnya menempel pada meja. Namun, bukan Fana yang kini duduk di depannya, melainkan seorang pria berpakaian serba hitam berwajah tampan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Raniya dari meja lain. Abimana Hanendra, mantan kekasih Raniya yang terpaksa putus karena jarak usia mereka yang terpaut 12 tahun dan masa lalu buruknya yang kerap menginap dengan para kekasihnya. “Nggak akan ada minuman lagi malam ini!” katanya. Raniya mengangkat kepalanya, suara itu berbeda sekali dengan suara Fana, lebih berat dan tegas. Matanya memicing guna memastikan, rambut panjang yang terjatuh semua ke depan cukup membuatnya kesulitan untuk melihat, tetapi gaun merah terang milik Fana telah berubah gelap sekarang. “Kamu ganti baju, Na?” tanyanya masih menebak, mempertajam indra penglihatannya. Pria itu melirik. “Ikut aku, Raniya! Aku antar pulang, sekarang!” Raniya menunjuk dadanya kemudian tertawa. “Kamu sapa mau segala anter pulang, hah? Aku nggak mau pulang, mau di sini aja sampe mampus! Atau kamu mau nemenin aku? Aku bisa apa aja loh buat nyenengin kamu!” “Nggak akan!” tolak Abimana. “Kenapa? Aku bisa kok!” desak Raniya sambil menghentakan tubuhnya tampak kesal. “Aku bakal senengin kamu, puasin dan lakuin apa aja sama kamu yang kamu suka!” katanya disusul gemetar. Raniya menangis lagi, tidak jelas, cukup lama pria itu menunggu sampai tangis Raniya berhenti, tetapi setelah itu alih-alih Raniya mudah diajak berbicara, wanita itu justru bangkit dan pergi ke lantai dansa di tengah, bergoyang di sana mengikuti yang lain. Bahkan, tak segan Raniya menempelkan badannya ke para lelaki di sana. Raniya makin menggila, wanita itu juga menerima minuman dari pria lain. Lama-lama, geram juga, apalagi pakaian Raniya terbuka. Abimana pun menyusul Raniya ke tengah dan membawa tubuh itu bersandar kepadanya seorang. “Waaah, kamu ganteng banget!” puji Raniya dengan kedua tangan mengalung ke leher Abimana, tinggi Raniya yang tak sampai bahunya membuat matanya dengan mudah melihat isi belahan sang wanita. “Aku anter pulang!” kata Abimana. Raniya menggelengkan kepala. “Aku nggak mau!” Pria itu menganga tak percaya, entah darimana pikiran seperti itu mengisi kepala Raniya yang dikenal polos soal dunia malam. Gesekan berulang yang Raniya lakukan, tatapan sayu yang hanya tertuju kepadanya penuh damba dan usapan di belakang kepala yang begitu lembut nan menggoda. Sebagai pria dewasa, disuguhkan hal serupa tentu membangkitkan keganasannya, terlebih Raniya terus saja menggoda dengan berjinjit dan berusaha menciumi lehernya. “Berhenti, Raniya!” tegurnya berusaha menghindari bibir Raniya, menahan tubuh wanita itu supaya tidak terus bergoyang dan bergesekan dengannya. Raniya berdecak kesal. “Aku nggak mau pulang, bawa aku ke mana aja! Pakai aku malam ini, gratis! Kamu nggak perlu bayar, aku yang bayar kamu!” “Ran—” “Habisin malam ini sama aku!” Raniya mendesah tepat di telinga Abimana.Kalau sudah jodoh, apa memang akan se mudah ini jalannya? Ghana mengemudikan sendiri mobil miliknya itu dengan seorang perempuan yang duduk di sisi kiri tanpa henti membuat dia berkeringat saking gugupnya. “Apa? Mas mengumpat?” Kia menyingkirkan rambut yang menutupi area telinganya. Reflek Ghana menoleh gelagapan. “Iya? Mengumpat? Siapa?” “Oo, bukan Mas yang mengumpat ya? Aku denger tadi, masa iya dari luar mobil, ada pintu yang nggak ketutup rapat apa ya?” Kia memeta sekitar, pun ke pintu di bangku belakangnya. Semakin dicari semakin gusar Ghana di sana, dia benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal apa itu cinta, seperti terlupa yang sudah terlewati sebelum masa tiga tahun sendiri itu. Dia menjulurkan tangannya setengah ke belakang di mana Kia sedikit berputar untuk mencari-cari, merengkuh pundak Kia yang kemudian dia ajak kembali menghadap ke depan. Namun, alih-alih keberanian itu menyudahi kegilaannya, tangan yang bersentuhan tak sengaja dengan pipi Kia justru
Melihat perkembangan asmara putri mereka, Abimana dan Raniya seakan kembali menyelami kisah mereka di masa lalu yang mungkin akan berjalan semulus itu jika tak ada kisah kelam yang membuat Raniya benci juga salah paham tak berujung. “Kenapa tertawa, Sayang?” Abimana memicing, dia agak terganggu dengan sebutan tua yang sejak tadi Zayn katakan. Raniya menggelengkan kepalanya. “Kok bisa setipe sama mamanya sih, Mas! Hahaha … cuman selisih tiga tahun aja loh!” Wajah Abimana semakin mengerut, lagi dan lagi soal umur itu dibahas yang kini dia mempunyai saingannya. Si pria yang menjadi tambatan hati si putri tercinta. “Tapi, yang matang memang memuaskan,” kata Raniya dengan godaannya. Reflek senyum malu di wajah Abimana itu terbit, anggap saja itu keunggulannya sebagai pria matang yang dulu tidak segera menikah. “Memuaskan dalam hal apa?” Abimana masih membalas, belum puas rupanya. Raniya sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping lengan sang suami. “Pemikiran, karakter, uang, t
Apa harus sekarang dan sudah waktunya? Ghana tampak mempertimbangkan berulang kali sebelum hanya untuk sekadar menyimpan nomor telepon Kia di ponselnya. Tak lupa sebelum dan sesudah nama perempuan itu diberikan gambar bunga_bunga sepatu. “Kia,” ucapnya lirih, itu kesekian kalinya. Teringat bagaimana setiap kali tatapan mereka bertemu meskipun singkat tanpa sepatah kata, lalu tadi sedikit berbeda dengan sorot agak tajam yang menunjukkan rasa kesal. “Tapi, dia kesal karena apa?” Ghana menggaruk dagunya, dia harus sepusing itu memikirkan perempuan yang lebih muda 10 tahun darinya, pun dia yang sudah pernah mempunyai beberapa mantan kekasih sekaligus mantan calon istri, rasanya lucu. “Ares atau adiknya mengatakan sesuatu?” Rasanya tidak mungkin karena membahas soal Kia saja masih baru dan selepas mereka bersitatap, Ghana juga percaya Ares tidak akan selancang itu, apalagi adik Ares yang tidak tahu apa-apa. Dia dengar soal ucapan Ares? Calon istri? Ghana menegakkan punggungnya, ke
“Ghana!” panggilan itu menggema sekali sampai ke dalam dada Kia, seseorang datang menghampiri si pria yang dikaguminya. “Aku pikir nggak dateng, Bro! Belum selesai urusin calon istri?” Kali ini, bukan sekadar menggema, tetapi meledak dalam dada Kia. Calon istri, pria bernama Ghana itu yang kabarnya selama tiga tahun tak membawa pasangan sama sekali mendadak sudah merencanakan pernikahan. “Kakak oke?” Zayn menyesal, dia terlewat kabar itu. Kia melipat bibirnya seraya mengangguk, lalu menarik lengan Zayn agar berjalan mengikutinya, meninggalkan tempat awal mereka berdiri dan tidak berlama-lama. Namun, sekilas garis pandangan mereka bertemu, iris Kia bersama Ghana yang berjarak itu, hanya sebentar dengan kesan yang dalam kemudian terpaksa teralihkan karena keramaian. “Aku nggak cemburu ya, Zayn!” katanya. Zayn reflek melipat keningnya. “Siapa yang bilang begitu?” “Ya, ya, siapa tau kamu mikir ke sana.” “Astaga, Kak. Bukan! Justru, aku khawatir kamu kecewa karena fakta yang
Cukup berat untuk mengungkapkannya, apalagi pria itu lebih tua dari mereka dan bisa disebut senior oleh Zayn. Akan tetapi, “Gimanapun juga aku yang papa dan Kakak amanahkan bertanggung jawab di sini, jadi posisiku dan dia bisa sama. Aku cari tau tentang dia dulu.” Itu keputusan Zayn yang tidak bisa Kia nego, berani mengungkapkan juga harus berani dengan segala risikonya, lagipula Zayn melakukan itu semua demi kebaikannya agar tidak berlarut kagum dan meletakkan perasaan pada tempat yang salah. Ghana Abizar Rutono, nama itu sudah Zayn kantongi. Pria yang usianya sepuluh tahun dari kakaknya dengan pengalaman dan rekam jejak bisnis baik tanpa kekalahan yang fatal, selalu mempunyai inovasi baru demi melegakan rekanan bisnis yang bekerja sama dengannya, pun yang terpenting adalah rekam jejak kehidupan percintaannya itu, kening Zayn sampai terlipat dalam untuk membacanya, termasuk hubungan kekeluargaan pria yang kerap disapa Bos Ghan itu. “Kamu nggak berlebihan ke kakakmu begitu?” Abi
Banyak hal yang Kia khawatirkan sepanjang masa menunggu dan mempersiapkan semua sampai pada tahun kelulusannya yang kemudian disusul oleh sang adik, keduanya berhasil untuk meneruskan rencana bersekolah bersama di luar negeri. Rumah besar itu kembali sepi ditinggalkan dua penghuninya, lebih terasa kental pada Raniya yang sepanjang hari lebih banyak di rumah, apalagi ketika sang suami bekerja, dengan Abimana yang masih aktif bekerja itu kerinduannya pada suasana ramai semakin menjadi. “Kakak, adek … ternyata nyawanya rumah ini kalian,” katanya sambil membuatkan kopi untuk sang suami. Abimana menoleh, mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel yang terang di tangannya. “Kita ke sana yuk, Sayang!” ajaknya, soal kesibukan sudah bisa Abimana bagi bersama saudara yang lain, ia telah membaginya. “Mas juga kangen sama anak-anak, minggu depan mau?” Raniya mengerjap. “Beneran? Aku kangen berat ini, Mas. Waktu kamu kerja, kerasa banget gimana sepinya, udah kamu kasih bibik, tapi tetap aja
Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepa
“Kamu nantang aku, Raniya?” ucap Abimana. Apa? Abimana mau meledeknya? Atau pria itu ingin mengintimidasinya di tempat umum dengan status mereka sebagai pengantin baru masih hangat-hangatnya? Jantung Raniya berdetak menggila, terlebih ketika wajah Abimana condong ke depan mengikis jarak bersama
Abimana mengadu masing-masing kening berkeringat mereka, sorot matanya mengunci pupil lemah Raniya menerima setiap hentakannya di bawah sana. Di atas tubuh Raniya yang patuh, Abimana bergerak serampangan, menggesekan miliknya pada kewanitaan Raniya sesukanya. Rintihan Raniya seakan menjadi pemacu
“Cukup?” Abimana merendahkan tubuhnya. Raniya mendongak, menggigit bibir bawahnya sembari menatap wajah Abimana yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. “Aku lanjut!” putus Abimana mengartikan sorot mata Raniya. Jari-jari panjang itu memberi tekanan tepat di depan kewanitaan Raniya, mem







