Accueil / All / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 1. Batal Nikah

Share

Tergoda! Mantanku Om-Om
Tergoda! Mantanku Om-Om
Auteur: Moonlight

Bab 1. Batal Nikah

Auteur: Moonlight
last update Date de publication: 2026-03-31 12:16:32

“Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya.

Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum kamu puasin!” jawabnya seraya mendorong wanita itu ke kamar dan mencuri ciuman di bibir beberapa kali.

“Dit! Sabar!”

“Nggak bisa, Sin! Aku udah nggak nahan!” Raditya meloloskan celananya, begitu juga sang wanita hingga bagian bawah mereka tak tertutupi sehelai benang pun. “Kalaupun udah nikah sama si culun itu, aku bakal terus sama kamu. Kita beli apartemen di samping, biar bisa terus main!”

Wanita itu tertawa, tubuh mereka sama-sama terbakar oleh gairah hingga tak menyadari jika sejak tadi ada sepasang mata yang sedang menatap jijik sekaligus kecewa.

Raniya tak menyangka, pria sekaligus kekasih idaman yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu berselingkuh dan mempunyai niat busuk kepadanya, bahkan meremehkannya yang tulus. Dua minggu lagi mereka akan menikah, tetapi ia justru harus melihat adegan menjijikkan itu. Di apartemen dan ranjang yang seharusnya menjadi saksi cintanya bersama Raditya disahkan.

“RADITYA!” Raniya berteriak, matanya memerah dan basah, nafasnya tersengal seakan tak ada lagi oksigen di sana.

Raditya yang tengah menindih kekasihnya itu sontak menoleh, matanya terbelalak melihat Raniya berada di apartemen itu, terlebih melihat dirinya tanpa sehelai benang pun bersama wanita lain. Miliknya yang nyaris memasuki kewanitaan Sintia pun ditarik mundur, kedua tangannya spontan sibuk menarik selimut guna menutupi tubuh polos Sintia dan bagian bawahnya.

“Ran, kam—”

“Jadi, kayak gini kamu di belakangku?” Raniya tak memberikan kesempatan untuk Raditya menjawabnya. “Selama ini, kamu nganggep aku bego buat tetep jalan sama jalang ini, hah! Aku nggak nyangka kamu sebrengsek ini, Dit!”

Raditya mendecakkan lidah, tatapannya pada Raniya sudah berubah, tampak sekali aslinya, tidak seperti biasanya yang seolah-olah penuh dengan cinta.

“Aku nggak brengsek-brengsek amat kok! Cuman, kamu aja yang culun! Cewek kayak kamu itu bosenin, nggak menarik! Masa pacaran udah lama, cuman gandengan, mikir dong!” balas Raditya tak merasa bersalah sama sekali. “Sekarang, kamu udah liat, kan? Mau batalin, hah? Terserah, kalau emang ada yang mau sama kamu! Lagian, aku juga males!”

Jantung Raniya seperti diremas hebat, pria itu sama sekali tidak ada belas kasihnya meskipun hubungan mereka terhitung lama. Tak mau terlihat lemah, Raniya segera mengambil keputusan daripada hidup teraniaya sampai mati.

“Oke, kita nggak usah nikah aja. Aku juga males dan jijik sama kamu!” kata Raniya mengepalkan tangannya, menahan kuat agar tak semakin rapuh di sana.

Setelah mengatakan itu, Raniya tak mendengar lagi panggilan dari Raditya. Ia mengambil tas kemudian meninggalkan apartemen yang seharusnya menjadi saksi cinta mereka, bahkan susah payah ia menyisihkan uang untuk membayar setengahnya. Namun, semua sudah terjadi meskipun menyakitkan, setidaknya seumur hidup tidak terkurung bersama pria yang salah.

Sore itu, Raniya berniat langsung mengabarkan pada orang tuanya sebelum benar-benar meninggalkan apartemen, ia menelpon sang ibu.

“Ma,—” Pecah tangisnya tanpa bisa ditahan.

[Ada apa, Ran? Udah ketemu sama Raditya? Gimana jadi kapan pelunasan gedungnya?]

Raniya menutup matanya yang basah dengan satu tangan.

“Raniya nggak jadi nikah, Ma. Ditya selingkuh, dia bawa perempuan ke apartemen. Ditya bohongin aku!” Hancur sudah perasaan Raniya mengatakan itu.

[Kok bisa sih! Kamu pasti buat salah sama dia, nggak mungkin Ditya kayak gitu kalau kamu nggak ada salahnya, Ran! Atau jangan-jangan kamu nggak ngasih dia apa-apa, iya?]

Raniya terdiam, berusaha mencerna kalimat ibunya yang alih-alih iba kepadanya, justru terdengar seperti sedang menyudutkan dirinya di sana.

“A-apa maksud, Mama?” tanyanya gagu.

[Apa lagi? Laki-laki selingkuh atau nyari enak dari perempuan lain itu ya karena kamu nggak bisa ngasih ya dia mau! Selama ini, kamu pasti bosenin, terlalu hati-hati, pacaran maunya di rumah aja, nggak prioritasin dia. Kamu egois! Pantes kalau Ditya males lama-lama! Kamu bikin malu aja!]

Raniya menjauhkan ponselnya, memutus sambungan sepihak. Ia pikir ibunya akan memberikan dukungan dan membelanya, ternyata tak jauh berbeda dengan Raditya.

Raniya mematikan teleponnya, ia tidak ingin pulang dulu, rasanya percuma tidak akan memperbaiki keadaan. Raniya terus berkeliling sampai langit berubah gelap, kesedihannya yang tak kunjung mereda membawa Raniya mengambil jalan pintas, yakni datang ke club malam yang kerap didengarnya dari salah seorang teman.

“Kamu beneran mau mabuk?” Fana menyipitkan matanya, merasa tidak yakin.

Raniya mengangguk. “Aku nggak seculun itu kok, kita udah dewasa!” kata Raniya tersenyum centil pada pelayan yang mengantarkan pesanannya sangat frustrasi.

“Yaiya sih! Cuman, ini bukan kebiasaan kamu, takutnya malah kamu sakit nanti!” Fana khawatir.

Raniya tersenyum tipis, ternyata semua orang meragukannya, memandang dirinya tidak bisa apa-apa dan layak sekali diperlakukan buruk.

[Kamu bikin malu aja!]

“Kamu itu culun! Pacaran udah lama, cuman gandengan!”

Raniya menutup telinganya yang berisik, ragu-ragu matanya melirik minuman beralkohol di mejanya. Tetapi, semua perkataan itu terlalu menyakitkan.

“Ran!” Fana terpekik.

Raniya menepis tangan temannya itu. “Jangan halangin aku!” ucapnya.

Raniya ingin mencicipi sesuatu yang baru, seperti datang ke club malam, minum-minuman beralkohol, berjoget dalam kondisi mabuk dan pulang pagi dengan penampilan kacau balau. Semua itu, tak lain sebagai bentuk kekecewaan dan pelampiasannya atas rencana pernikahan yang gagal.

Semakin lama, Raniya merasa tubuhnya panas dan terbakar, pandangannya mulai kabur juga bergoyang-goyang.

“Ran, aku tinggal ya, cowokku udah dateng! Kalau ada apa-apa, telpon aja!” kata Fana tak bisa menemani lebih lama.

Raniya hanya mengangguk dan terkekeh tidak jelas, rasa panas di tubuhnya membuat Raniya mulai membuka kancing cardigannya, menyisakan tanktop berwarna krem dengan bentuk depan rendah sehingga belahan dadanya terlihat, lalu membuang cardigannya begitu saja.

“Dia bilang aku culun, heh!” kata Raniya sambil tertawa sekaligus menangis, tangannya mulai bergerak melepaskan kancing celananya untuk meredakan hawa panas di tubuhnya itu.

“Na, pesenin lagi! Aku mau lagi! Ayo, kita minum sampe mampus!” katanya tak kuasa menegakkan kepala, keningnya menempel pada meja.

Namun, bukan Fana yang kini duduk di depannya, melainkan seorang pria berpakaian serba hitam berwajah tampan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan Raniya dari meja lain.

Abimana Hanendra, mantan kekasih Raniya yang terpaksa putus karena jarak usia mereka yang terpaut 12 tahun dan masa lalu buruknya yang kerap menginap dengan para kekasihnya.

“Nggak akan ada minuman lagi malam ini!” katanya.

Raniya mengangkat kepalanya, suara itu berbeda sekali dengan suara Fana, lebih berat dan tegas. Matanya memicing guna memastikan, rambut panjang yang terjatuh semua ke depan cukup membuatnya kesulitan untuk melihat, tetapi gaun merah terang milik Fana telah berubah gelap sekarang.

“Kamu ganti baju, Na?” tanyanya masih menebak, mempertajam indra penglihatannya.

Pria itu melirik. “Ikut aku, Raniya! Aku antar pulang, sekarang!”

Raniya menunjuk dadanya kemudian tertawa. “Kamu sapa mau segala anter pulang, hah? Aku nggak mau pulang, mau di sini aja sampe mampus! Atau kamu mau nemenin aku? Aku bisa apa aja loh buat nyenengin kamu!”

“Nggak akan!” tolak Abimana.

“Kenapa? Aku bisa kok!” desak Raniya sambil menghentakan tubuhnya tampak kesal. “Aku bakal senengin kamu, puasin dan lakuin apa aja sama kamu yang kamu suka!” katanya disusul gemetar.

Raniya menangis lagi, tidak jelas, cukup lama pria itu menunggu sampai tangis Raniya berhenti, tetapi setelah itu alih-alih Raniya mudah diajak berbicara, wanita itu justru bangkit dan pergi ke lantai dansa di tengah, bergoyang di sana mengikuti yang lain. Bahkan, tak segan Raniya menempelkan badannya ke para lelaki di sana. Raniya makin menggila, wanita itu juga menerima minuman dari pria lain.

Lama-lama, geram juga, apalagi pakaian Raniya terbuka. Abimana pun menyusul Raniya ke tengah dan membawa tubuh itu bersandar kepadanya seorang.

“Waaah, kamu ganteng banget!” puji Raniya dengan kedua tangan mengalung ke leher Abimana, tinggi Raniya yang tak sampai bahunya membuat matanya dengan mudah melihat isi belahan sang wanita.

“Aku anter pulang!” kata Abimana.

Raniya menggelengkan kepala. “Aku nggak mau!”

Pria itu menganga tak percaya, entah darimana pikiran seperti itu mengisi kepala Raniya yang dikenal polos soal dunia malam.

Gesekan berulang yang Raniya lakukan, tatapan sayu yang hanya tertuju kepadanya penuh damba dan usapan di belakang kepala yang begitu lembut nan menggoda. Sebagai pria dewasa, disuguhkan hal serupa tentu membangkitkan keganasannya, terlebih Raniya terus saja menggoda dengan berjinjit dan berusaha menciumi lehernya.

“Berhenti, Raniya!” tegurnya berusaha menghindari bibir Raniya, menahan tubuh wanita itu supaya tidak terus bergoyang dan bergesekan dengannya.

Raniya berdecak kesal. “Aku nggak mau pulang, bawa aku ke mana aja! Pakai aku malam ini, gratis! Kamu nggak perlu bayar, aku yang bayar kamu!”

“Ran—”

“Habisin malam ini sama aku!” Raniya mendesah tepat di telinga Abimana.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 13. Pelukan Hangat

    Kini, setelah beberapa acara terlewati maka sampailah Raniya di apartemen yang akan menjadi saksi hidupnya selama satu tahun ke depan. Senyumnya spontan lenyap. Suka tidak suka, mau tidak mau, rela tidak rela. Dirinya paham tidak hanya soal saling memberikan kepuasan sesuai kontrak, melainkan banyak hal rumit yang mungkin akan baru ia temukan setelahnya bersama pria yang tak diinginkan itu. “Ibu mertua menelpon, katanya ponselmu nggak bisa dihubungi, Raniya,” kata Abimana sembari menarik koper istrinya itu masuk ke kamar. Raniya menoleh, tersenyum kecut. “Emangnya, peduli apa? Yang dia mau udah terlaksana, mau apa lagi?” Kedua bahu Abimana melorot mendengar itu, hubungan ibu dan anak perempuan yang kurang baik nyatanya ada di depan mata, sedangkan dirinya yang sudah se tua itu merindukan sang ibu dan ingin bergelayut manja, tetapi tidak bisa. Abimana tidak menghakimi Raniya seperti yang perempuan itu bayangkan usai menjawab dengan melempar balik beberapa pertanyaan.

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 12. Loh, Masuk!

    Abimana mengadu masing-masing kening berkeringat mereka, sorot matanya mengunci pupil lemah Raniya menerima setiap hentakannya di bawah sana. Di atas tubuh Raniya yang patuh, Abimana bergerak serampangan, menggesekan miliknya pada kewanitaan Raniya sesukanya. Rintihan Raniya seakan menjadi pemacu gairahnya yang sulit surut tak sesuai dengan gertakannya diawal yang tidak akan hanyut pada Raniya. “Bagaimana?” Abimana menekan hidung Raniya, mencuri kecup di bibir tipis itu. “Enak? Suka? Mau lebih?” Raniya nyaris mengangguk jika tidak teringat siapa Abimana dan betapa menyebalkannya pria itu. Maka, disisa kendalinya itu Raniya menampakkan ekspresi datarnya sekalipun ingin berteriak dan miliknya di bawah sana telah terbuka menganga menginginkan lebih. “Kamu bohong!” Terluka oleh ekspresi datar Raniya yang berlawanan, Abimana semakin meliarkan gerakannya, melangitkan desah perempuan itu sampai putihnya tuntas. “Agh, Raniya, agh!” Kuku-kuku tangan Raniya menancap sempurna di pungg

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 11. Mau Lagi

    “Cukup?” Abimana merendahkan tubuhnya. Raniya mendongak, menggigit bibir bawahnya sembari menatap wajah Abimana yang hanya berjarak sejengkal dari wajahnya. “Aku lanjut!” putus Abimana mengartikan sorot mata Raniya. Jari-jari panjang itu memberi tekanan tepat di depan kewanitaan Raniya, memainkan yang basah untuk membuka celah tersembunyi. Abimana memejamkan matanya sekilas, titik basah dan hangat itu mendentumkan dadanya, bagian dari diri Raniya yang teramat dirindukan dan susah dilupakan. Bagaimana perempuan itu menjepitnya kuat seakan nyaris patah, tetapi candu. Dan betapa berharganya ia menjadi yang pertama bagi Raniya seakan-akan jiwanya bisa saja tunduk pada perempuan itu jika diinginkan. “Om!” Raniya melemparkan kepalanya ke belakang begitu jari panjang Abimana mencoba memasukinya. Perih, sakit, tetapi menyebalkan untuk dilepas. “Apa, hm?” Abimana menarik ulur jarinya, bibirnya menciumi telinga Raniya yang terengah-engah. “Rasakan dulu, Raniya! Kenikmatan ya

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 10. Sudah Siap?

    “Kamu udah siap?” Abimana terkekeh melihat wajah masam Raniya yang terus berulang mendapatkan pertanyaan tentang hak dan kewajiban setelah menikah darinya, tetapi Raniya juga cukup pandai menutupi dengan tetap tenang selama acara pernikahan berlangsung dan harus menuruti permintaan foto dari banyaknya anggota keluarga. “Aku cuman ngelakuin itu atas dasar perjanjian, nggak pake hati, inget itu!” kata Raniya seraya melirik sinis. “Yakin?” “Yakin! Nggak akan aku tergoda sama kamu, amit-amit!” Raniya melengos. Namun, alih-alih repot tersakiti dengan ucapan Raniya, Abimana justru penasaran sekali dan tidak sabar acara mereka selesai, lalu mengungkung perempuan yang telah sah menjadi istrinya itu sepanjang malam. *** “Kamu pulang ke rumah Raniya?” Tante Sena memastikan ulang sebelum keluarga yang lain pulang, mereka masih berkumpul di rumah keluarga besar sampai besok. Abimana mengangguk, ia masih menunggu Raniya melepaskan aksesoris kepala yang terasa berat. “Besok baru kami ke ap

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 9. Sah

    Kepala Raniya berdenyut membayangkan nanti hari-harinya usai menikah sibuk dengan kewajiban-kewajiban sebagai istri, walaupun mereka terikat kontrak diam-diam, tetapi poin-poin yang telah disepakati tentunya harus dipatuhi selama dirinya menjadi istri Abimana, jika tidak maka ancaman Abimana akan berlaku. Satu bulan terasa sangat cepat, setiap hari Raniya sibuk mengurus segala persiapan untuk pernikahannya yang dibantu kerabat Abimana. Komunikasinya dengan Abimana pun hanya sekadarnya, ia terlalu lelah, tetapi tak ada ruang untuk istirahat sejenak. Lusa, ia menikah. “Pakai lulur yang Mama kasih kemarin, terus ikut Mama nanti malem buat cukur bulu!” Diniati lebih antusias daripada Raniya, pernikahan itu harus berhasil. Mata Raniya melebar. “Cukur bulu?” tanyanya heran. “Iya, nggak cuman baju-bajumu aja yang diganti, tapi dalemnya harus lebih terawat. Lulur dan sabunmu udah Mama upgrade, tinggal bersihin bulu-bulu aja, atas sama bawah, semua!” terang Diniati sambil menunjuk ketiak d

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 8. Bertemu Keluarga

    “Kita belum menikah,” kata Raniya terdengar seperti bisikan, pupilnya tampak mengecil. “Kenapa kalau belum?” Abimana ikut memelankan suaranya. Dada Raniya kian sesak, terlebih saat nafas hangat beraroma mint Abimana menabrak lembut wajahnya yang memerah. Bibir pria itu hanya berjarak satu ruas jari dari bibir Raniya yang mengerut, tampak manyun tanpa sengaja. Semakin dekat wajah Abimana, semakin kencang detak jantung Raniya yang siap meledak. “Kamu gugup?” Raniya mengangguk, bibirnya sempat terbuka hendak menjawab, tetapi Abimana seakan tak memberikan kesempatan, sebab bibir tipis milik Raniya yang sejak tadi mengerut manyun begitu sayang untuk dilewatkan. Raniya terdiam kaku, hangat dan basah bibir Abimana mengikis kewarasannya. Abimana tersenyum ditengah ciuman yang dimulainya itu, melihat Raniya yang perlahan memejamkan mata menikmati pagutan lembutnya meskipun perempuan itu belum bisa membalas. Ia lanjutkan sebentar sampai tubuh Raniya tidak tegang lagi kemudian pelan-pe

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status