Home / Romansa / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 2. Aku Bayar Kamu

Share

Bab 2. Aku Bayar Kamu

Author: Moonlight
last update publish date: 2026-03-31 12:19:49

Abimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain.

“Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, bangun!”

“Eum?” Raniya mengulat begitu memantul pada ranjang, bibirnya mencebik tampak kesal sekali sambil menggaruk leher dan lengan yang memerah dengan kukunya.

“Jangan dibegitukan, nanti luka!” tegurnya menepis tangan Raniya menjauhi lengan. Tetapi, Raniya melakukan lagi dan membuatnya kesal. “Raniya!”

“Apa sih, panggil-panggil terus! Buruan, aku udah panas banget ini!” balas Raniya memprotes.

Kedua tangan wanita itu segera melepaskan kancing cardigannya yang tadi dipakaikan lagi oleh Abimana, meloloskan dari kedua lengan, menyisakan setelan dalaman dengan beraninya.

"Heh!" Abimana memijat pelipisnya, entah sejak kapan mantan kecilnya itu berubah nakal seperti itu. “Berhenti, Raniya! Jangan mancing aku, kamu bakal nyesel!” katanya memberi peringatan.

Raniya terkekeh. “Udahlah, nggak usah jual mahal atau ceramah! Aku bayar kamu beneran! Ayo!” sahutnya mengumbar janji.

Raniya menegakkan punggungnya, menarik tangan Abimana sehingga pria itu membungkuk dan wajah mereka dekat sekali. Abimana bisa memastikan jika wanita itu tidak mengenalinya dengan baik.

Mata Raniya mengerjap, jari telunjuknya terangkat bermain dan memindai garis wajah Abimana, mulai dari alis sampai rahang pria itu.

“Ganteng!” ucapnya menilai seraya tertawa kecil. “Apalagi, matanya gelap gini … tajem sama nakutin, tapi aku suka! Kok bisa aku baru ketemu sama yang ganteng gini sih!”

“Kalau kamu tau, kamu nggak bakal ngomong gitu!” kata Abimana mengingat hubungan kandas mereka ketika Raniya mengetahui jarak usia mereka dan masa lalunya.

Raniya menyunggingkan senyuman. “Mana bisa gitu, nolak yang kayak gini! Aku mau kamu puasin!”

“Nggak!” tolak Abimana beranjak menjauh, menegakkan punggungnya, tetapi Raniya mencengkeram kuat lengan Abimana sehingga tubuhnya ikut terangkat dan menempel pada pria itu.

Abimana menyingkirkan tangan itu, ia tidak ingin melanggar prinsipnya, terutama pada seorang wanita yang sedang tidak sadar meskipun hasratnya sudah menguap dan meledak-ledak ingin terpuaskan.

Raniya itu cantik, selalu cantik sejak dulu, bahkan menjadi satu-satunya wanita yang putusnya membuat Abimana galau sepanjang tahun.

Namun, Abimana tidak mampu menahan diri lagi. Wanita itu yang menggoda, melenggang seperti ulat di depannya, menarik ulur dan menghasut prinsipnya untuk tak menyentuh tanpa sadar, kewarasannya tak bertahan lama di sana, terlebih saat tangan Raniya menyentuh miliknya yang masih terbungkus rapi dan keras.

“Jangan menyesal setelah ini, awas kamu!” kata Abimana memulai semua, begitu lembut untuk Raniya yang baru pertama kali. "Ra—Raniya ...!" desahnya berbisik.

Percintaan itu terjadi begitu saja, tubuh polos mereka yang sama-sama terbakar meliuk-liuk di atas ranjang yang berantakan. Rintihan, desahan dan erangan saling bersahutan di sana.

Di atas tubuh Raniya yang pasrah, dibawa godaan yang kian liar dan memaksa, Abimana mengiyakan semua.

"Agh, Raniya, agh!" erangnya mendorong lebih dalam dan cepat.

Abimana menggenggam rambut Raniya kuat sebelum menarik diri dan melepaskan cairannya mengotori sprei juga karpet kamarnya. Alisnya mengerut seakan berkumpul menjadi satu, bibirnya tergigit di dalam merasakan sisa-sisa kenikmatan yang merontokkan semua beban di pundaknya.

Pria itu bangkit, beranjak menjauh dari ranjang, membersihkan miliknya dengan tisu sebelum memeriksa Raniya yang langsung terkapar tak sadar, sepertinya wanita itu tertidur usai pertempuran panjang mereka.

“Dia berdarah cukup banyak,” gumam Abimana ngeri melihat milik Raniya.

Tak mau lari dari tanggung jawab, Abimana segera membantu Raniya membersihkan diri, menyentuh tubuh lemas wanita itu dengan sangat hati-hati kemudian memakaikan kaos miliknya ke tubuh kecil Raniya.

***

Entah pukul berapa sekarang, Raniya mulai terusik dari lelapnya. Mata sabit itu terbuka perlahan, menyesuaikan retinanya dengan cahaya di sana. Kepalanya terasa berat dan sakit sekali, semalam pasti dirinya banyak minum. Tetapi, ada yang berbeda dengan langit-langit kamar itu, seperti bukan kamar miliknya.

Raniya membelalakan mata, punggungnya menegak, reflek ia duduk. Namun, rasa nyeri dan perih itu menyerang bagian bawahnya hebat sekali membuatnya kembali berbaring dan mengulang perlahan.

Kamar siapa? Semalam, dirinya bersama siapa?

“Mama?” lirihnya kebingungan.

Raniya membekap mulutnya, bola matanya berpencar menyapu seisi ruangan kamar itu, khas seorang pria kental sekali di sana, terlebih aroma parfum cendana yang begitu kuat.

“In-ini di mana?” Raniya gemetaran, matanya memeta seluruh sudut kamar, lalu turun pada pakaiannya di bawah selimut, wanita itu terpekik. “BAJUKU!”

Kaos kebesaran tanpa dalaman sebagai pelapisnya. . Raniya reflek menarik selimut, mengumpulkan ke depan tubuhnya, menutupi semua.

“Nggak! Nggak mungkin!” Raniya mendekap tubuhnya sendiri, berusaha mengingat kejadian semalam, nyatanya tidak bisa. Ia pun tertawa getir. “Nggak, aku nggak mungkin gitu!”

“NGGAK MUNGKIN!” Ia berteriak sekencang mungkin.

Bagaimana jika nanti dirinya hamil? Tidak, bagaimana bisa melanjutkan hidup normal lagi, sedangkan dirinya mungkin sudah tidak perawan? Lalu, siapa pria yang semalam bersamanya?

“Kamu udah bangun?” Abimana muncul dari balik pintu dengan nampan penuh di tangannya, ia tadi memasak sebentar untuk mengisi tenaga Raniya.

Raniya terperanjat, menoleh ke arah pintu, jantungnya seakan meledak melihat siapa yang datang di sana. Raniya tidak lupa, wajah itu masih sangat diingatnya dengan jelas. Sosok pria dewasa berwajah tampan, bermata gelap, brewok tipis dan tubuh yang tinggi besar. Tetapi, bukan tipe Raniya sekali karena Abimana terlalu tua dan memiliki masa lalu yang buruk.

“Kamu!” ucapnya terdengar benci.

Sialnya, ia terbangun di kamar om-om yang pernah menjadi kekasihnya dulu.

“Aku nggak mungkin asal di sini, Om pasti jebak aku!” kata Raniya menuduh

“Om?” Abimana mengerutkan dahinya. “Okelah, terserah kamu manggil aku bagaimana! Tapi, kamu yang menjebak, Raniya!”

Abimana menyimpan nampannya di atas nakas, pria itu berdiri ke samping ranjang yang menghadap langsung pada Raniya. Abimana menjelaskan kronologi singkat tentang kejadian semalam.

“Aku mau pulang!” putus Raniya sembari menahan nyeri di pangkal pahanya, memindahkan kaki saja susah sekali.

“Makan dulu, biar aku yang antar! Aku bukan pria bejat yang nggak bertanggung jawab, ayo!” kata Abimana menahan Raniya yang meringis menahan sakit.

Raniya menggeram kesal. “Ini semua gara-gara, Om, tau nggak! Aku mau pulang, nggak butuh tanggung jawab kamu juga!” katanya.

Raniya menyingkirkan tangan Abimana dari lengannya, wanita itu berdiri sambil menggigit bibir bawahnya, mengambil pakaiannya yang ada di atas kursi, lalu ke kamar mandi di kamar itu dengan cara berjalannya yang sedikit mengangkang, kedua pahanya seakan tak akur.

Bodoh! Bagaimana bisa bersama si Abimana itu, sial!

Raniya membasuh wajahnya, menepuknya beberapa kali, lalu melihat penampilannya yang kacau itu dengan banyak bekas di tubuhnya.

“Abimana sialan!” makinya penuh sesal

Lalu, dirinya harus bagaimana sekarang? Mahkotanya direnggut oleh pria yang sangat ia benci.

Namun, Abimana tetap pada prinsipnya untuk bertanggung jawab pada Raniya. Setelah wanita itu membersihkan diri, Abimana memaksa Raniya untuk diantarkannya pulang. Tak peduli sepanjang jalan Raniya cemberut dan mogok bicara, Abimana hanya meminta alamat lengkap sehingga bisa mengantarkan dengan aman.

Sesampainya di depan rumah Raniya, pertama kalinya bagi Abimana mengetahui itu, sebab dulu Raniya melarangnya. Wanita itu langsung keluar tanpa pamit.

“Raniya!” Abimana menyusul, wajah Raniya jelas saja marah. “Sebentar!”

Abimana memberikan kartu namanya ke tangan Raniya.

“Hubungi aja aku kalau ada apa-apa ya! Aku tau kamu nggak akan mau memberi nomor hapemu itu, jadi gini aja!” katanya.

Raniya melengos, meremat kartu itu sebelum disimpannya ke saku celana, dibuang sembarangan bisa membuat orang rumahnya curiga, lalu ia berlari tertatih masuk. Sementara itu, Abimana memilih untuk segera pergi sebelum terlihat orang tua Raniya yang mungkin bisa menimbulkan masalah baru dan menambah rasa benci Raniya kepadanya.

"Raniya!" suara Diniati yang keras disusul dengan alat pel yang dilemparkan begitu saja terpaksa menghentikan langkah Raniya yang ingin segera ke kamar untuk berdiam diri.

"Ma, aku—" Raniya terhuyung mundur, tubuhnya dipeluk erat oleh ibunya tanpa aba-aba.

"Maafin Mama ya, Ran! Mama nggak bermaksud kasar ke kamu, kemarin Mama syok dan nggak tau harus gimana, Nak. Maaf ya!" kata Diniati menunjukkan penyesalan, kedua tangannya menangkup wajah Raniya dan matanya merebak merah. "Semua udah disiapin dan mendadak nggak jadi, Mama nggak bisa mikir, Raniya. Mama ngomong gitu sebenernya cuman nggak mau kamu diremehin lagi, dimainin lagi, terus sakit hati, Mama nggak mau!"

Raniya terdiam bingung, banyak kejadian serba mendadak dan menggoyahkan mentalnya sejak kemarin, ia belum bisa berpikir jernih.

"Tapi, kamu tenang aja karena Mama nggak akan biarin Raditya ngeremehin kamu lagi! Mama udah siapin sesuatu untuk kamu," kata Diniati.

"A-apa?" Raniya tak yakin.

Diniati menyeka air matanya yang sedikit itu kemudian disusul senyuman seraya berkata, "Mama kenalin kamu sama anak temen Mama, hm?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 30. Cemburu?

    Mata Raniya tak berhenti melotot sejak keterangan Abimana tadi, bahkan ia berjalan awas di samping pria itu sambil melihat sekita. “Nyari siapa?” Abimana menarik lengan Raniya agar lebih dekat dengannya. “Siapa tau ketemu sama temen deketnya itu,” jawab Raniya melengos lagi. Cemburu? Boleh Abimana artikan begitu? Ia simpan saja praduganya pada Raniya itu, Abimana lebih memilih untuk mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Raniya daripada terkatung-katung sambil mengapit tas kerjanya. Sesekali perempuan itu berjarak, kembali Abimana rengkuh lebih dekat sambil menyimpan senyum. “Mau beli apa?” “Kenapa? Buru-buru mau ketemuan lagi?” Abimana melebarkan matanya. “Heh, nggak ada yang mau ketemuan, itu hanya soal kerjasama kegiatan sosial usaha saja. Sini!” Ia rengkuh lebih dekat lagi. “Mau jalan aja atau beli sesuatu?” “Mau liat-liat blouse buat kerja,” jawab si perempuan melenggang. “Warnanya udah biasa banget, mau cari yang baru,” katanya. Abimana mengangguk. “Dicoba nggak n

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 29. Perempuan Masa Lalu

    “Jadi, apa rencana Bapak selanjutnya?” Dani cukup memikirkan persoalan atasannya itu, satu tahun itu tidak lama dan mereka harus mempersiapkan banyak hal untuk menangani imbasnya. “Bu Sena sudah mulai membahas soal penerus dan tentu saja dari anda, Pak,” ungkapnya. Abimana terpejam mata, kepalanya kembali berdenyut hebat seperti pagi itu. “Saya sudah dengar soal itu,” ucap Abimana sembari mengangguk. Pagi itu, tante Sena menghubunginya dan membahas soal keturunan yang sudah sangat dinantikan, terlebih Abimana tak mempunyai orang tua lagi dan tentu saja darah dagingnya sangat dinantikan keluarga besar sebagai penerus utama sekaligus pengobat rindu pada mereka yang telah pergi lebih dulu. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi untuk sekarang, terlebih dengan Raniya yang memasang tembok tinggi dan pernikahan mereka yang sebatas kontrak. “Nona Raniya tau soal ini?” Dani menghembuskan nafas lega melihat Abimana menggelengkan kepalanya. “Tapi, Pak … pertanyaan seperti itu tidak akan

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 28. Kita, Teman Baik?

    Abimana menggigit bibir dalamnya, baru saja berdamai dan dekat, ia mulai lagi membuat masalah. “Biar nggak kaku-kaku amat, emang nggak bisa kayak istri-istri yang gimana karena ini sementara dan aku nggak mau main sandiwara selain di depan keluarga. Kita …—” Raniya menghela nafasnya. “—kayak temen baik aja, gimana menurut, Om?” Kedua alis Abimana terangkat, agak aneh mendengar status pertemanan dengan dirinya yang 12 tahun lebih tua dari Raniya. “Ya, emang umur Om udah tua … tapi, berteman nggak harus seumuran, kan? Kalau sama yang lebih tua harus hubungan hati gitu?” Raniya mencebikkan bibirnya. Melihat itu, Abimana mengulum senyum. Rasanya, apa saja bisa ia berikan pada Raniya meskipun ia kesakitan karena tak akan berbalas jika berani Abimana ungkapkan. Raniya harus tahu jika dirinya sama seperti perempuan itu agar hubungan mereka membaik. “Setuju,” katanya. “Setuju apa? Umur? Hubungan hati?” “Kita berteman,” terang Abimana sedikit membenarkan posisi bantalnya. “Teman bai

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 27. Simpan Rahasia Ini!

    Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepat di bawah dengan lengan Abimana sebagai bantalan, sedangkan kedua tangan Raniya bertautan pada tengkuk Abimana seolah menahannya untuk tetap dekat lagi hanyut. Namun, udara yang semakin menipis pada rongga dada, terpaksa menghentikan mereka, mengambil jarak tipis dengan ujung hidung sebagai penyangganya. “Aku lagi sakit, kan?” canda Abimana, reflek Raniya tertawa kecil menahan malu, sebab dirinya yang memulai tadi. “Tidur atau lanjut?” Raniya memelototkan mata. “Oke, tidur!” kata Abimana iseng, lalu berpindah ke posisi seharusnya. Tak kuasa menahan malu, Raniya berganti posisi memunggungi Abimana, wajahnya memerah dan bibirnya tak berhenti mengulum senyum. Ciuman mereka tak seburuk

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 26. Ciuman Tengah Malam

    Mungkin seperti yang kerap Raniya dengar dari obrolan teman kantornya, ketika menikah dunia perempuan akan berpindah pada suami mereka, rasanya jauh lebih menakutkan jika terjadi sesuatu pada pasangan, bahkan hampir sama dengan orang tua, pun bisa lebih. “Tapi, kan pernikahanku nggak sama kayak mereka,” gumamnya denial. Abimana baru saja selesai mandi yang wajib sekali dengan air hangat, Raniya akan mengomel jika pria itu berbohong. Tidak hanya itu, Raniya sudah memilihkan pakaian untuk Abimana yang nyaman dan hangat. “Maaf ya,” kata Abimana masih mengejar maaf dari Raniya, perempuan itu meliriknya. “Mulai nanti aku janji bakal kasih tau, hm?” Raniya mengangguk akhirnya. “Lagian, aku juga yang sedari awal larang dan nggak mau tau kabar Om. Aku juga salah, padahal kita serumah meskipun cuman sementara,” ujarnya. Abimana tersenyum hangat merespon itu, walaupun yang sementara itu cukup mengganggu dan ingin ia singkirkan, tetapi ia sangat menghargai Raniya. Tangannya terangkat ke

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 25. Ditemukan Tak Sadar

    “Itu?” Abimana mengerjap bingung, tetapi juga paham karena ia merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Raniya melirik ke bawah, menunjuk lewat tatapannya. “Em, … jangan kamu pikirkan! Ini normalnya pria yang—” “Terangsang?” Raniya menyahuti dan benar, Abimana tak bisa mengelak. “Artinya aku menggoda?” “Raniya … maksudnya—” “Aku-dengan diriku yang kerap dinilai nggak menarik ini, menurut Om menggoda?” Lagi, Raniya menyahuti lebih cepat seolah tak memberikan kesempatan. Abimana menyerah, ia mengangguk. “Kamu dengan kesederhanaanmu itu menggoda, Raniya. Bukan soal gairah saja, kamu menarik pada banyak hal. Mereka belum bisa melihat seluas itu,” terangnya membuat Raniya tersipu, tampak sekali di kedua pipinya memerah. Raniya malu bukan karena dipuji semata atau meremehkan Abimana sebagai mantan buaya darat yang ucapannya tak bisa dipegang sama sekali. Tetapi, lebih pada objektivitas Abimana dalam menilainya sebagai pria dengan banyak pengalaman dan pandangan, begitu luas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status