MasukAbimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain.
“Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, bangun!” “Eum?” Raniya mengulat begitu memantul pada ranjang, bibirnya mencebik tampak kesal sekali sambil menggaruk leher dan lengan yang memerah dengan kukunya. “Jangan dibegitukan, nanti luka!” tegurnya menepis tangan Raniya menjauhi lengan. Tetapi, Raniya melakukan lagi dan membuatnya kesal. “Raniya!” “Apa sih, panggil-panggil terus! Buruan, aku udah panas banget ini!” balas Raniya memprotes. Kedua tangan wanita itu segera melepaskan kancing cardigannya yang tadi dipakaikan lagi oleh Abimana, meloloskan dari kedua lengan, menyisakan setelan dalaman dengan beraninya. "Heh!" Abimana memijat pelipisnya, entah sejak kapan mantan kecilnya itu berubah nakal seperti itu. “Berhenti, Raniya! Jangan mancing aku, kamu bakal nyesel!” katanya memberi peringatan. Raniya terkekeh. “Udahlah, nggak usah jual mahal atau ceramah! Aku bayar kamu beneran! Ayo!” sahutnya mengumbar janji. Raniya menegakkan punggungnya, menarik tangan Abimana sehingga pria itu membungkuk dan wajah mereka dekat sekali. Abimana bisa memastikan jika wanita itu tidak mengenalinya dengan baik. Mata Raniya mengerjap, jari telunjuknya terangkat bermain dan memindai garis wajah Abimana, mulai dari alis sampai rahang pria itu. “Ganteng!” ucapnya menilai seraya tertawa kecil. “Apalagi, matanya gelap gini … tajem sama nakutin, tapi aku suka! Kok bisa aku baru ketemu sama yang ganteng gini sih!” “Kalau kamu tau, kamu nggak bakal ngomong gitu!” kata Abimana mengingat hubungan kandas mereka ketika Raniya mengetahui jarak usia mereka dan masa lalunya. Raniya menyunggingkan senyuman. “Mana bisa gitu, nolak yang kayak gini! Aku mau kamu puasin!” “Nggak!” tolak Abimana beranjak menjauh, menegakkan punggungnya, tetapi Raniya mencengkeram kuat lengan Abimana sehingga tubuhnya ikut terangkat dan menempel pada pria itu. Abimana menyingkirkan tangan itu, ia tidak ingin melanggar prinsipnya, terutama pada seorang wanita yang sedang tidak sadar meskipun hasratnya sudah menguap dan meledak-ledak ingin terpuaskan. Raniya itu cantik, selalu cantik sejak dulu, bahkan menjadi satu-satunya wanita yang putusnya membuat Abimana galau sepanjang tahun. Namun, Abimana tidak mampu menahan diri lagi. Wanita itu yang menggoda, melenggang seperti ulat di depannya, menarik ulur dan menghasut prinsipnya untuk tak menyentuh tanpa sadar, kewarasannya tak bertahan lama di sana, terlebih saat tangan Raniya menyentuh miliknya yang masih terbungkus rapi dan keras. “Jangan menyesal setelah ini, awas kamu!” kata Abimana memulai semua, begitu lembut untuk Raniya yang baru pertama kali. "Ra—Raniya ...!" desahnya berbisik. Percintaan itu terjadi begitu saja, tubuh polos mereka yang sama-sama terbakar meliuk-liuk di atas ranjang yang berantakan. Rintihan, desahan dan erangan saling bersahutan di sana. Di atas tubuh Raniya yang pasrah, dibawa godaan yang kian liar dan memaksa, Abimana mengiyakan semua. "Agh, Raniya, agh!" erangnya mendorong lebih dalam dan cepat. Abimana menggenggam rambut Raniya kuat sebelum menarik diri dan melepaskan cairannya mengotori sprei juga karpet kamarnya. Alisnya mengerut seakan berkumpul menjadi satu, bibirnya tergigit di dalam merasakan sisa-sisa kenikmatan yang merontokkan semua beban di pundaknya. Pria itu bangkit, beranjak menjauh dari ranjang, membersihkan miliknya dengan tisu sebelum memeriksa Raniya yang langsung terkapar tak sadar, sepertinya wanita itu tertidur usai pertempuran panjang mereka. “Dia berdarah cukup banyak,” gumam Abimana ngeri melihat milik Raniya. Tak mau lari dari tanggung jawab, Abimana segera membantu Raniya membersihkan diri, menyentuh tubuh lemas wanita itu dengan sangat hati-hati kemudian memakaikan kaos miliknya ke tubuh kecil Raniya. *** Entah pukul berapa sekarang, Raniya mulai terusik dari lelapnya. Mata sabit itu terbuka perlahan, menyesuaikan retinanya dengan cahaya di sana. Kepalanya terasa berat dan sakit sekali, semalam pasti dirinya banyak minum. Tetapi, ada yang berbeda dengan langit-langit kamar itu, seperti bukan kamar miliknya. Raniya membelalakan mata, punggungnya menegak, reflek ia duduk. Namun, rasa nyeri dan perih itu menyerang bagian bawahnya hebat sekali membuatnya kembali berbaring dan mengulang perlahan. Kamar siapa? Semalam, dirinya bersama siapa? “Mama?” lirihnya kebingungan. Raniya membekap mulutnya, bola matanya berpencar menyapu seisi ruangan kamar itu, khas seorang pria kental sekali di sana, terlebih aroma parfum cendana yang begitu kuat. “In-ini di mana?” Raniya gemetaran, matanya memeta seluruh sudut kamar, lalu turun pada pakaiannya di bawah selimut, wanita itu terpekik. “BAJUKU!” Kaos kebesaran tanpa dalaman sebagai pelapisnya. . Raniya reflek menarik selimut, mengumpulkan ke depan tubuhnya, menutupi semua. “Nggak! Nggak mungkin!” Raniya mendekap tubuhnya sendiri, berusaha mengingat kejadian semalam, nyatanya tidak bisa. Ia pun tertawa getir. “Nggak, aku nggak mungkin gitu!” “NGGAK MUNGKIN!” Ia berteriak sekencang mungkin. Bagaimana jika nanti dirinya hamil? Tidak, bagaimana bisa melanjutkan hidup normal lagi, sedangkan dirinya mungkin sudah tidak perawan? Lalu, siapa pria yang semalam bersamanya? “Kamu udah bangun?” Abimana muncul dari balik pintu dengan nampan penuh di tangannya, ia tadi memasak sebentar untuk mengisi tenaga Raniya. Raniya terperanjat, menoleh ke arah pintu, jantungnya seakan meledak melihat siapa yang datang di sana. Raniya tidak lupa, wajah itu masih sangat diingatnya dengan jelas. Sosok pria dewasa berwajah tampan, bermata gelap, brewok tipis dan tubuh yang tinggi besar. Tetapi, bukan tipe Raniya sekali karena Abimana terlalu tua dan memiliki masa lalu yang buruk. “Kamu!” ucapnya terdengar benci. Sialnya, ia terbangun di kamar om-om yang pernah menjadi kekasihnya dulu. “Aku nggak mungkin asal di sini, Om pasti jebak aku!” kata Raniya menuduh “Om?” Abimana mengerutkan dahinya. “Okelah, terserah kamu manggil aku bagaimana! Tapi, kamu yang menjebak, Raniya!” Abimana menyimpan nampannya di atas nakas, pria itu berdiri ke samping ranjang yang menghadap langsung pada Raniya. Abimana menjelaskan kronologi singkat tentang kejadian semalam. “Aku mau pulang!” putus Raniya sembari menahan nyeri di pangkal pahanya, memindahkan kaki saja susah sekali. “Makan dulu, biar aku yang antar! Aku bukan pria bejat yang nggak bertanggung jawab, ayo!” kata Abimana menahan Raniya yang meringis menahan sakit. Raniya menggeram kesal. “Ini semua gara-gara, Om, tau nggak! Aku mau pulang, nggak butuh tanggung jawab kamu juga!” katanya. Raniya menyingkirkan tangan Abimana dari lengannya, wanita itu berdiri sambil menggigit bibir bawahnya, mengambil pakaiannya yang ada di atas kursi, lalu ke kamar mandi di kamar itu dengan cara berjalannya yang sedikit mengangkang, kedua pahanya seakan tak akur. Bodoh! Bagaimana bisa bersama si Abimana itu, sial! Raniya membasuh wajahnya, menepuknya beberapa kali, lalu melihat penampilannya yang kacau itu dengan banyak bekas di tubuhnya. “Abimana sialan!” makinya penuh sesal Lalu, dirinya harus bagaimana sekarang? Mahkotanya direnggut oleh pria yang sangat ia benci. Namun, Abimana tetap pada prinsipnya untuk bertanggung jawab pada Raniya. Setelah wanita itu membersihkan diri, Abimana memaksa Raniya untuk diantarkannya pulang. Tak peduli sepanjang jalan Raniya cemberut dan mogok bicara, Abimana hanya meminta alamat lengkap sehingga bisa mengantarkan dengan aman. Sesampainya di depan rumah Raniya, pertama kalinya bagi Abimana mengetahui itu, sebab dulu Raniya melarangnya. Wanita itu langsung keluar tanpa pamit. “Raniya!” Abimana menyusul, wajah Raniya jelas saja marah. “Sebentar!” Abimana memberikan kartu namanya ke tangan Raniya. “Hubungi aja aku kalau ada apa-apa ya! Aku tau kamu nggak akan mau memberi nomor hapemu itu, jadi gini aja!” katanya. Raniya melengos, meremat kartu itu sebelum disimpannya ke saku celana, dibuang sembarangan bisa membuat orang rumahnya curiga, lalu ia berlari tertatih masuk. Sementara itu, Abimana memilih untuk segera pergi sebelum terlihat orang tua Raniya yang mungkin bisa menimbulkan masalah baru dan menambah rasa benci Raniya kepadanya. "Raniya!" suara Diniati yang keras disusul dengan alat pel yang dilemparkan begitu saja terpaksa menghentikan langkah Raniya yang ingin segera ke kamar untuk berdiam diri. "Ma, aku—" Raniya terhuyung mundur, tubuhnya dipeluk erat oleh ibunya tanpa aba-aba. "Maafin Mama ya, Ran! Mama nggak bermaksud kasar ke kamu, kemarin Mama syok dan nggak tau harus gimana, Nak. Maaf ya!" kata Diniati menunjukkan penyesalan, kedua tangannya menangkup wajah Raniya dan matanya merebak merah. "Semua udah disiapin dan mendadak nggak jadi, Mama nggak bisa mikir, Raniya. Mama ngomong gitu sebenernya cuman nggak mau kamu diremehin lagi, dimainin lagi, terus sakit hati, Mama nggak mau!" Raniya terdiam bingung, banyak kejadian serba mendadak dan menggoyahkan mentalnya sejak kemarin, ia belum bisa berpikir jernih. "Tapi, kamu tenang aja karena Mama nggak akan biarin Raditya ngeremehin kamu lagi! Mama udah siapin sesuatu untuk kamu," kata Diniati. "A-apa?" Raniya tak yakin. Diniati menyeka air matanya yang sedikit itu kemudian disusul senyuman seraya berkata, "Mama kenalin kamu sama anak temen Mama, hm?"“Iya, iya, nggak ada! Aku cuman bercanda, sumpah!” kata Ziya daripada masalahnya semakin melebar, menghadapi Zayn seorang diri sama saja mempersiapkan diri untuk mati. “Kita di sini, aku nggak ada janji—” “Pakaian itu?” Ziya menunduk melihat pakaian yang tadi dia banggakan untuk bertemu yang lain. “Hahaha, ini jelas aku persiapkan buat … ketemu kamu, kan malu kalau nggak sepadan,” cicitnya. Sorot tajam Zayn reflek berubah teduh, ada senyum tipis di mata itu mendengarkan pengakuan dari Ziya yang sesuai dengan prasangkanya tadi, perempuan itu memang mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin meskipun pengakuannya sekarang hanya agar tidak malu saja. “Memangnya, aku menuntut kamu untuk sepadan? Kita berbeda?” Zayn mencapit dagu Ziya sehingga mendongak menatapnya. “Kita sepadan, Zi. Soal bagaimana hidupmu, aku tau dan menerima itu tanpa kamu minta. Jadi, bisakah kita mencoba berjalan?” “Jalan?” Ziya mengerjap bingung. Zayn menganggukkan kepala, dirinya kembali duduk di temp
Mau tidak mau, walaupun hanya sebentar Kia dan Ghana tetap bertemu beberapa anggota keluarga yang menginap karena ada yang tidak beristirahat siang sebelum berkeliling hari itu. Kia meringis begitu duduk di mobil, reflek saja seperti itu karena bagian bawahnya tidak nyaman dan terasa kebas juga perih. “Mau mampir beli makan?” Ghana mengusap kepala Kia yang mengangguk, dia tidak mungkin membiarkan Kia beraktivitas dulu agar lebih baik karena ulahnya itu. “Maaf ya, Dek!” Kia mengambil tangan itu dan menciumnya, hal seperti ini tidak akan bisa mereka hindari sebagai seorang wanita yang baru menikah dan menyerahkan diri pada suami. Namun, melihat wajah sumringah Ghana membuat Kia merasa bangga pada dirinya itu, sesuatu yang dia jaga itu akhirnya diberikan pada satu-satunya pria yang dia cintai lagi mencintainya. “Boleh Kia tanya?” “Iya?” Ghana menoleh sekilas, lalu fokus pada kemudinya. “Apa kemarin Mas merasakan kenikmatan? Apa aku enak?” Pertanyaan yang terdengar konyol, tetapi it
Bila di kamar itu tengah berisik dengan suara-suara desahan dan rintihan sepasang pengantin yang tengah dimabuk asmara. Berbeda dengan suasana di luar dengan adanya Zayn yang tengah memperhatikan dalam diam seorang gadis dengan sisi indah kesukaannya. Gadis itu masih sama, selalu menjadi yang indah, mau itu dulu atau sekarang. Bertahun-tahun lamanya terus memperhatikan dari jauh, mendengarkan kabar tanpa bisa berbuat, jatuh bangun kisah cinta yang berulang kali kandas. Lalu, sekarang gadis itu sedang menikmati masa sendirinya, memperbaiki dan menyembuhkan diri dari luka yang tak bisa dengan mudah dipahami orang lain. “Ziya,” ucap Zayn dengan netra sibuk sekali memperhatikan yang tengah duduk sendiri di depan sana. Dan seperti angin membawa suaranya sampai ke telinga gadis itu, Ziya mengerjapkan mata, mencari ke sana kemari sumber suara sebelum meraba tengkuknya yang terbuka, dia merinding. “Apa iya di sini ada hantu?” tanyanya bergumam. Ziya bangkit dari duduknya, menurunkan
Kedua mempelai diantarkan naik ke panggung pelaminan, setelah menandatangani buku nikah dan sempat berdoa juga berfoto di sana. Dengan didampingi para orang tua, mereka mengikuti setiap arahan yang diberikan sampai semua prosesi selesai, lalu menuntaskan acara resepsinya. “Mantan Mas ada yang diundang?” Ghana reflek mengerutkan keningnya. “Harus diundang?” balasnya terdengar polos. Kia tertawa, artinya tidak ada yang diundang dan berlain kabar dengan masa lalu. Dia cukup lega dengan candaannya itu. “Dek, selama tiga tahun itu saya nggak ada menghubungi siapapun, mantan sekaligus semuanya sudah terputus. Saya suka membuat batas kalau sudah berlalu. Jangan memikirkan aneh-aneh ya, saya memilih dan mencintai kamu! Hati kamu itu tanggung jawab saya,” tuturnya. “Iya, hehehe.” “Saya serius.” “Kia juga serius!” balas Kia kemudian menggandeng lengan pria yang kini sah menjadi suaminya. Ghana membalas dengan mengusap jemari Kia yang telah sah menjadi istri dan mulai hari itu, malam na
Kia merinding membayangkan sekali lagi wajah calon suaminya ketika berbisik tadi, bibirnya akan dibuat bengkak yang entah sebesar apa. “Semungil ini bisa bengkak, diapakan?” gumam Kia mematut dirinya sendiri di depan meja rias. Begitu ponselnya berdering, Kia reflek bangkit dan mengambil benda yang tergeletak di ranjang itu. Panggilan masuk yang tidak perlu ditanya siapa, sekali saja diwaktu senggang tak menghubungi dirinya mungkin dunia kacau balau. “Ya, Mas Ghana?” sahutnya sembari menyandarkan benda pipih itu ke sudut meja sehingga yang di sana bisa melihat bagaimana dia tengah sibuk merawat diri di malam hari. “Apa?” [Harus ada alasan ya kalau menghubungimu?] “Astaga,” ucap Kia melorotkan kedua bahunya kemudian tertawa. “Aku bertanya kan supaya ada obrolan, memangnya Mas mau diam saja?” Pria di sana mengangguk, sepertinya memang berniat diam sambil memperhatikan apa saja yang Kia lakukan, si calon istri yang sebentar lagi akan tidur di kamar yang sama dengannya, di rumah yan
Biasanya, dia ugal-ugalan pada seorang wanita yang menjadi pasangannya. Bertingkah dominan tanpa perlu memikirkan perasaan selain dirinya dan mengatur penuh, suka tidak suka, wanita itu harus suka karena bagi Ghana dulu dia melakukan semua itu semata-mata untuk kebaikan si wanita. Namun, bersama Kia berbeda, tidak ada paksaan sama sekali, melainkan berkomunikasi dua arah, mencari titik temu yang tak merugikan salah satu pihak. Selain itu, Ghana tidak seenaknya menyentuh sana-sini, bahkan dia hanya sebatas merangkul lengan dan menggandeng Kia, mengecup pipi menggemaskan itu saja belum, lain dari yang dulu-dulu. “Tahan lah nafsunya, Bro! Keliatan banget pengen war!” kata Ares menggoda, pasalnya dia kenal sekali bagaimana temannya itu. “Apanya?” “Pake nanya lagi ini orang?! Yakin deh habis nikah nanti Kia tepar!” Ghana menipiskan bibirnya, ternyata terbaca juga dirinya yang sudah sangat bergairah itu pada si perempuan. Lagipula, bagaimana tidak dengan Kia yang memang sangat indah di
“Bodoh!” Raniya memukul kepalanya. Malam itu juga, Raniya pergi seorang diri untuk menemui Abimana di apartemennya. Raniya memakai setelan piyama pendek berbahan kaos dan rambutnya diikat tinggi sehingga leher putihnya terlihat menggoda, ditambah lagi perempuan itu tak sadar piyamanya cukup ketat
“Nggak semudah itu kami percaya,” kata Diniati melengos, malu sekali pada keluarga Aksara yang baru saja pergi sembari mengomel panjang dan mencaci makinya itu. Abimana memahami perasaan Diniati, kedatangannya memang mendadak, apalagi ia tidak pernah mengenal orang tua Raniya dulu. “Dengan apa sa
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan ka
[Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana.“O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?”







