ログインCerita Raditya masih kerap terbayang di pikiran Raniya, sejujurnya dia sudah lupa atau mungkin tak pernah mengharapkan kembali pria itu datang dan meminta maaf kepadanya. Raniya sudah cukup berdamai dengan semua masa lalunya, termasuk bagaimana dia dulu bersama Abimana yang pernah gagal. “Mas Abi pulang jam berapa?” [Satu jam lagi perjalanan, Sayang. Mau nitip sesuatu?] Raniya menunjukkan wajah putri mereka. “Kia ini Papa yang bikin Mama nya laper terus, dia kuat banget nenennya kayak anak cowok, hehehe. Mas, mau nasi Padang,” ujarnya. [Heeem, pinter memang dia, minum banyak ASI dari Mama ya? Pulang nanti, Mas belikan, Sayang. Masih kuat menunggu atau online aja?] “Nunggu aja, ini sama makan yang ada kok, cuman kepikiran nasi Padang aja,” jawabnya. Abimana ingin mencubit pipi dari dua perempuannya itu, menggemaskan sekali dan berjuta kali lipat jika ditinggalkan bekerja. [Iya, Mas belikan nanti. Kita makan bersama, ya? Terus, Kia?] “Aku … aku nanti makannya lewat nenen Mam
Segala hal dalam hidup Raniya berubah seketika selepas bayi perempuan itu hadir ke dunia, rumah yang biasanya hanya ada suaranya dan Abimana saja, itu pun akan sunyi ketika Abimana pergi bekerja. Sekarang, mulai membuka mata sampai petang, Raniya dengan kehebohannya suka sekali menggoda putrinya itu, membuatnya menangis karena gemas dan bagaimana suara Raniya sendiri terus berceloteh mengajak putrinya bercanda meskipun hanya dia saja yang heboh. “Aku masih takut pegang, Mas.” “Coba aku liat, boleh?” Abimana tak terganggu sedikit pun dengan kondisi Raniya, bahkan dia turut membantu membersihkan pembalut istrinya itu. Raniya mengangguk ragu, tetapi kemudian membuka kakinya lebar selagi tidak mengeluarkan darah sehingga Abimana bisa memeriksanya sebentar. Abimana mendesus mengatami bekas di sana, bukan masalah melebar atau tidak karena itu elastis yang akan kembali ke bentuk semula, tetapi membayangkan yang sekecil itu, dengan bagian kulit tipis bisa mengeluarkan sebesar putri mer
Raniya langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga dengan Abimana berada di sampingnya, menggenggam tangan Raniya yang terasa basah dan tegang. Beberapa kali perempuan itu mengeluh kesakitan, sekian kali juga Abimana merasa bersalah sekali karena Raniya tidak mungkin merasakan itu jika bukan atas dirinya. “Sayang, sabar ya,” katanya. Raniya mengangguk. “Mas Abi, aku sabar loh!” balasnya protes, sebab sejak tadi dia sudah meredam keluhnya. Namun, si calon ayah yang sedang cemas campur aduk itu tidak bisa tenang, pikirannya ke mana-mana. Bahkan, daripada Raniya lebih keras pikiran Abimana sampai sekujur tubuhnya sakit semua dan tidak bisa berpikir jernih. Sesampainya di rumah sakit, ketenangan yang biasanya selalu unggul dalam diri Abimana hilang entah ke mana. Mulai dari memanggil petugas sampai menunggu Raniya diperiksa, Abimana mondar-mandir untuk memastikan Raniya mendapatkan pelayanannya yang cepat. “Tante, Mas Abi jangan boleh muter-muter gitu!” kata Raniya di tengah le
Terlepas dari semua masalah yang ada, perang batin dengan harapan bersama orang tua, Raniya berusaha untuk tetap fokus pada kandungannya yang sebentar lagi menemui titik akhir. Dia dan bayinya akan segera bertemu, beberapa rutinitas persiapan untuk kelancaran persalinannya mulai intens Raniya lakukan. Tak lupa saran dari para orang tua di keluarga suaminya, dia lakukan semampunya dan sesuai arahan. “Seorang ibu itu katanya masih butuh ibu loh, Mas Abi. Nggak kebayang ya dulu atau sekarang mereka yang jauh dari orang tua atau mungkin udah nggak ada ibu, gimana mereka lewatin hari-harinya. Nggak semua bisa dekat dengan keluarga besar dan aku masih sangat beruntung mempunyai suami dengan keluarga besar yang rukun,” katanya yang tengah bersandar pada dada Abimana, pria itu bertelanjang dada. “Tiap kali aku down, aku selalu inget kalau masih banyak yang lebih dan aku punya, walaupun nggak sempurna dan mungkin dianggap nggak cukup, tapi itu masih untung ya, kan?” Abimana mengangguk, mere
Ngilu menjalar ke seluruh permukaan perut itu, ditambah efek dari ucapan Diniati yang kembali menghadirkan luka lama Raniya, sakitnya lebih tajam sampai mengeluh pun suaranya tidak keluar. “Raniya,” ucap Abimana mengepalkan tangannya, dia datang terlambat meskipun tak lewat dari rencananya. Perempuan itu diam dengan satu tangan menyentuh perut besarnya, ngilu di sana sudah mereda, tetapi ucapan dan sikap Diniati masih membekas, pun membangkitkan insecure yang mati-matian dilawan. “Mas, Mas Abi ganti baju, terus makan ya!” katanya tak membahas yang tadi. “Iya, setelah kamu peluk aku!” kata Abimana mencoba memahami, saat ini Raniya sedang tidak ingin banyak ditanya, maka dia tunjukkan kepatuhan sebagai bentuk penghargaan pada perempuan itu. Raniya lantas bergerak maju, semenjak perutnya membesar memang cukup sulit menempel pada suaminya, posisi menyamping begini dirasa lebih aman dan nyaman. Terdengar helaan berat di sana, Abimana terpejam singkat, berupaya untuk tak bertany
Calon bayi perempuan itu memang menyita perhatian, setelah menikah dengan Raniya ada beberapa waktu yang Abimana ringkas dan pangkas agar pekerjaan tak membuat kebersamaan mereka terganggu. Sekarang, Abimana hendak meringkas kembali agendanya sehingga kelak selepas persalinan dirinya mempunyai waktu yang luang sekali untuk bersama Raniya dan putri kecil mereka. “Waduh, lama-lama ini penuh mejanya sama foto dedek!” celetuk Dani terperangah, banyak salinan foto USG disimpan di bawah kaca meja. “Sudah dapat namanya, Pak?” Abimana terkekeh, selalu bersemangat sekali meskipun jenuh diserang banyak pekerjaan, ketika tentang calon putrinya disebut, ketegangan itu hilang, berganti dengan senyum hangat khas seorang bapak sekali. “Ada beberapa, masih dipertimbangkan Raniya. Kemarin yang terakhir ini, dia senyum loh, Dan. Cantik sekali!” jawabnya menunjukkan foto USG terakhir. Kening Dani mengernyit, dia yang masih awam sekali soal per-bayian tentu tidak terlalu paham senyum cantik yang di
Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepa
Mungkin seperti yang kerap Raniya dengar dari obrolan teman kantornya, ketika menikah dunia perempuan akan berpindah pada suami mereka, rasanya jauh lebih menakutkan jika terjadi sesuatu pada pasangan, bahkan hampir sama dengan orang tua, pun bisa lebih. “Tapi, kan pernikahanku nggak sama kayak m
Mungkin terkesan tidak sopan pada mertua, tetapi perasaan sang istri itu tanggung jawabnya, bukan? Abimana melemparkan tatapannya ke seisi kamar. “Raniya,” panggilnya tak menemukan perempuan itu di kasurnya. “Raniya!” Tak kunjung ada sahutan membuat Abimana diserang panik, pamitnya hanya merokok
Di mana? Minuman? Lampu sorot? Dan baju? Raniya tercekat nyaris menjerit begitu mengintip tubuhnya dibalik selimut, nafasnya lolos lega, sebab semuanya lengkap hanya kepalanya terasa berat dan baunya jangan ditanya, aroma khas alkohol melekat sekali. “Om Abi?” celetuknya mengingat pria itu, tadi







