تسجيل الدخول“Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan,” kata tante Sena menaruh curiga. Abimana termangu sejenak, jika soal perjanjian pernikahannya bocor, satu-satunya orang yang salah adalah sekretarisnya, tetapi Dani tidak mungkin melakukan hal itu meskipun terdesak, Abimana berulang kali membuktikan kesetiaan sekretarisnya itu. “Tante nggak mau ikut campur, tapi Tante bertanggung jawab sama kamu. Kalau memang ada masalah, bicarakan baik-baik! Perlakuan Raniya sebaik mungkin, tapi jangan mengekang. Dan soal keturunan yang kami tunggu, juga harus kalian bicarakan!” “Apa penting sekali mempunyai anak?” Abimana merasakan nyeri pada dadanya mengatakan hal itu, sebab tidak mungkin memaksa Raniya dan rasanya tidak bisa ia lakukan bersama perempuan lain setelah Raniya. Tatapan tante Sena seketika menajam. “Maksudmu apa ngomong gitu? Kalian ada rencana nggak punya anak, hah? Child free?” Nafas wanita itu pun terdengar berat. “Oke, memang itu urusan pribadi, tapi tolong pikirkan lagi, Abimana!
“Om buaya banget kalau gini,” kata Raniya melipat bibirnya yang baru saja diserang dadakan itu. Abimana tergelak kemudian menghembuskan nafas panjangnya, tampak lega yang sebenarnya tengah kepikiran hebat. “Kamu udah tau kalau saya sebuaya itu, kan?” balasnya agar Raniya tak meragukannya yang bisa dipercaya untuk menjalin hubungan baik sampai kontrak pernikahan mereka selesai. Perempuan itu menepuk pahanya sembari tertawa juga, begitu malu sambil menahan diri. Entah hubungan seperti apa, dua hati dan pikiran yang seakan tak mampu menyatu itu terasa sulit sekali. Abimana yang tak berani menegaskan perasaannya karena tak ingin Raniya ragu dan tak suka padanya, sedangkan Raniya yang denial, padahal ia tak sadar sedang sangat mengharapkan Abimana mempunyai perasaan lebih kepadanya. “Udah biasa kok! Ya, kan? Lagian, banyak yang tinggal bareng, tidur bareng nggak pake rasa, cuman biar bisa puas tanpa dosa aja. Bener, kan?” Raniya mengibaskan poninya yang jatuh ke depan dan sudah p
Masalah? Abimana terkekeh sendiri, moodnya sangat baik hari itu mengingat bagaimana dirinya semalam bersama Raniya berulang kali saling melepaskan penat dengan berbagi pelu yang tak terperi. Raniya: Aku kerja ya hari ini. Pesan itu langsung Abimana baca meskipun Raniya lama sekali membalas barisan pesannya sejak pagi. Abimana: Nanti dijemput? Ah, dia seperti anak muda baru mengenal cinta saja, hatinya dipenuhi bunga-bunga sampai malu sendiri. Raniya: Boleh. Dan senyumnya semakin lebar saja sekarang, mungkin nanti salah tingkah ketika berhadapan dengan istrinya itu. Semalam mereka begitu lepas, di atas tubuh perempuan yang bersuara menginginkannya itu ia tak ragu untuk melepaskan desah dalam, erangan panjang dan pujian-pujian penuh gairah yang mungkin memalukan sekali jika diucapkan sewaktu biasa. “Pak—” “Yang sore bisa dipercepat nggak, Dan?” Kedua alis Dani terangkat. “Bapak ada acara lain?” “Hem, percepat saja ya!” jawab Abimana sekali lagi tampak menakutkan, senyu
“Benar?” Raniya mengangguk, inginnya sudah berada di ubun-ubun, alih-alih Abimana yang tak bisa mengendalikan diri, justru Raniya yang kelabakan sekarang. Hanya dimulai dari sebuah ciuman, tetapi membakar. “Aku bakal hati-hati,” kata Abimana mulai memposisikan dirinya berada di antara kedua kaki Raniya yang terbuka lebar. Panjang dan tegangnya membuat Raniya terperanjat, baru saja menempel sebentar dengan gesekan kecil, tubuhnya menggelinjang. Tetapi, juga tak sabar untuk segera penuh oleh milik pria itu. Tenggorokannya tercekat, ini kedua kalinya dan pertama kali usai menikah mereka mengulang kejadian malam itu ketika Raniya mabuk tanpa ingat apa pun, sementara di malam selepas pernikahan, kebas akibat gesekan juga cukup mengerikan jika diingat. Namun, bagaimana Abimana menyentuh dan mengalihkan perhatiannya, pria itu berhasil membuat diri Raniya menerima benda asing yang mulai masuk perlahan di bawah sana. “Ehm!” Raniya mencengkeram lengan Abimana, kuat sekali sampai membeka
“Harus banget dicobain di depan kamu?” Raniya malu-malu, terlebih ia hanya memakai pakaian tipis supaya lebih mudah berganti-ganti. Abimana mengangguk, setelah tadi ia harus menahan diri di toko pakaian, sekarang atas ide dadakannya dengan Raniya yang menggoda. “Cepet-cepet ya, kan banyak!” kata perempuan itu yang lagi-lagi hanya diangguki oleh Abimana. “Mulai dari yang mana dulu?” Ragu ia memilih. “Setelan rok itu, aku mau liat panjangnya seberapa, menutup lututmu atau nggak!” jawab Abimana tak sempat tadi memeriksa karena kehadiran Sefiana. “Kalau nggak nutup kenapa?” “Jangan!” Abimana menggelengkan kepalanya, ia tak mau Raniya mengubah apa pun dari kenyamanan perempuan itu. “Coba dulu!” “Tapi, uangnya—” “Aku kaya, Raniya,” sahut Abimana lantas perempuan itu mendecih mendengarnya, kesombongan yang tak bisa disanggah. “Suamimu kaya raya,” tambahnya lagi. Perempuan itu mendecih dengan senyumnya sebelum satu per satu pakaian dicoba tanpa harus berlari ke ruang ganti, di depa
Mata Raniya tak berhenti melotot sejak keterangan Abimana tadi, bahkan ia berjalan awas di samping pria itu sambil melihat sekita. “Nyari siapa?” Abimana menarik lengan Raniya agar lebih dekat dengannya. “Siapa tau ketemu sama temen deketnya itu,” jawab Raniya melengos lagi. Cemburu? Boleh Abimana artikan begitu? Ia simpan saja praduganya pada Raniya itu, Abimana lebih memilih untuk mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Raniya daripada terkatung-katung sambil mengapit tas kerjanya. Sesekali perempuan itu berjarak, kembali Abimana rengkuh lebih dekat sambil menyimpan senyum. “Mau beli apa?” “Kenapa? Buru-buru mau ketemuan lagi?” Abimana melebarkan matanya. “Heh, nggak ada yang mau ketemuan, itu hanya soal kerjasama kegiatan sosial usaha saja. Sini!” Ia rengkuh lebih dekat lagi. “Mau jalan aja atau beli sesuatu?” “Mau liat-liat blouse buat kerja,” jawab si perempuan melenggang. “Warnanya udah biasa banget, mau cari yang baru,” katanya. Abimana mengangguk. “Dicoba nggak n







