Mag-log inMata Raniya tak berhenti melotot sejak keterangan Abimana tadi, bahkan ia berjalan awas di samping pria itu sambil melihat sekita. “Nyari siapa?” Abimana menarik lengan Raniya agar lebih dekat dengannya. “Siapa tau ketemu sama temen deketnya itu,” jawab Raniya melengos lagi. Cemburu? Boleh Abimana artikan begitu? Ia simpan saja praduganya pada Raniya itu, Abimana lebih memilih untuk mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Raniya daripada terkatung-katung sambil mengapit tas kerjanya. Sesekali perempuan itu berjarak, kembali Abimana rengkuh lebih dekat sambil menyimpan senyum. “Mau beli apa?” “Kenapa? Buru-buru mau ketemuan lagi?” Abimana melebarkan matanya. “Heh, nggak ada yang mau ketemuan, itu hanya soal kerjasama kegiatan sosial usaha saja. Sini!” Ia rengkuh lebih dekat lagi. “Mau jalan aja atau beli sesuatu?” “Mau liat-liat blouse buat kerja,” jawab si perempuan melenggang. “Warnanya udah biasa banget, mau cari yang baru,” katanya. Abimana mengangguk. “Dicoba nggak n
“Jadi, apa rencana Bapak selanjutnya?” Dani cukup memikirkan persoalan atasannya itu, satu tahun itu tidak lama dan mereka harus mempersiapkan banyak hal untuk menangani imbasnya. “Bu Sena sudah mulai membahas soal penerus dan tentu saja dari anda, Pak,” ungkapnya. Abimana terpejam mata, kepalanya kembali berdenyut hebat seperti pagi itu. “Saya sudah dengar soal itu,” ucap Abimana sembari mengangguk. Pagi itu, tante Sena menghubunginya dan membahas soal keturunan yang sudah sangat dinantikan, terlebih Abimana tak mempunyai orang tua lagi dan tentu saja darah dagingnya sangat dinantikan keluarga besar sebagai penerus utama sekaligus pengobat rindu pada mereka yang telah pergi lebih dulu. Namun, hal itu tidak mungkin terjadi untuk sekarang, terlebih dengan Raniya yang memasang tembok tinggi dan pernikahan mereka yang sebatas kontrak. “Nona Raniya tau soal ini?” Dani menghembuskan nafas lega melihat Abimana menggelengkan kepalanya. “Tapi, Pak … pertanyaan seperti itu tidak akan
Abimana menggigit bibir dalamnya, baru saja berdamai dan dekat, ia mulai lagi membuat masalah. “Biar nggak kaku-kaku amat, emang nggak bisa kayak istri-istri yang gimana karena ini sementara dan aku nggak mau main sandiwara selain di depan keluarga. Kita …—” Raniya menghela nafasnya. “—kayak temen baik aja, gimana menurut, Om?” Kedua alis Abimana terangkat, agak aneh mendengar status pertemanan dengan dirinya yang 12 tahun lebih tua dari Raniya. “Ya, emang umur Om udah tua … tapi, berteman nggak harus seumuran, kan? Kalau sama yang lebih tua harus hubungan hati gitu?” Raniya mencebikkan bibirnya. Melihat itu, Abimana mengulum senyum. Rasanya, apa saja bisa ia berikan pada Raniya meskipun ia kesakitan karena tak akan berbalas jika berani Abimana ungkapkan. Raniya harus tahu jika dirinya sama seperti perempuan itu agar hubungan mereka membaik. “Setuju,” katanya. “Setuju apa? Umur? Hubungan hati?” “Kita berteman,” terang Abimana sedikit membenarkan posisi bantalnya. “Teman bai
Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepat di bawah dengan lengan Abimana sebagai bantalan, sedangkan kedua tangan Raniya bertautan pada tengkuk Abimana seolah menahannya untuk tetap dekat lagi hanyut. Namun, udara yang semakin menipis pada rongga dada, terpaksa menghentikan mereka, mengambil jarak tipis dengan ujung hidung sebagai penyangganya. “Aku lagi sakit, kan?” canda Abimana, reflek Raniya tertawa kecil menahan malu, sebab dirinya yang memulai tadi. “Tidur atau lanjut?” Raniya memelototkan mata. “Oke, tidur!” kata Abimana iseng, lalu berpindah ke posisi seharusnya. Tak kuasa menahan malu, Raniya berganti posisi memunggungi Abimana, wajahnya memerah dan bibirnya tak berhenti mengulum senyum. Ciuman mereka tak seburuk
Mungkin seperti yang kerap Raniya dengar dari obrolan teman kantornya, ketika menikah dunia perempuan akan berpindah pada suami mereka, rasanya jauh lebih menakutkan jika terjadi sesuatu pada pasangan, bahkan hampir sama dengan orang tua, pun bisa lebih. “Tapi, kan pernikahanku nggak sama kayak mereka,” gumamnya denial. Abimana baru saja selesai mandi yang wajib sekali dengan air hangat, Raniya akan mengomel jika pria itu berbohong. Tidak hanya itu, Raniya sudah memilihkan pakaian untuk Abimana yang nyaman dan hangat. “Maaf ya,” kata Abimana masih mengejar maaf dari Raniya, perempuan itu meliriknya. “Mulai nanti aku janji bakal kasih tau, hm?” Raniya mengangguk akhirnya. “Lagian, aku juga yang sedari awal larang dan nggak mau tau kabar Om. Aku juga salah, padahal kita serumah meskipun cuman sementara,” ujarnya. Abimana tersenyum hangat merespon itu, walaupun yang sementara itu cukup mengganggu dan ingin ia singkirkan, tetapi ia sangat menghargai Raniya. Tangannya terangkat ke
“Itu?” Abimana mengerjap bingung, tetapi juga paham karena ia merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Raniya melirik ke bawah, menunjuk lewat tatapannya. “Em, … jangan kamu pikirkan! Ini normalnya pria yang—” “Terangsang?” Raniya menyahuti dan benar, Abimana tak bisa mengelak. “Artinya aku menggoda?” “Raniya … maksudnya—” “Aku-dengan diriku yang kerap dinilai nggak menarik ini, menurut Om menggoda?” Lagi, Raniya menyahuti lebih cepat seolah tak memberikan kesempatan. Abimana menyerah, ia mengangguk. “Kamu dengan kesederhanaanmu itu menggoda, Raniya. Bukan soal gairah saja, kamu menarik pada banyak hal. Mereka belum bisa melihat seluas itu,” terangnya membuat Raniya tersipu, tampak sekali di kedua pipinya memerah. Raniya malu bukan karena dipuji semata atau meremehkan Abimana sebagai mantan buaya darat yang ucapannya tak bisa dipegang sama sekali. Tetapi, lebih pada objektivitas Abimana dalam menilainya sebagai pria dengan banyak pengalaman dan pandangan, begitu luas







