Share

Bab 30. Cemburu?

Author: Moonlight
last update publish date: 2026-05-01 12:44:42

Mata Raniya tak berhenti melotot sejak keterangan Abimana tadi, bahkan ia berjalan awas di samping pria itu sambil melihat sekita.

“Nyari siapa?” Abimana menarik lengan Raniya agar lebih dekat dengannya.

“Siapa tau ketemu sama temen deketnya itu,” jawab Raniya melengos lagi.

Cemburu? Boleh Abimana artikan begitu?

Ia simpan saja praduganya pada Raniya itu, Abimana lebih memilih untuk mengulurkan tangannya, menggandeng tangan Raniya daripada terkatung-katung sambil mengapit tas kerjanya. Ses
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 67. Menjelang Persalinan

    Terlepas dari semua masalah yang ada, perang batin dengan harapan bersama orang tua, Raniya berusaha untuk tetap fokus pada kandungannya yang sebentar lagi menemui titik akhir. Dia dan bayinya akan segera bertemu, beberapa rutinitas persiapan untuk kelancaran persalinannya mulai intens Raniya lakukan. Tak lupa saran dari para orang tua di keluarga suaminya, dia lakukan semampunya dan sesuai arahan. “Seorang ibu itu katanya masih butuh ibu loh, Mas Abi. Nggak kebayang ya dulu atau sekarang mereka yang jauh dari orang tua atau mungkin udah nggak ada ibu, gimana mereka lewatin hari-harinya. Nggak semua bisa dekat dengan keluarga besar dan aku masih sangat beruntung mempunyai suami dengan keluarga besar yang rukun,” katanya yang tengah bersandar pada dada Abimana, pria itu bertelanjang dada. “Tiap kali aku down, aku selalu inget kalau masih banyak yang lebih dan aku punya, walaupun nggak sempurna dan mungkin dianggap nggak cukup, tapi itu masih untung ya, kan?” Abimana mengangguk, mere

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 66. Maaf Ya

    Ngilu menjalar ke seluruh permukaan perut itu, ditambah efek dari ucapan Diniati yang kembali menghadirkan luka lama Raniya, sakitnya lebih tajam sampai mengeluh pun suaranya tidak keluar. “Raniya,” ucap Abimana mengepalkan tangannya, dia datang terlambat meskipun tak lewat dari rencananya. Perempuan itu diam dengan satu tangan menyentuh perut besarnya, ngilu di sana sudah mereda, tetapi ucapan dan sikap Diniati masih membekas, pun membangkitkan insecure yang mati-matian dilawan. “Mas, Mas Abi ganti baju, terus makan ya!” katanya tak membahas yang tadi. “Iya, setelah kamu peluk aku!” kata Abimana mencoba memahami, saat ini Raniya sedang tidak ingin banyak ditanya, maka dia tunjukkan kepatuhan sebagai bentuk penghargaan pada perempuan itu. Raniya lantas bergerak maju, semenjak perutnya membesar memang cukup sulit menempel pada suaminya, posisi menyamping begini dirasa lebih aman dan nyaman. Terdengar helaan berat di sana, Abimana terpejam singkat, berupaya untuk tak bertany

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 65. Tamu Tak Diharapkan

    Calon bayi perempuan itu memang menyita perhatian, setelah menikah dengan Raniya ada beberapa waktu yang Abimana ringkas dan pangkas agar pekerjaan tak membuat kebersamaan mereka terganggu. Sekarang, Abimana hendak meringkas kembali agendanya sehingga kelak selepas persalinan dirinya mempunyai waktu yang luang sekali untuk bersama Raniya dan putri kecil mereka. “Waduh, lama-lama ini penuh mejanya sama foto dedek!” celetuk Dani terperangah, banyak salinan foto USG disimpan di bawah kaca meja. “Sudah dapat namanya, Pak?” Abimana terkekeh, selalu bersemangat sekali meskipun jenuh diserang banyak pekerjaan, ketika tentang calon putrinya disebut, ketegangan itu hilang, berganti dengan senyum hangat khas seorang bapak sekali. “Ada beberapa, masih dipertimbangkan Raniya. Kemarin yang terakhir ini, dia senyum loh, Dan. Cantik sekali!” jawabnya menunjukkan foto USG terakhir. Kening Dani mengernyit, dia yang masih awam sekali soal per-bayian tentu tidak terlalu paham senyum cantik yang di

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 64. Ada Aku

    Menahan diri cukup lama demi menjaga kondisi istrinya sekaligus tak ingin Raniya yang tengah menikmati malasnya di masa kehamilan awal. Seperti itu, pahamnya Abimana dan pengertiannya pada Raniya. “Mas!” lenguh Raniya melepaskan pagutan bibirnya. “Hm, apa?” Abimana mendorong pelan, sebisa mungkin tak menyakiti. Namun, gerakan seperti itu malah membuat Raniya gila dan tersiksa. Rasanya ditarik ulur, dibuat tinggi kemudian terhempas begitu saja, mengikis ketenangannya dengan suara-suara yang tak bisa ditahan sama sekali. Di bawah tubuh Abimana yang mengkilap basah nan menggoda, Raniya terkagum pasrah bagai tawanan yang siap melakukan apa saja sekaligus memberontak. “Maas!” Raniya mengalungkan kedua tangannya ke leher Abimana, menatap lekat penuh harap agar segera diselesaikan. “Apa?” Abimana menciumi leher dan telinga Raniya, masih berada di atas istrinya dengan ayunan yang sedikit dipercepat. “Sayang, hm? Apa?” Raniya meringik, dilema antara mau berhenti dan tidak. Otakny

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 63. Baby G

    Persiapan untuk acara syukuran pindah rumah sekaligus kehamilan Raniya hampir rampung, dengan dibantu keluarga besar Abimana, segalanya terasa lebih mudah, pun Raniya lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. “Ayahnya dateng nggak, Bi? Tante liat dia kayak kecarian gitu.” Tante melirik Raniya yang tengah mencicipi kue kering untuk buah tangan. Abimana merendahkan kepalanya. “Sepertinya, tapi semalam aku sudah ngobrol sama Raniya, Te. Dia udah ngerti dan sempet telpon ayahnya juga,” katanya. “Mungkin nunggu, Bi. Sabar ya!” Abimana mengangguk, lalu menghampiri istrinya itu, merebut kue yang hampir masuk ke mulut kemudian berpindah ke mulutnya sambil memamerkan senyum seolah menang. Sementara, Raniya reflek melongo, tiba-tiba saja kue di tangannya hilang dan ternyata Abimana yang mengambilnya. “Mas, bekas gigitanku loh!” “Memangnya, kenapa?” Abimana meletakkan tangannya ke atas kepala Raniya, mengusapnya lembut. “Jangankan bekas gigitanmu, yang ada di mulutmu saja pernah

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 62. Pindah Rumah

    Wajah masam Abimana jangan diragukan lagi, sebab omelan panjang Raniya bercampur nada manjanya itu mencuri sekali fokusnya, ditambah lagi tatapan meledek dari Dani. “Nggak usah banyak tanya kamu, makanya buruan nikah biar tau rasanya diomeli istri!” kata Abimana mengerung. Dani manggut-manggut sambil menyimpan senyumnya. “Tapi, jangan niru saya sampe pernah cerai! Kalau yang lebih muda begitu nggak apa, seru untuk pria berumur,” tambah Abimana melirik kecil sebelum melangkah dan berjalan lebih dulu ke depan sekretaris pribadinya. “Eh, Pak—” Dani menggelengkan kepalanya, lalu mengejar langkah atasannya itu. Setelah ini, disela-sela kesibukannya acara untuk kehamilan Raniya mulai Abimana pikirkan. Segalanya, seperti yang dia katakan selama ini jika yang menyangkut Raniya adalah serba istimewa, segalanya perempuan itu dirayakan. Dan yang paling sibuk sekarang, pria di sebelahnya itu, mengaturkan jadwalnya agar tidak saling bertabrakan dan cukup waktu, tidak mungkin dia hanya ha

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 57. Tidak Tahan

    Raniya terpejam mata dengan belah bibirnya yang terbuka juga sesekali mendesah, entahlah yang katanya hendak pulang larut itu tiba-tiba pulang sebentar langsung melepaskan tali ikat daster rumahan milik Raniya dan mengulum pucuk kecoklatannya. “Mas Abi, hei!” ujarnya gelagapan, beruntung benar it

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 56. Ibu Rumah Tangga

    “Dulu, nggak kerasa sibuknya,” gumam Raniya melirik prianya yang sedari membuka mata sudah menelpon sana-sini, ditambah lagi memakai bahasa asing yang kurang dia mengerti. “Dulu, emang sering sibuk gini apa? Sering telponan? Perasaan aku nggak pernah denger dan liat dia gitu. Akal-akalan dia ya?”

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 55. Obrolan Pasutri

    Membaik sedikit, sudah tidak bisa diam istrinya itu. Buktinya, pagi tadi ketika Abimana mandi, dia memang sengaja tak mengunci pintunya karena lebih mudah mendengar suara Raniya jika meminta tolong, tetapi faktanya perempuan itu malah masuk menyusulnya tanpa busana. “Raniya, kita ke depan makannya

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 54. Kelelahan

    “Raniya!” Abimana tersentak duduknya, ia lantas berlari dan segera menggendong tubuh istrinya itu. “Raniya, Sayang!” Raniya sedikit sekali membuka matanya. “Mas Abi, sakit!” “Iya? Raniya!” Abimana semakin panik. Semua orang di sana pun ikut panik, bahkan tante Sena langsung memanggil dokter agar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status