Home / Romansa / Tergoda! Mantanku Om-Om / Bab 3. Dijodohkan?

Share

Bab 3. Dijodohkan?

Author: Moonlight
last update publish date: 2026-03-31 12:25:03

“Dia ganteng, pinter, baik, mapan, sayang keluarga … pilihan Mama nggak mungkin salah, Raniya. Lihat baik-baik!” terang Diniati sambil menunjuk kelima foto pria tampan itu bergantian dengan gaya yang berbeda. “Namanya Aksara, seganteng wajah dan sifatnya!”

“Memangnya, Mama udah kenal banget sampe nilai sifatnya gimana?” Raniya meragukan ibunya itu, apalagi Diniati jarang keluar rumah untuk bertemu teman.

Diniati mendecakkan lidah. “Mama bisa tanya dan teman Mama itu jujur!” ujarnya.

Raniya hanya diam, rasanya sulit sekali percaya pada siapapun sekarang sejak dikhianati sampai gagal menikah.

“Aku nggak mau, Ma,” kata Raniya menolak rencana perjodohan itu. “Raniya butuh waktu buat—”

“Nggak ada waktu lagi, Ran!” sanggah Diniati tampak kecewa sekali. “Kita udah malu dan rugi besar karena pernikahan kalian batal, Mama nggak mau kamu semakin terpuruk terus diledekin nggak laku! Mama nggak terima!”

Dalam waktu tak lewat sehari saja sudah menjadi topik utama, banyak sekali praduga di luar sana yang membuat keluarga malu.

“Ya, tapi nggak harus langsung kenalan sama yang lain dong, Ma! Mama pikir Raniya nggak malu apa? Aku malu, sakit hati, pusing terus rasanya pengen mati aja. Tapi, nggak gitu konsepnya, main langsung kenalan! Yang kemarin aja udah kenal lama, busuk. Apalagi yang baru dan nggak kenal sama sekali!” Raniya menolak keras rencana ibunya itu.

Namun, alasan Raniya tidak bisa Diniati terima. Ia takut anaknya trauma berkepanjangan sampai menjadi perawan tua, Raniya itu anak tunggal, harga diri mereka dipertaruhkan jika terjadi sesuatu pada Raniya atau mungkin Raniya tidak sesuai ekspektasi mereka.

“Nggak! Itu harus, Raniya! Kamu harus tunjukin ke anak setan itu kalau bisa dapet yang lebih oke dari dia segala-galanya!” tolak Diniati.

“Ma, Raniya nggak mau!"

"Nggak bisa, kamu harus ikutin dan nurut sama Mama!” Diniati tidak mau mengalah sebentar.

“Mama!” Raniya berjengit kaki mendengar suaranya sendiri yang meninggi.

Tubuh Raniya gemetaran, matanya memerah menahan amarah dan tangis yang bisa saja meledak sekarang. Tetapi, tidak karena Raniya tidak ingin kejadian semalam diketahui oleh ibunya. Batalnya pernikahan itu sudah cukup mengguncang, ditambah lagi dirinya yang menghabiskan malam bersama Abimana hingga mahkotanya direnggut itu sangat memalukan. Raniya tidak bisa, ia butuh waktu. Perkataan Raditya kemarin dan kejadian semalam cukup membuatnya merasa rendah diri. Raniya insecure.

“Ma—”

“Coba, bilang apa alesan kamu! Apa? Selain butuh waktu buat nenangin diri, apa coba? Nggak ada, kan? Itu cuman buang-buang waktu!” desak Diniati tak memberikan kesempatan pada Raniya.

Raniya bungkam telak, tidak mungkin menceritakan semua. Ia sangat malu dan merasa hina sekali sekarang, menerima perjodohan itu sama saja membongkar aibnya sendiri.

“Nggak bisa jawab, kan? Yaudah! Kalau kamu nolak, lebih baik kamu sekalian keluar dari rumah ini! Nggak usah jadi anak kami lagi!” ancam Diniati.

Raniya terperanjat. “Yaudah, kalau emang itu keputusan Mama! Raniya nggak takut keluar dari rumah ini!” balas Raniya seraya menghentakkan kakinya sebelum meninggalkan Diniati menuju kamarnya, gemetar-gemetar menahan takut sekaligus kecewa.

Raniya melepaskan sepatu kemudian melemparkannya sembarangan, menjatuhkan toples-toples yang ada di meja, berteriak sambil menendang lemari kaca di dekat tangga. Raniya melampiaskan semua kekesalannya itu, wajahnya sudah berubah basah, ia terisak-isak merasa hancur sendiri.

“Mama nggak peduli kamu mau ngapain aja, Raniya!" kata Diniati.

"DIAAM!" teriak Raniya muak.

Di atas sana, Raniya menendang dan membanting pintu kamarnya sangat kencang.

***

Raniya menatap telapak tangannya yang berdarah karena pecahan lampu tidur yang tadi dilemparkannya, bergetar tangan itu nyaris nekat mengambil pecahan lain untuk mengiris nadinya.

"Apa mati aja?" gumamnya.

Di kamarnya yang gelap tanpa satu cahaya pun dibiarkan masuk, Raniya termenung sesak seorang diri. Cobaan hidupnya tidak main-main, dalam waktu kurang dari sehari, Raniya dihajar dua kejadian besar yang sangat amat berpengaruh pada hidupnya.

Matanya melirik kartu nama kusut milik Abimana, haruskah menghubungi pria itu? Memanfaatkannya rencana ibunya itu gagal?

“Nggak bisa!” kata Raniya memejamkan matanya, tetapi hanya ada Abimana yang bisa membantunya sekarang. “Nggak mungkin aku libatin om-om brengsek itu!”

Raniya menendang kartu nama itu menjauh, tetapi hati dan pikirannya tetap berat pada Abimana. Bahkan, ia berencana memanfaatkan pria itu agar bisa kabur dihari perjodohan yang mungkin telah disepakati oleh para orang tua dan berakhir batal atau entah bagaimana yang terpenting rencana ibunya itu ggaal.

Tangan Raniya yang tak terluka itu mengepal geram, terpaksa harus menghubungi Abimana. Raniya harus menghubungi pria itu, membujuk rayu agar Abimana membantunya. Maka, diambilnya kembali kartu mama kusut itu, mengetikkan nomornya pada papan ponselnya. Dan itu, pertama kali Raniya kembali menghubungi Abimana setelah sekian lama.

[Halo.]

Raniya terdiam, mendadak kesulitan berbicara begitu panggilan pertamanya langsung diterima oleh Abimana seakan-akan sangat ditunggu, padahal Abimana tidak mungkin mempunyai nomor baru Raniya.

[Halo, apa ada orang? Kalau nggak penting, saya—]

“Om Abimana!” potong Raniya mengerahkan seluruh sisa tenaganya.

Ada hening cukup lama, hanya terdengar suara deru nafas Raniya yang terburu-buru, jantung wanita itu seakan meledak, hal yang sama pun Abimana rasakan.

[Raniya?]

Raniya mengangguk seolah Abimana ada di depannya.

"Iy-iya, ini aku ... Raniya, Om. Bisa kita bicara sebentar? Om sibuk?"

[Eh, enggak-enggak! Luang sekali, Raniya. Kamu baik-baik aja, kan?]

Dada Raniya nyeri sekali ditanya seperti itu, ia ingin bersandar dan menceritakan semua yang sebenarnya, tetapi Raniya tidak lupa dengan siapa dirinya berbicara dan dengan tujuan apa.

"Om, aku ...—"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 79. Jodoh

    Kalau sudah jodoh, apa memang akan se mudah ini jalannya? Ghana mengemudikan sendiri mobil miliknya itu dengan seorang perempuan yang duduk di sisi kiri tanpa henti membuat dia berkeringat saking gugupnya. “Apa? Mas mengumpat?” Kia menyingkirkan rambut yang menutupi area telinganya. Reflek Ghana menoleh gelagapan. “Iya? Mengumpat? Siapa?” “Oo, bukan Mas yang mengumpat ya? Aku denger tadi, masa iya dari luar mobil, ada pintu yang nggak ketutup rapat apa ya?” Kia memeta sekitar, pun ke pintu di bangku belakangnya. Semakin dicari semakin gusar Ghana di sana, dia benar-benar seperti anak remaja yang baru mengenal apa itu cinta, seperti terlupa yang sudah terlewati sebelum masa tiga tahun sendiri itu. Dia menjulurkan tangannya setengah ke belakang di mana Kia sedikit berputar untuk mencari-cari, merengkuh pundak Kia yang kemudian dia ajak kembali menghadap ke depan. Namun, alih-alih keberanian itu menyudahi kegilaannya, tangan yang bersentuhan tak sengaja dengan pipi Kia justru

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 78. Datang

    Melihat perkembangan asmara putri mereka, Abimana dan Raniya seakan kembali menyelami kisah mereka di masa lalu yang mungkin akan berjalan semulus itu jika tak ada kisah kelam yang membuat Raniya benci juga salah paham tak berujung. “Kenapa tertawa, Sayang?” Abimana memicing, dia agak terganggu dengan sebutan tua yang sejak tadi Zayn katakan. Raniya menggelengkan kepalanya. “Kok bisa setipe sama mamanya sih, Mas! Hahaha … cuman selisih tiga tahun aja loh!” Wajah Abimana semakin mengerut, lagi dan lagi soal umur itu dibahas yang kini dia mempunyai saingannya. Si pria yang menjadi tambatan hati si putri tercinta. “Tapi, yang matang memang memuaskan,” kata Raniya dengan godaannya. Reflek senyum malu di wajah Abimana itu terbit, anggap saja itu keunggulannya sebagai pria matang yang dulu tidak segera menikah. “Memuaskan dalam hal apa?” Abimana masih membalas, belum puas rupanya. Raniya sedikit mencondongkan tubuhnya ke samping lengan sang suami. “Pemikiran, karakter, uang, t

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 77. Ternyata Sama

    Apa harus sekarang dan sudah waktunya? Ghana tampak mempertimbangkan berulang kali sebelum hanya untuk sekadar menyimpan nomor telepon Kia di ponselnya. Tak lupa sebelum dan sesudah nama perempuan itu diberikan gambar bunga_bunga sepatu. “Kia,” ucapnya lirih, itu kesekian kalinya. Teringat bagaimana setiap kali tatapan mereka bertemu meskipun singkat tanpa sepatah kata, lalu tadi sedikit berbeda dengan sorot agak tajam yang menunjukkan rasa kesal. “Tapi, dia kesal karena apa?” Ghana menggaruk dagunya, dia harus sepusing itu memikirkan perempuan yang lebih muda 10 tahun darinya, pun dia yang sudah pernah mempunyai beberapa mantan kekasih sekaligus mantan calon istri, rasanya lucu. “Ares atau adiknya mengatakan sesuatu?” Rasanya tidak mungkin karena membahas soal Kia saja masih baru dan selepas mereka bersitatap, Ghana juga percaya Ares tidak akan selancang itu, apalagi adik Ares yang tidak tahu apa-apa. Dia dengar soal ucapan Ares? Calon istri? Ghana menegakkan punggungnya, ke

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 76. Patah Hati?

    “Ghana!” panggilan itu menggema sekali sampai ke dalam dada Kia, seseorang datang menghampiri si pria yang dikaguminya. “Aku pikir nggak dateng, Bro! Belum selesai urusin calon istri?” Kali ini, bukan sekadar menggema, tetapi meledak dalam dada Kia. Calon istri, pria bernama Ghana itu yang kabarnya selama tiga tahun tak membawa pasangan sama sekali mendadak sudah merencanakan pernikahan. “Kakak oke?” Zayn menyesal, dia terlewat kabar itu. Kia melipat bibirnya seraya mengangguk, lalu menarik lengan Zayn agar berjalan mengikutinya, meninggalkan tempat awal mereka berdiri dan tidak berlama-lama. Namun, sekilas garis pandangan mereka bertemu, iris Kia bersama Ghana yang berjarak itu, hanya sebentar dengan kesan yang dalam kemudian terpaksa teralihkan karena keramaian. “Aku nggak cemburu ya, Zayn!” katanya. Zayn reflek melipat keningnya. “Siapa yang bilang begitu?” “Ya, ya, siapa tau kamu mikir ke sana.” “Astaga, Kak. Bukan! Justru, aku khawatir kamu kecewa karena fakta yang

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 75. Pembahasan Pria

    Cukup berat untuk mengungkapkannya, apalagi pria itu lebih tua dari mereka dan bisa disebut senior oleh Zayn. Akan tetapi, “Gimanapun juga aku yang papa dan Kakak amanahkan bertanggung jawab di sini, jadi posisiku dan dia bisa sama. Aku cari tau tentang dia dulu.” Itu keputusan Zayn yang tidak bisa Kia nego, berani mengungkapkan juga harus berani dengan segala risikonya, lagipula Zayn melakukan itu semua demi kebaikannya agar tidak berlarut kagum dan meletakkan perasaan pada tempat yang salah. Ghana Abizar Rutono, nama itu sudah Zayn kantongi. Pria yang usianya sepuluh tahun dari kakaknya dengan pengalaman dan rekam jejak bisnis baik tanpa kekalahan yang fatal, selalu mempunyai inovasi baru demi melegakan rekanan bisnis yang bekerja sama dengannya, pun yang terpenting adalah rekam jejak kehidupan percintaannya itu, kening Zayn sampai terlipat dalam untuk membacanya, termasuk hubungan kekeluargaan pria yang kerap disapa Bos Ghan itu. “Kamu nggak berlebihan ke kakakmu begitu?” Abi

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 74. Yang Kia Suka

    Banyak hal yang Kia khawatirkan sepanjang masa menunggu dan mempersiapkan semua sampai pada tahun kelulusannya yang kemudian disusul oleh sang adik, keduanya berhasil untuk meneruskan rencana bersekolah bersama di luar negeri. Rumah besar itu kembali sepi ditinggalkan dua penghuninya, lebih terasa kental pada Raniya yang sepanjang hari lebih banyak di rumah, apalagi ketika sang suami bekerja, dengan Abimana yang masih aktif bekerja itu kerinduannya pada suasana ramai semakin menjadi. “Kakak, adek … ternyata nyawanya rumah ini kalian,” katanya sambil membuatkan kopi untuk sang suami. Abimana menoleh, mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel yang terang di tangannya. “Kita ke sana yuk, Sayang!” ajaknya, soal kesibukan sudah bisa Abimana bagi bersama saudara yang lain, ia telah membaginya. “Mas juga kangen sama anak-anak, minggu depan mau?” Raniya mengerjap. “Beneran? Aku kangen berat ini, Mas. Waktu kamu kerja, kerasa banget gimana sepinya, udah kamu kasih bibik, tapi tetap aja

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 27. Simpan Rahasia Ini!

    Suara decapan begitu nyaring memecah gendang telinga keduanya, bibir mereka saling membalas hingga kecipak basah itu tak bisa dihindari. Semakin lama semakin larut, membelitkan lidah yang terasa panas dan dingin bersamaan. Raniya tak lagi berada di atas Abimana, perempuan itu sudah berpindah tepa

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 15. Perayu Ulung

    “Kamu nantang aku, Raniya?” ucap Abimana. Apa? Abimana mau meledeknya? Atau pria itu ingin mengintimidasinya di tempat umum dengan status mereka sebagai pengantin baru masih hangat-hangatnya? Jantung Raniya berdetak menggila, terlebih ketika wajah Abimana condong ke depan mengikis jarak bersama

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 2. Aku Bayar Kamu

    Abimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain. “Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, ba

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 1. Batal Nikah

    “Ini beneran nggak bakal ketahuan sama calon istri culunmu itu, hah?” Sintia mengalungkan tangannya ke leher Raditya. Raditya menggelengkan kepalanya. “Namanya aja culun, kita jalan barengan bertiga aja dia nggak ada curiga sama sekali, hehehe. Buruan, aku udah nggak tahan ini! Minggu ini belum ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status