Masuk“Dia ganteng, pinter, baik, mapan, sayang keluarga … pilihan Mama nggak mungkin salah, Raniya. Lihat baik-baik!” terang Diniati sambil menunjuk kelima foto pria tampan itu bergantian dengan gaya yang berbeda. “Namanya Aksara, seganteng wajah dan sifatnya!”
“Memangnya, Mama udah kenal banget sampe nilai sifatnya gimana?” Raniya meragukan ibunya itu, apalagi Diniati jarang keluar rumah untuk bertemu teman. Diniati mendecakkan lidah. “Mama bisa tanya dan teman Mama itu jujur!” ujarnya. Raniya hanya diam, rasanya sulit sekali percaya pada siapapun sekarang sejak dikhianati sampai gagal menikah. “Aku nggak mau, Ma,” kata Raniya menolak rencana perjodohan itu. “Raniya butuh waktu buat—” “Nggak ada waktu lagi, Ran!” sanggah Diniati tampak kecewa sekali. “Kita udah malu dan rugi besar karena pernikahan kalian batal, Mama nggak mau kamu semakin terpuruk terus diledekin nggak laku! Mama nggak terima!” Dalam waktu tak lewat sehari saja sudah menjadi topik utama, banyak sekali praduga di luar sana yang membuat keluarga malu. “Ya, tapi nggak harus langsung kenalan sama yang lain dong, Ma! Mama pikir Raniya nggak malu apa? Aku malu, sakit hati, pusing terus rasanya pengen mati aja. Tapi, nggak gitu konsepnya, main langsung kenalan! Yang kemarin aja udah kenal lama, busuk. Apalagi yang baru dan nggak kenal sama sekali!” Raniya menolak keras rencana ibunya itu. Namun, alasan Raniya tidak bisa Diniati terima. Ia takut anaknya trauma berkepanjangan sampai menjadi perawan tua, Raniya itu anak tunggal, harga diri mereka dipertaruhkan jika terjadi sesuatu pada Raniya atau mungkin Raniya tidak sesuai ekspektasi mereka. “Nggak! Itu harus, Raniya! Kamu harus tunjukin ke anak setan itu kalau bisa dapet yang lebih oke dari dia segala-galanya!” tolak Diniati. “Ma, Raniya nggak mau!" "Nggak bisa, kamu harus ikutin dan nurut sama Mama!” Diniati tidak mau mengalah sebentar. “Mama!” Raniya berjengit kaki mendengar suaranya sendiri yang meninggi. Tubuh Raniya gemetaran, matanya memerah menahan amarah dan tangis yang bisa saja meledak sekarang. Tetapi, tidak karena Raniya tidak ingin kejadian semalam diketahui oleh ibunya. Batalnya pernikahan itu sudah cukup mengguncang, ditambah lagi dirinya yang menghabiskan malam bersama Abimana hingga mahkotanya direnggut itu sangat memalukan. Raniya tidak bisa, ia butuh waktu. Perkataan Raditya kemarin dan kejadian semalam cukup membuatnya merasa rendah diri. Raniya insecure. “Ma—” “Coba, bilang apa alesan kamu! Apa? Selain butuh waktu buat nenangin diri, apa coba? Nggak ada, kan? Itu cuman buang-buang waktu!” desak Diniati tak memberikan kesempatan pada Raniya. Raniya bungkam telak, tidak mungkin menceritakan semua. Ia sangat malu dan merasa hina sekali sekarang, menerima perjodohan itu sama saja membongkar aibnya sendiri. “Nggak bisa jawab, kan? Yaudah! Kalau kamu nolak, lebih baik kamu sekalian keluar dari rumah ini! Nggak usah jadi anak kami lagi!” ancam Diniati. Raniya terperanjat. “Yaudah, kalau emang itu keputusan Mama! Raniya nggak takut keluar dari rumah ini!” balas Raniya seraya menghentakkan kakinya sebelum meninggalkan Diniati menuju kamarnya, gemetar-gemetar menahan takut sekaligus kecewa. Raniya melepaskan sepatu kemudian melemparkannya sembarangan, menjatuhkan toples-toples yang ada di meja, berteriak sambil menendang lemari kaca di dekat tangga. Raniya melampiaskan semua kekesalannya itu, wajahnya sudah berubah basah, ia terisak-isak merasa hancur sendiri. “Mama nggak peduli kamu mau ngapain aja, Raniya!" kata Diniati. "DIAAM!" teriak Raniya muak. Di atas sana, Raniya menendang dan membanting pintu kamarnya sangat kencang. *** Raniya menatap telapak tangannya yang berdarah karena pecahan lampu tidur yang tadi dilemparkannya, bergetar tangan itu nyaris nekat mengambil pecahan lain untuk mengiris nadinya. "Apa mati aja?" gumamnya. Di kamarnya yang gelap tanpa satu cahaya pun dibiarkan masuk, Raniya termenung sesak seorang diri. Cobaan hidupnya tidak main-main, dalam waktu kurang dari sehari, Raniya dihajar dua kejadian besar yang sangat amat berpengaruh pada hidupnya. Matanya melirik kartu nama kusut milik Abimana, haruskah menghubungi pria itu? Memanfaatkannya rencana ibunya itu gagal? “Nggak bisa!” kata Raniya memejamkan matanya, tetapi hanya ada Abimana yang bisa membantunya sekarang. “Nggak mungkin aku libatin om-om brengsek itu!” Raniya menendang kartu nama itu menjauh, tetapi hati dan pikirannya tetap berat pada Abimana. Bahkan, ia berencana memanfaatkan pria itu agar bisa kabur dihari perjodohan yang mungkin telah disepakati oleh para orang tua dan berakhir batal atau entah bagaimana yang terpenting rencana ibunya itu ggaal. Tangan Raniya yang tak terluka itu mengepal geram, terpaksa harus menghubungi Abimana. Raniya harus menghubungi pria itu, membujuk rayu agar Abimana membantunya. Maka, diambilnya kembali kartu mama kusut itu, mengetikkan nomornya pada papan ponselnya. Dan itu, pertama kali Raniya kembali menghubungi Abimana setelah sekian lama. [Halo.] Raniya terdiam, mendadak kesulitan berbicara begitu panggilan pertamanya langsung diterima oleh Abimana seakan-akan sangat ditunggu, padahal Abimana tidak mungkin mempunyai nomor baru Raniya. [Halo, apa ada orang? Kalau nggak penting, saya—] “Om Abimana!” potong Raniya mengerahkan seluruh sisa tenaganya. Ada hening cukup lama, hanya terdengar suara deru nafas Raniya yang terburu-buru, jantung wanita itu seakan meledak, hal yang sama pun Abimana rasakan. [Raniya?] Raniya mengangguk seolah Abimana ada di depannya. "Iy-iya, ini aku ... Raniya, Om. Bisa kita bicara sebentar? Om sibuk?" [Eh, enggak-enggak! Luang sekali, Raniya. Kamu baik-baik aja, kan?] Dada Raniya nyeri sekali ditanya seperti itu, ia ingin bersandar dan menceritakan semua yang sebenarnya, tetapi Raniya tidak lupa dengan siapa dirinya berbicara dan dengan tujuan apa. "Om, aku ...—"“Kak Zayn!” Ziya berucap lirih usai ciuman dengan penuh kerinduan itu selesai, bibirnya yang tadi lembab dan berwarna, kini hanya tersisa warna tipis juga agak bengkak. “Ganas sekali!” celetuknya. Zayn tergelak, menahan diri setelah sekian lama dan dengan Ziya yang menggemaskan begitu, rasanya tak bisa lagi. Zayn tidak hanya mengandalkan nafsunya sebagai pria dewasa, tetapi perasaan besarnya yang tak ingin menunda lagi kebersamaan mereka, memutus jarak yang memisahkan mereka dengan status sah seperti Kia dan Ghana. Dia ingin perempuan itu segera menjadi istrinya, Zayn akan menunjukan istana yang tepat untuk Ziya tanpa perlu bersusah payah lagi. “Aku jadi takut,” kata Ziya kepikiran. “Takut apa?” “Kak Zayn hanya ingin melampiaskan nafsu saja denganku, lalu aku dibu—” Ziya dibungkam lagi, kali ini lebih keras hisapannya, tetapi singkat. “Sekali lagi menuduhku begitu, aku cium di depan mama papa!” ancam pria itu. Ziya mengkerut takut, lalu bergeser mendekat memeluk raga besar
Malam itu, faktanya ada saksi yang melihat kebersamaan Zayn dan Ziya. Usianya mungkin sudah tua, tetapi dia tetap seorang ayah dan pengusaha ulung yang tidak bisa semudah itu melepaskan tanggung jawab, apalagi yang berurusan dengan anaknya. “Papa sudah mencari tau soal keluarganya, Zayn. Kepikiran memang iya, tanyakan saja pada Mamamu! Tapi, tanpa melihat latar belakangnya, Ziya tak mempunyai kesalahan selain dia mengiyakan untuk lahir di sana, di keluarga yang sama sekali tidak menghargainya. Kalau kamu perlu bantuan, Papa bisa. Ghana?” Ghana reflek menegakkan punggungnya. “Saya sudah berbicara dengan Kia dan ini tidak ada masalah sama sekali. Saya siap membantu,” jawabnya. Abimana tersenyum mendengar itu, tak salah dia memberikan restu putrinya untuk menikah dengan Ghana, selain mempunyai taktik yang hebat dalam usaha, pria itu sangat bisa diandalkan. “Kita bisa berunding caranya, tapi kamu nggak mau ajak gadis itu ke rumah, Zayn?” Abimana menoleh pada istrinya. “Kita kan juga m
“Ziya?” Kening Ghana mengerut begitu mengulang nama itu. Kia mengangguk. “Keluarganya terkenal sangat problematik, sejak lama dan sampai sekarang soal statusnya sebagai anak seorang simpanan terus diperbincangkan tanpa mau mendengar juga mengenal bagaimana Ziya sebenarnya. Dia dihakimi, pernah dijual, dilecehkan, lalu dinikahkan tanpa status jelas kemudian ditinggalkan demi kepentingan pribadi keluarganya. Dia ada di sana hanya untuk dimanfaatkan, pribadinya yang polos dan terbentuk dari tekanan memudahkan orang lain menjebaknya,” jelasnya ikut merasakan sakit. Ghana terdiam, ia banyak mendengar kebejatan orang-orang di luar sana, tetapi kali ini jauh lebih dari sekadar bejat, terlebih keluarga. Dia pernah nakal, menjadi pribadi yang susah sekali diatur, hanya lagi dan lagi Ghana tak percaya ada keluarga yang memperlakukan anak perempuannya seperti binatang meskipun terlahir dari wanita simpanan, tetap saja Ziya darah daging mereka, di dalam diri Ziya mengalir kuat gen mereka yan
Ziya masih sangat canggung dengan hubungan mendadaknya bersama Zayn itu, walaupun Zayn tidak memburunya seperti diawal sebelum dia akhirnya menerima di rumah makan itu, tetapi perhatian yang Zayn berikan ketika pria itu tidak sibuk cukup membuatnya cemas. “Tapi, kalau nggak dikabarin akunya juga waswas,” gumamnya tak keluar rumah seperti yang Zayn katakan. Ziya melorotkan kedua bahunya, cidera mental sejak kecil dengan lingkungan keluarga yang sangat beracun menjadikannya selalu sangat bergantung pada orang baru. Ziya sudah mencoba memberikan batasan, tetapi kesungguhan Zayn hari itu cukup menggoyahkannya sehingga hubungan mereka langsung diberi status. Dia bagaikan daun kering yang terbawa angin, setiap kali raganya menemukan tempat berhenti, begitu kuat bertahan, walau akhirnya tempat itu membiarkan dia pergi lagi terbawa angin. “Semoga dia tidak,” ucap Ziya kesekian kalinya, putus asa mulai menyerang. Zayn: Bisa aku telpon? Mata Ziya mengerjap, pria itu seperti dekat sekali sa
“Iya, iya, nggak ada! Aku cuman bercanda, sumpah!” kata Ziya daripada masalahnya semakin melebar, menghadapi Zayn seorang diri sama saja mempersiapkan diri untuk mati. “Kita di sini, aku nggak ada janji—” “Pakaian itu?” Ziya menunduk melihat pakaian yang tadi dia banggakan untuk bertemu yang lain. “Hahaha, ini jelas aku persiapkan buat … ketemu kamu, kan malu kalau nggak sepadan,” cicitnya. Sorot tajam Zayn reflek berubah teduh, ada senyum tipis di mata itu mendengarkan pengakuan dari Ziya yang sesuai dengan prasangkanya tadi, perempuan itu memang mempersiapkan diri untuk tampil sebaik mungkin meskipun pengakuannya sekarang hanya agar tidak malu saja. “Memangnya, aku menuntut kamu untuk sepadan? Kita berbeda?” Zayn mencapit dagu Ziya sehingga mendongak menatapnya. “Kita sepadan, Zi. Soal bagaimana hidupmu, aku tau dan menerima itu tanpa kamu minta. Jadi, bisakah kita mencoba berjalan?” “Jalan?” Ziya mengerjap bingung. Zayn menganggukkan kepala, dirinya kembali duduk di temp
Mau tidak mau, walaupun hanya sebentar Kia dan Ghana tetap bertemu beberapa anggota keluarga yang menginap karena ada yang tidak beristirahat siang sebelum berkeliling hari itu. Kia meringis begitu duduk di mobil, reflek saja seperti itu karena bagian bawahnya tidak nyaman dan terasa kebas juga perih. “Mau mampir beli makan?” Ghana mengusap kepala Kia yang mengangguk, dia tidak mungkin membiarkan Kia beraktivitas dulu agar lebih baik karena ulahnya itu. “Maaf ya, Dek!” Kia mengambil tangan itu dan menciumnya, hal seperti ini tidak akan bisa mereka hindari sebagai seorang wanita yang baru menikah dan menyerahkan diri pada suami. Namun, melihat wajah sumringah Ghana membuat Kia merasa bangga pada dirinya itu, sesuatu yang dia jaga itu akhirnya diberikan pada satu-satunya pria yang dia cintai lagi mencintainya. “Boleh Kia tanya?” “Iya?” Ghana menoleh sekilas, lalu fokus pada kemudinya. “Apa kemarin Mas merasakan kenikmatan? Apa aku enak?” Pertanyaan yang terdengar konyol, tetapi it
“Nggak semudah itu kami percaya,” kata Diniati melengos, malu sekali pada keluarga Aksara yang baru saja pergi sembari mengomel panjang dan mencaci makinya itu. Abimana memahami perasaan Diniati, kedatangannya memang mendadak, apalagi ia tidak pernah mengenal orang tua Raniya dulu. “Dengan apa sa
“Kamu belum jawab pertanyaanku,” kata Abimana seraya menyandarkan punggungnya dan melipat tangan ke depan dada, menatap lekat Raniya.“Dia … jadi, sebenarnya dua minggu lagi itu aku mau menikah, Om. Tapi, calon suamiku ketahuan selingkuh dan bawa perempuan lain ke apartemen yang rencananya akan ka
[Kamu baik-baik aja, kan? Bilang saja kalau ada yang sakit, Raniya! Aku seperti yang tadi, akan bertanggung jawab ke kamu.]Ya, Raniya sedang butuh, tetapi tanggung jawab yang tak sama artinya dengan maksud Abimana.“O-oo, iya, hehehe … agak sakit sedikit aja, selebihnya oke kok! Om sibuk nggak?”
Abimana menendang pintu apartemen miliknya, kedua tangannya menggendong Raniya yang tak bisa berjalan dengan benar, bahkan tadi nyaris saja masuk ke kamar orang lain. “Huh! Berat juga dia!” kata Abimana membawa Raniya ke kamarnya, merebahkan wanita itu di ranjang miliknya. “Raniya! Hei, Raniya, ba







