Share

Bab 36. Dilema

Author: Moonlight
last update publish date: 2026-05-10 22:06:58

Abimana tak bisa berpikir sepersekian detik, hanya kelopak matanya yang berkedip-kedip menatap wajah Raniya seolah tanpa beban sama sekali.

Pikirnya, ia akan menemukan solusi lain jika membicarakan hal itu bersama Raniya, setidaknya bukan perpisahan yang masih beberapa bulan lagi. Namun, pikiran Raniya cukup jauh dari perkiraannya.

“Pernikahan ini udah nggak terlalu dibutuhkan, bukan? Keperluan Om soal keluarga selesai dan aku pun sama meskipun nggak terlalu sempurna, tapi seenggaknya udah. D
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 69. Raditya?

    Segala hal dalam hidup Raniya berubah seketika selepas bayi perempuan itu hadir ke dunia, rumah yang biasanya hanya ada suaranya dan Abimana saja, itu pun akan sunyi ketika Abimana pergi bekerja. Sekarang, mulai membuka mata sampai petang, Raniya dengan kehebohannya suka sekali menggoda putrinya itu, membuatnya menangis karena gemas dan bagaimana suara Raniya sendiri terus berceloteh mengajak putrinya bercanda meskipun hanya dia saja yang heboh. “Aku masih takut pegang, Mas.” “Coba aku liat, boleh?” Abimana tak terganggu sedikit pun dengan kondisi Raniya, bahkan dia turut membantu membersihkan pembalut istrinya itu. Raniya mengangguk ragu, tetapi kemudian membuka kakinya lebar selagi tidak mengeluarkan darah sehingga Abimana bisa memeriksanya sebentar. Abimana mendesus mengatami bekas di sana, bukan masalah melebar atau tidak karena itu elastis yang akan kembali ke bentuk semula, tetapi membayangkan yang sekecil itu, dengan bagian kulit tipis bisa mengeluarkan sebesar putri mer

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 68. Putri Kecil

    Raniya langsung dilarikan ke rumah sakit saat itu juga dengan Abimana berada di sampingnya, menggenggam tangan Raniya yang terasa basah dan tegang. Beberapa kali perempuan itu mengeluh kesakitan, sekian kali juga Abimana merasa bersalah sekali karena Raniya tidak mungkin merasakan itu jika bukan atas dirinya. “Sayang, sabar ya,” katanya. Raniya mengangguk. “Mas Abi, aku sabar loh!” balasnya protes, sebab sejak tadi dia sudah meredam keluhnya. Namun, si calon ayah yang sedang cemas campur aduk itu tidak bisa tenang, pikirannya ke mana-mana. Bahkan, daripada Raniya lebih keras pikiran Abimana sampai sekujur tubuhnya sakit semua dan tidak bisa berpikir jernih. Sesampainya di rumah sakit, ketenangan yang biasanya selalu unggul dalam diri Abimana hilang entah ke mana. Mulai dari memanggil petugas sampai menunggu Raniya diperiksa, Abimana mondar-mandir untuk memastikan Raniya mendapatkan pelayanannya yang cepat. “Tante, Mas Abi jangan boleh muter-muter gitu!” kata Raniya di tengah le

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 67. Menjelang Persalinan

    Terlepas dari semua masalah yang ada, perang batin dengan harapan bersama orang tua, Raniya berusaha untuk tetap fokus pada kandungannya yang sebentar lagi menemui titik akhir. Dia dan bayinya akan segera bertemu, beberapa rutinitas persiapan untuk kelancaran persalinannya mulai intens Raniya lakukan. Tak lupa saran dari para orang tua di keluarga suaminya, dia lakukan semampunya dan sesuai arahan. “Seorang ibu itu katanya masih butuh ibu loh, Mas Abi. Nggak kebayang ya dulu atau sekarang mereka yang jauh dari orang tua atau mungkin udah nggak ada ibu, gimana mereka lewatin hari-harinya. Nggak semua bisa dekat dengan keluarga besar dan aku masih sangat beruntung mempunyai suami dengan keluarga besar yang rukun,” katanya yang tengah bersandar pada dada Abimana, pria itu bertelanjang dada. “Tiap kali aku down, aku selalu inget kalau masih banyak yang lebih dan aku punya, walaupun nggak sempurna dan mungkin dianggap nggak cukup, tapi itu masih untung ya, kan?” Abimana mengangguk, mere

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 66. Maaf Ya

    Ngilu menjalar ke seluruh permukaan perut itu, ditambah efek dari ucapan Diniati yang kembali menghadirkan luka lama Raniya, sakitnya lebih tajam sampai mengeluh pun suaranya tidak keluar. “Raniya,” ucap Abimana mengepalkan tangannya, dia datang terlambat meskipun tak lewat dari rencananya. Perempuan itu diam dengan satu tangan menyentuh perut besarnya, ngilu di sana sudah mereda, tetapi ucapan dan sikap Diniati masih membekas, pun membangkitkan insecure yang mati-matian dilawan. “Mas, Mas Abi ganti baju, terus makan ya!” katanya tak membahas yang tadi. “Iya, setelah kamu peluk aku!” kata Abimana mencoba memahami, saat ini Raniya sedang tidak ingin banyak ditanya, maka dia tunjukkan kepatuhan sebagai bentuk penghargaan pada perempuan itu. Raniya lantas bergerak maju, semenjak perutnya membesar memang cukup sulit menempel pada suaminya, posisi menyamping begini dirasa lebih aman dan nyaman. Terdengar helaan berat di sana, Abimana terpejam singkat, berupaya untuk tak bertany

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 65. Tamu Tak Diharapkan

    Calon bayi perempuan itu memang menyita perhatian, setelah menikah dengan Raniya ada beberapa waktu yang Abimana ringkas dan pangkas agar pekerjaan tak membuat kebersamaan mereka terganggu. Sekarang, Abimana hendak meringkas kembali agendanya sehingga kelak selepas persalinan dirinya mempunyai waktu yang luang sekali untuk bersama Raniya dan putri kecil mereka. “Waduh, lama-lama ini penuh mejanya sama foto dedek!” celetuk Dani terperangah, banyak salinan foto USG disimpan di bawah kaca meja. “Sudah dapat namanya, Pak?” Abimana terkekeh, selalu bersemangat sekali meskipun jenuh diserang banyak pekerjaan, ketika tentang calon putrinya disebut, ketegangan itu hilang, berganti dengan senyum hangat khas seorang bapak sekali. “Ada beberapa, masih dipertimbangkan Raniya. Kemarin yang terakhir ini, dia senyum loh, Dan. Cantik sekali!” jawabnya menunjukkan foto USG terakhir. Kening Dani mengernyit, dia yang masih awam sekali soal per-bayian tentu tidak terlalu paham senyum cantik yang di

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 64. Ada Aku

    Menahan diri cukup lama demi menjaga kondisi istrinya sekaligus tak ingin Raniya yang tengah menikmati malasnya di masa kehamilan awal. Seperti itu, pahamnya Abimana dan pengertiannya pada Raniya. “Mas!” lenguh Raniya melepaskan pagutan bibirnya. “Hm, apa?” Abimana mendorong pelan, sebisa mungkin tak menyakiti. Namun, gerakan seperti itu malah membuat Raniya gila dan tersiksa. Rasanya ditarik ulur, dibuat tinggi kemudian terhempas begitu saja, mengikis ketenangannya dengan suara-suara yang tak bisa ditahan sama sekali. Di bawah tubuh Abimana yang mengkilap basah nan menggoda, Raniya terkagum pasrah bagai tawanan yang siap melakukan apa saja sekaligus memberontak. “Maas!” Raniya mengalungkan kedua tangannya ke leher Abimana, menatap lekat penuh harap agar segera diselesaikan. “Apa?” Abimana menciumi leher dan telinga Raniya, masih berada di atas istrinya dengan ayunan yang sedikit dipercepat. “Sayang, hm? Apa?” Raniya meringik, dilema antara mau berhenti dan tidak. Otakny

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 59. Dua atau Tiga

    “Mas Abi kesel sama siapa? Mukanya kerut-kerut gitu, kenapa?” tanya Raniya dengan baterai penuhnya. “Oiya, tadi aku doyan bawang bombai loh, Mas Abi. Biasanya, nggak doyan, tadi kalap banget aku!” Abimana mendengarkan, tetapi hanya meresponnya dengan anggukan dan senyum saja, sedangkan itu tak cuk

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 58. Mood Istri

    “Apa?” Abimana menelengkan kepalanya. Raniya menautkan jemarinya ke depan pada pangkuannya sambil duduk di depan suaminya itu yang baru saja pulang. “Aku pulang aja ya, Mas Abi? Di sini cuman repotin kamu aja,” kata Raniya merasa bersalah, dua agenda suaminya agak berantakan karena dia mendadak m

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 57. Tidak Tahan

    Raniya terpejam mata dengan belah bibirnya yang terbuka juga sesekali mendesah, entahlah yang katanya hendak pulang larut itu tiba-tiba pulang sebentar langsung melepaskan tali ikat daster rumahan milik Raniya dan mengulum pucuk kecoklatannya. “Mas Abi, hei!” ujarnya gelagapan, beruntung benar it

  • Tergoda! Mantanku Om-Om   Bab 56. Ibu Rumah Tangga

    “Dulu, nggak kerasa sibuknya,” gumam Raniya melirik prianya yang sedari membuka mata sudah menelpon sana-sini, ditambah lagi memakai bahasa asing yang kurang dia mengerti. “Dulu, emang sering sibuk gini apa? Sering telponan? Perasaan aku nggak pernah denger dan liat dia gitu. Akal-akalan dia ya?”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status