로그인“Nggak salah kalau Tante merawatnya, kan, Bri? Meski kedua orang tuanya melakukan kesalahan, bukan berarti bayi ini harus ikut menanggung hukumannya, kan?” Bricia menoleh pelan. Ia bisa melihat dengan jelas beban yang Selena simpan di balik ketenangannya selama ini. Tanpa banyak kata, ia bergeser mendekat lalu duduk di samping wanita itu, tangannya terangkat mengelus lembut lengan Selena, dan berusaha memberi sedikit kekuatan. “Leo…” Selena kembali bersuara, kali ini lebih lirih. “Dia masih menolak bayi tak berdosa ini. Padahal Tante sudah kasih hasil tes DNA. Sudah jelas… ini anaknya.” Ada jeda yang terasa panjang setelah itu. Bricia ikut menunduk, menatap bayi yang tertidur tenang seolah tak tahu apa pun tentang rumitnya keadaan yang mengelilinginya. “Lalu… keluarga Grace gimana, Tan?” tanyanya hati-hati. Selena menarik napas dalam sebelum menjawab. “Waktu kami ambil bayinya, mereka melepas dengan ikhlas. Mereka tahu… di sini, anak ini akan lebih terjamin.” Kalimatnya terhent
Selama masa kehamilan Grace, Selena memastikan semua kebutuhan wanita itu terpenuhi dengan baik. Di tengah situasi kelam di balik jeruji besi, Selena tetap hadir menjaga, merawat, dan memenuhi setiap kebutuhan yang diperlukan Grace. Vitamin kehamilan, buah-buahan segar, hingga berbagai penunjang lain selalu ia siapkan tanpa pernah absen. Bukan karena ia sudah yakin sepenuhnya tentang kehamilan Grace. Justru sebaliknya. Selena bahkan belum tahu pasti, apakah bayi yang dikandung Grace benar-benar darah daging Leo atau bukan. Namun, di atas semua keraguan itu, ada sesuatu yang membuatnya tetap bertahan. Rasa tanggung jawab. Dan mungkin, secercah harapan yang diam-diam ia simpan sendiri. Ia memilih untuk tetap ada dan mendampingi. Meski dalam hati, ia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk sekalipun. Dan waktu terus berjalan. Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya saat yang ditunggu itu datang. Grace kontraksi. Selena tetap berdiri di sisi Grace, menemani perempuan it
Setelah pesta pernikahan kemarin, hari ini Bricia dan Andrew mengantarkan Harry dan Feli ke bandara.Mereka akan berbulan madu ke Korea Selatan, sesuai permintaan Feli. Dan semua ini masih dalam rangka hadiah dari Andrew.Mobil yang mereka tumpangi akhirnya berhenti tepat di depan pintu masuk terminal keberangkatan internasional. Suasana cukup ramai, orang-orang berlalu lalang, dan suara pengumuman dari dalam bandara terdengar samar bercampur dengan deru kendaraan yang silih berganti datang dan pergi.Andrew mematikan mesin, lalu menoleh ke belakang dengan senyum santainya. “Sudah sampai tujuan, Lovebird.”Harry lebih dulu turun, diikuti Andrew yang langsung membantu menurunkan koper dari bagasi. Sementara itu, Feli masih duduk sejenak di dalam mobil, matanya menatap ke arah pintu kaca besar di depannya.“Fel…” panggil Bricia lembut.Feli tersadar, lalu mengangguk pelan sebelum akhirnya ikut turun. Udara luar menyambutnya, dan tanpa sadar ia menggenggam tas kecil di tangannya lebih e
Feli menarik napas berkali-kali. Dadanya naik turun tak beraturan, sementara kedua tangannya gemetar hebat. Retno sudah menenangkannya sejak tadi, tapi Feli tetap kesulitan mengontrol dirinya. Saat ini, Feli, Retno, dan Bricia berada di sebuah ruangan khusus di hotel, tempat ia menunggu sebelum dijemput Eric untuk berjalan menuju Harry. Bukan di gereja, melainkan di ballroom hotel yang sudah disulap menjadi tempat pemberkatan sekaligus makan siang yang begitu cantik dan elegan. Feli memang tak ingin acara yang bertele-tele. Hanya pemberkatan, lalu dilanjutkan dengan makan siang. Acara yang cukup sederhana, tapi tetap sakral. Suara pintu yang terbuka membuat Feli sedikit tersentak. Ia langsung menoleh. “Sudah siap?” tanya Eric, menatap satu per satu yang ada di ruangan itu. Bricia menggeleng kecil. Matanya melirik ke arah Feli, lalu memberi kode halus pada papanya. Eric mengerti. Ia melangkah mendekat dan berhenti tepat di depan Feli. Pria itu menarik napas pelan, lalu meletak
Hari demi hari terlewati begitu saja. Canda dan tawa terus mengiringi hari-hari Andrew dan Bricia. Kehamilan kembar itu membawa kebahagiaan yang tak terkira. Meski begitu, mereka sepakat masih menyimpan jenis kelamin sang bayi hingga nanti diumumkan saat acara baby shower. Di sisi lain, Feli semakin sibuk. Persiapan pernikahannya dengan Harry kian padat, membuat hari-harinya dipenuhi rasa lelah sekaligus antusias. Waktu terasa berjalan cepat hingga tanpa terasa, dua hari lagi adalah momen mereka mengikat janji suci. Namun, semakin dekat dengan hari itu, Feli justru makin dibuat bimbang. Entah dari mana asalnya, keraguan itu tiba-tiba muncul. Padahal, dengan semua sikap dan tanggung jawab Harry selama ini, harusnya tak ada yang perlu ia khawatirkan. Tapi tetap saja, Feli seperti berperang dengan pikirannya sendiri. Cemas, takut, ragu, semuanya datang bersamaan, mengusik ketenangannya. Retno menyadari perubahan itu. Dua hari ini, Feli memang lebih banyak diam. Tatapannya serin
“Bri…” Suara gedoran pintu disusul teriakan Feli terdengar nyaring memecah pagi yang seharusnya masih tenang. Sementara di dalam kamar, dua penghuninya masih terlelap dalam pelukan. “Bricia! Bangun woi! Matahari udah di atas rumah, lho!” Gedoran kembali terdengar, kali ini lebih keras. Bricia menggeliat, wajahnya mengerut kesal. Perlahan ia melepaskan diri dari pelukan Andrew yang masih tertidur pulas. “Astaga… berisik banget, sih,” dumelnya pelan. Tangannya meraba nakas dan mencari ponsel. Begitu layar menyala, matanya langsung membelalak. “Astaga… baru jam enam!” Di sampingnya, Andrew sedikit bergerak. Alisnya berkerut, tanda tidurnya mulai terusik. “Itu siapa…” gumamnya serak, ia masih belum membuka mata. Andrew justru kembali menarik selimutnya sampai menutupi dagu. “Siapa lagi kalau bukan anak kesayangan Papa,” jawab Bricia ketus sambil turun dari ranjang. “Feli?” “Iya. Kayaknya dia lupa kalau manusia normal masih harus tidur jam segini.” Gedoran kemba
Setelah kepergian Eric dan Bricia ke kantor, Feli langsung bersiap untuk berangkat ke klub untuk pembahasan keuangan mingguan. Harry sudah mengirimkan pesan bahwa ia akan menjemputnya. Pagi ini Feli mengenakan pakaian kasual, blouse lembut berwarna netral dan celana bahan yang jatuh rapi di kakin
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, akhirnya Andrew diizinkan pulang. Meski begitu, dokter masih berpesan agar ia benar-benar beristirahat dan tidak memforsir tubuhnya dulu. Namun, meski sudah dibolehkan pulang hari ini, rupanya Andrew tetap tak bisa lepas dari kebiasaannya membuat drama. B
“Ayo, Fel.” Saat semburat senja mulai menghilang di ufuk barat, Harry membuka pintu ruangan Feli di kafe. Keduanya memang sudah berjanji akan datang ke rumah Andrew untuk menjemput Bricia. Harry sengaja mengajak Feli berangkat ketika malam tiba. Sekali lagi, ia membuktikan diri sebagai manusia
“Permisi… ada yang bisa saya bantu?” Suara Feli terdengar formal saat ia melangkah mendekat ke arah Jessy. Wajahnya tenang, meski hatinya sudah dipenuhi kewaspadaan. Ia memang tak mengenal wanita itu secara langsung, jadi ia memilih menjaga jarak baik secara sikap maupun kata-kata. “Aku mau ber







