Share

Grace

Author: ORI GAMII
last update Last Updated: 2026-01-06 20:24:47

Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu.

Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Bricia untuk fokus menenangkan mentalnya terlebih dahulu. Trauma lama yang tersentuh ulang membuat sistem pertahanannya goyah, dan itu tak bisa dianggap sepele.

Namun, di tengah semua itu, peran Andrew terasa jauh lebih besar dari yang Bricia duga.

Lelaki itu hampir tak pernah absen. Menelepon sekadar memastikan Bricia sudah makan, mengirim bunga ke rumah, juga makanan, dan itu selalu makanan yang Bricia suka. Andrew tak pernah memaksa dan bertanya terlalu jauh. Ia hanya hadir dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan diam-diam menguatkan Bricia.

Sedangkan rencana Bricia dan Feli untuk menyelidiki video serta paket misterius itu sementara harus ditunda. Kondisi Bricia belum memungkinka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Ratih Tyas
kalau sampe mereka berdua yang teror Bricia fix mereka manusia gak punya rasa Terima kasih
goodnovel comment avatar
Bintang Ihsan
ini .... grace adiknya gery , tapi grace tidak mengenal bri kan?? bisa jadi leo yang meneror dengan motif gerry kecelakaan dulu
goodnovel comment avatar
Fitri Fawaz
ini.mah emg douG kaya nya dalang nya..yakin dah
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Seorang perempuan

    Setelah situasi kembali kondusif, Andrew dan Bricia berpindah. Mereka duduk bersebelahan, dengan Bricia masih memeluk Andrew, dengan wajahnya bersandar di dada lelaki itu. Ada rasa tenang yang akhirnya ia dapatkan. Tenang yang pelan-pelan menenangkan detak jantungnya dan membuatnya enggan beranjak. Apalagi ketika wangi bergamot yang bersih bercampur vetiver dan kayu sandal menguar lembut dari tubuh Andrew. Aroma khas lelaki dewasa yang mahal, rapi, dan menenangkan, menusuk indera penciumannya, membuat Bricia semakin larut dalam pelukan itu. Lengannya mengencang, jemarinya mencengkeram punggung Andrew seolah takut ketenangan itu pergi begitu saja. Andrew menunduk sedikit, dagunya menyentuh puncak kepala Bricia. Tangannya mengusap punggung perempuan itu perlahan dan ritmis, seperti sedang menenangkan anak kecil yang baru saja melewati mimpi buruk. “I’m here, Baby,” bisiknya rendah. “You’re safe with me.” Bricia memejamkan mata. Setelah beberapa hari yang terasa panjang , akhirny

  • Tergoda Teman Papa    "Peluk aku, Om."

    Tak terasa, satu minggu telah berlalu. Tak ada teror susulan yang menghampiri Bricia. Semua berjalan seolah kembali ke awal, tenang dan normal. Trauma yang sempat mencengkeramnya perlahan mulai terkendali. Sesekali ia masih tersentak setiap kali notifikasi pesan masuk, tetapi tak lagi disertai gemetar yang melumpuhkannya. Hanya rasa was-was kecil dan itu pun kini mudah ia atasi. Sabtu ini, Bricia sudah meminta izin pada Eric untuk datang ke kafe Andrew. Alasannya menemani Feli, meski sebenarnya itu hanya akal-akalan dua perempuan itu. Karena tujuan jelas Bricia ingin bertemu Andrew. Selama satu minggu terakhir, mereka sama sekali belum bertemu karena kesibukan masing-masing. Terlebih Bricia yang sudah mulai bekerja dan bahkan sempat lembur beberapa hari lalu. Dengan menaiki taksi online, Bricia tiba tepat di jam makan siang. Suasana kafe tampak ramai, baik di lantai bawah maupun atas. Ia melangkah masuk dengan sedikit sungkan, hingga matanya menangkap sosok Feli. Tanpa ragu, B

  • Tergoda Teman Papa    Apa kamu menuduhku, Kak?

    Suasana restoran keluarga di dekat bengkel milik Gerry malam itu tampak ramai. Bukan restoran mewah, hanya tempat makan sederhana yang biasa dipenuhi keluarga kelas menengah yang ingin menikmati waktu bersama tanpa banyak formalitas. Di antara deretan meja yang terisi, di pojok ruangan terlihat Gerry dan Grace duduk berhadapan dengan kedua orang tua mereka, Romi dan Risa. Meja itu dipenuhi hidangan hangat, tawa kecil, dan obrolan ringan yang sesekali terputus oleh suara sendok dan piring yang beradu. Untuk sesaat, mereka tampak seperti keluarga utuh yang tengah menikmati malam tanpa beban. Setelah lulus kuliah di Bandung, Grace memang kembali ke Jakarta dan mulai tinggal bersama keluarga kecilnya, meski di akhir pekan. Tante yang sejak awal memang tidak memiliki keturunan, akhirnya mengasuh keponakan lain dari pihak suaminya, sehingga Grace pun bisa pulang tanpa rasa bersalah. Ia memandangi satu per satu orang tuanya. Tak ada marah, apalagi benci, karena mereka pernah menitipkanny

  • Tergoda Teman Papa    Grace

    Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu. Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Bricia untuk fokus menenangkan mentalnya terlebih dahulu. Trauma lama yang tersentuh ulang membuat sistem pertahanannya goyah, dan itu tak bisa dianggap sepele. Namun, di tengah semua itu, peran Andrew terasa jauh lebih besar dari yang Bricia duga. Lelaki itu hampir tak pernah absen. Menelepon sekadar memastikan Bricia sudah makan, mengirim bunga ke rumah, juga makanan, dan itu selalu makanan yang Bricia suka. Andrew tak pernah memaksa dan bertanya terlalu jauh. Ia hanya hadir dengan caranya sendiri, tenang, konsisten, dan diam-diam menguatkan Bricia. Sedangkan rencana Bricia dan Feli untuk menyelidiki video serta paket misterius itu sementara harus ditunda. Kondisi Bricia belum memungkinka

  • Tergoda Teman Papa    Leo... keponakan Om Andrew

    “Ehem!” Suara deheman dari ambang pintu terdengar jelas. Andrew sejenak memejamkan mata. Ia tahu, ia tertangkap basah. Namun kali ini, ia tak berniat berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Jika harus, ia akan jujur pada Louisa. Sementara itu, Feli langsung menunduk. Matanya terpejam erat, dadanya terasa sesak oleh rasa bersalah. Ia menyesal tak berjaga di depan pintu. Ia benar-benar tak menyangka Louisa kembali secepat ini. “Lanjutkan saja, Ndrew…” Louisa melangkah masuk dengan tenang. Ia menuju meja rias Bricia, mencolokkan charger, lalu menghubungkannya ke ponsel yang masih mati. Setelah itu, ia duduk di kursi kayu di depan meja rias. Tatapannya lurus. Mengarah pada Andrew yang masih menggenggam tangan Bricia. Andrew menarik napas dalam-dalam. Perlahan, ia mencium punggung tangan Bricia sekali lagi, lalu meletakkannya kembali di tempat semula dengan hati-hati. Setelah itu, ia memiringkan tubuhnya dan duduk menghadap Louisa. Udara di kamar itu mendadak terasa jauh lebih be

  • Tergoda Teman Papa    Dugaan Louisa

    Pukul sebelas malam, Feli tiba di kediaman Eric. Ia diantar Andrew dan Harry. Sejak di perjalanan, Feli sudah berulang kali mewanti-wanti Andrew agar menjaga sikap. Ia yakin Eric belum tahu hubungan Andrew dan Bricia sejauh apa, dan di situasi seperti ini, Feli tak ingin suasana justru makin rumit. Feli mengetuk pintu. Tak lama, Eric membukanya dari dalam. Namun saat pandangannya bergeser ke belakang tubuh Feli, rautnya sedikit berubah, Eric cukup terkejut melihat Andrew dan Harry ikut datang. “Aku nganter Feli,” ujar Andrew cepat, seolah tak ingin memberi ruang Eric untuk bertanya. “Nggak mungkin aku biarin dia datang sendiri ke sini malam-malam begini.” Wajahnya dibuat tenang dan meyakinkan. Eric menatap Andrew beberapa detik. “Ngapain capek-capek ke sini, Ndrew? Kan ada Harry. Bisa dia yang nganter.” “Nggak apa-apa. Sekalian,” jawab Andrew singkat. Dalam hati, Andrew mendengus. Alih-alih dipersilakan masuk, ia malah seperti sedang diinterogasi di ambang pintu. “Bri gimana,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status