Se connecterBricia mematut dirinya di depan cermin. Ini sudah baju ketiga yang ia coba, tapi tetap saja, rasanya ada yang kurang. Padahal ia hanya mau bertemu Andrew untuk mengambil gelang. Hanya itu.
Tapi tingkahnya sekarang mirip ABG yang justru hendak bertemu dengan gebetan. “Begini… norak nggak, ya?” gumamnya. Ia memiringkan tubuh, melihat pantulan dirinya dari samping. Floral dress dengan aksen bunga pink itu memang membuatnya terlihat lebih manis, lebih lembut dan hal itu justru membuatnya makin bingung. “Kenapa aku harus mikirin Om Andrew suka atau nggak…” ia merapikan rambutnya, “…kan cuma ambil gelang, selesai, dan pulang. Pakai baju apa aja juga kayaknya nggak ngaruh!" Namun kalimat itu tidak membuatnya berhenti memperhatikan detail kecil di gaunnya. Pinggang yang kurang pas, atau apakah warna pink ini terlalu mencolok untuk siang hari. Dan tanpa ia sadari, senyum kecil muncul di ujung bibirnya. “…tapi kalau Om Andrew lihat aku kelihatan cantik, ya nggak apa-apa juga sih," gumamnya lirih. Dan akhirnya, gaun itu menjadi pilihan terakhirnya. Ia mengembuskan napas, antara pasrah dan deg-degan, lalu meraih tas selempangnya yang berada di atas kasur. Begitu membuka pintu kamar, langkah Bricia otomatis melambat. Ia sempat melihat pantulan dirinya sekali lagi di cermin lorong dan memastikan rambutnya rapi dan dress-nya jatuh dengan cantik. “Udah, Bri. Santai. Cuma ambil gelang,” bisiknya pada diri sendiri. Tapi ia juga terkikik geli setelahnya. Bricia menuruni anak tangga dengan hati yang tak santai sama sekali. Tas selempang ia geser ke depan, seolah itu bisa menutupi rasa gugupnya. Setiap langkah menuju pintu utama justru membuat detak jantungnya semakin terdengar jelas di telinganya sendiri. Namun ia tetap berjalan. Karena apa pun alasan ia berdandan seperti ini, ia tahu bahwa sesungguhnya ia memang ingin terlihat cantik di depan Andrew. “Mau ke mana, Bri?” Pertanyaan Louisa membuat langkah Bricia langsung terhenti. Ia menoleh dan mendapati Louisa sedang duduk di meja makan sambil menatapnya dari ujung kepala sampai mata kaki. “Ketemu teman,” jawab Bricia santai, berusaha menjaga wajah sedatar mungkin. Louisa menyipitkan mata, ia meneliti floral dress yang jelas bukan outfit Bricia sehari-hari. “Teman perempuan atau laki-laki?” Bricia mendengus. “Ih, kepo. Udah, aku jalan dulu.” Louisa tertawa kecil, ia tak bisa menahannya. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi dengan Bricia. Setelah cukup lama Bricia tak bercerita tentang kekasihnya, mungkinkah perempuan itu sedang mengalami butterfly era kembali? Keluar dari rumah, Bricia langsung menuju mobilnya. Kemarin, saat ia meninggalkan mobil itu di area kampus, sekuriti rumah yang menjemputnya dan membawanya pulang sore harinya. Begitu mobil mulai bergerak keluar halaman, tiba-tiba sosok Leo muncul dan berdiri tepat di depan kap mobil. Tubuhnya tegap, kedua tangan terentang lebar seolah ingin menghentikan truk, bukan city car milik Bricia. Wajahnya dibuat sedramatis mungkin, campuran antara sedih, memelas, dan pura-pura tersiksa. Bricia otomatis menghentikan mobil, lalu memencet klakson keras-keras. Tapi Leo tak bergeming. Bahkan lebih gilanya lagi, ia bersimpuh di depan mobil Bricia, kedua tangannya menempel di aspal seperti aktor drama murahan. “Ya ampun! Apa-apaan sih ini orang!” gerutu Bricia hampir memukul setir. Ia menurunkan kaca jendela dengan gerakan kasar. “Leo! Minggir!” teriaknya kencang. “Maafin aku dulu, Bri. Aku ngaku salah. Please… maafin aku. Aku nggak sanggup hidup tanpa kamu, Bri.” Leo makin memasang wajah sedih. Bricia menjedotkan kepalanya ke kemudi. Sial… hal seperti ini terjadi lagi. Ini adalah kebiasaan buruk Leo, setiap kali ia melakukan kesalahan, maka lelaki itu akan memohon dengan wajah yang terlihat menyesal. “Bri… please…” Kali ini Leo menangkup kedua tangan di dada, wajahnya semakin dibuat memelas, seolah mobil Bricia adalah malaikat yang bisa menentukan hidup dan matinya. Bricia memejamkan matanya. “Ya Tuhan… kenapa harus sekarang?” gumamnya frustrasi. Di saat ia ada janji temu dengan Andrew, Leo justru muncul di tempat yang paling tidak ia harapkan. Mulai jengah, Bricia akhirnya keluar dari mobil. Ia melangkah cepat menuju Leo dengan wajah kesal. Namun Leo, seperti biasa tanpa tahu malu, justru ikut maju dan langsung menarik Bricia ke dalam pelukannya. “Makasih udah maafin aku, Honey.” Bricia refleks mendorong dada Leo, tapi lengan Leo mengunci lebih erat. “Aku tahu kemarin kita cuma salah paham. Kita sama-sama capek, makanya ribut. Tapi aku yakin… kita masih saling mencintai.” Bricia mendongak dengan ekspresi tak percaya, bola matanya berputar dengan gerakan mdlas. “Siapa yang maafin kamu?” Tubuh Leo sempat menegang dalam pelukan itu, tapi ia cepat menormal-kan diri. Lengannya tetap kencang mengurung Bricia. “Aku sudah minta maaf, Bri.” “Leo—” “Aku janji bakal berubah. Sesuai yang kamu mau.” Kedua bahu Bricia perlahan jatuh. Entah kenapa, rasa pedulinya pada Leo selalu muncul di saat paling tidak tepat. Marah, jengah, kecewa, semuanya bercampur. Tapi perasaan yang belum tuntas itu masih saja menang. “Sekarang aku mau ajak kamu makan siang. Aku nemu tempat baru, kamu pasti suka.” Tanpa menunggu persetujuan, Leo langsung menarik tangan Bricia dan membawanya ke kursi penumpang. Dan Leo memang sengaja datang dengan ojek online, tentu agar rencananya berjalan mulus tanpa ada mobil yang harus ditinggalkan. Setelah duduk di balik kemudi, Leo menoleh. Telapak tangannya menyentuh pipi Bricia, ibu jarinya menyapu lembut, lalu sebuah kecupan singkat mendarat di sana. “Kita berangkat, ya.” Bricia tak menjawab. Ia hanya menutup mata dan menyandar, pasrah pada situasi yang semakin tidak bisa ia kendalikan. Sementara itu di Rosemary Cafe, Andrew duduk di meja pojok. Cukup tersembunyi, tapi posisi yang pas untuk melihat pintu masuk. Di depannya, segelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Ia melirik jam tangan. Lima menit lewat dari waktu yang mereka sepakati. Bricia belum juga datang. Lima menit maju menjadi sepuluh. Andrew mengembuskan napas kecil, mencoba tetap tersenyum meski alisnya mulai mengerut. Menit ke dua puluh, ia mengecek ponsel. Tidak ada pesan apa pun dari Bricia. Sedari tadi pintu kafe terbuka beberapa kali. Bunyinya selalu membuat Andrew refleks menengok, tapi yang masuk tetap bukan Bricia. Tubuh Andrew perlahan merosot ke sandaran kursi. Ada sesuatu di dadanya yang berat, campuran kecewa, cemas, dan sedikit rasa penasaran, ada apa sebenarnya dengan perempuan itu? Ia kembali melihat jamnya. Kali ini gerakannya lebih lambat, seolah ia sudah tahu apa yang akan ia temukan. Mungkin… Bricia memang tidak akan datang. Matanya jatuh pada kopi yang sudah dingin. Andrew tersenyum tipis, senyum yang terasa getir di lidahnya sendiri. “Baiklah, Bri. Mungkin bukan hari ini.” Ia menatap pintu masuk sekali lagi, berharap ada keajaiban kecil. Bahwa Bricia datang terlambat, berlari kecil dengan napas terengah, lalu duduk di depannya. Tapi pintu itu hanya terbuka untuk orang lain. Dan Andrew tetap di sana, sendirian, dengan kopi dingin dan janji yang tak jadi bertemu.“Daddy…” Alodie dan Aldric berlari kencang memasuki area kafe. Kedua bocah itu langsung mencari keberadaan Daddy-nya, sementara Bricia berjalan santai di belakang mereka. “Daddy…” Sekali lagi suara itu melengking, dan Andrew langsung keluar dari area pantry. “Wah… wah… siapa ini yang datang?” Andrew berjongkok di depan kedua anaknya, lalu membuka tangan lebar. “Hug Daddy dulu…” Alodie dan Aldric langsung masuk ke dalam pelukannya bersamaan. Setelah itu, Andrew menunjuk kedua pipinya. “Kiss juga dong pipi Daddy.” Keduanya menurut, mencium pipi kanan dan kiri Andrew tanpa ragu. “Anak pintar,” ucap Andrew, tersenyum lebar. “Daddy… Daddy, Alodie mau kasih tahu. Tugas berhitung Alodie dapat seratus.” Alodie menunjukkan lembar kertas dengan bangga. “Wah… pintar sekali jagoan Daddy,” puji Andrew, matanya ikut berbinar. “Tapi Aldric nggak dapat seratus,” tambah Alodie polos. Andrew menoleh ke arah putranya. Aldric langsung menunduk, wajahnya sedikit berubah. “Dapat berapa, hm?”
“Ya ampun… Aldric!” Pekikan kaget Andrew justru disambut gelak tawa Bricia. Perempuan itu tertawa lepas sampai memukul sisi ranjang di sampingnya. Retno yang berada di luar kamar langsung panik. Ia bergegas masuk, takut terjadi sesuatu. “Ada apa ini?” tanyanya cepat. Ia berdiri kaku sambil memegang sutil di tangannya. Bricia masih belum menjawab. Ia masih terbahak, tangannya menunjuk ke arah Andrew yang kini diam mematung. Wajah pria itu basah, bukan oleh keringat, melainkan karena kencing Aldric. “Astaga…” gumam Retno, antara kaget dan menahan tawa. Andrew menutup mata sebentar, menghela napas panjang, lalu menatap bayi laki-lakinya yang tampak tak berdosa. “Kamu ya…” ucapnya pasrah. Bricia semakin keras tertawa. “Makanya, jangan sok jago. Tadi yang pengen Aldric siapa?” “Nggak ada yang pengen, tadi kamu yang nyuruh suit, Baby,” balas Andrew, masih dengan wajah basah. Sebulan sudah berlalu sejak perjuangan panjang Bricia siang itu. Kini rumah mereka selalu dipenuhi tang
Perawat itu segera keluar memanggil dokter. Tak lama, dokter kandungan Bricia kembali masuk ke dalam ruangan, langkahnya tenang namun sigap. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap Bricia dan Andrew bergantian. “Bu Bricia, Pak Andrew… saya ingin memastikan sekali lagi,” ujarnya hati-hati. “Apakah keputusan untuk operasi sesar ini sudah dipertimbangkan dengan matang?” Bricia menatap Andrew sekilas, lalu kembali pada dokter. Meski wajahnya pucat dan dipenuhi rasa lelah, anggukannya kali ini tegas. “Iya, Dok… saya mau operasi saja.” Andrew mengusap punggung tangan Bricia pelan, lalu ikut mengangguk. “Kami sepakat, Dok.” Dokter itu tersenyum tipis, mencoba menenangkan. “Baik. Kami akan segera siapkan tindakan. Mohon tetap tenang, ya. Tim kami akan menangani sebaik mungkin.” Beberapa perawat langsung bergerak cepat. Alat-alat mulai disiapkan, suasana ruangan berubah menjadi lebih sibuk dan terarah. Andrew masih di sisi Bricia, tak melepaskan genggamannya sedikit pun. Karena sed
Andrew berlari kencang dari arah parkiran rumah sakit. Harry yang masih berada di balik kemudi hanya bisa melihatnya pergi tanpa sempat mencegah. Ia tahu, kepanikan itu tak bisa ditahan, Andrew pasti sudah tak sabar ingin sampai ke ruang persalinan, memastikan keadaan Bricia. Sebelumnya, Andrew ada janji temu dengan rekan bisnisnya di sebuah hotel. Namun, rencana itu berubah. Ia memilih memindahkan pertemuan ke kafe miliknya karena ada beberapa dokumen penting yang tertinggal di sana. Beruntung, rekan bisnisnya tidak keberatan. Mereka sepakat untuk bertemu di kafe tersebut. Namun, baru saja Andrew tiba dan belum sempat duduk, ponselnya berdering. Nama Feli muncul di layar. Dan dari sanalah semuanya berubah. Feli mengabarkan bahwa Bricia sudah dibawa ke rumah sakit. Andrew tak membuang waktu. Begitu melewati pintu utama rumah sakit, langkahnya langsung berbelok menuju area lift. Jarum penunjuk lantai masih berada di atas, dan perlahan turun satu per satu. Itu terasa terlalu lama
Beberapa purnama telah terlewati. Hari demi hari dijalani Bricia dengan penuh perjuangan dalam kehamilan kembarnya.Bulan ini memasuki masa HPL kehamilan Bricia. Tak ada yang pasti, bisa pagi, siang, atau malam, kapan kedua buah hatinya akan hadir ke dunia.Berbagai keluhan mulai ia rasakan. Wajah dan kakinya sesekali membengkak, perutnya terasa begah karena mengandung dua bayi sekaligus, hingga malam-malam yang sering ia lalui tanpa bisa tidur dengan nyenyak.Namun, di tengah semua itu, Andrew selalu ada. Menjadi suami siaga yang tak pernah absen, hadir kapan pun Bricia membutuhkan.“Bri… mau makan buah mangga?” suara Feli terdengar dari dapur. Ia sedang bersama Retno di sana.Sudah dua hari terakhir Feli dan Retno menginap di rumah Andrew. Tentu saja, Harry ikut serta. Semua itu atas permintaan Bricia yang mulai diliputi rasa takut menjelang persalinan.Rencananya, siang ini Eric, Louisa, dan Erlio juga akan menyusul, membuat rumah itu semakin ramai.“Nggak mau mangga, Fel,” seru Br
Setelah menghabiskan waktu seharian, Feli dan Harry kembali ke kamar hotelnya. Sudah waktunya mereka beristirahat, atau mungkin justru melakukan kegiatan lain. “Abang yang bersih-bersih dulu, ya.” Feli menyodorkan pakaian ganti Harry yang ia ambil dari dalam lemari. Tak ada penolakan, Harry menerima baju itu lalu mengangguk. Ia berjalan ke kamar mandi dengan langkah tenang. Setelah Harry masuk, Feli kembali membuka lemarinya. Ia mengambil baju yang sudah dibelikan Bricia, sebuah lingerie berwarna merah menyala. Feli memejamkan mata sejenak. Ia geli sendiri melihat betapa minimnya pakaian itu. Bahkan terlihat sedikit transparan. Lalu, bagaimana jika nanti ia mengenakannya? Bisa saja hampir seluruh tubuhnya terekspos. Namun, Feli mencoba meyakinkan dirinya. Bukankah sebagai seorang istri, ia juga ingin menyenangkan suaminya? Pada akhirnya, ia tetap mengambilnya. Dipeluknya pakaian itu, lalu ia duduk di tepi ranjang sambil menunggu Harry keluar. Di detik-detik itu, Feli menarik na
Setelah rasa kesal dan haru itu pecah, keduanya mulai menikmati hidangan. Tentu saja makanan yang tersaji bukan buatan Andrew, melainkan dari chef yang kelak akan mengisi dapur di kafe barunya. “Semoga kamu suka dengan makanannya, Bri,” ujar Andrew sambil memperhatikan wajah Bricia, seolah menungg
“Loui… kamu nggak apa-apa?” Eric refleks mengurut tengkuk Louisa. Gerakannya pelan dan hati-hati, berharap bisa meredakan mual yang masih membuat tubuh Louisa gemetar. Mendengar suara muntah, Bricia dan Feli langsung berlari mendekat. Wajah keduanya sama-sama pucat oleh rasa khawatir. “Kenapa
Dengan langkah lemah, Eric maju. Ia bahkan tak memedulikan tabung infus yang terseret di lantai, menimbulkan suara lirih yang mengganggu pendengaran. Tujuannya hanya satu, ia ingin mendekat pada Louisa.“Loui…” panggilnya pelan. Entah suaranya sampai atau tidak. Eric terus melangkah, dengan satu ha
Sudah pukul lima sore, dan Eric masih belum menemukan jejak Louisa. Ia mendatangi pabrik percetakan milik wanita itu, lalu melanjutkan ke rumah kakaknya dengan menempuh perjalanan lebih dari satu jam, namun hasilnya tetap nihil.Louisa seolah menghilang ditelan bumi. Eric benar-benar kehilangan ar







